Rabu, 04 November 2026

Police Goes to School, Polsek Rendang Bekali Siswa SMK Giri Pendawa tentang Bahaya Narkoba hingga Judi Online

RENDANG – Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Rendang menggelar kegiatan Police Goes to School di SMK Giri Pendawa, Senin (2/11/2026). Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung dalam bentuk pembinaan saat upacara bendera tersebut dialihkan ke ruang Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) akibat hujan.

Kegiatan ini diikuti pengurus OSIS dan pengurus kelas X serta XI dari kompetensi keahlian Perhotelan (PH) dan Tata Boga (TB).

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada jajaran Polsek Rendang atas kerja sama dalam membina peserta didik. Ia berharap sinergi antara sekolah dan kepolisian dapat terus ditingkatkan sehingga pembinaan terhadap generasi muda berlangsung lebih intensif dan berkelanjutan.

Mewakili Kapolsek Rendang, Kanit Samapta AKP Ngakan Komang Antara Wijaya memberikan pengarahan mengenai sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari ketertiban berlalu lintas, bahaya narkoba, perundungan (bullying), judi online, hingga penggunaan media sosial.

Dalam materi lalu lintas, ia mengingatkan para siswa agar mematuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kepatuhan tersebut meliputi kelengkapan kendaraan, penggunaan helm berstandar, serta kelengkapan administrasi pengendara, termasuk Surat Izin Mengemudi (SIM).

Ia memahami bahwa sebagian besar siswa belum memenuhi persyaratan usia untuk memiliki SIM. Namun, keterbatasan transportasi umum bukan alasan untuk mengabaikan keselamatan berlalu lintas.

"Saya tahu kalian belum memiliki SIM karena memang belum cukup umur. Saya memahami kondisi itu, apalagi akses angkutan umum untuk kalian juga terbatas. Karena itu, saya minta tetap tertib berlalu lintas, gunakan helm dan pastikan kendaraan dalam kondisi standar," ujarnya.

Mengenai narkoba, ia mengingatkan bahwa penyalahgunaan narkotika dapat terjadi di lingkungan pergaulan mana pun. Modus penyalahgunaannya pun beragam, sehingga para siswa harus berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan.

Ia menegaskan bahwa penyalahgunaan maupun peredaran narkotika memiliki konsekuensi hukum serius berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika beserta ketentuan pidana yang berlaku.

Persoalan perundungan juga menjadi perhatian dalam pengarahan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tindakan bullying, baik secara langsung maupun melalui media digital (cyberbullying), dapat menimbulkan konsekuensi hukum. Sejumlah ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan korban anak antara lain Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, serta ketentuan KUHP dan peraturan perundang-undangan terkait informasi elektronik sesuai unsur perbuatannya.

Sementara itu, Kanit Intel AKP I Wayan Bakta memberikan perhatian khusus terhadap maraknya praktik judi online. Menurut dia, keinginan memperoleh uang secara instan sering menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang terjerumus ke dalam perjudian daring. Pelakunya kerap terjebak dalam angan-angan memperoleh kemenangan dan keuntungan besar.

Ia juga mengingatkan adanya potensi keterkaitan antara penyalahgunaan narkoba dan judi online. Lingkungan pergaulan yang tidak sehat serta perilaku adiktif dapat membuat seseorang semakin rentan terjerat berbagai persoalan sosial dan hukum.

Dalam kaitannya dengan penggunaan media sosial, Bakta meminta para siswa agar lebih bijak dan tidak sembarangan menyebarkan informasi. Setiap berita atau pesan yang diterima harus dicermati terlebih dahulu, diperiksa sumbernya, serta dipastikan kebenaran dan tujuannya.

"Kalau beritanya belum akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, jangan kalian unggah. Apabila kemudian berhadapan dengan persoalan pidana, kalian bisa ikut terseret sesuai perbuatan dan ketentuan hukum yang berlaku. Hati-hati menggunakan jari kalian ketika mengetik di keyboard HP," katanya.

Pada sesi tanya jawab, masing-masing kelas diberikan kesempatan menyampaikan satu pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang cukup menarik perhatian adalah mengapa pabrik knalpot tidak ditutup saja jika penggunaan knalpot brong dilarang.

Pertanyaan tersebut mendapat tanggapan dari pihak kepolisian. Persoalan itu rencananya akan ditindaklanjuti melalui penyampaian surat kepada Mabes Polri.

Pada bagian penutup, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji, menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polsek Rendang atas pembinaan yang telah diberikan. Ia berharap seluruh arahan tersebut dapat ditindaklanjuti sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kedisiplinan siswa, khususnya ketika berada di jalan raya dan di tengah masyarakat.

Menurut Suiji, pihak sekolah selama ini telah melakukan pembinaan kedisiplinan melalui pengawasan pada pagi dan siang hari. Namun, pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Diperlukan kerja sama antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

Ia juga menyoroti pentingnya keteladanan pemerintah dan aparat dalam menerapkan serta menegakkan peraturan perundang-undangan secara konsisten dan berkeadilan.

Dalam persoalan narkoba, misalnya, ia berharap penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pelaku peredaran maupun penyalahgunaan sesuai peran dan ketentuan hukum masing-masing.

"Kalau demi menyelamatkan anak bangsa, petugas harus tegas menindak para pelaku sehingga benar-benar ada penegakan hukum yang berkeadilan," ujarnya.

Suiji turut mengingatkan bahaya korupsi yang apabila dibiarkan dapat berkembang menjadi budaya dan menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut dia, persoalan tersebut merupakan ancaman serius bagi masa depan Indonesia apabila tidak ditangani secara sungguh-sungguh.

Sebagai bentuk komitmen menjaga peserta didik dari bahaya narkoba, Suiji bahkan menyatakan pihak sekolah terbuka apabila pihak kepolisian hendak melakukan tes urine terhadap siswa SMK Giri Pendawa untuk memastikan kondisi mereka terkait penyalahgunaan narkoba.

Kegiatan Police Goes to School tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan penyuluhan semata. Lebih dari itu, pembinaan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran hukum, kedisiplinan, tanggung jawab, serta karakter positif di kalangan peserta didik.

Sinergi antara dunia pendidikan, kepolisian, keluarga, masyarakat, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam melindungi generasi muda dari berbagai ancaman sosial sekaligus mempersiapkan mereka menjadi warga negara yang sadar hukum dan bertanggung jawab.(manixs).

Peserta pembinaan OSIS dan Pengurus Kelas

Dari kiri kekanan,Kanit Samapta,Kepala Sekolah dan Kanit Intel

Peserra yang menanggapi

Peserta yang bertanya dan menanggapi


Tanggapan peserta

Biar gampang ,kenapa tidak pabrik nalpot bronk ditutup aja

Usai pembinaan fotobersama

 
Dari kanan Waka Humas,Kanit Samapta,Kepala Sekolah dan KAnit reserse










Senin, 02 November 2026

Tiga Ibu, Sumber Kehidupan dan Kemuliaan Manusia: Memaknai Hari Raya Saraswati dalam Siklus Pawukon

Oleh: I Wayan Suiji

Waka Humas SMK Giri Pendawa

Hari Raya Saraswati bukan sekadar hari pemujaan terhadap Dewi Ilmu Pengetahuan. Bagi umat Hindu, Saraswati adalah salah satu dari Trining Ibu (tiga ibu) yang sangat dipuja dan dihormati, khususnya oleh para pemburu ilmu pengetahuan. Beliau diyakini menganugerahkan keadnyanan atau kecerdasan dan kebijaksanaan kepada umat manusia.

Sesungguhnya, ada tiga ibu luar biasa yang memberikan amerta (kehidupan) bagi manusia.

Pertama, ibu yang melahirkan kita. Beliau memberikan darah kehidupan, mempertaruhkan jiwa dan raganya demi menghadirkan kita ke dunia, serta merawat dan membesarkan dengan penuh kasih sayang.

Kedua, Ibu Pertiwi. Dialah ibu semesta yang menghidupi seluruh makhluk. Memberikan ruang bagi kehidupan, menyediakan segala kebutuhan, dan menjadi tempat manusia menjalani perjalanan hidup hingga kembali kepada-Nya.

Ketiga, Ibu Saraswati. Beliau memberikan energi dan kekuatan olah pikir melalui ilmu pengetahuan. Dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, manusia mampu mengolah kehidupan, menghadapi tantangan, mempertahankan keberadaannya, dan menikmati kehidupan dengan lebih bermakna.

Ketiga ibu inilah sumber kehidupan manusia. Tanpa ibu yang melahirkan, kita tidak hadir di dunia. Tanpa Ibu Pertiwi, kehidupan tidak memiliki ruang untuk bertumbuh. Dan tanpa anugerah pengetahuan dari Dewi Saraswati, manusia akan kesulitan memahami dan mengelola kehidupannya.

Mengapa Saraswati Dirayakan pada Akhir Siklus Pawukon?

Ada hal menarik yang patut kita renungkan. Hari Raya Saraswati diperingati setiap Saniscara Umanis Wuku Watugunung, yaitu pada penghujung siklus Pawukon. Mengapa demikian?

Hal ini memiliki keterkaitan filosofis dengan kisah mitologi Raja Watugunung yang memberikan gambaran simbolis tentang perjalanan kehidupan manusia, mulai dari kelahiran hingga mencapai kemuliaan.

Rangkaian tersebut dapat dimaknai melalui urutan hari berikut.

  1. Redite Kliwon Watugunung – Watugunung Runtuh. Hari ini dianalogikan sebagai awal kelahiran seorang jabang bayi. Sebuah kehidupan baru dimulai melalui perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya.
  2. Soma Umanis Watugunung – Candung Watang. Menggambarkan perjuangan kritis seorang ibu ketika melahirkan. Kehidupan dan kematian seolah berada dalam batas yang sangat tipis, ibarat air di daun talas. Sebuah perjuangan besar demi hadirnya kehidupan.
  3. Anggara Pahing Watugunung – Paid-paidan. Menggambarkan betapa sulitnya awal perjalanan kehidupan. Seperti bayi yang mulai merangkak, manusia harus berjuang dan berproses untuk mengenal dunia.
  4. Buda Pon Watugunung – Buda Pon Bangun Urip. Kehidupan baru mulai tumbuh. Bayi yang telah dilahirkan mulai menjalani kehidupannya dengan segala potensi yang dimiliki.
  5. Wraspati Wage Watugunung – Penegtegan. Mengandung makna simbolis tentang perjuangan seorang ibu yang mulai mengumpulkan kekuatan untuk merawat dan menghidupi anaknya. Sebuah jeda untuk meneguhkan kehidupan.
  6. Sukra Kliwon Watugunung – Pengredanan. Dimaknai sebagai pemberian dan pengorbanan. Seorang ibu mencurahkan kasih sayang, tenaga, dan seluruh kemampuannya untuk memelihara serta membesarkan anaknya.
  7. Saniscara Umanis Watugunung – Hari Raya Saraswati. Pada hari inilah Dewi Saraswati dipuja sebagai sumber ilmu pengetahuan. Secara filosofis, seorang anak yang telah dilahirkan dan dibesarkan harus memperoleh pendidikan. Ia perlu diajari, dibimbing, dan dibentuk karakternya agar tumbuh menjadi manusia yang berpengetahuan dan berbudi pekerti.

Perjalanan kemudian berlanjut memasuki siklus Pawukon berikutnya.

  1. Redite Pahing Sinta – Banyu Pinaruh. Ilmu pengetahuan yang telah diperoleh hendaknya mengalir seperti air. Manusia diharapkan semakin cerdas, jernih dalam berpikir, dan bijaksana dalam bertindak. Pengetahuan bukan sekadar untuk diketahui, tetapi harus mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.
  2. Soma Pon Sinta – Soma Ribek. Melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Manusia yang berilmu, cerdas, dan bijaksana diharapkan mampu mengelola potensi dirinya untuk menghasilkan kesejahteraan dan kekayaan secara baik dan benar.
  3. Anggara Wage Sinta – Sabuh Mas. Mengandung simbol kemuliaan dan kejayaan. Ketika seseorang telah memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kesejahteraan, ia diharapkan mampu mencapai kedudukan terhormat serta memberikan manfaat bagi sesama.
  4. Buda Kliwon Sinta – Pagerwesi. Inilah pesan penting sebagai penutup rangkaian. Ketika manusia telah berilmu, kaya, dan memiliki kedudukan, ia harus memperkuat benteng pikirannya. Sebab, semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin besar pula godaan yang dapat menjerumuskannya. Ilmu, kekayaan, dan jabatan harus dijaga dengan kebijaksanaan, pengendalian diri, serta nilai-nilai dharma.

Jangan Lupakan Tiga Ibu

Jika kita renungkan lebih dalam, rangkaian Saraswati hingga Pagerwesi sesungguhnya mengajarkan perjalanan kehidupan manusia. Dimulai dari kelahiran, perjuangan untuk bertahan hidup, memperoleh pendidikan, membangun kecerdasan, mencapai kesejahteraan, meraih kemuliaan, hingga akhirnya harus mampu menjaga diri dengan kekuatan pikiran dan kebijaksanaan.

Namun, ada satu pesan yang tidak boleh dilupakan: hormatilah ketiga ibu yang telah menjadikan kita manusia.

Berbaktilah kepada ibu yang melahirkan dan membesarkan kita. Hormatilah Ibu Pertiwi dengan menjaga alam dan lingkungan tempat kita hidup. Serta hormatilah Dewi Saraswati dengan menghargai ilmu pengetahuan, memuliakan para guru, rajin belajar, dan menggunakan kecerdasan untuk kebaikan.

Bagi dunia pendidikan, khususnya keluarga besar SMK Giri Pendawa, filosofi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencetak siswa yang pintar dan terampil. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang berkarakter, bijaksana, mandiri, serta mampu mempertanggungjawabkan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya.

Sebab, pintar saja tidak cukup. Kaya saja tidak cukup. Memiliki jabatan dan kedudukan pun belum tentu menjadikan seseorang mulia apabila tidak mampu mengendalikan pikirannya.

Ilmu pengetahuan hendaknya menerangi kehidupan, bukan menyilaukan mata. Kekayaan hendaknya membawa kesejahteraan, bukan keserakahan. Dan kedudukan hendaknya menjadi jalan pengabdian, bukan kesombongan.

Selamat Hari Raya Saraswati. Semoga anugerah ilmu pengetahuan senantiasa menerangi pikiran dan hati kita, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemuliaan.

Om Saraswati Namastubhyam.

Ibu/Betari Pertiwi

 
Ibu/Dewi Saraswati




 Ibu yang melahirkan kita




Sambut Piodalan Saraswati, Prodi Tata Boga SMK Giri Pendawa Gelar Tradisi Ngelawar dan Megibung

SMK Giri Pendawa menyambut Hari Raya Saraswati dengan menggelar kegiatan ngelawar dan megibung yang melibatkan peserta didik kelas XI TB 2, di bawah koordinasi Kepala Program Studi Tata Boga, Dewa Putu Suarya. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi kebersamaan keluarga besar program keahlian kuliner yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali menjelang perayaan Saraswati.

Dengan memanfaatkan dana kas Program Studi Tata Boga, para siswa bersama guru mempersiapkan berbagai hidangan tradisional Bali, di antaranya lawar belimbing, lawar nangka, lawar kacang panjang, sate lilit, dan kuah ares. Kegiatan ini juga melibatkan Belawe, Dewa Putu Suarya, dan GST Adnyana dalam proses persiapan dan pengolahan hidangan.

Dewa Putu Suarya menyampaikan bahwa kegiatan mebat atau ngelawar ini tidak sekadar menjadi persiapan menyambut piodalan Saraswati, tetapi juga merupakan sarana mempererat kebersamaan dan kerukunan di lingkungan Program Studi Tata Boga serta keluarga besar SMK Giri Pendawa.

"Setiap enam bulan sekali, menjelang Hari Raya Saraswati, kita melaksanakan kegiatan mebat bersama. Harapannya, kebersamaan dan kekompakan keluarga besar SMK Giri Pendawa semakin terjaga. Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat terus dilaksanakan setiap menjelang Saraswati sekaligus membudayakan tradisi megibung," ungkapnya.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga menjadi pembelajaran praktik bagi peserta didik agar mengenal dan mampu mengolah berbagai hidangan tradisional Bali. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh keterampilan kuliner secara teknis, tetapi juga memahami kekayaan kuliner lokal sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai tambah dalam dunia usaha dan industri kuliner.

Suasana kebersamaan semakin terasa saat seluruh hidangan disajikan dan dinikmati bersama melalui tradisi megibung. Guru dan pegawai tampak antusias mengikuti kegiatan makan bersama yang kali ini dikolaborasikan dengan nasi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Turut hadir dalam kesempatan tersebut salah satu CEO SMK Giri Pendawa, I Kadek Murtiana.

Melalui kegiatan ngelawar dan megibung ini, SMK Giri Pendawa tidak hanya melestarikan tradisi kuliner Bali, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, kekeluargaan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal kepada peserta didik.

Belajar kuliner bukan hanya tentang mengolah makanan, tetapi juga tentang menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan mewariskan budaya.(manixs)

Kaprodi TB.Dewa Putu Suarya saat menjadi belawa.

Praktek megibung

Menyiapkan bahan lawar



Ngelilit sate

Belawa Ajik Adnyana mempersiapkan gibungan,Pak CEO cek menu






SMK Giri Pendawa Gelar Piodalan Saraswati II Tahun 2026, Wujud Syukur dan Penghormatan kepada Sanghyang Aji Saraswati

SMK Giri Pendawa melaksanakan upacara Piodalan Saraswati II Tahun 2026 di Padmasana dan Gedong Linggih Sanghyang Aji Saraswati pada Sabtu, 30 Oktober 2026, bertepatan dengan Saniscara Umanis Watugunung. Piodalan yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali ini menjadi momentum bagi seluruh keluarga besar sekolah untuk memanjatkan rasa syukur sekaligus memohon anugerah ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan tuntunan dalam menjalankan aktivitas pendidikan.

