Oleh : I Wayan Suiji (Waka Humas SMK Giri Pendawa)
Ketika seorang murid berbuat keliru—berperilaku me-nyimpang, tidak
sopan, malas belajar, bahkan bertindak kasar—pertanyaan yang sering muncul
adalah: siapa yang salah? Apakah murid itu sendiri? Orang tua? Guru?
Atau sistem pendidikan secara keseluruhan?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan satu jari me-nunjuk, karena
sesungguhnya ini adalah cermin dari banyak keping yang tidak utuh dalam
lingkaran besar bernama pendidikan.
Di rumah banyak orang tua merasa sudah menjalankan tugasnya karena
setiap hari memberi anaknya uang jajan, membayar uang sekolah, membeli kuota,
seragam, bahkan kendaraan. Tapi apakah itu cukup? Anak bukan hanya tubuh yang
harus dikenyangkan, ia adalah jiwa yang harus dipeluk dan disayang.
Anak tidak hanya butuh nasi, tetapi juga butuh kasih. Ia tidak hanya butuh HP, tetapi juga butuh didengar. Sering-kali
perhatian digantikan dengan materi, dan kasih sayang diukur dari seberapa mahal
barang yang diberikan. Aki-batnya, banyak anak tumbuh dalam rumah yang penuh
barang, tapi kosong dari kehangatan. Maka, ketika anak mencari perhatian di
luar dengan cara yang “keliru”, ja-ngan langsung dicap durhaka. Mungkin ia
sedang berte-riak dalam diam pada anda orang tuanya: "Lihat aku. De-ngar aku. Sayangi aku."
Di sekolah, guru pun bukan malaikat. Mereka juga manusia yang hidup
dalam tekanan. Mengajar dengan gaji yang tak layak, dituntut mengikuti
administrasi yang membebani, sementara di sisi lain, beban hidup kian berat.
Akhirnya, banyak guru yang datang ke kelas tanpa sema-ngat, atau bahkan sering
absen karena urusan pribadi yang tak bisa dielakkan.Bagaimana mungkin guru bisa menya-lakan cahaya dalam diri
murid, jika dalam dirinya sendiri nyaris padam ,redup tanpa nyala?
Dan ketika pembelajaran hanya menjadi rutinitas tanpa ruh, saat itulah
kelas menjadi sunyi dari makna. Murid belajar karena takut, bukan karena cinta.
Mereka patuh karena kewajiban, bukan karena rasa hormat.
Benang merah kekuatan pendidikan adalah kurikulum , kita tahu setiap
pergantian menteri, kurikulum pun ikut berubah. Seolah-olah pendidikan adalah
ajang eksperi-men. Teori-teori canggih dari negara maju ditiru, padahal kondisi
kita berbeda jauh. Di kota mungkin teknologi mendukung, tapi di pelosok, anak
kelas 10 masih terbata-bata dalam membaca.
324.Gatra Humas Edisi ketiga 2025
Sementara itu, pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi malah
terlupakan. Murid diajari rumus, tapi tidak diajari bagaimana menjadi manusia.
Lalu, Siapa yang Salah?
Kalau mau jujur, kita semua punya andil dalam membentuk watak
atau karakter anak anak kita. Ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Tapi soal
keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang berjalan pincang.
Orang tua perlu belajar kembali bahwa mencintai anak bukan sekadar
memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan emosional.Gengsi besar bukan
menjamin ke-cerdasan anak,bukan pula menentukan kebahagiaan anak, justru mempuk
kebodohan dan keegoisan karena merasa diri paling hebat,kesombongan muncul dan
mulailah membuli teman temannya.Karakternya jebol,berbuat see-naknya,menganggap
remeh temeh orang lain. Ketika guru memberi arahan mereka sibuk bermain
game,ketika melaksanakan trening/PKL mereka dengan seenaknya menolak tugas yang
diberikan oleh seniornya,mereka bilang tidak suka,bosan,malas dan pulang tanpa
kabar, liar tanpa nalar,herannya orang tua membiarkan mereka bebas karena
mengaku cuti dan bertukar libur. Orang tua percaya saja tanpa konfirmasi,dan ketika
dikontak sekolah ,disurati dipanggil ke sekolah demi anaknya,beliau tidak juga
datang dan membiarkan keangkuhan anaknya meraja lela karena didukung oleh
semangnya. Ketika detik detik terakhir akan tiba,barulah berulah mengucur
peluh,butuh belas kasihan untuk meluluhkan hati. Kepala sekolah bingung harus
melangkah dari mana lagi,maka langkah-nya mulai dari mengingatkan guru,guru
perlu diyakinkan kembali bahwa tugas mereka bukan hanya mengajar, tapi juga
mendidik, dan untuk itu mereka harus diberikan dukungan dan penghargaan yang lebih
layak.
Jika ingin menyembuhkan keadaan ini, jangan hanya memperbaiki apa yang
terlihat. Tapi masuklah ke dalam: dengarkan, rasakan, sentuh hatinya.
Karena anak yang keliru tidak butuh dimarahi dulu. Ia butuh dipahami dan
dirasakan.kalau kita berbicara dengan mulut maka dampaknya hanya akan didengar
saat itu dan kalau kita bisa berbicara dan memahami dengan rasa,maka hatinya
akan tersentuh dan ketika itu bisa terjadi,maka karakter anak itu akan
menggunakan rasa dan hati.
326.Gatra Humas Edisi ketiga 2025
Mari bangkitkan kepedulian untuk menyayangi anak bangsa yang semakin
rapuh dari peradaban nenekmoyang dan leluhur leluhur kita,yang telah mewariskan
tradisi,adat budaya kita yang dibangun dengan rasa dan hati dengan keagungan
dan kekuatan alam semesta.astungkara terka-bulkan (281025)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar