Kamis, 11 Desember 2025

Gagal Literasi, 15 Siswa SMK Giri Pendawa Kena Mental Saat Hadiri Diklat Bela Negara

Tabanan, 11 Desember 2025 — Sebanyak 15 siswa SMK Giri Pendawa—terdiri dari 9 siswa putra dan 6 siswa putri—mengalami kekecewaan setelah kegiatan Diklat Bela Negara yang seharusnya dilaksanakan pada 11–13 Desember 2025 di Rindam IX/Udayana, Kediri, Tabanan, dinyatakan dibatalkan mendadak.

Keberangkatan para siswa tersebut merupakan tindak lanjut surat DPD RI Utusan Provinsi Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, M. Wedasteraputra Suyasa, Nomor 01102024/-B.66/DPD.MPR.RI/Bali/X/2025 tanggal 5 Desember 2025, terkait pelaksanaan Program Bela Negara bekerja sama DPD RI dengan TNI AD.

Rombongan dipimpin oleh Waka Kesiswaan, I Made Agus Suciarta, didampingi I Gede Arta Sunyana, berangkat menggunakan bus elf pada pukul 06.30 Wita setelah dilepas langsung oleh Kepala SMK Giri Pendawa I Komang Sumarta di depan lobi sekolah.

Namun setibanya di Rindam sekitar pukul 10.00 Wita, mereka diterima Koordinator Diklat Bela Negara, Kowirul, yang menyampaikan bahwa kegiatan hari itu dibatalkan karena senator AWK berhalangan hadir. Ia menegaskan kegiatan akan dijadwalkan ulang pada 19–21 Desember 2025.

“Pembatalan ini sudah saya share di grup. Saya kira semua anggota sudah membaca,” ujar Kowirul. Ia juga menambahkan bahwa sebelumnya Pak Agus menyampaikan rencana pembayaran pada hari ini, dan ia mengira kedatangan rombongan adalah hanya untuk keperluan tersebut,pungkasnya.

Saat dihubungi melalui telepon, Pak Agus mengakui kekecewaannya karena dirinya tidak membaca pesan pembatalan tersebut.

Akibat kelalaian itu, rombongan mengalami kerugian sekitar Rp 2 jutaan, terdiri dari biaya sewa bus sekitar Rp 1,4 juta dan konsumsi, serta biaya lainnya.

“Itulah pentingnya literasi,” ujar Pak Agus sambil tertawa kecut.

Rombongan siswa tiba kembali di sekolah pada pukul 15.16 Wita. Beberapa siswa mengalami pusing hingga muntah setelah perjalanan panjang tersebut.

Mendengar hal tersebut, sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kelalaian tidak membaca pesan sejak kemarin akibat kesibukan persembahyangan keliling, Kepala SMK Giri Pendawa langsung menyampaikan bahwa kerugian tersebut akan ditanggung secara pribadi.

Salah satu siswa menanggapi keputusan itu dengan mengatakan,“Beliau menunjukkan figur pemimpin yang bertanggung jawab. Lupa itu manusiawi, tapi beliau luar biasa karena mau bertanggung jawab.”bisiknya diacungi jempol oleh siswa lainnya (manixs).

Pelepasan siswa menuju Rindam oleh Kepala Sekolah

Kemacetan di jalan menuju Kediri

 
Wajah Ceria menuju lokasi

Mendengar pembatalan setelah di lokasi
Perjalanan Pulang

Nyampe Sekolah (belum tempur sudah ngutah,ha ha ha)



Chet Kepala Sekolah di WA Group sekolah,sebagai tanggungjawab moral 
sebagai seorang pemimpin sejati.






Senin, 08 Desember 2025

DIKLAT BELA NEGARA DAN KANTIN MENJADI SOROTAN DALAM RAPAT AKHIR SEMESTER GANJIL SMK GIRI PENDAWA.

Gatra Humas,09 Desember 2025,Bertempat di ruang guru, pada Selasa 09 Desember 2025 mulai pukul 10.30 Wita, SMK Giri Pendawa melaksanakan Rapat Rutin dan Penetapan Nilai Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026. Rapat dibuka oleh Waka Humas I Wayan Suiji, yang menyampaikan bahwa perte-muan ini bertujuan untuk melakukan evaluasi program rutin, penetapan nilai, serta membahas beberapa program dadakan.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, dalam arahannya menyampaikan puji syukur atas kelancaran program selama semester ini. Beliau mengapresiasi kerja sama guru dan pegawai, serta mengajak seluruh pihak untuk terus mengevaluasi kekurangan demi perbaikan ke depan. Pada kesempatan tersebut juga diumumkan penerimaan guru baru Bahasa Indonesia dan Bahasa Bali hasil rekrutmen yayasan.

Agenda pokok mengenai penetapan nilai disampaikan oleh Waka Kurikulum GNR Mataram. Ia menekankan agar pemberian nilai menyesuaikan standar semester sebelumnya, dengan harapan adanya peningkatan khususnya pada mata pelajaran produktif. Program lain tetap mengikuti rencana kerja yang telah disusun.

Waka Humas memaparkan perkembangan kegiatan familiarisasi yang laporannya belum tuntas serta menjelaskan kronologi dua siswa yang bermasalah akibat sering berpindah tempat training. Isu terkait siswa yang tidak mengikuti training namun memperoleh sertifikat juga dibahas. Permasalahan tersebut telah ditangani oleh Koordinator PKL bersama tim PKL, kesiswaan, dan kepala sekolah, dengan keputusan memberikan kesempatan bagi siswa terkait untuk memperbaiki proses PKLnya.

Waka Kesiswaan I Md. Agus Suciarta menyampaikan adanya program dadakan berupa pembangunan kantin sekolah yang diinisiasi bersama Waka Sarpras sebagai bentuk kegiatan kewirausahaan OSIS. Selain itu, sekolah berencana mengirim 15 siswa mengikuti kegiatan Bela Negara selama tiga hari di Rindam Dodiklat Kediri, Tabanan, dengan biaya Rp500.000 per siswa ditambah pembelian peralatan dan biaya transportasi antar jemput siswa diperkirakan menelan biaya 10 juta lebih yang bersumber dari kas yayasan. Peserta terdiri dari siswa bermasalah maupun anggota OSIS yang berminat,diharapkan dikirim siswa yang mampu mentransfer pengetahuan yang didapat selama diklat.

Waka Sarpras GNR Adi Sandi Putra menginformasikan perkembangan terkait mobiler dan penempatannya, termasuk bantuan Smart TV yang akan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.

Kaprodi Perhotelan Dewa Pt. Suaba melaporkan persiapan PKL kedepan serta rencana orientasi siswa kelas XI pada Januari mendatang untuk persiapan PKL di kelas XII nanti. Sementara itu, pelaksanaan UKKS dan UKKN direncanakan berlangsung pada bulan Februari 2026 yang akan datang.

Dalam sesi tanya jawab, dibahas mengenai kelengkapan nilai dari masing-masing wali kelas. Terdapat tiga wali kelas yang belum siap menyampaikan nilai sehingga kepala sekolah menetapkan nilai dengan catatan ketiga kelas tersebut harus segera menuntaskan pengisian nilai.

Masalah lain yang mendapat perhatian adalah ketidakhadiran siswa yang mencapai hingga 49 kali. Siswa dengan jumlah ketidakhadiran melebihi standar akan dipanggil bersama orang tua atau walinya, termasuk siswa yang menunggak kewajiban.

Pengelola koperasi sekolah juga mempertanyakan mekanisme pengelolaan kantin kepada pihak inisiator,karena diminta memberikan teknis pengelolaan kantin oleh kepala sekolah, agar program kantin dapat menjadi media pembelajaran kewirausahaan yang baik bagi siswa. Semua pengelolaan diharapkan mengikuti prinsip manajemen kewirausahaan serta dalam membina OSIS tetap mengacu pada Permendikbud No. 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan sebagai dasar pembinaan OSIS,pungkasnya.(Manixs).

                        Beberapa dokumen rapat




 
Kepala sekolah Km.Sumarta...sebenarnya saya tidak dapat menetapkan nilai,karena 3 wali tidak hadir dan belum tuntas tugasnya,karena itu  nilai saya tetapkan namun nilai yang belum selesai untuk segera ditindak lanjuti,terimakasih.




Selasa, 02 Desember 2025

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah SMK Giri Pendawa Tahun 2025.

Gatra Humas,2 Desember 2025— SMK Giri Pendawa hari ini melaksanakan kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) Tahun 2025 dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali. Acara berlangsung di Laboratorium Restoran sekolah dimulai pada pukul 08.30 WITA.

Kegiatan ini dihadiri oleh Tim Penilai yang dipimpin oleh Ida Bagus Widiasa Keniten, serta jajaran undangan lainnya seperti Ketua Komite Jro Kt Sutawa, Sekretaris Yayasan Gusti Ngurah Mataram, para wakil kepala sekolah, ketua program keahlian, guru-guru, staf tata usaha, orang tua siswa, dan perwakilan siswa.

Acara dibuka dengan sambutan Kepala Sekolah, I Komang Sumarta, yang memaparkan tentang profil sekolah, berbagai kemajuan yang dicapai, serta hambatan dan tantangan yang masih dihadapi SMK Giri Pendawa dalam pengembangan mutu pendidikan dan kompetensi peserta didik.

Dalam sambutannya, Ida Bagus Widiasa Keniten menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan melalui wawancara dengan berbagai pihak, mulai dari ketua komite, pihak yayasan, guru, siswa, hingga staf tata usaha untuk sinkrunisasi data. Diakhir penilaian Keniten menyampaikan beberapa poin penting sebagai bahan refleksi untuk peningkatan mutu sekolah.

Beberapa saran yang disampaikan antara lain:

Pengembangan kompetensi tenaga pendidik,agar mampu menjawab kebutuhan pendidikan yang terus berkembang.

Peningkatan keterampilan berbahasa asing bagi siswa, terutama dalam kemampuan komunikasi lisan sebagai kebutuhan dasar di dunia pariwisata.

Penyempurnaan laporan keuangan setiap kegiatan agar lebih cepat disusun setelah kegiatan selesai.

Program magang guru ke Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) untuk meningkatkan keterampilan praktis sehingga proses pembelajaran dan kompetensi siswa selaras dengan perkembangan industri pariwisata.

Menurut IB Keniten, masukan ini diharapkan dapat memperkuat arah pengembangan sekolah ke depan. “Guru-guru di sini perlu dimagangkan ke DU/DI agar skill-nya meningkat sehingga pembelajaran dan kompetensi siswa dapat mengikuti perkembangan pariwisata,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah ini ditutup pada pukul 11.40 WITA, dan berlangsung dengan lancar serta penuh antusiasme dari seluruh peserta.(mangsu).




Beberapa dokumentasi saat Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS)
SMK Giri Pendawa 021225.(doc.Ngoerah Sandhi)



Kamis, 13 November 2025

Petugas Dinsos Karangasem Lakukan Verifikasi Data Penerima PKH di SMK Giri Pendawa

Nongan, Jumat 14 November 2025 — Petugas Dinas Sosial Kabupaten Karangasem dari Bidang PDP PKH Kecamatan Rendang, Ni Nyoman Murdani dan I Gst. Ayu Winda P.A, melakukan kunjungan ke SMK Giri Pendawa untuk melakukan verifikasi data penerima Program Keluarga Harapan (PKH) tahun 2025.

Verifikasi tersebut dinilai sangat penting untuk memastikan bahwa penerima bantuan benar-benar memenuhi persyaratan. Winda menjelaskan bahwa salah satu aspek yang diverifikasi adalah tingkat kehadiran siswa penerima PKH.

“Kehadiran siswa penerima PKH minimal harus 75%. Jika kurang, hal itu dapat memengaruhi proses penyaluran bantuan ke rekening orang tua atau wali,” ujar Gst. Ayu Winda saat diterima di ruang kepala sekolah oleh Waka Humas, I Wayan Suiji.

Mewakili kepala sekolah, Suiji menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah atas adanya bantuan PKH yang turut diterima sejumlah peserta didik di sekolah tersebut. Ia menegaskan bahwa proses verifikasi sangat penting agar bantuan tepat sasaran.

“Jangan sampai yang secara ekonomi mampu justru menerima bantuan, sementara yang lebih membutuhkan tidak mendapatkan haknya. Hal seperti itu bisa menimbulkan polemik di masyarakat,” tegas Suiji.

Setelah pertemuan tersebut, Winda melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi ruang kelas untuk memeriksa daftar hadir siswa penerima PKH. Proses verifikasi ini turut didampingi oleh Waka Kurikulum, Gst. Ngurah Mataram (manixs).

Waka Humas I Wayan Suiji saat menerima penjelasan tentang tujuan petugas PKH

Verifikasi data kehadiran siswa penerima PKH

Verifikasi dengan salah satu siswa penerima PKH


Kordinasi dengan salah satu guru wali kelas

Waka Kurikulum GNR Mataram mendampingi petugas survey

 
Waka Kesiswaan I Made Agus Suciarta memberikan keterangan tentang kesiswaan


Minggu, 09 November 2025

Semangat Kepahlawanan Menyala di SMK Giri Pendawa: “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan".

Gatra Humas, 10 November 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional, keluarga besar SMK Giri Pendawa melaksanakan upacara bendera yang berlangsung khidmat di lapangan upacara sekolah. Kegiatan ini mengusung tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan” sebagai wujud penghormatan dan refleksi terhadap jasa para pahlawan bangsa.

Bertindak sebagai pembina upacara, Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana, I Gst. Ngurah Adi Sandi Putra, S.E., yang dalam amanatnya membacakan sambutan resmi Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf.

Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh peserta upacara untuk menundukkan kepala penuh hormat mengenang para pahlawan bangsa. “Mereka bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini. Para pahlawan berjuang bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi bangsa dan negara Indonesia,” ucapnya dengan penuh haru.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak jatuh dari langit, melainkan hasil dari perjuangan panjang, darah, dan air mata. Terdapat tiga nilai penting yang dapat kita teladani dari para pahlawan, yaitu kesabaran, semangat mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya, serta pandangan visioner untuk generasi masa depan.

Menurutnya, perjuangan masa kini bukan lagi dilakukan dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu pengetahuan, empati, dan pengabdian. Membela yang lemah serta memperjuangkan keadilan menjadi bentuk nyata semangat kepahlawanan di era modern.

“Hari ini kita bersyukur telah merdeka. Maka sudah sepatutnya kita berjanji untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan bekerja keras, berpikir jernih, dan melayani dengan tulus, sebagaimana para pahlawan telah memberikan segalanya untuk Indonesia,” tutupnya.

Upacara berlangsung tertib dan khidmat, diikuti oleh seluruh guru, staf, serta peserta didik SMK Giri Pendawa. Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama (manixs)



Spanduk tema hari pahlawan 2025


dokumen kegiatan pelaksanaan upacara benderaa hari Pahlawan 10 November 2025

 

                                                                          Laporan pada pembina bahwa upacara selesai


Minggu, 26 Oktober 2025

Jalan Santai Tutup Rangkaian Kegiatan Bulan Bahasa di SMK Giri Pendawa

Dalam rangka mengakhiri rangkaian kegiatan Peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda ke-97, SMK Giri Pendawa menggelar kegiatan jalan santai pada hari Senin,27 Oktober 2025. Kegiatan ini dilepas langsung oleh Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, di depan gedung sekolah.

Peserta jalan santai diikuti oleh siswa-siswi kelas X dan XI, dewan guru, para wakil kepala sekolah, ketua program studi, staf tata usaha, serta unsur yayasan Giri Pendawa.

Rute yang ditempuh dimulai dari area sekolah menuju Jalan Pura Dalem Kupa, kemudian dilanjutkan ke Segah, berbelok kiri menuju Rendang, dan di sebelah selatan pertigaan SMA, peserta diarahkan  kembali belok kiri melewati jalan menuju Taman, dan akhirnya finish di sekolah. Total jarak yang ditempuh kurang lebih 3 kilometer.

Cuaca yang teduh dengan langit cerah berawan, serta panorama pedesaan yang asri dengan pemandangan sawah dan Gunung Agung dari area Segah, menambah semangat para peserta. Keindahan alam sepanjang rute turut mengobati rasa lelah peserta selama perjalanan.

Salah satu peserta tertua, Dewa Putu Suaba, tampil penuh semangat tanpa berhenti hingga garis akhir. Saat ditemui di sela-sela perjalanan, beliau mengaku senang mengikuti kegiatan ini sambil berolahraga.

“Saya biasa berlatih jalan setiap sore di lapangan dekat rumah, sekitar dua sampai tiga kilometer. Jalan seperti ini lebih seru karena ada tanjakan dan turunan, jadi ada tantangannya. Kalau di lapangan kan datar saja, tidak seseru ini,hanya dapat cuci mata tambahannya,” ujarnya sambil bergurau.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, yang didampingi Ketua Panitia I Wayan Gede Suarnata, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini.

“Kegiatan ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga sekolah dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Ibaratnya, kita mengenang perjuangan para pemuda tempo dulu,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan pengundian hadiah utama serta hiburan di lapangan sekolah yang berlangsung meriah dan penuh kegembiraan (manixs).

Pelepasan peserta Jalan Santai oleh Kepala Sekolah di depan sekolah

Guru,staf pegawai


Veuw Gunung Agung tampak dari Desa Segah

Salah satu peserta senior Drs.Dewa Putu Suaba yang tampak bugar mengikuti jalan santai




Rabu, 22 Oktober 2025

Pembukaan Bulan Bahasa ke-97 di SMK Giri Pendawa Angkat Tema “Bahasa Indonesia Berdaulat, Indonesia Maju

Gatra Humas, 23 Oktober 2025 — Suasana semarak mewarnai halaman SMK Giri Pendawa saat acara pembukaan Bulan Bahasa ke-97 resmi dibuka pada Kamis (23/10). Dengan mengusung tema “Bahasa Indonesia Berdaulat, Indonesia Maju”, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh warga sekolah untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Acara pembukaan yang diawali dengan tari puspanjali dilanjutkan dengan laporan kegiatan oleh Ketua Panitia, I Wayan Gde Suarnata, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan sejak dua hari sebelumnya. “Persiapan telah dimulai dua hari lalu, dan hari ini kita melaksanakan pembukaan secara resmi. Kegiatan diisi dengan berbagai lomba seperti baca puisi, pidato, deklamasi, poster, story telling, fashion show, nafkin, towel, hingga senematik. Kegiatan akan ditutup dengan jalan santai dan puncaknya pada 28 Oktober 2025, bersamaan dengan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 serta penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba,” jelasnya.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memahami makna sejarah perjuangan pemuda dan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan. “Sumpah Pemuda bukan sekadar janji, tetapi pernyataan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebuah tekad bersatu sebagai bangsa dalam tanah air dan bahasa yang satu — Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Beliau juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh panitia dan OSIS atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam menyukseskan acara ini. “Hari ini semangat itu tampak pada diri kalian. Walaupun tidak sama dengan perjuangan para pemuda dahulu, komitmen kalian dalam mewujudkan acara ini luar biasa — bekerja hingga sore, bermandikan peluh, bahkan rela mengosongkan kantong demi terselenggaranya kegiatan ini. Untuk itu, bapak sampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya,” pungkasnya.

Kemeriahan pembukaan Bulan Bahasa ini semakin terasa dengan berbagai penampilan seni dan lagu hiburan dari siswa-siswi SMK Giri Pendawa. Diharapkan, melalui kegiatan ini, semangat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda, sejalan dengan semangat persatuan yang diwariskan para pemuda 1928,apalagi UNESCO tanggal 20 November 2023 telah menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional ke sepuluh.

Redaksi Gatra Humas SMK Giri Pendawa

Dari atas kebawah : MC,Tari Penyambutan,Laporan Ketua Panitia I Wayan Gede Suarnata, Sambutan Kepala Sekolah I Komang Sumarta dan Dewan Juri Membaca Puisi I Wayan Suiji dan Ni Wayan Melina Pebriani,SS.

 

Dua peserta lomba baca puisi yang sempat terekam










Bagas Dalam Persimpangan

Oleh Wayan Suiji

 Di sebuah kota kecil yang sunyi, hidup seorang siswa SMK Nusantara bernama Bagas, kelas XII Teknik Elek-tro. Sosok yang ramah, mudah bergaul, dan cepat akrab dengan siapa saja, terutama dengan para senior di tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL) miliknya. Di semester yang sama, sang kekasih, Wati, siswi kelas Manajemen Akuntansi di sekolah yang sama, juga tengah menjalani PKL—meski di tempat berbeda.

 

Meski lokasi mereka terpisah, mereka tinggal di satu kosan, menandai hubungan yang mereka anggap sudah cukup serius. Hari-hari dilalui dengan obrolan ringan, saling berbagi cerita PKL masing-masing. Namun, satu malam, ketika Bagas tertidur lelah, Wati tanpa sengaja membaca isi pesan WhatsApp Bagas—percakapan akrab Bagas dengan salah satu senior wanita di tempat PKL-nya. Bagi Wati, itu lebih dari sekadar curhat biasa. Cemburu menguasai hati. Emosi memuncak. Tanpa banyak kata, Wati memutuskan Bagas.

 


Bagas panik. Dunia seolah runtuh. Ia yang ceria berubah menjadi muram. Semangatnya sirna, wajahnya kuyu. Ia mulai bolos PKL. Hari-hari dihabiskan di kamar, terme-nung. Orang tuanya bingung, melihat perubahan drastis anak mereka. Hingga akhirnya, tempat PKL-nya memu-tuskan untuk mengeluarkan Bagas karena tidak pernah hadir. Ayah dan ibunya mencoba mencari "orang pintar" untuk mengobatinya. Tapi nihil. Bagas tetap diam, bahkan mulai bicara sendiri.

 

Kabar itu sampai ke telinga Pak Yanto dan Pak Wija, dua guru pembimbing PKL di SMK Nusantara. Mereka segera koordinasi dengan tempat PKL Bagas. Ternyata benar, Bagas sudah dikeluarkan. Pak Wija merasa iba, ia menye-lidiki permasalahan dan berhasil bicara dengan Bagas.

 

"Aku udah nggak sama Wati, Pak. Tapi aku juga udah nggak minat PKL... bosen," ujar Bagas datar, matanya kosong menatap lantai.

 

Saat dicari ke rumahnya, Bagas bahkan sempat berkata, "Kalau begini, mending beli aja sertifikatnya, Pak. Biar cepet kelar."

 

Pak Wija tersentak. Baginya, itu bentuk penghinaan pada marwah sekolah. Tapi ia sadar, anak ini sedang goyah. Ia tahu, anak-anak seperti Bagas kerap terpapar hal instan dari media sosial. Maka, bersama Pak Yanto, mereka tak memarahinya. Justru mereka menasihati dengan penuh harap.

 

"Gas, kamu itu tinggal selangkah lagi. Kami bantu carikan tempat baru. Coba kamu renungkan semalam... bangun tahajud, minta petunjuk dari Tuhan. Besok, kasih kabar ke kami, ya. Masih ada waktu."

 

328.Gatra Humas Edisi ketiga 2025

Malam itu Bagas sendiri di kamarnya. Hening. Hanya sua-ra detik jam dan bayang-bayang kenangan yang terus berputar di pikirannya. Matanya menerawang. Entah apa yang ia pikirkan, tapi jelas sekali ada badai di dadanya.

 

Esok pagi, tak ada kabar dari Bagas.

Ponsel Pak Wija dan Pak Yanto sunyi.

Mereka menunggu. Harap-harap cemas dan terus taka da itu artinya,Bagas sudag bulat tekadnya untuk memilih jalannya sendiri dan munghkin akan melanjutkan usaha bapaknya sebagai pembuat bangunan,apalagi waktu dikunjungi kelihatan ia sedang ngukir yang merupakan keahliannya,pikir Pak Wija.

 

Diam. Pak Wija menatap langit. Ada getir di dadanya.

Satu anak lagi yang memilih jalur berbeda.

Namun, dalam hati kecilnya, ia tahu: setiap anak punya jalan masing-masing. Dan mungkin, ini jalan Bagas yang sebenarnya.

Ketika Murid Berbuat Keliru, Siapa yang Salah?

Oleh : I Wayan Suiji (Waka Humas SMK Giri Pendawa)

Ketika seorang murid berbuat keliru—berperilaku me-nyimpang, tidak sopan, malas belajar, bahkan bertindak kasar—pertanyaan yang sering muncul adalah: siapa yang salah? Apakah murid itu sendiri? Orang tua? Guru? Atau sistem pendidikan secara keseluruhan?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan satu jari me-nunjuk, karena sesungguhnya ini adalah cermin dari banyak keping yang tidak utuh dalam lingkaran besar bernama pendidikan.

Di rumah banyak orang tua merasa sudah menjalankan tugasnya karena setiap hari memberi anaknya uang jajan, membayar uang sekolah, membeli kuota, seragam, bahkan kendaraan. Tapi apakah itu cukup? Anak bukan hanya tubuh yang harus dikenyangkan, ia adalah jiwa yang harus dipeluk dan disayang.

Anak tidak hanya butuh nasi, tetapi juga butuh kasih. Ia tidak hanya butuh HP, tetapi juga butuh didengar. Sering-kali perhatian digantikan dengan materi, dan kasih sayang diukur dari seberapa mahal barang yang diberikan. Aki-batnya, banyak anak tumbuh dalam rumah yang penuh barang, tapi kosong dari kehangatan. Maka, ketika anak mencari perhatian di luar dengan cara yang “keliru”, ja-ngan langsung dicap durhaka. Mungkin ia sedang berte-riak dalam diam pada anda orang tuanya: "Lihat aku. De-ngar aku. Sayangi aku."

Di sekolah, guru pun bukan malaikat. Mereka juga manusia yang hidup dalam tekanan. Mengajar dengan gaji yang tak layak, dituntut mengikuti administrasi yang membebani, sementara di sisi lain, beban hidup kian berat. Akhirnya, banyak guru yang datang ke kelas tanpa sema-ngat, atau bahkan sering absen karena urusan pribadi yang tak bisa dielakkan.Bagaimana mungkin  guru bisa menya-lakan cahaya dalam diri murid, jika dalam dirinya sendiri nyaris padam ,redup tanpa nyala?

Dan ketika pembelajaran hanya menjadi rutinitas tanpa ruh, saat itulah kelas menjadi sunyi dari makna. Murid belajar karena takut, bukan karena cinta. Mereka patuh karena kewajiban, bukan karena rasa hormat.

Benang merah kekuatan pendidikan adalah kurikulum , kita tahu setiap pergantian menteri, kurikulum pun ikut berubah. Seolah-olah pendidikan adalah ajang eksperi-men. Teori-teori canggih dari negara maju ditiru, padahal kondisi kita berbeda jauh. Di kota mungkin teknologi mendukung, tapi di pelosok, anak kelas 10 masih terbata-bata dalam membaca.


