Senin, 03 Agustus 2026

Langkah Preventif Pencegahan Kenakalan Remaja di SMK Giri Pendawa: Mengutamakan Pembinaan, Menegakkan Disiplin

Oleh:

I Wayan Suiji,Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas,SMK Giri Pendawa.


Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang sarat dengan tantangan. Pengaruh lingkungan, pergaulan, media sosial, hingga kurangnya pengawasan dapat memicu munculnya berbagai bentuk kenakalan remaja, seperti perkelahian, pelanggaran tata tertib, penyalahgunaan waktu belajar, hingga pergaulan bebas yang melampaui norma agama, etika, dan budaya.

Sebagai lembaga pendidikan vokasi yang berkomitmen membentuk lulusan yang unggul dalam kompetensi sekaligus berkarakter, SMK Giri Pendawa menerapkan langkah-langkah preventif dan pembinaan secara berjenjang dalam menangani setiap pelanggaran yang dilakukan peserta didik. Pendekatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyadari kesalahannya, memperbaiki perilaku, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.


Pencegahan Menjadi Prioritas

Upaya pencegahan dilakukan melalui berbagai program pembinaan karakter, antara lain:


Penegakan tata tertib sekolah secara konsisten.

Pengawasan guru selama kegiatan pembelajaran agar tidak terjadi jam kosong tanpa pengawasan.

Penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Komunikasi intensif antara wali kelas, guru BK, kesiswaan, humas, dan orang tua.

Pembentukan grup komunikasi dengan orang tua sebagai media koordinasi apabila muncul permasalahan peserta didik.

Pemberian keteladanan oleh seluruh warga sekolah dalam sikap, disiplin, dan etika.

Melalui langkah preventif tersebut diharapkan potensi kenakalan remaja dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi pelanggaran yang lebih serius.


Penanganan Dilakukan Secara Bertahap

Apabila terdapat peserta didik yang melakukan pelanggaran, seperti perkelahian, tindakan perundungan, pergaulan yang melampaui batas norma, maupun bentuk pelanggaran tata tertib lainnya, sekolah menerapkan mekanisme pembinaan secara bertahap sesuai ketentuan yang berlaku.


Tahapan tersebut meliputi:

1. Pembinaan oleh Wali Kelas

Wali kelas menjadi pihak pertama yang memberikan nasihat, pembinaan, serta melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada peserta didik.


2. Pendampingan oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK)

Apabila belum menunjukkan perubahan, peserta didik akan mendapatkan layanan konseling dan pendampingan dari guru BK untuk menggali akar permasalahan serta mencari solusi yang tepat.


3. Penanganan oleh Bidang Kesiswaan

Jika pelanggaran masih berlanjut, penanganan diteruskan kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan untuk dilakukan pembinaan yang lebih intensif.


4. Pembinaan oleh Pimpinan Sekolah

Peserta didik yang tetap mengulangi pelanggaran akan dipanggil oleh pimpinan sekolah guna memperoleh arahan, nasihat, dan peringatan secara langsung.


5. Sidang Pembinaan dan Pemanggilan Orang Tua

Apabila belum ada perubahan, sekolah menyelenggarakan sidang pembinaan yang melibatkan wali kelas, guru BK, bidang kesiswaan, humas, kaprodi,serta orang tua(bila perlu) atau wali siswa. Forum ini bertujuan mencari solusi terbaik demi kepentingan peserta didik.


6. Skorsing Sementara

Bila seluruh upaya pembinaan tersebut belum memberikan hasil, peserta didik dapat dikenai sanksi skorsing selama satu minggu sesuai tata tertib sekolah. Masa skorsing dimaksudkan sebagai waktu untuk melakukan refleksi dan memperbaiki sikap, bukan sebagai bentuk hukuman semata.


7. Pengembalian kepada Orang Tua

Sebagai langkah terakhir, apabila peserta didik tetap tidak menunjukkan perubahan dan terus melakukan pelanggaran berat sesuai ketentuan tata tertib sekolah, maka sekolah dapat memutuskan untuk mengembalikan peserta didik kepada orang tua melalui keputusan yang ditetapkan sesuai prosedur sekolah. Selanjutnya, administrasi kepesertaan didik diproses sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk penghapusan data dari Dapodik apabila status peserta didik telah resmi berakhir.


8. Membangun Karakter Menjadi Tanggung Jawab Bersama

SMK Giri Pendawa meyakini bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan sinergi antara keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dengan orang tua terus diperkuat agar setiap perkembangan peserta didik dapat dipantau dan ditangani secara bersama.

Sekolah berharap seluruh peserta didik menjadikan tata tertib bukan sebagai beban, melainkan sebagai pedoman untuk membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Dengan kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan siswa, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta kondusif sehingga setiap peserta didik dapat berkembang menjadi generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(manix)

Salah satu kasus kenakalan remaja yang sampai ke sidang pembinaan sesuai tahapan (kasus berat) 

Nasaehat dari kepala sekolah dan kaprodi

Penandatanganan Berita Acara Kesanggupan dan Berjanji Merubah Diri


Paraf kaprodi

Penandatanganan oleh waka humas guna memanggil orang tua (bila perlu kalau tak berubah)

Penandatanganan BA oleh Wakasek Kesiswaan

Penandatangan BA oleh Kepala Sekolah


"Tim Gabungan Satpol PP Sidak Kawasan Tanpa Rokok di SMK Giri Pendawa, Sekolah Tegaskan Komitmen Jaga Lingkungan Sehat."

Gatra Humas – Selasa (4/8/2026), Tim Gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Karangasem bersama instansi terkait melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di SMK Giri Pendawa. Kegiatan yang dimulai pukul 10.15 WITA tersebut dipimpin oleh Sekretaris Satpol PP Kabupaten Karangasem, I Wayan Putu Aryanta, S.H., M.A.P.

Setibanya di sekolah, tim gabungan langsung melakukan penyisiran di sejumlah area, mulai dari ruang Kepala Sekolah, ruang guru, ruang Tata Usaha, hingga lingkungan sekolah. Pemeriksaan berlangsung sekitar 45 menit sebagai bagian dari upaya pengawasan penerapan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok pada satuan pendidikan.

Dalam penyisiran tersebut, petugas menemukan beberapa puntung rokok di area taman dan selokan sekolah. Temuan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bersama sekaligus pengingat pentingnya menjaga komitmen terhadap penerapan Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan pendidikan.

Usai pelaksanaan sidak, juru bicara tim, Pak Ngurah, memberikan sosialisasi mengenai ketentuan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok. Ia menegaskan bahwa sektor pendidikan dan pelayanan kesehatan merupakan kawasan yang harus bebas dari aktivitas merokok.

"Institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan harus menjadi kawasan yang benar-benar bebas dari rokok. Hal ini merupakan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi masyarakat," ujarnya.

Tim gabungan diterima oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Kesiswaan, dan Sarana Prasarana di ruang Kepala Sekolah. Mewakili Kepala SMK Giri Pendawa, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, I Gst. Ngr. Mataram, menyampaikan permohonan maaf karena Kepala Sekolah tidak dapat hadir mengingat sedang melaksanakan tugas kedinasan yang tidak dapat diwakilkan.

Dalam kesempatan tersebut, Mataram menjelaskan bahwa puntung rokok yang ditemukan di lingkungan sekolah diduga berasal dari orang luar. Menurutnya, area sekolah merupakan kawasan terbuka yang belum memiliki penyengker (tembok pembatas) secara menyeluruh. Selain itu, saluran air yang melintasi lingkungan sekolah juga terhubung dengan aliran subak milik Desa Nongan sehingga memungkinkan sampah terbawa dari luar area sekolah.

Setelah dilakukan pembahasan hasil pemeriksaan, kedua belah pihak menandatangani berita acara pemeriksaan sebagai bentuk dokumentasi pelaksanaan sidak. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebelum tim gabungan melanjutkan tugas ke lokasi berikutnya.

Melalui kegiatan ini, SMK Giri Pendawa menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penerapan Kawasan Tanpa Rokok serta menjaga lingkungan sekolah yang bersih, sehat, aman, dan nyaman sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan.(02/Ngoerah Sandi).

Gst.Ngurah Mataram(Wakur) memberi penjelasan atas temuan puntung rokok di halaman sekolah

Md.Agus Suciarta (Wasis) mewakili kepala sekolah menandatangani Berita Acara Pemeriksaan

Foto bersama sebelum tim meninggalkan tempat di SMK Giri Pendawa



RAPAT PERDANA TAHUN PELAJARAN 2026/2027, KEPALA SMK GIRI PENDAWA TEKANKAN DISIPLIN, PENGUATAN KARAKTER, DAN BRANDING SEKOLAH

Gatra Humas – Senin (3/8/2026), bertempat di Ruang TKJ, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menggelar rapat perdana Tahun Pelajaran 2026/2027. Rapat dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan sekolah, para wakil kepala sekolah, ketua program studi, KTU,guru, serta staf tata usaha.

Kegiatan yang dimulai pukul 11.30 WITA dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji, dengan menyampaikan susunan acara, dilanjutkan doa bersama. Agenda rapat meliputi pengarahan Kepala Sekolah, evaluasi Tahun Pelajaran 2025/2026, penyampaian program kerja Tahun Pelajaran 2026/2027, informasi dari para wakil kepala sekolah, sesi tanya jawab, dan penutup.

Dalam arahannya, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menyampaikan apresiasi kepada seluruh keluarga besar SMK Giri Pendawa atas dedikasi dan loyalitas selama satu tahun terakhir sehingga seluruh program sekolah dapat berjalan dengan baik.

Meski demikian, beliau mengakui bahwa hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bersama agar kualitas pelayanan dan citra sekolah terus ditingkatkan.

Kepala sekolah juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap peserta didik, khususnya dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan. Ia mengingatkan agar guru tidak membiarkan jam pelajaran kosong tanpa pengawasan.

"Apabila ada kegiatan, silakan diatur dengan baik, tetapi jangan sampai mengabaikan peserta didik. Kesempatan tanpa pengawasan dapat memicu munculnya berbagai bentuk kenakalan remaja, termasuk pergaulan yang tidak terkontrol. Jika hal tersebut sampai tersebar di masyarakat, tentu akan berdampak pada citra sekolah dan menurunkan kepercayaan orang tua," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum menyoroti pentingnya penguatan branding sekolah. Menurutnya, berbagai kegiatan positif yang selama ini dipublikasikan masih sebatas konsumsi internal sehingga belum mampu menjangkau masyarakat luas.

Ia berharap seluruh informasi dan prestasi sekolah dipublikasikan secara lebih masif melalui media sosial agar dapat dibagikan kembali oleh para alumni maupun masyarakat. Dengan demikian, citra positif sekolah akan semakin dikenal dan menjadi daya tarik bagi calon peserta didik.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Made Agus Suciarta, mengingatkan seluruh guru dan pegawai yang merokok agar menjaga kebersihan ruang guru dengan tidak membuang abu rokok sembarangan. Hal tersebut disampaikan menyusul adanya keluhan dari pengurus OSIS yang bertugas piket.

Selain itu, ia meminta para wali kelas agar setiap bulan melaporkan data kehadiran siswa, khususnya yang sering alpa, beserta informasi tunggakan SPP. Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya pencegahan sejak dini terhadap meningkatnya angka ketidakhadiran maupun tunggakan administrasi peserta didik.

Di bidang sarana dan prasarana, Wakil Kepala Sekolah Gst. Ngr. Adi Sandi Putra mengajak seluruh warga sekolah untuk bersama-sama menjaga fasilitas yang dimiliki karena proses pengadaannya tidak mudah.

Menindaklanjuti edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengenai pembatasan penggunaan gawai selama pembelajaran, pihaknya juga akan menyiapkan rak penyimpanan telepon genggam siswa di setiap kelas agar proses belajar mengajar berlangsung lebih efektif.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji, melaporkan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Beberapa kasus siswa bermasalah, termasuk tiga siswa yang sempat mengundurkan diri, telah berhasil ditangani bersama tim sehingga kegiatan PKL dapat kembali berjalan dengan normal.

Ia juga menyampaikan perkembangan pembangunan ruang Teaching Factory (TeFa) E'Widya Giri yang merupakan unit dari Koperasi Sekolah Giri Amerta SMK Giri Pendawa, yang akan menjadi pusat pembelajaran kewirausahaan bagi peserta didik. Unit tersebut akan bekerja sama dengan Program Keahlian Tata Boga dalam memasarkan hasil produksi sekaligus menyediakan berbagai kebutuhan warga sekolah, seperti alat tulis kantor (ATK), layanan pengetikan, jasa cukur rambut, pulsa/paket internet,hingga kebutuhan sembako.

Seluruh layanan akan dikelola oleh guru atau pegawai yang ditunjuk, sedangkan administrasi operasional akan dilaksanakan oleh siswa dan pengurus OSIS di bawah pengawasan guru pembina.

Untuk kegiatan familiarisasi Tahun Pelajaran 2026/2027, direncanakan dilaksanakan di Sindhu Beach Hotel. Sementara itu, Koperasi Sekolah akan memperkuat pelayanan kredit melalui kerja sama dengan KSP Mekar Sari guna mendukung kebutuhan permodalan.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa hasil penjualan pakaian seragam telah digunakan untuk pengadaan baju endek bagi guru dan pegawai. Ke depan, melalui shu kopsek,sekolah juga akan menyiapkan seragam khaki yang digunakan setiap hari Senin sebagai identitas bersama.

"Kita harus memberi contoh kepada peserta didik. Jangan sampai guru menegur siswa yang tidak berseragam, sementara gurunya sendiri belum menunjukkan keteladanan dalam berpakaian," ujar Suiji.

Ia juga mengimbau seluruh wali kelas agar membentuk grup WhatsApp orang tua siswa dengan melibatkan Humas dan Kepala Sekolah sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih cepat, terutama dalam menangani berbagai persoalan peserta didik. Selain itu, operator sekolah diharapkan segera membentuk grup WhatsApp alumni sebagai media komunikasi dan penguatan jejaring alumni.

Pada sesi tanya jawab, berbagai masukan dan persoalan teknis yang disampaikan peserta rapat diterima dengan baik untuk selanjutnya ditindaklanjuti secara bersama-sama.

Menjelang penutupan, Ketua Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Gede Arta Sunyana, menyampaikan rencana pelaksanaan rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan. Kegiatan di lingkungan sekolah akan dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 Agustus 2026. Sementara itu, kegiatan jalan santai tingkat kecamatan dijadwalkan pada 7 Agustus, sedangkan lomba gerak jalan akan berlangsung pada 11 Agustus 2026.

Terkait keterbatasan anggaran pelaksanaan kegiatan di sekolah, persoalan tersebut langsung mendapat dukungan langsung dari pengelola Koperasi Sekolah Wayan Suiji sekaligus Ketua KSP Mekar Sari menyatakan kesiapan pihaknya membantu pendanaan kegiatan. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta rapat.

Melalui rapat perdana ini, seluruh jajaran SMK Giri Pendawa berkomitmen memperkuat sinergi, meningkatkan mutu layanan pendidikan, membangun karakter peserta didik, serta memperkuat citra sekolah sebagai lembaga pendidikan vokasi yang unggul, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.(manixs)

Suasana rapat penuh kekluargaan

Rapat evaluasi akhir tahun 2025/2026 dan penyampaian program kerja 2026/2027





Rabu, 29 Juli 2026

Memaknai Perayaan Guru Purnima dalam Dresta Bali (Khususnya Rsi Yadnya)

Oleh : Mangku Manik Puspa Yoga

Salah seorang Åšisya sedang menerima penyucian dari guru spiritualnya

Setiap purnama pada bulan Asada, umat Hindu di seluruh dunia merayakan hari raya Guru Purnima. Di Bali, perayaan ini tidak sekadar seremonial belaka, melainkan terjalin erat dengan dresta atau tradisi lokal yang mendalam, terutama dalam pelaksanaan Rsi Yadnya. Perayaan ini menjadi puncak penghormatan kepada sumber segala ilmu, pencerahan, dan kebijaksanaan yang membimbing manusia keluar dari kegelapan ketidaktahuan.

Rsi Yadnya: Inti Penghormatan kepada Para Guru

Di Bali dalam susunan upacara lima yadnya (Panca Yadnya), Rsi Yadnya adalah persembahan yang ditujukan kepada para Resi, para pendidik, para pemimpin agama, dan para penyebar ilmu pengetahuan. Dalam konteks Guru Purnima, Rsi Yadnya menjadi inti dari seluruh perayaan, karena di hari inilah kita mengenang dan menghormati sosok sebagai sumber ilmu.

Dresta Bali mengajarkan bahwa "Guru" bukan sekadar orang yang mengajar di sekolah. Lingkupnya sangat luas: mulai dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Guru tertinggi, para leluhur, orang tua, guru pendidikan agama, guru formal, hingga orang yang memberikan petunjuk kebaikan sekecil apa pun. Rsi Yadnya pada Guru Purnima adalah wujud pengakuan bahwa kita tidak bisa tumbuh dan berilmu tanpa bimbingan orang lain.

Makna Rsi Yadnya dalam Perayaan Guru Purnima

Ada makna mendalam yang terkandung saat kita melaksanakan Rsi Yadnya bertepatan dengan Guru Purnima:

 1. Menghormati Kelahiran Cahaya Ilmu

Rsi Yadnya mengingatkan kita bahwa kelahiran fisik hanya memberi kita kehidupan raga, sedangkan ilmu yang diberikan guru melahirkan jiwa kita menuju cahaya kesadaran. Seperti terang bulan purnama yang memancar di malam gelap, ilmu dari guru adalah cahaya yang menerangi jalan hidup kita.

 2. Menjaga Warisan Ajaran Luhur

Melalui Rsi Yadnya, kita berterima kasih kepada para Resi terdahulu yang telah menularkan ajaran kebenaran hingga sampai kepada kita. Ini adalah bentuk komitmen untuk tidak melupakan asal-usul ilmu yang kita miliki, sekaligus berjanji untuk menyampaikannya kepada generasi selanjutnya dengan kemurnian yang sama.

3. Menyadari Hubungan Timbal Balik Guru dan Murid

Rsi Yadnya mengajarkan bahwa penghormatan tidak hanya berhenti pada pemberian persembahan. Penghormatan yang sesungguhnya adalah ketika murid mau mendengarkan nasihat, mengamalkan ilmu yang didapat, dan menjaga nama baik gurunya. Sebaliknya, seorang guru pun diingatkan untuk senantiasa menjadi teladan dan membimbing murid dengan hati yang tulus.

Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam dresta Bali, pelaksanaan Rsi Yadnya di hari Guru Purnima tidak cukup hanya dengan datang ke pura atau mempersembahkan banten. Lebih dari itu, nilai-nilainya harus diwujudkan dalam tindakan nyata:

- Menggunakan ilmu yang dimiliki untuk kebaikan bersama, bukan untuk merugikan orang lain.

- Selalu rendah hati, menyadari bahwa apa yang kita miliki adalah titipan dan bimbingan dari banyak         pihak.

- Menghargai setiap orang yang berusaha memberikan petunjuk, sekecil apa pun ilmu yang disampaikan.

Penutup

Perayaan Guru Purnima dengan inti pelaksanaan Rsi Yadnya adalah momen berharga bagi kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan bersyukur. Ia mengingatkan kita bahwa di tengah arus zaman yang terus berubah, penghormatan kepada ilmu dan pembimbingnya adalah fondasi yang tak boleh goyah. Semoga semangat Rsi Yadnya senantiasa menyertai langkah kita, menjadikan kita manusia yang berilmu, berakhlak mulia, dan selalu menghargai jasa para pendidik.

Rabu, 22 Juli 2026

JANGAN MENGHAKIMI DARI SEBUAH TATO: KETIKA STIGMA MENGANCAM HAK ANAK ATAS PENDIDIKAN

Oleh: I WAYAN SUIJI Wakasek Humas SMK Giri Pendawa

Tato atau tattoo merupakan gambar, tulisan, simbol, atau desain yang dibuat secara permanen maupun semi permanen pada kulit dengan memasukkan pigmen tinta ke lapisan kulit menggunakan jarum. Dalam perkembangan peradaban manusia, tato bukanlah sesuatu yang lahir dari budaya modern semata. Sejak ribuan tahun lalu, berbagai bangsa di dunia telah mengenal tato sebagai bagian dari identitas budaya, simbol keberanian, penanda status sosial, ekspresi seni, keyakinan spiritual, hingga bentuk penghormatan kepada orang yang dicintai.

Pada era sekarang, tato semakin diterima sebagai bagian dari ekspresi pribadi. Bahkan banyak kalangan profesional, seniman, atlet, hingga tokoh publik yang memilikinya. Dari sudut pandang medis, tato hanyalah prosedur memasukkan pigmen ke dalam kulit. Dari sisi hukum, keberadaan tato pada dasarnya bukanlah pelanggaran. Dari perspektif budaya dan agama, penilaiannya pun sangat beragam, tergantung nilai-nilai yang dianut masing-masing masyarakat.

Namun realitas di Indonesia menunjukkan bahwa tato masih sering dipandang dengan kacamata yang sempit. Tidak sedikit masyarakat yang secara spontan mengaitkan tato dengan perilaku kriminal, kenakalan, premanisme, atau kehidupan yang dianggap menyimpang. Seseorang yang bertato sering kali dihakimi sebelum diberi kesempatan menjelaskan siapa dirinya.

Stigma tersebut tentu tidak lahir begitu saja. Sejarah sosial Indonesia turut membentuk cara pandang masyarakat. Banyak yang masih mengingat operasi Penembakan Misterius (Petrus) pada era pemerintahan Presiden Soeharto pada awal 1980-an. Pada masa itu, tubuh-tubuh korban yang ditemukan di berbagai daerah sering diberitakan memiliki tato. Lambat laun, tato seolah menjadi identitas yang dilekatkan kepada pelaku kriminal. Padahal kenyataannya, tidak semua orang bertato adalah pelaku kejahatan, sebagaimana tidak semua orang yang tidak bertato pasti berperilaku baik.

Sayangnya, warisan stigma tersebut masih terasa hingga hari ini. Bahkan dalam dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi setiap anak, penampilan fisik terkadang lebih dahulu dinilai daripada latar belakang dan kemanusiaan seseorang.

Kisah yang dialami seorang anak bernama Anjeli menjadi contoh nyata.

Sejak duduk di bangku kelas I SMP, Anjeli memiliki tato kecil bergambar bunga mawar di lengan kanannya. Bukan karena mengikuti tren, bukan pula karena ingin terlihat berbeda. Tato itu muncul karena keyakinan keluarganya.

Ketika masih kecil, Anjeli sering mengalami sakit-sakitan. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan. Sebagai keluarga sederhana yang tinggal di pedesaan dan masih memegang teguh kepercayaan turun-temurun, orang tuanya kemudian meminta petunjuk kepada seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual. Dari petunjuk itulah disampaikan bahwa Anjeli perlu diberi tanda berupa bunga mawar di lengannya sebagai simbol perlindungan agar diberi keselamatan dan kesehatan.

Terlepas apakah masyarakat mempercayai hal tersebut atau tidak, itulah keyakinan yang hidup dalam keluarga Anjeli. Orang tuanya tidak bermaksud melanggar aturan ataupun mendidik anaknya menjadi pribadi yang buruk. Mereka hanya berusaha melakukan yang menurut keyakinannya merupakan jalan terbaik untuk keselamatan anak mereka.

Selama menempuh pendidikan di SMP, keadaan tersebut telah diketahui pihak sekolah. Guru memahami latar belakangnya sehingga Anjeli tetap dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik hingga akhirnya lulus.

Masalah baru muncul ketika ia hendak melanjutkan pendidikan ke salah satu SMK negeri yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat proses penerimaan peserta didik baru, keberadaan tato kecil di lengannya menjadi alasan penolakan. Sangat disayangkan, penolakan tersebut terjadi tanpa adanya proses klarifikasi ataupun kesempatan bagi orang tua untuk menjelaskan kronologi yang sebenarnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah sebuah tato otomatis menjadikan seorang anak tidak layak memperoleh pendidikan?

Bukankah setiap keputusan semestinya didasarkan pada fakta, bukan semata-mata pada asumsi?

Beruntung, harapan Anjeli belum sepenuhnya tertutup. Ia kemudian mendaftar ke SMK Giri Pendawa, sebuah sekolah swasta yang telah terakreditasi baik.

Pada awalnya, panitia penerimaan juga menunjukkan kehati-hatian. Namun Kepala Sekolah, I Komang Sumarta, memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak terburu-buru mengambil keputusan. Orang tua beserta Anjeli dipanggil untuk dimintai penjelasan secara langsung mengenai asal-usul tato tersebut.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal menegakkan aturan, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan mempertimbangkan sisi kemanusiaan.

Setelah memperoleh penjelasan, kepala sekolah mengundang para wakil kepala sekolah serta ketua program keahlian untuk melakukan rapat khusus. Perdebatan pun tidak dapat dihindari. Ada yang berpendapat aturan harus ditegakkan tanpa pengecualian agar menjadi contoh bagi peserta didik lain. Sebagian lagi berpandangan bahwa setiap persoalan memiliki konteks yang berbeda sehingga tidak tepat jika semua kasus dipukul rata.

Perbedaan pendapat tersebut justru menunjukkan bahwa keputusan yang diambil benar-benar melalui proses pertimbangan yang matang.

Akhirnya, sekolah mencapai kesepakatan yang mengedepankan rasa keadilan sekaligus menjaga wibawa aturan sekolah. Anjeli diterima sebagai peserta didik dengan beberapa ketentuan. Orang tua membuat surat pernyataan mengenai kronologi yang sebenarnya, sementara Anjeli bersedia menutup tato tersebut selama berada di lingkungan sekolah dan mengikuti seluruh tata tertib yang berlaku.

Keputusan tersebut tidak hanya menyelamatkan masa depan seorang anak, tetapi juga menunjukkan bahwa aturan dapat dijalankan tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan.

Kisah Anjeli mengingatkan kita bahwa pendidikan merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tegas menyatakan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Hak tersebut semestinya tidak mudah gugur hanya karena penilaian terhadap penampilan fisik, terlebih apabila penampilan itu memiliki latar belakang yang sama sekali tidak berkaitan dengan perilaku menyimpang.

Tentu sekolah memiliki hak menetapkan tata tertib demi membangun disiplin, karakter, dan citra lembaga. Tidak ada yang mempersoalkan hal itu. Namun aturan juga perlu diimbangi dengan kebijaksanaan. Sebab keadilan bukan berarti memperlakukan semua orang secara sama, melainkan memperlakukan setiap orang secara proporsional sesuai keadaan yang dihadapinya.

Di tengah semakin kuatnya semangat pendidikan inklusif, sudah saatnya kita meninggalkan kebiasaan memberi label kepada seseorang hanya karena penampilan luar. Karakter tidak dapat diukur dari ada atau tidaknya tato pada kulit seseorang. Integritas, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, serta tanggung jawab justru dibentuk melalui pendidikan yang baik.

Sekolah idealnya menjadi tempat yang mampu melihat potensi setiap anak, bukan sekadar melihat penampilannya. Sebab ketika sebuah lembaga pendidikan memilih untuk mendengar sebelum menghakimi, maka yang diselamatkan bukan hanya masa depan seorang anak, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh pendidikan itu sendiri.

Semoga kisah Anjeli menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik sebuah tato, sering kali tersimpan cerita yang tidak diketahui orang lain. Karena itu, sebelum memberi cap buruk kepada seseorang, alangkah bijaksananya jika kita terlebih dahulu mendengar kisahnya. Sebab tidak semua tato lahir dari kenakalan, dan tidak semua anak bertato kehilangan haknya untuk bermimpi serta memperoleh pendidikan yang layak.

Penandatanganan pernyataan kronologi tato oleh ybs.

Penandatanganan pernyataan kronologi tato oleh orang tua ybs.


Penyerahan pernyataan bertato kepada kepala sekolah oleh orang tua ybs


Fenomena PKL SMK Giri Pendawa: Antara Harapan, Keterpurukan Karakter, dan Tanda Tanya Besar

Tahun pelajaran 2026/2027 menjadi catatan tersendiri bagi SMK Giri Pendawa. Sebanyak 146 siswa telah dikirimkan untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ke berbagai Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), dengan jadwal penyelesaian pada bulan Desember mendatang. Harapan besar disematkan agar para siswa dapat mengasah kemampuan, membangun kedewasaan, dan belajar profesionalisme langsung di lapangan. Namun, baru sebulan berjalan, kenyataan pahit mulai terungkap: sudah ada 5 siswa yang terjebak masalah serius, bahkan 3 di antaranya bersikeras menghentikan kegiatan mereka bahkan sampai menyatakan diri berhenti sekolah.

Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari Anjeni, seorang siswi anak tunggal yang sangat disayang keluarganya,baru seminggu bekerja, ia sudah merasa kelelahan. Ketika para senior di tempat pelatihan berusaha membimbing dan menasihatinya, bukannya menerima dengan baik, Anjeni malah ngambek, pulang ke rumah dan meminta berhenti total. Pihak sekolah memanggil orang tuanya untuk mencari jalan keluar, namun respon mereka justru menyerah: "Kasihan, ia sudah capek,biar dah berhenti" ucap orang tuanya dengan nada pasrah. Akhirnya, izin berhenti pun tidak bisa dihindari.

    Salah satu orang tua siswa yang hadir ke sekolah

Kordinator dan ketua PKL sedang berdiskusi dengan siswa dan ortunya

Kasus yang lebih berat menimpa Andi, siswa laki-laki yang juga anak tunggal dan memiliki watak agak temperamental. Ketika disuruh melakukan tugas kebersihan dan diberi arahan, ia tidak segan-segan melawan secara terang-terangan. Tak berhenti di situ, ia kembali ke tempat kos dan mengirim pesan lewat aplikasi WA kepada seniornya yang berisi tantangan berkelahi. Tak heran, HRD tempatnya bekerja hingga segera menghubungi pihak sekolah dan menyatakan Andi sudah tidak bisa dibina lagi dan harus dipecat. Saat dikonfirmasi, sikapnya sangat tidak beretika dan bicaranya keras. Ketika dipanggil bersama orang tuanya, terungkap fakta mengejutkan: ia menunggak pembayaran SPP sekolah hingga 19 bulan. Orang tuanya pun sulit dihubungi dan mengaku tidak pernah menerima surat panggilan. Segala arahan dan bimbingan tidak mempan. Bahkan setelah memohon petunjuk niskala dan diupacarai bahkan sudah  melakukan upacara mebayuh, perubahan tetap tidak terlihat. "Biarkan saja apa maunya, saya mohon maaf atas kelakuan anak saya," begitulah kata orang tua Andi akhirnya.

Sama tragisnya adalah kisah Juned, yang juga dipecat karena sering bolos kerja tanpa alasan jelas. Saat ditanya alasannya, jawabannya singkat dan polos namun menyakitkan: ia merasa malas dan capek bekerja. Terhadap ketiga siswa ini, pihak sekolah (kesiswaan ,humas dan panitia PKL ) datang kerumah mereka masing masing memfinalisasi keputusan mereka dengan membawa draf Surat Pernyataan dan rincian daftar tunggakan kewajibannya di sekolah. Mereka pun optimis dan tegas menyatakan diri berhenti serta menandatangani dokumen pernyataan berhenti sekolah dengan alasan masing-masing.

Kisah tidak berhenti di situ. Ada pula sepasang saudara kembar, Dono dan Antara. Antara harus menerima pemecatan karena sifat malasnya yang parah, sering mangkir kerja dengan alasan yang dibuat-buat, dan puncaknya tertidur di kamar hotel saat jam kerja. Sedangkan Dono mengundurkan diri seenaknya sendiri tanpa prosedur yang benar. Penelusuran fakta menunjukkan bahwa latar belakang keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja, orang tua sedang dilanda masalah rumah tangga yang berat.

Melihat rangkaian kejadian ini, timbul pertanyaan besar di benak kami: di mana letak permasalahan sesungguhnya ? Di sekolah, kami sudah mendidik dan melatih siswa sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, menanamkan kedisiplinan dan etika. Namun tampaknya pengaruh dari lingkungan rumah sangat besar. Banyak orang tua yang terlalu memanjakan dan menyayangi anaknya secara berlebihan, sehingga ketika anak menolak atau melawan, orang tua justru takut terjadi apa-apa dan akhirnya membiarkan keinginan anak menang. Belum lagi pengaruh pergaulan bebas dan dunia maya yang tidak terkontrol, membuat pola pikir mereka terbiasa dengan hal instan dan tidak tahan banting.

 Apakah ini semua dampak jangka panjang dari pandemi COVID-19 yang lalu? Di mana interaksi sosial dan pembentukan karakter secara langsung sempat terputus lama???.   Sungguh saya pun merasa bingung melihat kenyataan ini. Generasi muda kita seolah rapuh: sedikit saja mendapat tekanan, mendengar nasihat, atau menghadapi kesulitan kecil, mereka langsung memilih mundur, ngambek, dan tidak segan mengorbankan masa depan mereka sendiri demi kenyamanan sesaat. Semoga kita semua dapat merenungkan hal ini dan mencari solusi bersama agar tidak terulang kembali di masa mendatang.(Manixs/koordinator PKL).


Senin, 20 Juli 2026

TeFa E_Widya Giri: Tempat Kreasi Jadi Cuan, Jiwa Wirausaha Makin Bersinar!

