Tahun pelajaran 2026/2027 menjadi
catatan tersendiri bagi SMK Giri Pendawa. Sebanyak 146 siswa telah dikirimkan
untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ke berbagai Dunia Usaha dan
Dunia Industri (DUDI), dengan jadwal penyelesaian pada bulan Desember
mendatang. Harapan besar disematkan agar para siswa dapat mengasah kemampuan,
membangun kedewasaan, dan belajar profesionalisme langsung di lapangan. Namun,
baru sebulan berjalan, kenyataan pahit mulai terungkap: sudah ada 5 siswa yang
terjebak masalah serius, bahkan 3 di antaranya bersikeras menghentikan kegiatan
mereka bahkan sampai menyatakan diri berhenti sekolah.
Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari Anjeni, seorang siswi anak tunggal yang sangat disayang keluarganya,baru seminggu bekerja, ia sudah merasa kelelahan. Ketika para senior di tempat pelatihan berusaha membimbing dan menasihatinya, bukannya menerima dengan baik, Anjeni malah ngambek, pulang ke rumah dan meminta berhenti total. Pihak sekolah memanggil orang tuanya untuk mencari jalan keluar, namun respon mereka justru menyerah: "Kasihan, ia sudah capek,biar dah berhenti" ucap orang tuanya dengan nada pasrah. Akhirnya, izin berhenti pun tidak bisa dihindari.
Kasus yang lebih berat menimpa Andi, siswa laki-laki yang juga anak tunggal dan memiliki watak agak temperamental. Ketika disuruh melakukan tugas kebersihan dan diberi arahan, ia tidak segan-segan melawan secara terang-terangan. Tak berhenti di situ, ia kembali ke tempat kos dan mengirim pesan lewat aplikasi WA kepada seniornya yang berisi tantangan berkelahi. Tak heran, HRD tempatnya bekerja hingga segera menghubungi pihak sekolah dan menyatakan Andi sudah tidak bisa dibina lagi dan harus dipecat. Saat dikonfirmasi, sikapnya sangat tidak beretika dan bicaranya keras. Ketika dipanggil bersama orang tuanya, terungkap fakta mengejutkan: ia menunggak pembayaran SPP sekolah hingga 19 bulan. Orang tuanya pun sulit dihubungi dan mengaku tidak pernah menerima surat panggilan. Segala arahan dan bimbingan tidak mempan. Bahkan setelah memohon petunjuk niskala dan diupacarai bahkan sudah melakukan upacara mebayuh, perubahan tetap tidak terlihat. "Biarkan saja apa maunya, saya mohon maaf atas kelakuan anak saya," begitulah kata orang tua Andi akhirnya.
Sama tragisnya adalah kisah
Juned, yang juga dipecat karena sering bolos kerja tanpa alasan jelas. Saat
ditanya alasannya, jawabannya singkat dan polos namun menyakitkan: ia merasa
malas dan capek bekerja. Terhadap ketiga siswa ini, pihak sekolah (kesiswaan ,humas
dan panitia PKL ) datang kerumah mereka masing masing memfinalisasi keputusan
mereka dengan membawa draf Surat Pernyataan dan rincian daftar tunggakan
kewajibannya di sekolah. Mereka pun optimis dan tegas menyatakan diri berhenti
serta menandatangani dokumen pernyataan berhenti sekolah dengan alasan
masing-masing.
Kisah tidak berhenti di situ. Ada
pula sepasang saudara kembar, Dono dan Antara. Antara harus menerima pemecatan
karena sifat malasnya yang parah, sering mangkir kerja dengan alasan yang
dibuat-buat, dan puncaknya tertidur di kamar hotel saat jam kerja. Sedangkan Dono mengundurkan diri
seenaknya sendiri tanpa prosedur yang benar. Penelusuran fakta menunjukkan
bahwa latar belakang keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja, orang tua
sedang dilanda masalah rumah tangga yang berat.
Melihat
rangkaian kejadian ini, timbul pertanyaan besar di benak kami: di mana letak permasalahan
sesungguhnya ? Di sekolah, kami sudah mendidik dan melatih siswa sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, menanamkan kedisiplinan dan etika.
Namun tampaknya pengaruh dari lingkungan rumah sangat besar. Banyak orang tua
yang terlalu memanjakan dan menyayangi anaknya secara berlebihan, sehingga
ketika anak menolak atau melawan, orang tua justru takut terjadi apa-apa dan
akhirnya membiarkan keinginan anak menang. Belum lagi pengaruh pergaulan bebas
dan dunia maya yang tidak terkontrol, membuat pola pikir mereka terbiasa dengan
hal instan dan tidak tahan banting.
Apakah ini semua dampak jangka panjang dari
pandemi COVID-19 yang lalu? Di mana interaksi sosial dan pembentukan karakter secara
langsung sempat terputus lama???. Sungguh saya pun merasa bingung melihat
kenyataan ini. Generasi muda kita seolah rapuh: sedikit saja mendapat tekanan,
mendengar nasihat, atau menghadapi kesulitan kecil, mereka langsung memilih
mundur, ngambek, dan tidak segan mengorbankan masa depan mereka sendiri demi
kenyamanan sesaat. Semoga kita semua dapat merenungkan hal ini dan mencari
solusi bersama agar tidak terulang kembali di masa mendatang.(Manixs/koordinator
PKL).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar