Rabu, 22 Oktober 2025

Ketika Murid Berbuat Keliru, Siapa yang Salah?

Oleh : I Wayan Suiji (Waka Humas SMK Giri Pendawa)

Ketika seorang murid berbuat keliru—berperilaku me-nyimpang, tidak sopan, malas belajar, bahkan bertindak kasar—pertanyaan yang sering muncul adalah: siapa yang salah? Apakah murid itu sendiri? Orang tua? Guru? Atau sistem pendidikan secara keseluruhan?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan satu jari me-nunjuk, karena sesungguhnya ini adalah cermin dari banyak keping yang tidak utuh dalam lingkaran besar bernama pendidikan.

Di rumah banyak orang tua merasa sudah menjalankan tugasnya karena setiap hari memberi anaknya uang jajan, membayar uang sekolah, membeli kuota, seragam, bahkan kendaraan. Tapi apakah itu cukup? Anak bukan hanya tubuh yang harus dikenyangkan, ia adalah jiwa yang harus dipeluk dan disayang.

Anak tidak hanya butuh nasi, tetapi juga butuh kasih. Ia tidak hanya butuh HP, tetapi juga butuh didengar. Sering-kali perhatian digantikan dengan materi, dan kasih sayang diukur dari seberapa mahal barang yang diberikan. Aki-batnya, banyak anak tumbuh dalam rumah yang penuh barang, tapi kosong dari kehangatan. Maka, ketika anak mencari perhatian di luar dengan cara yang “keliru”, ja-ngan langsung dicap durhaka. Mungkin ia sedang berte-riak dalam diam pada anda orang tuanya: "Lihat aku. De-ngar aku. Sayangi aku."

Di sekolah, guru pun bukan malaikat. Mereka juga manusia yang hidup dalam tekanan. Mengajar dengan gaji yang tak layak, dituntut mengikuti administrasi yang membebani, sementara di sisi lain, beban hidup kian berat. Akhirnya, banyak guru yang datang ke kelas tanpa sema-ngat, atau bahkan sering absen karena urusan pribadi yang tak bisa dielakkan.Bagaimana mungkin  guru bisa menya-lakan cahaya dalam diri murid, jika dalam dirinya sendiri nyaris padam ,redup tanpa nyala?

Dan ketika pembelajaran hanya menjadi rutinitas tanpa ruh, saat itulah kelas menjadi sunyi dari makna. Murid belajar karena takut, bukan karena cinta. Mereka patuh karena kewajiban, bukan karena rasa hormat.

Benang merah kekuatan pendidikan adalah kurikulum , kita tahu setiap pergantian menteri, kurikulum pun ikut berubah. Seolah-olah pendidikan adalah ajang eksperi-men. Teori-teori canggih dari negara maju ditiru, padahal kondisi kita berbeda jauh. Di kota mungkin teknologi mendukung, tapi di pelosok, anak kelas 10 masih terbata-bata dalam membaca.


324.Gatra Humas Edisi ketiga 2025

Apa gunanya kurikulum keren, jika murid tidak mampu mengeja namanya sendiri dengan lancar? Apa arti kecang-gihan, jika fondasi dasarnya masih rapuh?

Sementara itu, pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi malah terlupakan. Murid diajari rumus, tapi tidak diajari bagaimana menjadi manusia.

Lalu, Siapa yang Salah?

Kalau mau jujur, kita semua punya andil dalam membentuk watak atau karakter anak anak kita. Ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Tapi soal keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang berjalan pincang.

Orang tua perlu belajar kembali bahwa mencintai anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan emosional.Gengsi besar bukan menjamin ke-cerdasan anak,bukan pula menentukan kebahagiaan anak, justru mempuk kebodohan dan keegoisan karena merasa diri paling hebat,kesombongan muncul dan mulailah membuli teman temannya.Karakternya jebol,berbuat see-naknya,menganggap remeh temeh orang lain. Ketika guru memberi arahan mereka sibuk bermain game,ketika melaksanakan trening/PKL mereka dengan seenaknya menolak tugas yang diberikan oleh seniornya,mereka bilang tidak suka,bosan,malas dan pulang tanpa kabar, liar tanpa nalar,herannya orang tua membiarkan mereka bebas karena mengaku cuti dan bertukar libur. Orang tua percaya saja tanpa konfirmasi,dan ketika dikontak sekolah ,disurati dipanggil ke sekolah demi anaknya,beliau tidak juga datang dan membiarkan keangkuhan anaknya meraja lela karena didukung oleh semangnya. Ketika detik detik terakhir akan tiba,barulah berulah mengucur peluh,butuh belas kasihan untuk meluluhkan hati. Kepala sekolah bingung harus melangkah dari mana lagi,maka langkah-nya mulai dari mengingatkan guru,guru perlu diyakinkan kembali bahwa tugas mereka bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik, dan untuk itu mereka harus diberikan dukungan dan penghargaan yang lebih layak.

Pemerintah atau lembaga yang bertanggungjawab  perlu sadar bahwa pendidikan bukan soal keren-kerenan kuri-kulum, tapi soal menyentuh kehidupan nyata murid, terutama yang ada di garis terbelakang. Murid yang berbuat salah bukan semata-mata produk dari dirinya sendiri. Ia adalah hasil dari rumah yang cuek dan dingin, sekolah yang kosong dan sunyi, dan sistem yang terburu-buru menjadi pintar tanpa sempat menjadi manusia.

Jika ingin menyembuhkan keadaan ini, jangan hanya memperbaiki apa yang terlihat. Tapi masuklah ke dalam: dengarkan, rasakan, sentuh hatinya.

Karena anak yang keliru tidak butuh dimarahi dulu. Ia butuh dipahami dan dirasakan.kalau kita berbicara dengan mulut maka dampaknya hanya akan didengar saat itu dan kalau kita bisa berbicara dan memahami dengan rasa,maka hatinya akan tersentuh dan ketika itu bisa terjadi,maka karakter anak itu akan menggunakan rasa dan hati.

326.Gatra Humas Edisi ketiga 2025


Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari siapa yang peduli ,peduli akan anak-anak bangsa yang semakin hari semakin terdegradasi oleh kemajuan teknologi dan terhempas oleh moral dan karakter yang terdepak karena persaingan gengsi dan ego.

Mari bangkitkan kepedulian untuk menyayangi anak bangsa yang semakin rapuh dari peradaban nenekmoyang dan leluhur leluhur kita,yang telah mewariskan tradisi,adat budaya kita yang dibangun dengan rasa dan hati dengan keagungan dan kekuatan alam semesta.astungkara terka-bulkan (281025)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar