Hari Raya Galungan adalah momen
paling suci dan dinanti-nanti umat Hindu di Bali. Hari ini dirayakan sebagai
kemenangan Dharma melawan Adharma, kebaikan mengatasi keburukan, dan menjadi
pengingat untuk kembali mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta
mempererat hubungan harmonis antar sesama makhluk hidup. Namun, pengamatan
sederhana tapi menyentuh hati yang terjadi di lingkungan SMK Giri Pandawa pada
perayaan Galungan kemarin menyisakan satu pertanyaan mendalam: ke mana arah
iman dan karakter generasi muda kita kini?
Perubahan yang Terasa Nyata
Dahulu, suasana di Padmasana sekolah saat Hari Raya Galungan terasa begitu meriah dan khidmat. Bukan hanya siswa yang datang berbondong-bondong membawa sesajen dan sembahyang dengan khusyuk, bahkan para alumni pun meluangkan waktu untuk kembali ke sekolah, mengulang kebiasaan suci yang menjadi bagian dari identitas mereka. Guru-guru pun hadir ikut sembahyang, menciptakan lingkungan ibadah yang hangat, penuh makna, dan menjadi teladan bagi para siswa.
Namun kini, gambaran itu terasa memudar. Pada perayaan Galungan kemarin, suasana di Padmasana sekolah terasa sepi. Sangat sedikit siswa yang terlihat melaksanakan sembahyang, bahkan nyaris tidak ada. Kehadiran guru pun terasa terbatas. Di sisi lain, terlihat pola kegiatan yang berbeda: para remaja lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkumpul tanpa arah yang jelas, bersenang-senang secara berlebihan, mengendarai sepeda motor ke sana kemari, bahkan tak jarang terlibat dalam perilaku yang kurang terpuji seperti mengonsumsi minuman keras diiringin instrumen musik keras di jalanan.
Gradasi Kepercayaan dan Dampaknya pada Karakter
Fenomena ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ini menjadi tanda adanya gradasi dalam nilai keimanan dan kepercayaan beragama. Ketika hubungan vertikal dengan Tuhan mulai dijauhkan, secara alami akan terganggu pula hubungan horizontal dengan sesama. Ajaran agama bukan lagi menjadi pedoman hidup, melainkan sekadar pengetahuan yang lepas dari pengamalan.
Lambat laun, dampak ini terlihat jelas pada karakter dan perilaku mereka. Rasa hormat kepada orang tua memudar, sopan santun kepada guru berkurang, serta cara berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi kurang terkontrol. Pengaruh lingkungan bebas dan media sosial yang tidak disaring dengan bijak semakin mempercepat pergeseran ini, membuat mereka terjebak dalam kesenangan sesaat yang menjauhkan dari makna sejati kehidupan.
Apa Jalan Keluarnya?
Sebagai orang tua di rumah dan pendidik di sekolah, kita tidak boleh diam saja. Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk membangkitkan kembali kesadaran dan kepekaan hati generasi muda. Berikut adalah langkah-langkah yang kiranya bisa kita upayakan:
✅ Mengembalikan Keteladanan: Ajaran paling ampuh bukan hanya lewat kata-kata, melainkan lewat perbuatan. Orang tua dan guru harus menjadi teladan nyata dalam melaksanakan ibadah dan menjalankan nilai-nilai agama dalam keseharian.
✅ Memperdalam Makna, Bukan Sekadar Ritual: Ajak mereka memahami mengapa kita sembahyang, bukan hanya bagaimana caranya. Jelaskan bahwa Galungan adalah pengingat untuk mengendalikan diri, berbuat baik, dan menyadari bahwa segala sesuatu ada di bawah kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
✅ Membangun Lingkungan yang Mendukung: Sekolah perlu menjadikan Padmasana bukan sekadar bangunan, melainkan pusat nilai dan kegiatan rohani yang teratur, menarik, dan memberi ruang bagi siswa untuk merasakan kedamaian. Di rumah, ciptakan suasana harmonis di mana ibadah menjadi rutinitas yang menyenangkan.
✅ Mendampingi, Mengarahkan, dan Mengawasi: Ketahui dengan siapa mereka bergaul dan apa yang menjadi pengaruhnya. Dekati mereka dengan kasih sayang, bukan dengan hukuman semata, agar mereka mau membuka hati dan menerima nasihat.
✅ Membangkitkan Kesadaran Diri: Ingatkan mereka dengan lembut: “Ingatlah dirimu sebagai anak umat Hindu, percayalah pada kebesaran Tuhan, dan jadikan ajaran agama sebagai pelita penerang jalan hidup.”
Penutup
Generasi muda adalah harapan masa
depan, namun harapan itu akan pudar jika tidak ditopang oleh iman dan akhlak
yang luhur. Mari kita bersama-sama mengembalikan cahaya Galungan ke dalam hati
mereka — bukan hanya sebagai perayaan di luar, melainkan sebagai kekuatan batin
yang menjadikan mereka pribadi yang berkarakter, berbudi luhur, dan tetap teguh
memegang teguh ajaran leluhur.
Semoga dengan kesadaran dan kerja
sama semua pihak, kelak Padmasana sekolah kembali ramai dipenuhi doa, dan Hari
Raya Galungan kembali menjadi momen yang memperkuat iman serta membangun
karakter generasi muda yang sesungguhnya.
“Dharma menang, Adharma kalah —
semoga kemenangan ini senantiasa terjaga dalam hati setiap anak muda kita.”
Om Santi Santi Santi Om
Medio 180626,by.Manixs




Tidak ada komentar:
Posting Komentar