Oleh:
I Wayan Suiji,Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas,SMK Giri Pendawa.
Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang sarat dengan tantangan. Pengaruh lingkungan, pergaulan, media sosial, hingga kurangnya pengawasan dapat memicu munculnya berbagai bentuk kenakalan remaja, seperti perkelahian, pelanggaran tata tertib, penyalahgunaan waktu belajar, hingga pergaulan bebas yang melampaui norma agama, etika, dan budaya.
Sebagai lembaga pendidikan vokasi yang berkomitmen membentuk lulusan yang unggul dalam kompetensi sekaligus berkarakter, SMK Giri Pendawa menerapkan langkah-langkah preventif dan pembinaan secara berjenjang dalam menangani setiap pelanggaran yang dilakukan peserta didik. Pendekatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyadari kesalahannya, memperbaiki perilaku, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.
Pencegahan Menjadi Prioritas
Upaya pencegahan dilakukan melalui berbagai program pembinaan karakter, antara lain:
Penegakan tata tertib sekolah secara konsisten.
Pengawasan guru selama kegiatan pembelajaran agar tidak terjadi jam kosong tanpa pengawasan.
Penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.
Komunikasi intensif antara wali kelas, guru BK, kesiswaan, humas, dan orang tua.
Pembentukan grup komunikasi dengan orang tua sebagai media koordinasi apabila muncul permasalahan peserta didik.
Pemberian keteladanan oleh seluruh warga sekolah dalam sikap, disiplin, dan etika.
Melalui langkah preventif tersebut diharapkan potensi kenakalan remaja dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi pelanggaran yang lebih serius.
Penanganan Dilakukan Secara Bertahap
Apabila terdapat peserta didik yang melakukan pelanggaran, seperti perkelahian, tindakan perundungan, pergaulan yang melampaui batas norma, maupun bentuk pelanggaran tata tertib lainnya, sekolah menerapkan mekanisme pembinaan secara bertahap sesuai ketentuan yang berlaku.
Tahapan tersebut meliputi:
1. Pembinaan oleh Wali Kelas
Wali kelas menjadi pihak pertama yang memberikan nasihat, pembinaan, serta melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada peserta didik.
2. Pendampingan oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK)
Apabila belum menunjukkan perubahan, peserta didik akan mendapatkan layanan konseling dan pendampingan dari guru BK untuk menggali akar permasalahan serta mencari solusi yang tepat.
3. Penanganan oleh Bidang Kesiswaan
Jika pelanggaran masih berlanjut, penanganan diteruskan kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan untuk dilakukan pembinaan yang lebih intensif.
4. Pembinaan oleh Pimpinan Sekolah
Peserta didik yang tetap mengulangi pelanggaran akan dipanggil oleh pimpinan sekolah guna memperoleh arahan, nasihat, dan peringatan secara langsung.
5. Sidang Pembinaan dan Pemanggilan Orang Tua
Apabila belum ada perubahan, sekolah menyelenggarakan sidang pembinaan yang melibatkan wali kelas, guru BK, bidang kesiswaan, humas, kaprodi,serta orang tua(bila perlu) atau wali siswa. Forum ini bertujuan mencari solusi terbaik demi kepentingan peserta didik.
6. Skorsing Sementara
Bila seluruh upaya pembinaan tersebut belum memberikan hasil, peserta didik dapat dikenai sanksi skorsing selama satu minggu sesuai tata tertib sekolah. Masa skorsing dimaksudkan sebagai waktu untuk melakukan refleksi dan memperbaiki sikap, bukan sebagai bentuk hukuman semata.
7. Pengembalian kepada Orang Tua
Sebagai langkah terakhir, apabila peserta didik tetap tidak menunjukkan perubahan dan terus melakukan pelanggaran berat sesuai ketentuan tata tertib sekolah, maka sekolah dapat memutuskan untuk mengembalikan peserta didik kepada orang tua melalui keputusan yang ditetapkan sesuai prosedur sekolah. Selanjutnya, administrasi kepesertaan didik diproses sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk penghapusan data dari Dapodik apabila status peserta didik telah resmi berakhir.
8. Membangun Karakter Menjadi Tanggung Jawab Bersama
SMK Giri Pendawa meyakini bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan sinergi antara keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dengan orang tua terus diperkuat agar setiap perkembangan peserta didik dapat dipantau dan ditangani secara bersama.
Sekolah berharap seluruh peserta didik menjadikan tata tertib bukan sebagai beban, melainkan sebagai pedoman untuk membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Dengan kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan siswa, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta kondusif sehingga setiap peserta didik dapat berkembang menjadi generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(manix)




.jpeg)

.jpeg)





.jpeg)

.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)





.jpeg)









