Kamis, 18 Juni 2026

SHU Lampaui Target, Kopsek Giri Amertha Sahkan RAT Tahun Buku 2025/2026

Gatra Humas – Koperasi Sekolah (Kopsek) Giri Amertha kembali menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025/2026 pada Kamis (11/6/2026) pukul 11.00 Wita di Ruang Laboratorium Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Giri Pendawa.

RAT dihadiri 27 anggota aktif dari kalangan guru dan pegawai, 402 anggota siswa, serta anggota nonaktif yang berasal dari yayasan dan sejumlah guru maupun pegawai yang pernah bertugas di SMK Giri Pendawa. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan doa yang dipandu langsung oleh pengelola koperasi sekolah.

Dalam laporan pertanggungjawaban yang disampaikan melalui presentasi PowerPoint, pengelola memaparkan perkembangan usaha dan kondisi keuangan koperasi selama tahun buku 2025/2026. Capaian menggembirakan ditunjukkan dengan perolehan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp41,7 juta, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp35 juta.

Pengelola Kopsek Giri Amertha, I Wayan Suiji, menjelaskan bahwa pada tahun buku mendatang koperasi akan tetap memperkuat usaha simpan pinjam sekaligus mengembangkan usaha penyediaan kebutuhan sehari-hari dan pengelolaan Teaching Factory (Tefa) kewirausahaan.

Menurut Suiji, sinergi antara koperasi dan ketua program studi akan terus diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) sehingga program Teaching Factory dapat segera diwujudkan dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota.

“Koperasi akan maju apabila anggotanya punya hati rasa memiliki sebagai pemilik sekaligus pelanggan. Partisipasi aktif anggota menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Sebagai bentuk manfaat berkoperasi, pada kesempatan tersebut pengelola juga menyerahkan sebagian SHU dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR) Galungan kepada anggota aktif. Pembagian dilakukan dengan mempertimbangkan masa keanggotaan dan tetap mengedepankan asas pemerataan.

Ketua Dewan Penasehat Kopsek Giri Amertha yang juga Kepala SMK Giri Pendawa I Komang Sumarta,memberikan apresiasi atas kinerja pengelola yang dinilai jujur, transparan, dan akuntabel.

“Saya mengajak seluruh anggota untuk terus mendukung kinerja pengelola sehingga tujuan koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dapat terwujud secara lebih optimal,” katanya.

Selain itu, koperasi juga memberikan  cashback bagi anggota yang aktif bertransaksi, baik melalui tabungan maupun pinjaman, sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi anggota.

Setelah melalui pembahasan dan tanggapan peserta, laporan pertanggungjawaban pengelola serta rencana kerja Tahun Buku 2026/2027 disahkan secara bulat oleh seluruh anggota yang hadir.

Acara RAT ditutup dengan pembagian uang transport kepada peserta serta penyerahan THR Galungan kepada anggota aktif sebagai wujud nyata manfaat berkoperasi bagi seluruh anggota.(manixs)

Pemberian hadiah/cash back pada anggota peminjam

Pemaparan proja

Hadiah bagi anggota penyimpan

 Laporan Pertanggungjawaban pengelola

 
Pemngarahan ketua Dewan Pembina/Penasehat




Menjaga Api Iman di Hati Generasi Muda: Refleksi Hari Raya Galungan di SMK Giri Pandawa

 

Ajik Mangku Sandi dan keluarga sembahyang Galungan di Padmasana

Hari Raya Galungan adalah momen paling suci dan dinanti-nanti umat Hindu di Bali. Hari ini dirayakan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma, kebaikan mengatasi keburukan, dan menjadi pengingat untuk kembali mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta mempererat hubungan harmonis antar sesama makhluk hidup. Namun, pengamatan sederhana tapi menyentuh hati yang terjadi di lingkungan SMK Giri Pandawa pada perayaan Galungan kemarin menyisakan satu pertanyaan mendalam: ke mana arah iman dan karakter generasi muda kita kini?

 Perubahan yang Terasa Nyata

 Dahulu, suasana di Padmasana sekolah saat Hari Raya Galungan terasa begitu meriah dan khidmat. Bukan hanya siswa yang datang berbondong-bondong membawa sesajen dan sembahyang dengan khusyuk, bahkan para alumni pun meluangkan waktu untuk kembali ke sekolah, mengulang kebiasaan suci yang menjadi bagian dari identitas mereka. Guru-guru pun hadir ikut sembahyang, menciptakan lingkungan ibadah yang hangat, penuh makna, dan menjadi teladan bagi para siswa.

 Namun kini, gambaran itu terasa memudar. Pada perayaan Galungan kemarin, suasana di Padmasana sekolah terasa sepi. Sangat sedikit siswa yang terlihat melaksanakan sembahyang, bahkan nyaris tidak ada. Kehadiran guru pun terasa terbatas. Di sisi lain, terlihat pola kegiatan yang berbeda: para remaja lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul tanpa arah yang jelas, bersenang-senang secara berlebihan, mengendarai sepeda motor ke sana kemari, bahkan tak jarang terlibat dalam perilaku yang kurang terpuji seperti mengonsumsi minuman keras diiringin instrumen musik keras di jalanan.

Gradasi Kepercayaan dan Dampaknya pada Karakter

Fenomena ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ini menjadi tanda adanya gradasi dalam nilai keimanan dan kepercayaan beragama. Ketika hubungan vertikal dengan Tuhan mulai dijauhkan, secara alami akan terganggu pula hubungan horizontal dengan sesama. Ajaran agama bukan lagi menjadi pedoman hidup, melainkan sekadar pengetahuan yang lepas dari pengamalan.

Lambat laun, dampak ini terlihat jelas pada karakter dan perilaku mereka. Rasa hormat kepada orang tua memudar, sopan santun kepada guru berkurang, serta cara berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi kurang terkontrol. Pengaruh lingkungan bebas dan media sosial yang tidak disaring dengan bijak semakin mempercepat pergeseran ini, membuat mereka terjebak dalam kesenangan sesaat yang menjauhkan dari makna sejati kehidupan.

Apa Jalan Keluarnya?

Sebagai orang tua di rumah dan pendidik di sekolah, kita tidak boleh diam saja. Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk membangkitkan kembali kesadaran dan kepekaan hati generasi muda. Berikut adalah langkah-langkah yang kiranya bisa kita upayakan:

Mengembalikan Keteladanan: Ajaran paling ampuh bukan hanya lewat kata-kata, melainkan lewat perbuatan. Orang tua dan guru harus menjadi teladan nyata dalam melaksanakan ibadah dan menjalankan nilai-nilai agama dalam keseharian.

Memperdalam Makna, Bukan Sekadar Ritual: Ajak mereka memahami mengapa kita sembahyang, bukan hanya bagaimana caranya. Jelaskan bahwa Galungan adalah pengingat untuk mengendalikan diri, berbuat baik, dan menyadari bahwa segala sesuatu ada di bawah kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Membangun Lingkungan yang Mendukung: Sekolah perlu menjadikan Padmasana bukan sekadar bangunan, melainkan pusat nilai dan kegiatan rohani yang teratur, menarik, dan memberi ruang bagi siswa untuk merasakan kedamaian. Di rumah, ciptakan suasana harmonis di mana ibadah menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Mendampingi, Mengarahkan, dan Mengawasi: Ketahui dengan siapa mereka bergaul dan apa yang menjadi pengaruhnya. Dekati mereka dengan kasih sayang, bukan dengan hukuman semata, agar mereka mau membuka hati dan menerima nasihat.

Membangkitkan Kesadaran Diri: Ingatkan mereka dengan lembut: “Ingatlah dirimu sebagai anak umat Hindu, percayalah pada kebesaran Tuhan, dan jadikan ajaran agama sebagai pelita penerang jalan hidup.”

Penutup

 Generasi muda adalah harapan masa depan, namun harapan itu akan pudar jika tidak ditopang oleh iman dan akhlak yang luhur. Mari kita bersama-sama mengembalikan cahaya Galungan ke dalam hati mereka — bukan hanya sebagai perayaan di luar, melainkan sebagai kekuatan batin yang menjadikan mereka pribadi yang berkarakter, berbudi luhur, dan tetap teguh memegang teguh ajaran leluhur.

 Semoga dengan kesadaran dan kerja sama semua pihak, kelak Padmasana sekolah kembali ramai dipenuhi doa, dan Hari Raya Galungan kembali menjadi momen yang memperkuat iman serta membangun karakter generasi muda yang sesungguhnya.

 “Dharma menang, Adharma kalah — semoga kemenangan ini senantiasa terjaga dalam hati setiap anak muda kita.”

Om Santi Santi Santi Om

Medio 180626,by.Manixs

sambil Silaturahmi

di Penunggun Karang

 
di Padmasana