324.Gatra Humas Edisi ketiga 2025

Apa gunanya kurikulum keren, jika murid tidak mampu mengeja namanya sendiri dengan lancar? Apa arti kecang-gihan, jika fondasi dasarnya masih rapuh?

Sementara itu, pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi malah terlupakan. Murid diajari rumus, tapi tidak diajari bagaimana menjadi manusia.

Lalu, Siapa yang Salah?

Kalau mau jujur, kita semua punya andil dalam membentuk watak atau karakter anak anak kita. Ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Tapi soal keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang berjalan pincang.

Orang tua perlu belajar kembali bahwa mencintai anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan emosional.Gengsi besar bukan menjamin ke-cerdasan anak,bukan pula menentukan kebahagiaan anak, justru mempuk kebodohan dan keegoisan karena merasa diri paling hebat,kesombongan muncul dan mulailah membuli teman temannya.Karakternya jebol,berbuat see-naknya,menganggap remeh temeh orang lain. Ketika guru memberi arahan mereka sibuk bermain game,ketika melaksanakan trening/PKL mereka dengan seenaknya menolak tugas yang diberikan oleh seniornya,mereka bilang tidak suka,bosan,malas dan pulang tanpa kabar, liar tanpa nalar,herannya orang tua membiarkan mereka bebas karena mengaku cuti dan bertukar libur. Orang tua percaya saja tanpa konfirmasi,dan ketika dikontak sekolah ,disurati dipanggil ke sekolah demi anaknya,beliau tidak juga datang dan membiarkan keangkuhan anaknya meraja lela karena didukung oleh semangnya. Ketika detik detik terakhir akan tiba,barulah berulah mengucur peluh,butuh belas kasihan untuk meluluhkan hati. Kepala sekolah bingung harus melangkah dari mana lagi,maka langkah-nya mulai dari mengingatkan guru,guru perlu diyakinkan kembali bahwa tugas mereka bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik, dan untuk itu mereka harus diberikan dukungan dan penghargaan yang lebih layak.

Pemerintah atau lembaga yang bertanggungjawab  perlu sadar bahwa pendidikan bukan soal keren-kerenan kuri-kulum, tapi soal menyentuh kehidupan nyata murid, terutama yang ada di garis terbelakang. Murid yang berbuat salah bukan semata-mata produk dari dirinya sendiri. Ia adalah hasil dari rumah yang cuek dan dingin, sekolah yang kosong dan sunyi, dan sistem yang terburu-buru menjadi pintar tanpa sempat menjadi manusia.

Jika ingin menyembuhkan keadaan ini, jangan hanya memperbaiki apa yang terlihat. Tapi masuklah ke dalam: dengarkan, rasakan, sentuh hatinya.

Karena anak yang keliru tidak butuh dimarahi dulu. Ia butuh dipahami dan dirasakan.kalau kita berbicara dengan mulut maka dampaknya hanya akan didengar saat itu dan kalau kita bisa berbicara dan memahami dengan rasa,maka hatinya akan tersentuh dan ketika itu bisa terjadi,maka karakter anak itu akan menggunakan rasa dan hati.

326.Gatra Humas Edisi ketiga 2025


Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari siapa yang peduli ,peduli akan anak-anak bangsa yang semakin hari semakin terdegradasi oleh kemajuan teknologi dan terhempas oleh moral dan karakter yang terdepak karena persaingan gengsi dan ego.

Mari bangkitkan kepedulian untuk menyayangi anak bangsa yang semakin rapuh dari peradaban nenekmoyang dan leluhur leluhur kita,yang telah mewariskan tradisi,adat budaya kita yang dibangun dengan rasa dan hati dengan keagungan dan kekuatan alam semesta.astungkara terka-bulkan (281025)