Rabu, 24 Juni 2026

SMK Giri Pendawa Kembali Gelar Pasraman Kilat Widya Giri 2026 untuk Perkuat Karakter dan Jati Diri Generasi Hindu

Gatra Humas, 23 Juni 2026 – SMK Giri Pendawa kembali menyelenggarakan kegiatan Pasraman Kilat Widya Giri Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat pendidikan agama, adat, seni, dan budaya Hindu di kalangan peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Surat Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali Nomor B.10-400.3/1785/UPTD.BPTKK/DISDIKPORA tanggal 8 Juni 2026 serta Surat Keputusan Kepala SMK Giri Pendawa Nomor 421.3/290/SMKGP/VI/2026 tanggal 15 Juni 2026 tentang Pembentukan Panitia dan Pelaksanaan Pasraman Kilat Tahun 2026.

Pasraman yang mengusung tema “Membentuk Generasi Hindu Berkarakter, Berbudaya, dan Berlandaskan Dharma” ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 23–24 Juni 2026 di Aula SMK Giri Pendawa. Kegiatan diikuti oleh seluruh siswa kelas XI, sementara siswa kelas XII tidak terlibat karena sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Pembiayaan kegiatan bersumber dari dana Komite Sekolah.

Ketua Panitia Pelaksana, I Wayan Budi Antara, saat pembukaan kegiatan melaporkan bahwa pasraman merupakan sarana pembinaan karakter generasi muda Hindu agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dharma di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan modernisasi.

Pada kesempatan yang sama, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menekankan pentingnya pelaksanaan pasraman sebagai wadah pembelajaran agama, adat, seni, dan budaya Bali.

“Bali tidak memiliki tambang hasil bumi yang melimpah, tetapi Bali hidup dari tambang pariwisata yang bernapaskan agama Hindu, adat, dan budaya. Inilah energi magnet yang menarik wisatawan datang ke Bali. Namun, saat ini minat generasi muda terhadap budaya dan agamanya mulai mengalami degradasi karena lebih tertarik pada budaya modern dan mulai melupakan jati dirinya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah mengeluarkan berbagai kebijakan pelestarian budaya, seperti penggunaan busana adat Bali, pelestarian bahasa Bali, serta pelaksanaan program pasraman di lingkungan pendidikan.

Ia juga menyoroti rendahnya partisipasi sebagian generasi muda dalam kegiatan keagamaan. Sebagai contoh, pada perayaan Hari Saraswati, sangat sedikit siswa yang membawa canang maupun banten ke sekolah. Demikian pula saat Hari Raya Galungan, hanya sebagian kecil siswa yang hadir untuk sembahyang bersama di Padmasana sekolah.

“Fenomena yang lebih sering terlihat justru aktivitas berkumpul di jalan, konvoi kendaraan, hingga konten media sosial yang kurang mencerminkan nilai-nilai budaya dan agama. Ini merupakan situasi yang perlu menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyayangkan masih adanya sejumlah siswa yang tidak hadir dalam kegiatan pasraman meskipun telah diumumkan sebelumnya.

Sementara itu, Jero Komang Warsa, Bendesa Alitan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Rendang yang menjadi salah satu narasumber, mengapresiasi antusiasme peserta selama mengikuti kegiatan. Usai menyampaikan materi tentang peran generasi muda dalam pelestarian adat dan awig-awig, ia menilai kegiatan seperti pasraman sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda Bali.

“Kami berterima kasih karena sudah dua kali dilibatkan dalam kegiatan pasraman ini. Melalui kegiatan seperti ini kami dapat menyosialisasikan kepada generasi muda agar tidak tercabut dari jati dirinya sebagai orang Bali. Masa SMA dan SMK merupakan masa yang sangat menentukan arah kehidupan mereka. Jika tidak diberikan pencerahan dan pemahaman yang baik, dikhawatirkan mereka akan semakin jauh dari nilai-nilai leluhurnya,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi langkah SMK Giri Pendawa yang telah mempelopori program ‘MDA Goes to School’ dan berharap sekolah-sekolah lain dapat mengikuti langkah serupa dalam memperkuat pendidikan adat dan budaya di kalangan pelajar.

Secara terpisah, Koordinator Pasraman yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji, menjelaskan bahwa Pasraman Kilat Widya Giri merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap masa liburan sekolah. Namun, tahun ini materi yang diberikan lebih menitikberatkan pada aspek yang langsung bersentuhan dengan kehidupan siswa sehari-hari.

Adapun materi yang diberikan meliputi persembahyangan, pendidikan karakter dan budi pekerti, Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, Tri Hita Karana, etika dan tanggung jawab generasi muda dalam pelestarian desa adat melalui ketaatan terhadap awig-awig dan tata kehidupan masyarakat adat. Selain itu, peserta juga mendapatkan berbagai materi praktik seperti mekidung, wirama, nyurat aksara Bali, mejejaitan, serta yoga.

“Kami berharap seluruh materi yang diperoleh selama pasraman dapat diimplementasikan oleh siswa di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing, baik melalui keterlibatan dalam kegiatan ngayah di pura maupun partisipasi aktif di banjar dan masyarakat adat,” harapnya.

Melalui pelaksanaan Pasraman Kilat Widya Giri Tahun 2026, SMK Giri Pendawa kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi Hindu yang berkarakter, berbudaya, serta memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai agama dan kearifan lokal Bali di tengah tantangan perkembangan zaman.(manixs).

Acara Persembahyangan dipimpin Gst.Aji Mangku Adi Sandi Putra

Ngelungsur wangsuh pada

Laporan Ketua Panitia I Wayan Budi Antara

Peserta Pasraman Widya Giri


Pembukaan oleh kepala sekolah I Komang Sumarta

Jero Km.Warsa pemateri dari Bendesa Alitan MDA Kecamatan Rendang

Pemateri dari guru

Materi Wirama oleh Ngakan made Ariawan

Materi Yoga oleh instruktur WanPeb M.

Mejejaitan

Upakara Yadnya oleh IGNR Gede Adnyana








Senin, 22 Juni 2026

PKL 2026/2027 SMK Giri Pendawa: Antara Aturan Ketat dan Realita yang Mengecewakan



Pendidikan kejuruan bertujuan membekali siswa dengan keterampilan nyata, kedisiplinan, serta tanggung jawab agar siap terjun ke dunia kerja. Salah satu program intinya adalah Praktek Kerja Lapangan (PKL). Untuk tahun ajaran 2026/2027, SMK Giri Pendawa menerapkan aturan yang lebih ketat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya sekadar penempatan, sekolah bahkan membuat pernyataan kesanggupan bermeterai yang harus ditandatangani oleh siswa dan diketahui serta disetujui oleh orang tua. Dalam dokumen resmi tersebut tertulis jelas: siswa bersedia melaksanakan PKL selama 6 bulan penuh di satu tempat yang telah ditentukan, serta berjanji tidak akan meminta pindah atau menghentikan kegiatan sebelum waktunya habis tanpa alasan yang sangat mendesak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Sekolah ingin menjamin keberlangsungan program, menjaga nama baik lembaga pendidikan, serta membangun kepercayaan yang kuat dengan perusahaan atau instansi mitra. Bagi pihak tempat latihan, penempatan siswa adalah sebuah investasi waktu, tenaga, dan biaya. Mereka bersedia membimbing, mengajari, bahkan memperkenalkan standar kerja yang sesungguhnya dengan harapan ilmu yang diberikan dapat dipahami dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh siswa dalam jangka waktu yang cukup. Oleh karena itu, adanya pernyataan bermeterai ini diharapkan menjadi komitmen tertulis yang mengikat, baik secara moral maupun hukum, agar siswa memahami bahwa bekerja bukan hanya soal hadir, melainkan memegang janji dan menjaga kepercayaan.

Namun sayangnya, harapan yang dibangun dengan susah payah itu seringkali berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Di tengah aturan yang sudah disusun sedemikian rupa, muncul fakta yang sangat memprihatinkan: baru berjalan dua hingga tiga minggu, banyak siswa sudah mengajukan permohonan pindah tempat latihan. Alasan yang dikemukakan pun seringkali terasa ringan, seperti merasa tugasnya terlalu berat, lingkungan kerja kurang nyaman, jam kerja terasa panjang, atau tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Tanpa berusaha bertahan sedikit lebih lama, tanpa berusaha berkomunikasi untuk mencari solusi, dan tanpa berpikir panjang mengenai dampak dari keputusannya, mereka langsung meminta keluar.

Fenomena ini kemudian memunculkan istilah yang sering kita dengar: generasi stroberi. Sebutan ini merujuk pada mereka yang terlihat cantik, menarik, dan berpotensi dari luar, namun sangat rapuh, mudah memar, dan cepat rusak ketika menghadapi sedikit tekanan atau tantangan. Padahal, dunia kerja tidaklah selembut lingkungan sekolah maupun rumah. Di tempat latihan, siswa sedang melewati masa transisi dari dunia belajar ke dunia nyata, di mana kesulitan, tanggung jawab, dan tuntutan adalah hal yang wajar untuk melatih mental dan kedewasaan. Jika pada tahap awal saja sudah mudah menyerah, bagaimana nanti mereka dapat bertahan dan berkembang ketika benar-benar bekerja setelah lulus nanti?

Dampak dari sikap ini pun tidak hanya dirasakan oleh siswa sendiri, melainkan juga menimbulkan masalah yang cukup pelik bagi pihak sekolah. Yang paling terasa adalah rasa tidak enak dan malu yang mendalam kepada manajemen tempat latihan. Bayangkan, pihak mitra sudah menyambut dengan baik, menyiapkan pembimbing khusus, dan membuka pintu lebar-lebar, namun siswa justru pergi di saat proses pembelajaran baru dimulai. Hal ini dapat merusak citra baik SMK Giri Pendawa, menurunkan tingkat kepercayaan perusahaan, dan bahkan mempersempit kesempatan bagi siswa angkatan berikutnya untuk mendapatkan tempat latihan yang layak. Pihak sekolah pun kerap kali harus memutar otak memberikan penjelasan, memohon pengertian, serta memperbaiki hubungan yang sempat terguncang, sebuah pekerjaan tambahan yang memakan waktu dan tenaga.

Melihat kondisi ini, muncul pertanyaan besar di benak para pendidik dan orang tua: apa yang harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang? Tentu saja, perbaikan tidak bisa hanya mengandalkan kertas bermeterai semata, karena kesanggupan tertulis tidak akan berarti banyak jika tidak didukung oleh kekuatan mental dan kesadaran dari dalam diri siswa.

Mungkin ini adalah beberapa langkah antisipasi yang perlu kita bangun bersama:

Pertama, perkuat pembinaan mental dan karakter sejak dini. Sebelum siswa diberangkatkan ke lokasi PKL, sekolah perlu memberikan penyuluhan yang lebih mendalam, bukan hanya soal aturan teknis, melainkan juga tentang makna perjuangan, arti tanggung jawab, dan pentingnya menghadapi tantangan. Siswa harus diajarkan bahwa kesulitan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan sarana untuk menjadi lebih kuat dan matang.

Kedua, peran aktif dan pengawasan orang tua. Orang tua adalah mitra utama sekolah. Pernyataan bermeterai yang ditandatangani harus menjadi pengingat bagi orang tua untuk turut memantau kondisi anaknya, mendengarkan keluh kesahnya, namun sekaligus menguatkan semangat dan mengajarkan untuk tidak mudah menyerah. Jangan sampai orang tua justru membenarkan keinginan anak untuk pindah hanya karena mendengar sedikit keluhan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.

Ketiga, pendampingan intensif selama masa PKL. Guru pembimbing harus lebih sering melakukan kunjungan dan komunikasi rutin, bukan hanya sekadar mengisi buku laporan. Ketika siswa mulai merasa terbebani, guru dapat segera memberikan arahan, memotivasi, dan membantu mencari solusi, sehingga masalah kecil tidak berubah menjadi alasan untuk mengundurkan diri.

Keempat, memberikan gambaran realistis mengenai dunia kerja. Sekolah perlu menyampaikan dengan jujur bahwa tempat latihan bukanlah tempat hiburan, melainkan tempat di mana kedisiplinan dan hasil kerja dinilai. Siswa harus menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi dan siap untuk belajar dari hal-hal yang terasa sulit sekalipun.

Pada akhirnya, PKL adalah ladang pembentukan karakter. Aturan ketat dan pernyataan bermeterai adalah alat bantu, namun kunci keberhasilannya terletak pada seberapa besar kesadaran siswa untuk memegang janji, melatih ketangguhan diri, dan menghargai kesempatan yang diberikan. Semoga dengan kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan mitra industri, generasi mendatang tidak lagi dikenal sebagai generasi stroberi, melainkan generasi yang tangguh, dapat diandalkan, dan mampu membawa nama baik almamaternya ke mana pun mereka melangkah.