Ketua Panitia, I Wayan Gede Suarnata, menyampaikan bahwa persiapan piodalan kali ini terbilang cukup singkat. Panitia baru dibentuk empat hari sebelum pelaksanaan, namun seluruh anggota langsung bergerak melakukan berbagai persiapan. Mulai 28 Oktober, kegiatan difokuskan pada pemesanan banten dan babi guling, latihan tari dan gong, pemasangan busana, hingga pembuatan penjor sehari sebelum puncak upacara.

Meski persiapan berlangsung dalam waktu terbatas dan kondisi cuaca kurang mendukung, seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Pelaksanaan upacara yang semula direncanakan pukul 08.00 WITA sempat mengalami sedikit keterlambatan akibat hujan.

Suarnata juga menyampaikan bahwa piodalan kali ini memiliki keistimewaan tersendiri karena untuk pertama kalinya upacara dipuput oleh Gusti Mangku Adi Sandi Putra, pemangku dari lingkungan sekolah. Biasanya, upacara dipimpin oleh Jero Mangku Dalem. Penggunaan pemangku lokal tersebut dilakukan agar pelaksanaan upacara dapat berlangsung lebih pagi dan menyesuaikan kondisi serta kesiapan panitia.

Sementara itu, Ni Made Sri Agustini selaku bendahara kegiatan yang juga Kepala Tata Usaha menyampaikan bahwa anggaran yang tersedia sebesar Rp8 juta masih belum mencukupi seluruh kebutuhan upacara. Biaya banten pokok mencapai sekitar Rp3 juta, babi guling sekitar Rp2 juta, serta perlengkapan upakara dan sarana pendukung lainnya, termasuk pembelian lapan, sekitar Rp2,4 juta.

Untuk menyiasati keterbatasan anggaran tersebut, panitia mengajak guru dan pegawai yang berkenan untuk turut menghaturkan pejati. Respons positif pun ditunjukkan oleh warga sekolah sehingga terkumpul sebanyak 22 pejati yang sangat membantu kelancaran pelaksanaan upacara.

Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Kegiatan yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, mewakili Kepala SMK Giri Pendawa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh guru dan pegawai yang telah berpartisipasi aktif, para siswa yang dengan tulus ngayah melalui persembahan tari, serta I Made Ariawan selaku pembina ekstrakurikuler tabuh yang telah mendampingi persiapan pementasan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar SMK Giri Pendawa yang telah mengambil bagian sesuai kemampuan dan perannya masing-masing sehingga piodalan dapat terlaksana dengan baik.

"Semoga yadnya tulus kita mendapat anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Lebih dari itu, semoga kebersamaan ini semakin mempererat persatuan keluarga besar SMK Giri Pendawa, seluruh warga sekolah selalu rukun, anak-anak semakin mampu mendengarkan, menghormati, dan melaksanakan harapan serta nasihat para guru," ungkapnya.

Pelaksanaan Piodalan Saraswati ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran spiritual bagi peserta didik untuk menumbuhkan nilai sraddha dan bhakti, ketulusan dalam ngayah, serta rasa kebersamaan dan gotong royong.

Melalui momentum suci ini, keluarga besar SMK Giri Pendawa berharap senantiasa memperoleh tuntunan dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, khususnya Dewi Saraswati sebagai manifestasi Tuhan dalam memberikan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, sehingga seluruh warga sekolah dapat terus berkembang dalam ilmu, karakter, dan pengabdian.(manixs)

Pemasangan busana

Partisipasi siswa dalam pemasangan busana

Partisipasi dalam persiapan menari rejang dewa

Persiapan latiahan tabuh untuk ngayah

4Pengadeg Ida Bhetara (Btr.Dalem PEndawa,Akasa,Btri Saraswati dan Btr.Sri)

Banten gebogan karya siswi

Prosesi Piodalan

Rejang sari

Pependetan oleh para guru

Rejang Dewa usai pentas

Extra tabuh dibawah bimbingan I Made Ariawan alias De Kantor

Gusti MAngku Adi Sandi Putra nganatebang bakti piodalan

Pak Wayan Budi dan kwan-kawan seksi gegitaan

Banten ayaban tumpeng pitulikur iwak bawi

Kordinasi saat akan mulai ngantebang bakti

Kewajiban pertanggungjawaban panitia dalam menyelesaikan laporan





Puncak Peringatan Sumpah Pemuda ke-98, SMK Giri Pendawa Luncurkan Antologi Kilas Balik Gatra Humas Edisi Ke-4 Th.2026.

SMK Giri Pendawa menggelar upacara bendera memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 sekaligus Bulan Bahasa pada 28 Oktober 2026. Kegiatan yang menjadi puncak rangkaian peringatan selama sepekan ini dirangkaikan dengan pengumuman dan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba serta peluncuran buku antologi Kilas Balik Gatra Humas 2026 Edisi Ke-4.

Ketua Panitia, I Wayan Gede Suarnata, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kerja sama seluruh warga sekolah sehingga rangkaian kegiatan selama sepekan, mulai 21 hingga 27 Oktober 2026, dapat berjalan lancar dan sukses. Ia berharap semangat kebersamaan dan kreativitas yang terbangun dapat terus dikembangkan oleh seluruh peserta didik.

Dalam amanatnya selaku pembina upacara sekaligus sambutan peluncuran buku, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menyampaikan bahwa sekolah tidak hanya dibangun oleh gedung dan fasilitas, tetapi juga oleh manusia, mimpi, kerja keras, kebersamaan, dan cerita. Sama halnya dengan cerita hari ini adalah peringatan bagaimana pemuda zaman dulu berjuang agar Indonesia bisa merdeka dan era sekarang bagaimana pemuda berjuang untuk mengisi kemerdekaan tentu dengan menngkatkan momitmen untuk bangkit mengisi diri agar mampu bersaing di era global ini,tumbuhkan semangat juang,semanbgat kjerja keras,semangat membangun diri dengan bahasa yang santun dan karakter yang bertanggungjawab,loyal dan berdedikasi. Marilah kita berjuang, kerja keras sesuai tugas masing-masing, seperti hari ini Waka Humas berkarya membuat buku yang merangkum perjalanan sekolah kita selama Oktober 2025 hingga September 2026 buku ini menyimpan berbagai dinamika, mulai dari prestasi siswa, dedikasi guru, kegiatan sekolah hingga berbagai persoalan yang menjadi bagian dari proses pendidikan.ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari perubahan perilaku, kedisiplinan, tanggung jawab, dan karakter peserta didik. 

Sementara itu, Redaktur Gatra Humas, I Wayan Suiji, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Antologi Gatra Humas 2026 Edisi Ke-4 bukan sekadar kumpulan berita, melainkan jejak perjalanan sekolah yang merekam berbagai cerita, prestasi, dinamika, dan pembelajaran selama satu tahun.

Suiji juga menegaskan bahwa Gatra Humas tidak hanya mencatat hal-hal membanggakan, tetapi juga berbagai persoalan yang perlu menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik.

"Kesalahan bukan untuk dipelihara, melainkan untuk diperbaiki. Teguran bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mengingatkan karena dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi membutuhkan orang yang bisa dipercaya," ungkapnya.

Menurutnya, sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan sekolah yang mampu mengubah masalah menjadi pembelajaran dan peluang menjadi langkah kemajuan.

Peluncuran Antologi Kilas Balik Gatra Humas 2026 Edisi Ke-4 menjadi momentum penting untuk mengabadikan perjalanan dan perkembangan SMK Giri Pendawa. Buku ini diharapkan menjadi dokumentasi, inspirasi, sekaligus pengingat bahwa setiap proses, keberhasilan, maupun tantangan memiliki nilai pembelajaran,pungkasnya.

Usai sambutan dilanjutkan dengan penyerahan Buku Antologi Gatra Humas edisi ke 4 tahun 2026 kepada Kepala Sekolah yang kemudian juga diserahkan kepada pengawaas manajerial,kepada Kepala Perpoustakaan,kepada salah seorang guru yang ikut menulis yakni Ni Putu Sri Erawati dan kepada seorang siswa Putu Indah Lestari yang juga ikut menghiasi halaman GH.

Akhirnya melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 dan Bulan Bahasa ini, SMK Giri Pendawa terus berkomitmen menumbuhkan generasi yang berkarakter, kompeten, kreatif, mandiri, serta bangga terhadap identitas bangsa.

SMK Giri Pendawa: Tempat Belajar, Tempat Bertumbuh, Tempat Menyiapkan Masa Depan. (manixs)

Penyerahan kepada Kepala Sekolah,Kepala Perpustakaan dan Bu Sri Erawati

Penyerahan kepada siswa yang ikut menulis


Kepala sekolah menyerahkan kepada pengawas manajerial Provinsi Bali
Ida Bagus Wayan Keniten

Sambutan Redaktur GH W.Suiji

Penyerahan Hadiah Lomba Puisi

Penyerahan hadiah oleh ketua panitia

Penyerahan hadiah lomba debat oleh pak Murjana juri lomba debat


Penyerahan hadiah lomba oleh Waka Humas







SMK Giri Pendawa Gelar Pekan Kegiatan Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa, Tanamkan Semangat Persatuan dan Cinta Bahasa

SMK Giri Pendawa menggelar pembukaan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dan Bulan Bahasa dengan tema Bahasa Indonesia Bermartabat,Indonesia Berdaulat,berlangsung selama satu minggu, mulai tanggal 21 hingga 27 Oktober 2026. Kegiatan ini diisi dengan berbagai perlombaan dan aktivitas edukatif yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Dalam laporannya, Ketua Panitia, I Wayan Gede Suarnata, menyampaikan bahwa selama sepekan pelaksanaan kegiatan akan diselenggarakan berbagai perlombaan, di antaranya lomba making bed, mading, debat, pidato,cipta dan baca puisi, serta sejumlah kegiatan lainnya yang bertujuan mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kemampuan berkomunikasi para siswa.

Lebih lanjut, Suarnata menjelaskan bahwa pada tanggal 27 Oktober 2026, rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pelaksanaan jalan sehat yang melibatkan seluruh warga SMK Giri Pendawa. Kegiatan tersebut semakin semarak dengan disiapkannya 10 hadiah hiburan dan 3 hadiah utama yang disponsori oleh Kosek Giri Amertha.

Sementara itu, sebagai puncak peringatan, pada tanggal 28 Oktober 2026 akan dilaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 sekaligus peringatan Bulan Bahasa.

Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menyampaikan bahwa peringatan Bulan Bahasa merupakan momentum penting bagi generasi muda Giri Pendawa untuk kembali mengenang perjuangan para pemuda terdahulu dalam menegakkan jati diri bangsa melalui ikrar Sumpah Pemuda.

Ia menegaskan bahwa sumpah merupakan sebuah janji suci kepada Tuhan untuk mewujudkan persatuan Indonesia, baik dalam satu tanah air, satu bangsa, maupun satu bahasa persatuan, sehingga bangsa Indonesia dapat berdiri berdaulat dalam sebuah negara.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan rasa syukur bahwa Indonesia memiliki bahasa persatuan yang menjadi salah satu landasan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Menurutnya, bagi peserta didik SMK yang berkecimpung dalam dunia hospitality, kemampuan berbahasa merupakan modal utama dalam membangun komunikasi, selain keterampilan kerja yang menjadi standar kompetensi utama di bidang tersebut.

"Kepada anak-anak semua, kalian boleh mempelajari berbagai bahasa, namun pesan Bapak, jangan sampai melupakan bahasa ibu, yaitu Bahasa Bali, dan bahasa negara, yaitu Bahasa Indonesia. Hal ini merupakan salah satu wujud penghormatan dan bakti kita kepada para pendiri bangsa," ujarnya.

Selanjutnya melalui rangkaian kegiatan ini, SMK Giri Pendawa berharap para siswa tidak hanya mampu mengembangkan potensi, kreativitas, dan kompetensi diri, tetapi juga semakin memahami nilai-nilai persatuan, menghargai keberagaman, serta menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya bangsa.

Semangat Sumpah Pemuda diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dengan semangat persatuan dan kecintaan terhadap bahasa, generasi muda SMK Giri Pendawa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang kompeten, berkarakter, dan bangga terhadap identitas bangsanya.(manixs)

Laporan I Wayan Gede Suarnata selaku Ketua Panitia Pelaksana

Sambutan Kepala Sekolah I Komang Sumarta

Doa bersama dalam rangka kegiatan Bulan Bahasa dan sepekan Hari Sumpah Pemuda ke 98

                                          
                                                               Usai acara pembukaan


Lomba Baca Puisi

Lomba Debat



Tim Lomba Pidato

Jalan santai







Senin, 12 Oktober 2026

KETIKA KETELADANAN MULAI PUDAR: REFLEKSI TRI GURU DAN GURU SWADIYAYA DALAM MENYELAMATKAN KARAKTER BANGSA

Oleh: Sebuah Refleksi untuk Kita Semua

Dewasa ini, fenomena pelanggaran yang dilakukan oleh siswa semakin sering kita jumpai. Berbagai bentuk pelanggaran, mulai dari hal-hal kecil hingga tindakan serius, seolah menjadi pemandangan yang kian biasa. Pelanggaran tata tertib berpakaian, ketidaklengkapan kendaraan bermotor seperti tidak menggunakan helm, tidak memasang spion, hingga penggunaan knalpot brong, merupakan sebagian contoh perilaku yang masih kerap ditemukan. Belum lagi persoalan pemalakan dan perundungan atau bullying yang semakin menambah keprihatinan kita terhadap perkembangan karakter generasi muda.

Padahal, setiap pagi dan siang, para siswa secara kolektif telah diberikan pengarahan di lapangan. Nasihat, teguran, imbauan, dan penegasan tentang kedisiplinan terus disampaikan. Namun, mengapa berbagai pelanggaran tersebut seolah tidak pernah berhenti? Apakah nasihat yang diberikan belum menyentuh kesadaran mereka? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar yang selama ini luput dari perhatian kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak kita untuk kembali melakukan introspeksi. Jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata terletak pada siswa, melainkan juga pada lingkungan pendidikan, keteladanan orang dewasa, serta sistem nilai yang berkembang di tengah masyarakat kita.

Dalam ajaran Hindu, kita mengenal konsep Catur Guru, yakni empat guru yang menjadi sumber tuntunan bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Keempatnya adalah Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, dan Guru Swadiyaya. Konsep luhur ini mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara selaras dan berkesinambungan.

Guru Rupaka: Ketika Orang Tua Kehilangan Kendali dalam Mendidik

Guru Rupaka adalah orang tua yang memiliki tanggung jawab utama dalam mengasuh, membimbing, dan membentuk karakter anak sejak dini. Rumah merupakan sekolah pertama bagi seorang anak, sedangkan orang tua adalah guru pertama yang memperkenalkan nilai-nilai kehidupan.

Namun, realitas yang kita jumpai terkadang menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Sebagian orang tua memberikan kebebasan yang berlebihan kepada anak-anaknya. Demi kasih sayang, rasa tidak tega, atau keinginan agar anak tidak kecewa, mereka cenderung menuruti hampir semua kemauan anak tanpa mempertimbangkan apakah keinginan tersebut benar atau salah.

Akibatnya, batas antara kasih sayang dan pembiaran menjadi kabur. Anak merasa memiliki kebebasan tanpa batas, sementara kewajiban, tanggung jawab, dan konsekuensi atas perilakunya semakin kurang dipahami.

Ironisnya, dalam beberapa keluarga, keadaan seolah berbalik: bukan lagi orang tua yang membimbing anak, melainkan orang tua yang takut kepada anaknya sendiri. Ketika anak membantah, orang tua mengalah. Ketika anak melanggar, orang tua mencari pembenaran. Ketika anak berbuat salah, orang tua justru sibuk melindunginya dari konsekuensi.

Tentu, tidak semua orang tua demikian. Banyak pula orang tua yang telah berjuang mendidik anak dengan penuh tanggung jawab. Namun, kecenderungan pola asuh yang terlalu permisif patut menjadi bahan renungan bersama.

Kasih sayang sejatinya bukan berarti membebaskan anak melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya. Kasih sayang justru harus disertai ketegasan, batasan, dan keberanian untuk mengatakan tidak ketika anak melakukan kesalahan.

Anak yang tidak pernah belajar menerima batasan di rumah akan kesulitan menghormati aturan di sekolah maupun di masyarakat. Karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga. Jangan sampai kita berharap sekolah mampu membentuk anak yang disiplin, sementara di rumah mereka justru dibiasakan mengabaikan aturan.

Guru Pengajian: Guru Dituntut Menegakkan Aturan, tetapi Sudahkah Menjadi Teladan?

Guru Pengajian adalah guru yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, dan menuntun peserta didik menuju kedewasaan intelektual maupun moral.

Di sekolah, guru telah berupaya menjalankan tugasnya. Mereka mengajar, menasihati, memberikan pengarahan, menegakkan tata tertib, dan mengingatkan siswa agar menjadi pribadi yang disiplin. Akan tetapi, mengapa hasil yang diharapkan terkadang belum sesuai dengan kenyataan?

Salah satu hal yang perlu kita renungkan adalah keteladanan. Sebab, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui perilaku nyata. Siswa bukan sekadar mendengarkan apa yang disampaikan guru; mereka juga mengamati apa yang dilakukan gurunya.

Bagaimana mungkin kita menegur siswa yang datang terlambat jika kita sendiri kerap datang tidak tepat waktu? Bagaimana mungkin kita meminta siswa mengenakan seragam sesuai ketentuan, sementara kita sendiri tidak konsisten mematuhi aturan berpakaian yang berlaku? Ketika jadwal seragam tertentu telah ditetapkan, tetapi kita justru mengenakan pakaian lain, bahkan kaus pada hari yang bukan jadwalnya, bukankah kita sedang mempertontonkan ketidakkonsistenan di hadapan peserta didik?

Demikian pula ketika jam pelajaran pertama tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena guru belum hadir. Waktu belajar yang seharusnya menjadi hak siswa akhirnya terabaikan. Jika hal seperti ini terjadi berulang kali, pesan apakah yang sesungguhnya diterima oleh siswa?

Mereka dapat saja menyimpulkan bahwa aturan hanyalah sesuatu yang harus dipatuhi oleh orang yang lebih lemah, sedangkan orang yang memiliki kedudukan tertentu boleh mengabaikannya.

Tentu, kita tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua guru melakukan pelanggaran. Banyak guru yang telah menunjukkan dedikasi, disiplin, dan keteladanan luar biasa. Namun, justru karena guru merupakan figur panutan, setiap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan patut menjadi perhatian serius.

Kita perlu jujur bertanya kepada diri sendiri: apakah tuntutan yang kita berikan kepada siswa sudah sejalan dengan perilaku kita sehari-hari?

Menegakkan disiplin tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman atau mengulang pengarahan setiap pagi dan siang. Disiplin harus tumbuh melalui budaya yang konsisten. Guru yang datang tepat waktu, berpakaian sesuai ketentuan, menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, serta memperlakukan siswa secara adil sedang memberikan pelajaran karakter yang jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kesalahan siswa, tetapi lupa memeriksa kekurangan diri sendiri. Sebelum meminta peserta didik menjadi pribadi yang baik, marilah kita terlebih dahulu berusaha menjadi pendidik yang patut diteladani.

Guru Wisesa: Ketika Pemegang Kekuasaan Kehilangan Keteladanan

Guru Wisesa adalah pemerintah beserta unsur pemegang kewenangan yang memiliki tanggung jawab mengatur kehidupan masyarakat, menjaga ketertiban, dan menegakkan keadilan berdasarkan aturan yang berlaku.

Pada tataran ideal, Guru Wisesa menjadi teladan dalam integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan pengabdian kepada bangsa. Negara hadir untuk melindungi masyarakat, memberikan kepastian hukum, serta memastikan bahwa setiap warga diperlakukan secara adil.

Namun, ketika publik terus menyaksikan berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan dugaan ketidakadilan dalam penegakan hukum, kepercayaan terhadap institusi dapat terkikis. Masyarakat pun mulai bertanya-tanya: apakah hukum benar-benar berlaku sama bagi semua orang, ataukah keadilan dapat berubah arah ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang?

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat. Uang yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat justru dapat beralih menjadi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

Lebih menyakitkan lagi apabila masyarakat melihat adanya perlakuan yang berbeda antara mereka yang memiliki kekuasaan dan mereka yang lemah. Ketika hukum terasa keras kepada rakyat kecil, tetapi seolah kehilangan ketajamannya di hadapan orang yang berpengaruh, rasa keadilan publik pun terluka.

Demikian pula proses pembentukan peraturan perundang-undangan harus dijalankan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Setiap dugaan konflik kepentingan maupun transaksi yang mencederai integritas legislasi harus diperiksa secara serius berdasarkan bukti dan mekanisme hukum yang berlaku.

Persoalan pemberantasan korupsi, termasuk perdebatan mengenai pengesahan dan penerapan aturan perampasan aset hasil tindak pidana serta pemulihan kerugian negara, juga menjadi bagian dari tuntutan publik terhadap negara. Masyarakat menginginkan agar kekayaan yang diperoleh secara melawan hukum tidak sekadar menjadi persoalan pidana, tetapi juga dapat ditangani melalui mekanisme pemulihan aset yang sah, efektif, dan tetap menjamin hak-hak hukum setiap orang.

Ketika pemegang kekuasaan tidak mampu menunjukkan keteladanan, dampaknya tidak berhenti pada menurunnya kepercayaan kepada pemerintah. Dampaknya dapat merembet ke dunia pendidikan dan kehidupan sosial.

Siswa yang setiap hari mendengar nasihat tentang kejujuran akan menghadapi kebingungan ketika menyaksikan orang-orang yang seharusnya menjadi teladan justru tersandung persoalan integritas. Mereka dapat bertanya dalam hati: untuk apa bersikap jujur jika kebohongan terlihat menguntungkan? Untuk apa mematuhi aturan jika orang yang melanggarnya justru dapat memperoleh keuntungan?

Inilah bahaya ketika keteladanan publik mulai pudar. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah berisiko kehilangan kekuatannya karena bertentangan dengan kenyataan yang dilihat generasi muda.

Oleh sebab itu, para pemegang kekuasaan harus menyadari bahwa jabatan bukanlah hak istimewa untuk bertindak sesuka hati. Jabatan adalah amanah yang menuntut tanggung jawab lebih besar. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk memberikan contoh yang baik.

Guru Swadiyaya: Harapan Terakhir di Tengah Kemerosotan Moral

Guru Swadiyaya adalah Tuhan Yang Maha Esa, sumber tuntunan spiritual dan nilai-nilai luhur yang mengarahkan manusia kepada kebenaran, kebajikan, dan kehidupan yang harmonis.

Ketika kita melihat berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, pemerintahan, dan masyarakat, hati kita mungkin dipenuhi kesedihan, kekecewaan, kemarahan, bahkan keputusasaan.

Masyarakat lelah mendengar janji yang tidak ditepati, kebohongan yang berulang, serta berbagai persoalan korupsi yang menggerogoti kekayaan negara. Para pendidik merasa prihatin ketika nilai-nilai yang diajarkan kepada siswa seolah tidak mendapat dukungan yang memadai dari lingkungan di luar sekolah. Orang tua pun menghadapi tantangan besar dalam membesarkan anak di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Dalam keadaan demikian, kita berharap agar Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan tuntunan, menguatkan hati manusia, dan membuka kesadaran kita untuk kembali kepada jalan dharma.

Namun, harapan kepada Tuhan hendaknya tidak membuat kita pasif dan hanya menunggu perubahan terjadi. Dalam keyakinan spiritual, doa harus berjalan beriringan dengan usaha. Memohon kedamaian harus disertai tindakan yang menciptakan kedamaian. Memohon kejujuran harus diikuti keberanian untuk berkata dan bertindak jujur. Memohon keadilan harus diwujudkan melalui sikap adil terhadap sesama.

Kita tidak mengetahui ketetapan Tuhan atas perjalanan bangsa ini. Karena itu, tidak sepatutnya kita memastikan bahwa kehancuran akan terjadi sebagai hukuman ilahi. Akan tetapi, secara moral dan sosial, kita patut menyadari bahwa masyarakat yang terus-menerus mengabaikan kebenaran, membiarkan ketidakadilan, serta kehilangan rasa tanggung jawab sedang menempatkan dirinya dalam bahaya besar.

Jika perilaku buruk dibiarkan, kepercayaan akan runtuh, persatuan melemah, dan masa depan generasi penerus menjadi taruhan.

Maka, marilah kita memohon tuntunan Guru Swadiyaya agar diberi kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan keberanian untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita begitu mudah menyalahkan orang lain, tetapi enggan membersihkan kekotoran yang ada dalam diri sendiri.

Masyarakat yang Jenuh dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

Masyarakat bukanlah sekadar penonton dalam persoalan ini. Masyarakat adalah pihak yang merasakan langsung akibat dari buruknya keteladanan dan lemahnya penegakan nilai-nilai moral.

Ketika korupsi menggerogoti anggaran publik, masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan yang lebih baik. Ketika hukum dipersepsikan tidak adil, kepercayaan kepada institusi melemah. Ketika kekerasan, pemalakan, dan perundungan dianggap biasa, rasa aman di lingkungan pendidikan dan kehidupan sosial ikut terancam.

Tidak mengherankan jika sebagian masyarakat merasa muak, kecewa, marah, dan kehilangan kepercayaan. Berbagai perasaan tersebut merupakan peringatan bahwa ada persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi.

Namun, kejenuhan tidak boleh berubah menjadi sikap apatis. Kemarahan tidak boleh berkembang menjadi kebencian yang membutakan. Sebaliknya, kekecewaan harus menjadi energi untuk memperbaiki keadaan melalui cara-cara yang bermartabat, konstitusional, dan bertanggung jawab.

Kita perlu membangun masyarakat yang berani menolak korupsi, tidak membenarkan kekerasan, tidak menormalisasi kebohongan, serta tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri dan kelompok.

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari tindakan yang besar. Terkadang, perubahan dimulai ketika seorang ayah berani menegur anaknya dengan penuh kasih sayang, seorang guru datang tepat waktu, seorang kepala sekolah konsisten menegakkan aturan, seorang pejabat menolak gratifikasi, seorang penegak hukum bertindak tanpa pandang bulu, dan seorang warga berani membela kebenaran tanpa harus merendahkan orang lain.

Dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten itulah budaya kejujuran dan tanggung jawab dapat dibangun kembali.

Penutup: Jangan Hanya Menuntut Perubahan, Jadilah Bagian dari Perubahan

Persoalan pelanggaran siswa yang semakin memprihatinkan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah nasihat, memperkeras hukuman, atau menyalahkan generasi muda. Persoalan ini harus dilihat secara menyeluruh dengan melibatkan keempat unsur Catur Guru.

Guru Rupaka harus menguatkan kembali perannya sebagai pendidik pertama di rumah. Guru Pengajian harus menegakkan disiplin melalui keteladanan. Guru Wisesa harus menghadirkan pemerintahan yang bersih, adil, dan bertanggung jawab. Sementara itu, Guru Swadiyaya hendaknya menjadi sumber tuntunan spiritual yang menguatkan komitmen manusia untuk menjalani kehidupan berdasarkan dharma.

Keempatnya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan karakter akan sulit mencapai hasil optimal apabila keluarga mengajarkan satu hal, sekolah menunjukkan hal lain, dan kehidupan publik mempertontonkan perilaku yang bertentangan dengan keduanya.

Karena itu, marilah kita melakukan introspeksi dengan jujur. Jika kita menginginkan siswa yang disiplin, jadilah orang dewasa yang disiplin. Jika kita menginginkan anak yang jujur, tunjukkan kejujuran dalam tindakan. Jika kita menginginkan masyarakat yang taat hukum, pastikan bahwa hukum ditegakkan secara adil. Jika kita memohon tuntunan Tuhan, jangan abaikan kewajiban untuk memperbaiki diri dan lingkungan.

Jangan sampai kita sibuk mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi menutup mata terhadap kesalahan sendiri. Jangan sampai kita menuntut generasi muda menjadi baik, sementara mereka setiap hari menyaksikan contoh yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter. Tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga pemimpin yang dapat dipercaya. Tidak hanya membutuhkan guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi juga guru yang hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkannya.

Pada akhirnya, masa depan bangsa bukan hanya ditentukan oleh apa yang kita katakan kepada generasi muda, melainkan juga oleh apa yang kita contohkan kepada mereka hari ini.

Semoga kita semua disadarkan sebelum keadaan semakin jauh menyimpang. Semoga keluarga kembali menjadi tempat tumbuhnya karakter, sekolah menjadi ruang berkembangnya keteladanan, pemerintahan menjadi pelindung keadilan, dan kehidupan spiritual menjadi sumber kekuatan moral.

Sebab, ketika keteladanan menghilang, aturan kehilangan wibawa, dan kejujuran kehilangan harga, yang terancam bukan hanya perilaku siswa, melainkan juga masa depan bangsa dan peradaban manusia itu sendiri.

Rahayu, rahayu, rahayu.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Renungan Anggara Pon Klau,Penanggal 2 sasih Kelima rah 8 tenggek 4 icaka 1948.

Manixs.