Kamis, 27 Agustus 2026

SMK Giri Pendawa Kembali Gelar Familirisasi dan Table Manner di Inna Sindhu Beach Hotel

Gatra Humas,240826 — SMK Giri Pendawa kembali melaksanakan kegiatan familirisasi dan table manner bagi siswa kelas X angkatan tahun pelajaran 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung di Inna Sindhu Beach Hotel, Sanur, tersebut diikuti oleh 116 siswa dan didampingi 21 orang guru.

Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang berlangsung di ballroom hotel. Dalam sambutannya, General Manager Inna Sindhu Beach Hotel, I Nyoman Yuda Wirawan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada SMK Giri Pendawa atas kerja sama yang telah terjalin dalam pelaksanaan kegiatan familirisasi dan table manner.

Pada kesempatan tersebut, I Nyoman Yuda Wirawan juga memaparkan profil Inna Sindhu Beach Hotel serta berbagai kegiatan yang akan diikuti para siswa selama pelaksanaan program. Kegiatan diawali dengan tour the hotel yang dipandu oleh instruktur dari masing-masing departemen. Selanjutnya, siswa akan mendapatkan berbagai pengalaman praktik dan wawasan di bidang perhotelan, di antaranya demo making bed, juggling, bartending, serta motivasi yang diberikan oleh motivator berpengalaman di dunia hospitality dan terakhir saat penutupan akan diserahkan sertifikat lulus mengikuti Table Manners Course and Familiarization in Inna Sindhu Beach Hotel,Sanur.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Giri Pendawa sekaligus ketua panitia kegiatan, I Wayan Suiji, yang mewakili Kepala Sekolah, dalam sambutannya terlebih dahulu menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-70 kepada Inna Sindhu Beach Hotel.

Ucapan tersebut disampaikan melalui pantun:

Ke pantai Sindhu melihat mentari,
Ombak berdebur indah berseri.
Selamat ulang tahun yang ke-70,
Semoga Sindhu Beach semakin jaya dan lestari.

Pantun tersebut disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

Lebih lanjut, I Wayan Suiji menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin antara SMK Giri Pendawa dengan Inna Sindhu Beach Hotel. Ia berharap kerja sama tersebut ke depan dapat terus ditingkatkan sehingga memberikan manfaat dan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Kepada seluruh siswa, ia berpesan agar mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik dan sungguh-sungguh. Menurutnya, kehadiran siswa di hotel bukan sekadar mengikuti kegiatan, tetapi merupakan kesempatan untuk belajar dan mengenal secara langsung dunia kerja yang nantinya akan mereka hadapi.

“Datang ke sini adalah untuk belajar. Karena itu, catat dan tanyakan kalau ada yang belum dipahami. Kalian harus punya skill yang dibawa pulang, karena inilah realita kerja kalian nantinya,” pesannya.

Ia juga mengingatkan siswa untuk mulai menanamkan sikap profesional sejak dini. Menurutnya, keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh etos kerja dan sikap profesional.

“Dari sekarang kalian harus tanamkan konsep profesional dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas jangan lupa disiplin kata kuncinya. Dengan demikian, tujuan kalian akan tercapai,” pungkasnya.

Setelah acara pembukaan, kegiatan dilanjutkan sesuai agenda yang telah dipersiapkan pihak hotel. Para siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai pada pukul 14.30 WITA.

Kegiatan kemudian ditutup oleh Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan terima kasih kepada pihak Inna Sindhu Beach Hotel atas kerja sama yang telah diberikan.

“Terima kasih atas kerja sama hari ini. Mohon maaf apabila ada kekeliruan di antara kami,” ujar I Komang Sumarta dalam sambutan penutupnya.

Setelah kegiatan berakhir, rombongan siswa dan guru yang paginya berangkat pukul 07.00 dari Nongan diangkut menggunakan empat bus  Bagus Transport dan alhirnya bertolak menuju Nongan  tiba   sekitar pukul 17.30 WITA. Seluruh siswa kemudian kembali ke rumah masing-masing dengan selamat.

Kegiatan familirisasi dan table manner ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa kelas X SMK Giri Pendawa mengenai dunia kerja di bidang perhotelan sekaligus membangun sikap profesional sejak dini sebagai bekal memasuki dunia hospitality.(manixs)

Saat berangkat menuju hotel

Disambut well come drink

Sambutan General Manager I Nyoman Yuda Wirawan

Sambutan Kepala SMK Giri Pendawa yang diwakili 
Waka Humas sekaligus ketua panitia I Wayan Suiji

 
Suasana saat penyambutan di ball room hotel

Tour the hotel di Departemen Front Office

di Departemen FB

Demobartener

Demo fruit carving

Santap siang guru pegawai pendamping

Penutupan oleh Kepala Sekolah I Komang Sumarta

Penyerahat sertifikat peserta oleh manajer marketing Dewa Angga

Pembayaran biaya table manner oleh bendahara kepada Dewa Angga(hotel) 
disaksikan ketua panitia

Pelunasan sewa bus oleh bendahara kepada perwakilan Bagus transport 
disaksikan oleh ketua panitia dan kepala sekolah

Foto bersama di pantai Sindhu




















Selasa, 25 Agustus 2026

Tari Siswi SMK Giri Pendawa Lolos Paskibra Kecamatan Rendang pada HUT RI ke-81

Gatra Humas,17082026 — Semangat, disiplin, dan ketekunan mengantarkan Ni Putu Suliastari, siswi SMK Giri Pendawa, berhasil lolos seleksi dan dipercaya menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) Kecamatan Rendang dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang dilaksanakan di Lapangan Umum Yowana Singarata, Kecamatan Rendang.


Ni Putu Suliastari lahir di Karangasem, 10 November 2009. Ia merupakan putri dari pasangan I Ketut Sutena dan Ni Nyoman Sari, yang keduanya bekerja sebagai petani. Suliastari yang akrab dipanggil Tari merupakan anak keempat dari enam bersaudara dan berdomisili di Banjar Dinas Benekasa,Desa Muncan,Kecamatan Selat,Kabupaten Karangasaem.

Tari menyelesaikan pendidikan SD pada tahun 2016 dan SMP pada tahun 2022. Saat duduk di bangku SMP, ia pernah mengikuti kegiatan dan meraih pengalaman dalam bidang puisi dan UUD.

Dihubungi redaksi Gatra Humas usai bertugas, Tari menyampaikan Kunci Lolos Seleksi menurut Tari, ada beberapa hal yang menjadi perhatian penting selama mengikuti seleksi Paskibra. Ia berusaha menjaga kedisiplinan, postur tubuh dan sikap, serta tetap tenang ketika menjalani setiap tahapan seleksi.

«“Saat seleksi, kita harus tetap tenang, memperhatikan postur dan sikap, serta menjaga kedisiplinan,” ungkapnya.»

Bagi Suliastari, menjadi anggota Paskibra bukan hanya tentang kemampuan baris-berbaris, tetapi juga proses pembentukan karakter.

Selama mengikuti latihan, ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru. Ia belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, dan kerja sama. Meski latihan cukup melelahkan, pengalaman tersebut justru membuatnya merasa senang dan bangga.

«“Selama mengikuti kegiatan Paskibra, saya mendapatkan banyak pengalaman baru. Saya belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, dan kerja sama. Walaupun latihannya cukup melelahkan, saya merasa senang dan bangga bisa mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.»

Ditanya mengenai masa depan ia bercita cita menatap masa depan ke Jepang.Saat ini Suliastari menempuh pendidikan di SMK Giri Pendawa, jurusan Perhotelan. Ia memiliki cita-cita yang cukup jelas, yakni bekerja di Jepang sebagai staf hotel profesional.Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Suliastari telah menyiapkan sejumlah langkah. Ia berkomitmen untuk rajin belajar di jurusan Perhotelan, meningkatkan kemampuan bahasa Jepang dan bahasa Inggris, memperdalam kemampuan pelayanan kepada tamu, mengikuti PKL untuk mendapatkan pengalaman kerja, serta terus melatih kedisiplinan dan sikap profesional.

Kisah Suliastari menjadi contoh bahwa kesempatan besar dapat diraih melalui disiplin, ketenangan, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar.

Prestasinya sebagai Paskibra Kecamatan Rendang sekaligus menjadi kebanggaan bagi keluarga dan SMK Giri Pendawa, serta menjadi bekal berharga bagi dirinya dalam mewujudkan cita-cita berkarier di industri perhotelan, bahkan hingga ke Jepang.(manixs)

Sabtu, 22 Agustus 2026

Pembentukan Grup WhatsApp Orang Tua Siswa SMK Giri Pendawa sebagai Sarana Penguatan Karakter dan Pengawasan Siswa


 Oleh: I Wayan Suiji

Wakasek Humas SMK Giri Pendawa

Latar Belakang

Perkembangan zaman yang semakin pesat membawa berbagai perubahan dalam kehidupan remaja. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan media sosial memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan komunikasi. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa tantangan yang tidak ringan dalam pembentukan karakter peserta didik.

Saat ini, kasus kenakalan remaja, pelanggaran tata tertib, menurunnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, serta berbagai perilaku negatif lainnya perlu menjadi perhatian bersama. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian di lingkungan SMK Giri Pendawa.

Dalam keseharian di sekolah, guru telah berupaya memberikan pembinaan secara berkelanjutan. Setiap pagi sebelum siswa memasuki kelas, guru piket dan guru terkait memberikan briefing serta pengarahan agar siswa selalu menjaga kedisiplinan, etika, tanggung jawab, dan nama baik sekolah maupun keluarga. Demikian pula pada siang hari menjelang siswa pulang, kembali diberikan pengarahan serta dilaksanakan doa bersama sebagai bentuk pembinaan moral dan spiritual.

Namun demikian, dalam kenyataannya masih ditemukan berbagai pelanggaran. Hampir setiap hari terdapat saja permasalahan yang harus ditangani oleh sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan di sekolah saja belum cukup. Pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak.

Permasalahan lain yang juga menjadi perhatian adalah meningkatnya tunggakan kewajiban administrasi atau SPP. Dalam beberapa kasus, setelah orang tua dipanggil ke sekolah, diketahui bahwa uang yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kewajiban sekolah ternyata disalahgunakan oleh siswa untuk kepentingan lain. Selain itu, terdapat pula berbagai persoalan yang berkaitan dengan perilaku siswa di luar sekolah, termasuk permasalahan yang terjadi di jalan raya maupun lingkungan masyarakat.

Berbagai kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus mendorong sekolah untuk membangun pola komunikasi yang lebih intensif antara sekolah dengan orang tua siswa.

Pembentukan Grup WhatsApp Orang Tua Siswa

Sebagai salah satu langkah preventif, SMK Giri Pendawa membentuk grup WhatsApp orang tua siswa pada setiap kelas. Grup ini bukan sekadar media untuk menyampaikan pengumuman sekolah, tetapi diharapkan menjadi sarana komunikasi, koordinasi, pengawasan, dan kerja sama antara pihak sekolah dengan keluarga.

Anggota utama dalam grup tersebut adalah orang tua siswa, wali kelas, Kepala Sekolah, dan Wakasek Humas. Kehadiran orang tua secara langsung dalam grup menjadi hal yang penting agar informasi mengenai kegiatan maupun kondisi putra-putrinya dapat diterima oleh orang tua tanpa melalui perantara siswa.

Melalui grup tersebut, berbagai informasi mengenai kegiatan kelas, kegiatan sekolah, agenda siswa, maupun hal-hal penting yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik dapat disampaikan secara langsung kepada orang tua.

Dengan demikian, orang tua tidak hanya mengetahui ketika anaknya mengalami masalah, tetapi dapat mengikuti perkembangan aktivitas anaknya secara lebih dini.

Tujuan Pembentukan Grup

Pembentukan grup WhatsApp orang tua siswa memiliki beberapa tujuan penting, antara lain:

  1. Mempermudah komunikasi antara sekolah dan orang tua.
    Ketika terdapat permasalahan yang berkaitan dengan siswa, sekolah dapat lebih cepat berkoordinasi dengan orang tua yang bersangkutan.

  2. Meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas siswa.
    Orang tua dapat mengetahui kegiatan anaknya di sekolah serta memperoleh informasi penting mengenai agenda dan aktivitas kelas.

  3. Mencegah terjadinya kesalahpahaman informasi.
    Informasi yang disampaikan langsung oleh sekolah kepada orang tua dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penyampaian informasi yang tidak lengkap atau tidak sesuai.

  4. Meningkatkan tanggung jawab orang tua.
    Dengan mengetahui perkembangan anak secara lebih cepat, orang tua diharapkan dapat mengambil tindakan pembinaan apabila ditemukan gejala atau perilaku yang perlu mendapatkan perhatian.

  5. Membangun kerja sama antara sekolah dan keluarga.
    Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan lingkungan.

Tantangan Pendidikan Karakter di Era Media Sosial

Di era digital seperti sekarang, pengaruh lingkungan terhadap karakter anak semakin besar. Media sosial memberikan akses yang sangat luas kepada siswa terhadap berbagai macam informasi, gaya hidup, tren, dan perilaku dari berbagai penjuru dunia.

Tidak semua hal yang ditampilkan di media sosial sesuai dengan nilai-nilai pendidikan, budaya, maupun kemampuan ekonomi keluarga. Anak-anak dapat dengan mudah melihat gaya hidup yang glamour, kemewahan, pergaulan bebas, serta berbagai bentuk perilaku yang belum tentu sesuai dengan kondisi dan nilai yang mereka miliki.

Persoalan muncul ketika keinginan untuk mengikuti tren tersebut tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi keluarga. Jika tidak mendapatkan pendampingan yang baik, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari kebohongan kepada orang tua, penyalahgunaan uang, mencari uang dengan cara yang tidak tepat, hingga munculnya sikap menentang orang tua.

Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Anak juga membutuhkan pendampingan, pengawasan, keteladanan, komunikasi, dan perhatian yang konsisten dari orang-orang terdekatnya.

Grup WhatsApp sebagai Upaya Preventif

Salah satu manfaat penting dari grup WhatsApp orang tua adalah sebagai sarana pencegahan atau tindakan preventif.

Ketika sekolah dan orang tua memiliki komunikasi yang baik, berbagai gejala permasalahan dapat diketahui lebih awal. Misalnya, ketika terdapat perubahan perilaku siswa, masalah kedisiplinan, ketidakhadiran, persoalan administrasi, maupun permasalahan lain yang berkaitan dengan siswa, komunikasi dapat segera dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi lebih besar.

Hal yang tidak kalah penting adalah membangun keterbukaan antara anak dan orang tua. Ketika anak mengetahui bahwa sekolah dan orang tua memiliki komunikasi yang baik, ruang untuk menyembunyikan aktivitas negatif akan semakin kecil.

Namun, pengawasan tersebut hendaknya bukan dimaknai sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada anak. Sebaliknya, pengawasan harus dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang, sehingga anak memahami bahwa orang tua dan sekolah hadir untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Membangun Tiga Pilar Pendidikan

Pembentukan grup orang tua siswa pada dasarnya merupakan upaya untuk memperkuat hubungan antara tiga lingkungan penting dalam pendidikan anak, yaitu sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Sekolah memberikan pendidikan dan pembinaan. Orang tua memberikan pendampingan dan keteladanan di rumah. Sementara itu, lingkungan masyarakat memberikan ruang bagi siswa untuk menerapkan nilai-nilai yang telah diperoleh.

Apabila ketiga unsur tersebut berjalan sendiri-sendiri, pembinaan karakter anak akan menghadapi banyak hambatan. Sebaliknya, apabila sekolah dan orang tua memiliki komunikasi yang baik, berbagai permasalahan dapat lebih cepat diketahui dan dicarikan solusi bersama.

Bukan untuk Menghakimi, tetapi untuk Membina

Grup WhatsApp orang tua siswa hendaknya tidak menjadi tempat untuk saling menyalahkan ketika terjadi permasalahan. Grup tersebut harus dibangun dengan semangat komunikasi, pembinaan, dan penyelesaian masalah.

Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, tujuan utama bukanlah mempermalukan siswa ataupun keluarganya, tetapi mencari tahu penyebab permasalahan dan menemukan langkah pembinaan yang tepat.

Sekolah memiliki kewajiban mendidik dan membimbing siswa, sedangkan orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak di rumah. Dengan komunikasi yang terbuka, keduanya dapat saling melengkapi.

Harapan ke Depan

Dengan adanya grup WhatsApp orang tua siswa SMK Giri Pendawa, diharapkan terbangun komunikasi yang lebih cepat, efektif, dan terbuka antara sekolah dengan orang tua.

Orang tua diharapkan tidak hanya berkomunikasi dengan sekolah ketika anaknya memiliki masalah, tetapi juga aktif mengetahui kegiatan, perkembangan, dan pergaulan putra-putrinya. Demikian pula sekolah akan terus berupaya memberikan informasi yang berkaitan dengan kegiatan dan perkembangan siswa secara proporsional.

Kita harus menyadari bahwa membentuk karakter anak bukanlah pekerjaan sehari atau dua hari. Karakter dibangun melalui kebiasaan, keteladanan, pengawasan, komunikasi, dan pembinaan yang dilakukan secara terus-menerus.

Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan saat ini, kehadiran orang tua menjadi semakin penting. Anak-anak membutuhkan figur yang dapat mendampingi, mengarahkan, sekaligus menjadi tempat mereka bercerita ketika menghadapi berbagai persoalan.

Karena itu, mari kita jadikan grup WhatsApp orang tua siswa bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi sebagai jembatan komunikasi dan kolaborasi antara sekolah dengan keluarga dalam menjaga, mengawasi, dan membentuk karakter generasi muda yang lebih baik.

Dengan kerja sama yang baik antara guru, orang tua, dan siswa, kita berharap berbagai perilaku negatif dapat dicegah sejak dini. Kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, rasa hormat, dan kepedulian dapat tumbuh menjadi bagian dari karakter siswa.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan anak menjadi manusia yang berkarakter, bertanggung jawab, mampu menghargai orang lain, serta memiliki masa depan yang baik.