 (Manixs😱)

Kamis, 18 Juni 2026

SHU Lampaui Target, Kopsek Giri Amertha Sahkan RAT Tahun Buku 2025/2026

Gatra Humas – Koperasi Sekolah (Kopsek) Giri Amertha kembali menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025/2026 pada Kamis (11/6/2026) pukul 11.00 Wita di Ruang Laboratorium Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Giri Pendawa.

RAT dihadiri 27 anggota aktif dari kalangan guru dan pegawai, 402 anggota siswa, serta anggota nonaktif yang berasal dari yayasan dan sejumlah guru maupun pegawai yang pernah bertugas di SMK Giri Pendawa. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan doa yang dipandu langsung oleh pengelola koperasi sekolah.

Dalam laporan pertanggungjawaban yang disampaikan melalui presentasi PowerPoint, pengelola memaparkan perkembangan usaha dan kondisi keuangan koperasi selama tahun buku 2025/2026. Capaian menggembirakan ditunjukkan dengan perolehan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp41,7 juta, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp35 juta.

Pengelola Kopsek Giri Amertha, I Wayan Suiji, menjelaskan bahwa pada tahun buku mendatang koperasi akan tetap memperkuat usaha simpan pinjam sekaligus mengembangkan usaha penyediaan kebutuhan sehari-hari dan pengelolaan Teaching Factory (Tefa) kewirausahaan.

Menurut Suiji, sinergi antara koperasi dan ketua program studi akan terus diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) sehingga program Teaching Factory dapat segera diwujudkan dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota.

“Koperasi akan maju apabila anggotanya punya hati rasa memiliki sebagai pemilik sekaligus pelanggan. Partisipasi aktif anggota menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Sebagai bentuk manfaat berkoperasi, pada kesempatan tersebut pengelola juga menyerahkan sebagian SHU dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR) Galungan kepada anggota aktif. Pembagian dilakukan dengan mempertimbangkan masa keanggotaan dan tetap mengedepankan asas pemerataan.

Ketua Dewan Penasehat Kopsek Giri Amertha yang juga Kepala SMK Giri Pendawa I Komang Sumarta,memberikan apresiasi atas kinerja pengelola yang dinilai jujur, transparan, dan akuntabel.

“Saya mengajak seluruh anggota untuk terus mendukung kinerja pengelola sehingga tujuan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dapat terwujud secara lebih optimal,” katanya.

Selain itu, koperasi juga memberikan  cashback bagi anggota yang aktif bertransaksi, baik melalui tabungan maupun pinjaman, sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi anggota.

Setelah melalui pembahasan dan tanggapan peserta, laporan pertanggungjawaban pengelola serta rencana kerja Tahun Buku 2026/2027 disahkan secara bulat oleh seluruh anggota yang hadir.

Acara RAT ditutup dengan pembagian uang transport kepada peserta serta penyerahan THR Galungan kepada anggota aktif sebagai wujud nyata manfaat berkoperasi bagi seluruh anggota.(manixs)

Pemberian hadiah/cash back pada anggota peminjam

Pemaparan proja

Hadiah bagi anggota penyimpan

 Laporan Pertanggungjawaban pengelola

 
Pemngarahan ketua Dewan Pembina/Penasehat




Menjaga Api Iman di Hati Generasi Muda: Refleksi Hari Raya Galungan di SMK Giri Pandawa

 

Ajik Mangku Sandi dan keluarga sembahyang Galungan di Padmasana

Hari Raya Galungan adalah momen paling suci dan dinanti-nanti umat Hindu di Bali. Hari ini dirayakan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma, kebaikan mengatasi keburukan, dan menjadi pengingat untuk kembali mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta mempererat hubungan harmonis antar sesama makhluk hidup. Namun, pengamatan sederhana tapi menyentuh hati yang terjadi di lingkungan SMK Giri Pandawa pada perayaan Galungan kemarin menyisakan satu pertanyaan mendalam: ke mana arah iman dan karakter generasi muda kita kini?

 Perubahan yang Terasa Nyata

 Dahulu, suasana di Padmasana sekolah saat Hari Raya Galungan terasa begitu meriah dan khidmat. Bukan hanya siswa yang datang berbondong-bondong membawa sesajen dan sembahyang dengan khusyuk, bahkan para alumni pun meluangkan waktu untuk kembali ke sekolah, mengulang kebiasaan suci yang menjadi bagian dari identitas mereka. Guru-guru pun hadir ikut sembahyang, menciptakan lingkungan ibadah yang hangat, penuh makna, dan menjadi teladan bagi para siswa.