Siapa bilang di sekolah cuma bisa belajar teori sampai pusing tujuh keliling? Di SMK Giri Pendawa, ada angin segar yang bikin suasana belajar jadi seru sekaligus bermanfaat. Kami punya "kawasan istimewa" baru, yaitu unit usaha koperasi sekolah bernama TeFa E_Widya Giri. Kepanjangannya agak panjang dikit: Teaching Factory Entrepreneur Widya Giri. Tapi jangan khawatir, maknanya seindah rasanya masakan yang kita buat! Sesuai dengan mottonya yang keren: "Kreatif Berkarya, Siap Berwirausaha", tempat ini bukan sekadar ruang biasa, tapi rumah kedua bagi kita yang ingin berkarya sekaligus belajar jadi pengusaha tangguh.

 Lho, kok namanya TeFa? Iya, ini konsep Teaching Factory yang memadukan belajar sekaligus bekerja layaknya di dunia usaha nyata. E-Widya Giri sendiri mengandung arti semangat ilmu pengetahuan yang dibawa dengan jiwa wirausaha. Nah, unit usaha ini lahir dari gagasan cerdas koperasi sekolah "Giri Amertha" yang ingin memberikan wadah nyata bagi siswa, khususnya mereka jurusan Tata Boga yang hobi masak dan berkreasi. Selama ini hasil praktek kita seringkali cuma dimakan bareng teman atau dibawa pulang habis begitu saja. Padahal, kualitasnya bisa jadi juara! Di sini, segala kue lezat, masakan nikmat, hingga olahan kreatif buatan tangan siswa, semuanya bisa disalurkan, ditampung, lalu dipasarkan dengan rapi.

Tapi ingat, TeFa E_Widya Giri bukan cuma sekadar tempat jualan camilan, lho! Misi utamanya sungguh mulia: menjadi penampung resmi hasil karya dan keterampilan siswa, serta memenuhi kebutuhan anggota koperasi maupun seluruh warga SMK Giri Pendawa. Mulai dari bapak ibu guru yang butuh camilan saat rapat, teman-teman siswa yang ingin jajan sehat, sampai kebutuhan perlengkapan sederhana, semuanya ada di sini. Lebih serunya lagi, kita semua diajak belajar manajemen usaha secara langsung—mulai dari menghitung modal, belanja bahan, mengatur stok barang, melayani pembeli dengan ramah, sampai merasakan serunya (dan kadang pusing juga dikit) mengatur keuangan. Belajar sambil praktek, bukan cuma teori di buku yang bikin mata berat!

Tujuan utama didirikannya unit usaha ini sungguh luar biasa: memupuk jiwa wirausaha kita sejak dini. Kita dilatih untuk tidak cuma jadi pencari kerja, tapi juga bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Bayangkan saja, kita bisa melihat langsung bagaimana ide kreatif berubah menjadi produk yang disukai orang, lalu menghasilkan keuntungan yang bermanfaat bagi kemajuan bersama. Tidak ada lagi hasil karya yang terbuang percuma, tidak ada lagi potensi yang terpendam. Semua dikumpulkan, dikembangkan, dan dipasarkan dengan penuh semangat sesuai prinsip koperasi yang saling menguntungkan.

Singkatnya, TeFa E_Widya Giri adalah bukti nyata bahwa belajar berwirausaha itu asyik, menantang, dan sangat berguna. Dengan semboyan "Kreatif Berkarya, Siap Berwirausaha", kita berjanji akan terus berinovasi, menghasilkan produk berkualitas dari tangan terampil kita, dan melayani sesama dengan sepenuh hati. Semoga unit usaha ini makin jaya, makin dicintai warga sekolah, dan mencetak banyak pengusaha sukses muda dari SMK Giri Pendawa! Yuk, dukung karya kita sendiri, karena di sini kita belajar berkarya, berdagang, dan bermimpi besar dengan cara yang paling seru! (manixs)

Minggu, 19 Juli 2026

Penutupan MPLS dan Upanayana Siswa Kelas X SMK Giri Pendawa Berlangsung Khidmat di Pura Dalem Pendawa

Gatra Humas,18-07-2026 ---– Penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dirangkaikan dengan Upacara Upanayana bagi siswa kelas X SMK Giri Pendawa berlangsung khidmat di Pura Dalem Pendawa, Sabtu. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian MPLS sekaligus menandai pengesahan siswa baru secara niskala sebagai bagian dari keluarga besar SMK Giri Pendawa.

Perjalanan menuju lokasi upacara diawali dengan suasana hujan gerimis. Namun, setibanya di kawasan hutan lindung yang mengelilingi Pura Dalem Pendawa, hujan seolah menghilang. Hanya tampak awan tipis yang berarak perlahan diterpa angin pegunungan, menghadirkan kesejukan dan keasrian alam yang menambah kekhusyukan suasana.

Sebelum menuju Pura Dalem Pendawa, rombongan siswa terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pura Puseh Glagah. Selain bersembahyang, para siswa juga ngayah dengan melaksanakan kegiatan mereresik atau membersihkan area pura sebagai wujud bakti dan kepedulian terhadap tempat suci.

Usai persembahyangan pertama, perjalanan dilanjutkan menggunakan sepeda motor masing-masing menuju Pura Dalem Pendawa melalui jalur berpasir yang menanjak dan cukup ekstrem. Medan yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa, terutama mereka yang baru pertama kali melintasinya.

Tak sedikit sepeda motor kehilangan traksi akibat pasir yang dalam sehingga tak mampu lagi menaklukkan tanjakan. Para pengendara pun harus turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil mendorong motornya. Meski demikian, semangat para siswa tidak surut. Sebagian besar berhasil melewati tanjakan, bahkan seorang siswi mampu mengendarai motornya hingga mencapai puncak, mengundang decak kagum peserta lainnya.

Sekitar pukul 09.00 Wita, rangkaian Upacara Upanayana dimulai. Ritual dipimpin oleh Jero Mangku Jan Bangul dan didampingi Penyarikan Desa Pule, Jero Nyoman Pande. Suasana sakral terasa ketika lantunan puja mantra berpadu dengan suara bajra dan hembusan angin pegunungan yang menambah kekhidmatan prosesi.

Prosesi dilanjutkan dengan penyucian banten, pelinggih, serta penyucian diri para peserta sebagai simbol penyucian jiwa dalam merajut harapan dan langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Setelah persembahyangan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan acara penutupan MPLS yang diawali dengan hening cipta. Suasana sempat terganggu oleh beberapa siswa yang masih berbicara. Kepala SMK Giri Pendawa, Jero Komang Sumarta, dengan suara tegas mengingatkan peserta.

"Berhenti kalian ribut, tak mengerti hening. Diam!"

Seruan tersebut langsung membuat seluruh peserta terdiam. Keheningan pun tercipta selama beberapa menit sebelum acara resmi dimulai.

Ketua panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa sebagian besar peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik. Dari jumlah peserta sekitar 119 orang, beberapa siswa tidak dapat hadir karena alasan tertentu. Kegiatan juga dihadiri pengurus OSIS, dewan guru, tenaga kependidikan, serta perwakilan Yayasan Giri Pendawa.

Dalam sambutannya, Kepala SMK Giri Pendawa, Jero Komang Sumarta, mengapresiasi kehadiran para siswa yang telah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.

"Anak-anak yang tidak hadir akan diberikan sanksi karena Upanayana ini merupakan kegiatan yang sangat penting. Ini adalah babak baru kalian memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dekatkanlah diri kepada Tuhan, karena itulah makna Upanayana, yakni memohon restu dan mendekatkan diri kepada Sang Penguasa Ilmu Pengetahuan," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dipilihnya Pura Dalem Pendawa bukan tanpa alasan.

"Di tempat inilah sabda suci turun sebagai landasan berdirinya sekolah kita. Dengan terlaksananya Upanayana ini, kalian telah sah secara niskala menjadi siswa SMK Giri Pendawa," tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Giri Pendawa, Gst. Ngurah Mataram, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh siswa yang telah menyelesaikan MPLS sejak 13 hingga 18 Juli dengan baik.

"Atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan MPLS SMK Giri Pendawa secara resmi saya nyatakan ditutup," ucapnya yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.

Menutup acara, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji, menyampaikan pesan inspiratif kepada seluruh siswa. Menurutnya, perjalanan menuju Pura Dalem Pendawa merupakan simbol perjalanan kehidupan.

"Perjalanan menuju puncak ibarat proses kehidupan. Banyak tanjakan, rintangan, dan tantangan yang harus dihadapi. Raihlah puncak dengan kerja keras, kerja tuntas, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Dengan itu, kalian akan sampai pada tujuan dengan selamat," pesannya.

Ia juga mengajak siswa memaknai keberadaan Pura Pendawa sebagai simbol kepemimpinan yang diwariskan para Pandawa.

"Dharmawangsa melambangkan kebijaksanaan, Bima melambangkan kekuatan, Arjuna melambangkan kecerdasan dan cinta kasih, sedangkan Nakula dan Sahadewa melambangkan kemuliaan serta kemakmuran. Nilai-nilai itulah yang hendaknya kalian perjuangkan, baik secara sekala maupun niskala, agar kelak menjadi pribadi yang sukses dan berbudi luhur," pungkasnya.

Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan santap siang bersama dalam suasana penuh kebersamaan sebelum seluruh peserta kembali pulang, membawa pengalaman spiritual sekaligus pelajaran hidup yang akan menjadi bekal dalam menempuh perjalanan pendidikan di SMK Giri Pendawa.(manixs)


Persembahyangan pertama di Pura Puseh Glagah

Laporan Ketua Panitia










Sosialisasi Program Kerja SMK Giri Pendawa Tahun Pelajaran 2026/2027 Libatkan Orang Tua/Wali Siswa Kelas X

Gatra Humas,17-07-26,SMK Giri Pendawa menyelenggarakan rapat sosialisasi Program Kerja Tahun Pelajaran 2026/2027 bersama orang tua/wali siswa kelas X pada Jumat, 17 Juli 2026, di aula sekolah setempat. Kegiatan ini dipandu oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas), I Wayan Suiji.

Dari sebanyak 119 siswa yang mendaftar kembali, sekitar 80 persen orang tua/wali siswa hadir dalam pertemuan tersebut. Sementara itu, orang tua yang berhalangan hadir diwakili oleh putra-putrinya.

Acara diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembukaan serta pengenalan jajaran pimpinan dan pelaksana sekolah, mulai dari Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, para Wakil Kepala Sekolah (Waka), Ketua Program Keahlian (Kaprodi), hingga Kepala Tata Usaha (KTU).

Selanjutnya, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, memaparkan visi dan misi sekolah, delapan Standar Nasional Pendidikan, serta program kerja masing-masing bidang, meliputi kurikulum, kesiswaan, hubungan masyarakat, sarana dan prasarana, program keahlian, hingga tata usaha. Dalam kesempatan tersebut, Sumarta juga mengajak seluruh orang tua/wali siswa untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung pendidikan putra-putrinya, tidak hanya melalui dukungan material, tetapi juga dukungan moral dan spiritual agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.

Mengenai pembiayaan pendidikan, penjelasan disampaikan secara rinci oleh Waka Humas, I Wayan Suiji, melalui tayangan presentasi. Ia menegaskan bahwa tujuan utama pertemuan ini adalah memberikan pemahaman secara terbuka mengenai rincian program sekolah, khususnya yang berkaitan dengan pembiayaan.

Adapun biaya yang disampaikan meliputi SPP sebesar Rp100.000 per bulan, iuran pemeliharaan laboratorium Rp45.000 per bulan, tabungan siswa Rp5.000 per bulan, simpanan sukarela koperasi Rp10.000 per bulan, dana familiarisasi sebesar Rp220.000, dana pengadaan sarana Teaching Factory sebesar Rp290.000, serta dana petigasanan sebesar Rp180.000 per orang tua siswa. Sementara itu, biaya pengadaan pakaian sekolah berbeda untuk setiap program keahlian dan jenis kelamin, bergantung pada jenis dan jumlah item yang dipilih. Suiji juga menegaskan bahwa tabungan siswa serta simpanan koperasi dapat diambil kembali setelah siswa menyelesaikan pendidikannya.

Ketua Yayasan Giri Pendawa, I Ketut Sudana, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran para orang tua/wali siswa. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi wadah untuk berdiskusi dan membangun sinergi dalam mendidik putra-putri agar mampu meraih masa depan yang lebih baik.

Sudana juga memaparkan sejarah berdirinya SMK Giri Pendawa beserta berbagai capaian yang telah diraih. Ia mengungkapkan bahwa lulusan sekolah tersebut telah banyak terserap di berbagai dunia usaha dan industri, baik di dalam maupun luar negeri, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup para alumninya.

Memasuki sesi diskusi yang dipandu oleh I Wayan Suiji, suasana berlangsung hangat dan komunikatif. Sesekali ia menyampaikan pantun untuk mencairkan suasana sehingga peserta tampak antusias dan penuh keakraban. Setelah diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan maupun tanggapan, tidak ada peserta yang menyampaikan keberatan ataupun keraguan terhadap program yang telah dipaparkan.

Dengan demikian, seluruh program kerja yang disosialisasikan dapat diterima dan disepakati untuk dilaksanakan bersama. Seusai acara ditutup, puluhan orang tua/wali siswa langsung mendatangi staf Tata Usaha guna menunaikan kewajiban administrasi sesuai ketentuan yang telah disampaikan dalam sosialisasi tersebut.(manixs)

Orang tua/wali siswa kelas X peserta rapat sosialisasi program kerja 2026/2027

Penyampaian program kerja oleh kepala sekolah

Suasana saat mendengarkan pengarahan ketua yayasan I Ketut Sudana

Keseriusan peserta saat diskusi mendengarkan kesimpulan dan menjadi keputusan rapat

Data keputusan rapat tentang pembiayaan program kerja TP 2026/2027,untuk uang komite(SPP+Pemeliharaan Lab+Tab) dan simpanan wajib koperasi terhitung  baru sampe 
bulan Juli- Agustus 2026 Agustus.

Senin, 13 Juli 2026

Pembukaan MPLS SMK Giri Pendawa Tahun Pelajaran 2026/2027, Diikuti 115 Calon Murid Baru.

Gatra Humas, 13 Juli 2026 – SMK Giri Pendawa secara resmi membuka kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2026/2027 pada Senin (13/7/2026). Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan doa bersama, laporan ketua panitia, sambutan kepala sekolah, arahan komite sekolah, serta pembukaan secara resmi.

Ketua Panitia MPLS, I Wayan Gede Arta Sunyana, dalam laporannya menyampaikan bahwa proses penerimaan peserta didik baru telah dipersiapkan sejak April 2026 melalui kegiatan sosialisasi PPDB di delapan SMP pendukung yang berada di Kecamatan Selat dan Kecamatan Rendang.

"Hari ini, 13 Juli 2026, kita memulai kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang akan berlangsung hingga 18 Juli 2026. Penutupan kegiatan akan dilaksanakan di Pura Dalem Pendawa yang dirangkaikan dengan Upacara Samawartana," jelasnya.

Ia juga melaporkan bahwa hingga hari pertama MPLS tercatat sebanyak 115 calon murid baru, terdiri atas 77 siswa Program Keahlian Perhotelan dan 38 siswa Program Keahlian Tata Boga. Pihak sekolah masih membuka kesempatan bagi calon siswa yang belum memperoleh sekolah hingga akhir pekan ini.

Sementara itu, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, guru, staf, dan pegawai atas kerja keras mereka sehingga sekolah kembali dipercaya masyarakat dengan jumlah penerimaan mencapai 115 siswa baru.

"Mulai hari ini para calon murid mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah agar memahami apa dan bagaimana proses belajar di SMK Giri Pendawa. Kegiatan MPLS ini berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang MPLS serta Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial atau hiburan, melainkan proses penting untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik baru.

Menurutnya, nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi landasan utama dalam pelaksanaan MPLS. Hubungan harmonis dengan Tuhan diwujudkan melalui pemanfaatan Padmasana sebagai tempat persembahyangan, hubungan yang baik dengan sesama diterapkan melalui sikap saling menghormati kepada teman, guru, dan tenaga kependidikan, sedangkan hubungan dengan lingkungan diwujudkan dengan menjaga kebersihan dan kelestarian sekolah.

"Kita memiliki lingkungan sekolah yang asri. Bahkan halaman sekolah dilalui parit kecil dengan air yang jernih. Suara gemericik airnya diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga siswa betah berada di sekolah," katanya.

Dalam mendukung pengembangan kompetensi peserta didik, sekolah juga menjalin kerja sama dengan berbagai mitra, di antaranya ATOVA yang berkantor pusat di Inggris dalam pengembangan informasi, kesehatan, dan keterampilan berbahasa asing. Selain itu, sekolah bekerja sama dengan Zenit College untuk program pelatihan dan magang ke Jepang serta berbagai hotel di Bali sebagai tempat praktik kerja lapangan.

"Astungkara, seluruh kerja sama tersebut dapat terus bersinergi demi kelancaran proses belajar kalian selama tiga tahun ke depan," tambahnya.

Mewakili Ketua Komite Sekolah, I Wayan Suiji yang juga menjabat Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat menyampaikan rasa syukur atas diterimanya 115 peserta didik baru di SMK Giri Pendawa.

Ia berharap seluruh guru dapat membimbing para siswa dengan baik karena mereka merupakan generasi yang tumbuh bersama internet, smartphone, dan media sosial sehingga memiliki kemampuan memperoleh informasi dengan cepat serta kreativitas yang tinggi. Namun demikian, menurutnya, pembinaan karakter tetap menjadi perhatian utama, terlebih setelah dampak pandemi Covid-19.

"Mulai hari ini, semoga atas rahmat Ida Hyang Widhi Wasa, kami titip anak-anak ini untuk dibimbing selama tiga tahun ke depan agar menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan berbudaya sesuai visi SMK Giri Pendawa. Sebagai bentuk legalitas, sebentar lagi akan dilakukan penandatanganan berita acara serah terima peserta didik dari orang tua kepada pihak sekolah," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Giri Pendawa, I Ketut Sudana, mengaku bersyukur karena sejak berdiri pada tahun 2012, SMK Giri Pendawa hampir setiap tahun mampu menerima lebih dari 100 siswa, kecuali pada masa pandemi Covid-19.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tetap terjaga. Ia juga menyampaikan bahwa para alumni SMK Giri Pendawa kini telah bekerja di berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, seperti Jepang, Turki, Maladewa, Amerika Serikat, Australia, Irlandia, serta di berbagai industri perhotelan dan kapal pesiar.

"Kalian jangan pesimis. Tetap optimis dan belajar dengan sungguh-sungguh untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang. Jangan nakal, jangan malas, apalagi membuat onar. Kalian sendiri yang akan rugi, sementara orang tua telah berjuang membiayai dan membesarkan kalian. Camkan itu," pesannya.

Dengan dimulainya MPLS Tahun Pelajaran 2026/2027, SMK Giri Pendawa berharap seluruh peserta didik baru mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, memahami budaya belajar yang positif, serta mempersiapkan diri menjadi lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,dan atau mampu mandiri berwira usaha.(manixs).

Sebelum acara dimulai dari kiri: kaprodi TB,Ketua Komite,Kepala Sekolah,
Ketua Yayasan,kaprodi Perhotelan dan Wakasek Kesiswaan

Sambutan Kepala SMK Giri Pendawa I komang Sumarta.

Sambutan Ketua Komite diwakili Waka Humas

Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Murid Baru TP.2026/2027

Penyerahan Berita Acara Serah Terima Murid Baru dari 
Ketua Komite kepada Kepala Sekolah disaksikan Ketua Yayasan

Sambutan Ketua Yayasan I Ketut Sudana

Pengalungan nametag saat pembukaan MPLS pada peserta putra oleh Ketua Yayasan

Pengalungan namtage pada peserta putri sebagai tanda dimulainya MPLS

Foto bersama dari kiri: Ketua Panitia,Ketua Komite,Kepala Sekolah,
Peserta Pi/pa,Ketua Yayasan dan kaprodi Perhotelan.