 Namun kini, gambaran itu terasa memudar. Pada perayaan Galungan kemarin, suasana di Padmasana sekolah terasa sepi. Sangat sedikit siswa yang terlihat melaksanakan sembahyang, bahkan nyaris tidak ada. Kehadiran guru pun terasa terbatas. Di sisi lain, terlihat pola kegiatan yang berbeda: para remaja lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul tanpa arah yang jelas, bersenang-senang secara berlebihan, mengendarai sepeda motor ke sana kemari, bahkan tak jarang terlibat dalam perilaku yang kurang terpuji seperti mengonsumsi minuman keras diiringin instrumen musik keras di jalanan.

Gradasi Kepercayaan dan Dampaknya pada Karakter

Fenomena ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ini menjadi tanda adanya gradasi dalam nilai keimanan dan kepercayaan beragama. Ketika hubungan vertikal dengan Tuhan mulai dijauhkan, secara alami akan terganggu pula hubungan horizontal dengan sesama. Ajaran agama bukan lagi menjadi pedoman hidup, melainkan sekadar pengetahuan yang lepas dari pengamalan.

Lambat laun, dampak ini terlihat jelas pada karakter dan perilaku mereka. Rasa hormat kepada orang tua memudar, sopan santun kepada guru berkurang, serta cara berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi kurang terkontrol. Pengaruh lingkungan bebas dan media sosial yang tidak disaring dengan bijak semakin mempercepat pergeseran ini, membuat mereka terjebak dalam kesenangan sesaat yang menjauhkan dari makna sejati kehidupan.

Apa Jalan Keluarnya?

Sebagai orang tua di rumah dan pendidik di sekolah, kita tidak boleh diam saja. Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk membangkitkan kembali kesadaran dan kepekaan hati generasi muda. Berikut adalah langkah-langkah yang kiranya bisa kita upayakan:

Mengembalikan Keteladanan: Ajaran paling ampuh bukan hanya lewat kata-kata, melainkan lewat perbuatan. Orang tua dan guru harus menjadi teladan nyata dalam melaksanakan ibadah dan menjalankan nilai-nilai agama dalam keseharian.

Memperdalam Makna, Bukan Sekadar Ritual: Ajak mereka memahami mengapa kita sembahyang, bukan hanya bagaimana caranya. Jelaskan bahwa Galungan adalah pengingat untuk mengendalikan diri, berbuat baik, dan menyadari bahwa segala sesuatu ada di bawah kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Membangun Lingkungan yang Mendukung: Sekolah perlu menjadikan Padmasana bukan sekadar bangunan, melainkan pusat nilai dan kegiatan rohani yang teratur, menarik, dan memberi ruang bagi siswa untuk merasakan kedamaian. Di rumah, ciptakan suasana harmonis di mana ibadah menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Mendampingi, Mengarahkan, dan Mengawasi: Ketahui dengan siapa mereka bergaul dan apa yang menjadi pengaruhnya. Dekati mereka dengan kasih sayang, bukan dengan hukuman semata, agar mereka mau membuka hati dan menerima nasihat.

Membangkitkan Kesadaran Diri: Ingatkan mereka dengan lembut: “Ingatlah dirimu sebagai anak umat Hindu, percayalah pada kebesaran Tuhan, dan jadikan ajaran agama sebagai pelita penerang jalan hidup.”

Penutup

 Generasi muda adalah harapan masa depan, namun harapan itu akan pudar jika tidak ditopang oleh iman dan akhlak yang luhur. Mari kita bersama-sama mengembalikan cahaya Galungan ke dalam hati mereka — bukan hanya sebagai perayaan di luar, melainkan sebagai kekuatan batin yang menjadikan mereka pribadi yang berkarakter, berbudi luhur, dan tetap teguh memegang teguh ajaran leluhur.

 Semoga dengan kesadaran dan kerja sama semua pihak, kelak Padmasana sekolah kembali ramai dipenuhi doa, dan Hari Raya Galungan kembali menjadi momen yang memperkuat iman serta membangun karakter generasi muda yang sesungguhnya.

 “Dharma menang, Adharma kalah — semoga kemenangan ini senantiasa terjaga dalam hati setiap anak muda kita.”

Om Santi Santi Santi Om

Medio 180626,by.Manixs

sambil Silaturahmi

di Penunggun Karang

 
di Padmasana