Mari bersama-sama menjaga anak-anak kita. Sekolah mendidik, orang tua mendampingi, dan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang berkarakter.(manixs,220626)

Catatan: penulis adalah salah satu guru di SMK Giri Pendawa dengan tugas tambahan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat dan Dunia Industri juga sebagai ketua Pembina di Yayasan Giri Pendawa sejak berdiri hingga sekarang, Sejak Agustus 2023 merintis dan menulis terbitnya buku Antologi Kilas Balik Gatra Humas SMK Giri Pendawa yang diterbitkan tiap tanggal 28 Oktober sekaliggus memperingati hari sumpah pemuda,Buku ini isinya merangkum kegiatan  yang terjadi selama setahun di SMK Giri Pendawa,sebagai catatan perjalanan sekolah yang terdokumentasi,sekaligus sebagai evaluasi untuk perjalanan kedepannya, astungkara buku ini terbit sekitar 280 halaman hingga 300an  lebih ,tanpa membebani anggaran sekolah atau yayasan,murni sumbangsih buat sekolah tercinta.

Jumat, 21 Agustus 2026

Indonesia di Usia 81 Tahun: Pikun, Lelah, atau Sedang Bingung?


Ol𝚎h 
I WAYAN 𝚂𝚄𝙸𝙹𝙸
𝚆𝚊𝚔𝚊𝚜𝚎𝚔 𝙷𝚞𝚖𝚊𝚜 𝚂𝙼𝙺. 𝙶𝚒𝚛𝚒 𝙿𝚎𝚗𝚍𝚊𝚠𝚊

Indonesia di hari ulang tahunnya yang ke-81 mungkin sudah pantas disebut memasuki usia tua. Delapan puluh satu tahun itu bukan lagi usia anak muda. Kalau manusia, mungkin sudah mulai gampang lupa: lupa menaruh kacamata, lupa mematikan lampu, bahkan lupa tadi mau mengambil apa.

Tetapi kalau sebuah bangsa mulai “lupa”, persoalannya menjadi lebih serius.

Indonesia tampaknya mulai lupa kepada cita-cita kemerdekaan. Lupa bahwa kemerdekaan seharusnya membuat rakyat hidup lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Atau jangan-jangan bukan lupa? Mungkin hanya kelelahan.

Lelah melihat pemimpin dan tokoh politik yang sibuk saling menyalahkan. Lelah melihat pejabat yang seharusnya menjadi pelayan rakyat tetapi justru sering membuat rakyat bertanya-tanya. Lelah melihat rakyat sendiri ikut bertengkar, saling hujat, bahkan kadang menjadi beringas hanya karena berbeda pilihan.

Pidato kenegaraan pun tidak luput dari komentar pedas warganet. Baru selesai pidato, komentar sudah lebih cepat daripada tepuk tangan. Ada yang bilang pemerintah tidak pro-rakyat, ada yang bilang programnya amburadul. Program MBG diperdebatkan, Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi sorotan karena anggarannya sangat besar. Bahkan abdi negara pun ikut merasakan tekanan ketika TPP atau penghasilannya dipotong.

Indonesia pun seperti sedang mengalami “masuk angin nasional”.

Di Aceh muncul suara-suara yang ingin berpisah dari NKRI. Di Papua, kekayaan bumi masih menjadi persoalan panjang tentang siapa yang menikmati hasilnya. Pedagang kecil mengeluh karena pajak dan beban ekonomi. Yang lebih menyakitkan, uang yang dikumpulkan dari rakyat melalui pajak justru kadang dikorupsi oleh oknum pejabat.

Rakyat akhirnya bertanya:

“Jadi kami bayar pajak untuk siapa?”

Jawabannya jangan sampai:

“Untuk membiayai orang yang nanti masuk berita karena korupsi.”

Itu namanya rakyat sudah kena pajak, kena macet, kena harga mahal, lalu kena berita korupsi pula.

Di tengah semua itu, kriminalitas terasa semakin mengkhawatirkan. Orang tua mulai takut kepada anaknya sendiri, masyarakat takut keluar malam, dan berita tentang begal, perampokan, kekerasan, serta pembunuhan terasa begitu sering muncul.

Harga-harga naik. Ekonomi terasa berat. Rupiah tertekan. Masyarakat kecil semakin pandai berhitung—bukan menghitung keuntungan, tetapi menghitung apakah uang di dompet masih cukup sampai akhir bulan.

Belum selesai memikirkan cicilan dan harga sembako, datang pula bencana: gempa, longsor, banjir, dan berbagai musibah lainnya.

Para peramal kemudian ikut berbicara tentang “gelagat semesta”. Ramalan berseliweran di media sosial. Sebagian dipercaya, sebagian ditertawakan.

Yang pasti, yang paling jelas bukan ramalannya, tetapi kecemasan manusianya.

Lalu muncul pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling dalam:

“Pertanda apakah ini, Tuhan?”

Mungkin Tuhan sedang mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak akan hancur hanya karena satu orang pemimpin. Bangsa bisa rapuh ketika semua orang mulai merasa dirinya paling benar dan orang lain selalu salah.

Mungkin Tuhan sedang mengingatkan bahwa korupsi bukan hanya soal mengambil uang negara. Korupsi juga berarti mencuri masa depan anak-anak. Mencuri kesempatan orang miskin. Mencuri kepercayaan rakyat.

Dan mungkin Tuhan juga sedang mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara, bendera, pidato, lomba penjor dan atau lomba panjat pinang dll..

Kemerdekaan adalah ketika rakyat tidak takut kepada negaranya sendiri.

Kemerdekaan adalah ketika pedagang kecil bisa mencari nafkah tanpa merasa terus dikejar beban.

Kemerdekaan adalah ketika pejabat takut berbuat salah karena hukum benar-benar berdiri tegak.

Kemerdekaan adalah ketika perbedaan pilihan politik tidak membuat sesama anak bangsa berubah menjadi musuh.

Jadi, di usia 81 tahun ini, apakah Indonesia benar-benar mulai pikun?

Semoga tidak.

Kalau pun mulai lupa, mudah-mudahan yang dilupakan hanyalah dendam, keserakahan, korupsi, dan kebiasaan saling menyalahkan.

Sedangkan yang jangan sampai lupa adalah Pancasila, persatuan, keadilan, gotong royong, dan cita-cita para pendiri bangsa.

Sebab Indonesia boleh tua, tetapi jangan sampai menjadi tua sebelum waktunya.

Dan kalau bangsa ini sesekali terlihat bingung, mudah-mudahan bukan karena sudah pikun.

Mungkin Indonesia hanya sedang lelah melihat kelakuan anak-anaknya.

Dirgahayu Indonesia ke-81.

Semoga tahun depan kita tidak perlu bertanya lagi, “Ini pertanda apa, Tuhan?”

Cukup Tuhan bersabda dalam hati kita:

“Sudah, jangan ribut. Kerja yang benar, jujur, dan saling menjaga,kalian jangan hanya pintar debat,protes,nyinyir,dengki dan iri,berikanlah apa yang kau bisa berikan untuk negaramu !!! RAHAYU.


Kamis, 20 Agustus 2026

Semarak HUT ke-81 RI di SMK Giri Pendawa, Berbagai Kegiatan Meriahkan Perayaan Kemerdekaan

Gatra Humas, 15 Agustus 2026 — Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMK Giri Pendawa melaksanakan berbagai kegiatan yang melibatkan seluruh warga sekolah. Rangkaian kegiatan berlangsung mulai 11 hingga 15 Agustus 2026 dengan mengusung semangat kebersamaan, sportivitas, kerja sama, dan cinta tanah air.

Kegiatan diawali pada 11 Agustus 2026 dengan mengikuti lomba gerak jalan tingkat Kecamatan Rendang. SMK Giri Pendawa mengirimkan dua pleton putra dan dua pleton putri untuk berpartisipasi dalam perlombaan tersebut.

Sementara itu, berbagai perlombaan di lingkungan sekolah dilaksanakan pada 13 hingga 15 Agustus 2026. Sejumlah lomba yang digelar antara lain PBB mata tertutup, makan kerupuk gendong, Senam Anak Indonesia Hebat, estafet kardus, serta estafet balon berpasangan.

Puncak kegiatan ditandai dengan pelaksanaan jalan sehat yang diikuti oleh warga sekolah. Peserta menempuh rute dari sekolah menuju arah utara, kemudian belok kiri menuju Setra Bujaga. Selanjutnya, peserta berbelok kiri melewati jalan setapak di perkampungan Bujaga, mengikuti jalur irigasi Subak Kupa, dan kembali ke sekolah. Perjalanan tersebut berlangsung kurang lebih satu jam.

Setibanya di sekolah, peserta beristirahat sebelum dilanjutkan dengan pengundian kupon berhadiah. Kegiatan ini mendapat dukungan dari KSP Mekar Sari Tegenan berupa tiga hadiah utama dan 12 hadiah hiburan. Sementara itu, untuk mendukung pelaksanaan kegiatan panitia, Koperasi Sekolah Giri Amertha memberikan bantuan sebesar Rp1 juta.

Ditemui di sela-sela kegiatan, Ketua Panitia, I Wayan Budiartawan, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi.

“Saya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada segenap panitia, OSIS, peserta lomba, dan anak-anak SMK yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Harapan saya, ke depannya kegiatan semacam ini dapat membuat anak-anak semakin semangat berpartisipasi sebagai wujud cinta tanah air dan menghormati jasa para pahlawan kita,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, mengatakan bahwa meskipun rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan secara sederhana, nilai yang terkandung di dalamnya sangat penting bagi pembentukan karakter siswa.

“Rangkaian kegiatan ini walaupun tampak sederhana, namun dapat memberikan makna kesyukuran dan terima kasih atas kemerdekaan Indonesia yang merupakan hasil perjuangan para pendahulu bangsa,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan sportivitas dan kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab sesuai bidang tugas masing-masing.

Ia berharap melalui kegiatan seperti ini para siswa terbiasa untuk bekerja keras, bekerja tuntas, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas.

“Jangan tumbuh menjadi generasi yang lembek. Kelihatannya kuat, tetapi sedikit digencet masalah langsung loyo dan frustrasi. Saya ingin anak-anak kami menjadi generasi yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab dengan meneladani jiwa patriotisme dan kebangsaan kita,” tegasnya.

Rangkaian perayaan HUT ke-81 RI di SMK Giri Pendawa tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan dan perlombaan, tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai nasionalisme, kebersamaan, sportivitas, tanggung jawab, serta semangat pantang menyerah kepada generasi muda.(manixs)

 
Ketua OSIS menyampaikan agenda kegiatan

Gerak Jalan 11 Agustus 2026

 
Lomba makan krupuk gendong

Pelepasan Jalan Sehat oleh Kepsek dan Waka Kurikulum Gst Ngr.Mataram


Kegiatan jalan santai

Kepsek,Kaprodi PH dan Humas mengikuti jalan sehat

Ketua Panitia Budiartawan menyerahkan hadiah yang disponsori KSP.Mekar Sari

Regu gerak jalan Putra dan Putri mendapat juara 3 di lomba Kecamatan Rendang






Kamis, 13 Agustus 2026

Langkah Kecil Menuju Mimpi

Oleh: Ni Putu Ayu Indah Lestari, Siswa SMK Giri Pendawa


Setiap orang memiliki mimpi. Ada yang terlihat sederhana, ada pula yang terasa begitu besar untuk diraih. Bagi saya, mimpi bukan sekadar angan-angan, melainkan alasan untuk terus melangkah meskipun terkadang rasa takut dan keraguan datang menghampiri.

Saya adalah siswi SMK Giri Pendawa, kelas program TB/FB Service. Saya memiliki cita-cita untuk suatu hari nanti bekerja di kapal pesiar. Saya ingin mendapatkan pengalaman, menjadi pribadi yang mandiri, memiliki masa depan yang baik, dan yang paling penting, membanggakan kedua orang tua saya.

Namun, perjalanan menuju cita-cita itu tidak selalu mudah.

Ketika memasuki masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Adi Dharma Hotel Legian, Kuta, saya justru dihadapkan pada banyak rasa takut. Lingkungan baru, pekerjaan baru, orang-orang baru, serta tanggung jawab yang berbeda membuat saya sempat merasa tidak percaya diri.

Hari pertama PKL masih saya ingat dengan jelas. Saat memasuki lingkungan hotel, saya mendengar kalimat, “Trainingan baru ya, Dik? Siap-siap, semoga kuat dan betah di sini.” Kalimat sederhana tersebut justru membuat saya semakin berpikir, “Bagaimana kalau saya tidak bisa?”

Saya melihat para pekerja yang sudah terbiasa bekerja dengan cepat dan teratur. Mereka tampak percaya diri dan memahami apa yang harus dilakukan. Sementara itu, saya merasa masih begitu kecil dan belum memiliki kemampuan seperti mereka.

Namun, saya kemudian mencoba menenangkan diri dengan satu kalimat: “Saya datang ke sini untuk belajar.”

Hari-hari pertama memang tidak mudah. Saya harus beradaptasi dengan aturan, mengikuti arahan, bekerja sama dengan orang lain, dan mempelajari berbagai tugas. Saya tidak selalu mampu melakukan semuanya dengan sempurna. Ada kalanya saya bingung dan melakukan kesalahan.

Setiap kesalahan sempat membuat saya sedih dan takut dianggap tidak mampu. Bahkan, saya pernah berpikir bahwa mungkin saya tidak cocok berada di lingkungan tersebut.

Ketika rasa lelah dan keinginan untuk menyerah muncul, saya kembali mengingat orang tua. Saya membayangkan wajah mereka dan mengingat dukungan serta pengorbanan yang telah diberikan kepada saya.

Saya kemudian berkata kepada diri sendiri, “Saya tidak boleh menyerah hanya karena saya belum bisa.”

Sejak saat itu, saya mulai mengubah cara pandang. Saya menyadari bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Saya tidak harus langsung sempurna. Saya hanya perlu berani bertanya, mau mendengarkan, mencoba kembali, dan terus memperbaiki diri.

Hari demi hari berlalu. Tanpa saya sadari, saya mulai berubah. Saya mulai terbiasa dengan lingkungan hotel, lebih berani bertanya, mampu berkomunikasi dengan lebih baik, serta memahami arti disiplin dan tanggung jawab.

PKL juga mengajarkan saya bahwa datang tepat waktu berarti menghargai pekerjaan dan orang lain. Ketika mendapatkan tugas, saya harus menyelesaikannya dengan penuh tanggung jawab. Jika melakukan kesalahan, saya harus berani mengakuinya dan berusaha memperbaikinya.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa tidak ada seseorang yang langsung mahir ketika memulai sesuatu. Semua orang pernah menjadi pemula. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah apakah seseorang memilih berhenti atau mencoba kembali.

Kini, jika dibandingkan dengan diri saya pada hari pertama PKL, saya merasa sudah jauh berbeda. Dulu saya sering mengatakan, “Saya tidak bisa.” Sekarang saya belajar mengatakan, “Saya belum bisa.”

Perubahan kecil dalam cara berpikir tersebut membuat saya lebih berani menghadapi tantangan.

Bagi saya, PKL bukan hanya kewajiban sebagai siswa SMK. PKL menjadi perjalanan yang mengajarkan saya untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Cita-cita bekerja di kapal pesiar memang masih panjang jalannya. Masih banyak keterampilan yang harus saya pelajari dan banyak hal yang harus saya persiapkan.

Namun, saya tidak lagi ingin terlalu takut memikirkan apakah saya akan berhasil atau tidak. Saya belajar bahwa saya tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mencapai sebuah mimpi. Saya hanya perlu berani mengambil langkah berikutnya.

Mungkin ada banyak siswa di luar sana yang memiliki mimpi tetapi takut untuk mengejarnya. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Saya pernah merasa tidak mampu, takut gagal, sedih, bahkan ingin menyerah.

Tetapi saya memilih untuk mencoba sekali lagi.

Saya percaya bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Terkadang, semuanya dimulai dari sebuah langkah kecil: berani mencoba, mau belajar, menerima kesalahan, dan tidak berhenti berusaha.

Suatu hari nanti, mungkin saya akan berada jauh dari rumah, bekerja di kapal pesiar dan mewujudkan cita-cita yang selama ini saya simpan. Saat mengingat masa ketika saya masih menjadi siswa SMK Giri Pendawa dan menjalani PKL di sebuah hotel, saya mungkin akan tersenyum.

Bukan karena perjalanan itu mudah, melainkan karena saya berhasil melewatinya.

Saya masih memiliki jalan yang panjang. Tetapi sekarang saya memiliki tujuan, harapan, dan mimpi. Mimpi untuk bekerja di kapal pesiar dan membuat kedua orang tua saya tersenyum bangga.

Karena itu, saya akan terus berjalan. Tidak harus cepat dan tidak harus sempurna. Yang penting, jangan berhenti.

Sebab, satu langkah kecil hari ini mungkin terlihat sederhana. Namun, jika terus dilakukan, langkah-langkah kecil itu dapat membawa kita menuju tempat yang selama ini hanya berani kita impikan.

Inilah langkah kecil saya menuju mimpi. Dan perjalanan itu baru saja dimulai !!!.

(catatan redaksi: Artikel ini ditulis saat Indah merasa kesulitan menghadapi tantangan PKL di bulan Juni 2026 awal PKL,namun karena tekad,komitmen dan prinsip yang tegas untuk menggapai mimpinya,maka semua itu dilalui dengan kesungguhan hati melalui langkah-langkah kecilnya,rahayu)

Senin, 10 Agustus 2026

Lomba Gerak Jalan HUT RI ke-81 di Kecamatan Rendang, SMK Giri Pendawa Turunkan Empat Pleton Gerak Jalan

Gatra Humas, 11 Agustus 2026 — Rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Rendang berlangsung semarak. Salah satu kegiatan yang digelar Selasa (11/8) adalah lomba gerak jalan tingkat SMA/SMK se-Kecamatan Rendang yang diikuti dengan penuh antusias oleh para pelajar.

Dalam kegiatan tersebut, SMK Giri Pendawa turut ambil bagian dengan mengirimkan empat pleton, terdiri atas dua pleton putra dan dua pleton putri. Peserta memulai perjalanan dari Banjar Dinas Buyan dan berjalan menuju garis finis di Lapangan Singarata dengan menempuh jarak sekitar tiga kilometer.

Koordinator tim gerak jalan SMK Giri Pendawa, I Wayan Gede Arta Sunyana, mengatakan persiapan untuk mengikuti lomba gerak jalan tersebut telah dilakukan sejak dua minggu sebelumnya. Persiapan tidak hanya berupa latihan rutin, tetapi juga melibatkan berbagai pihak untuk memberikan pembinaan kepada para siswa.

Menurutnya, pihak sekolah turut mengundang jajaran kepolisian dan Koramil untuk membantu melatih siswa. Selain itu, latihan juga terus diintensifkan oleh para guru sehingga siswa semakin siap mengikuti kegiatan.

"Gerak jalan sudah dipersiapkan dua minggu sebelumnya, termasuk mengundang pihak kepolisian dan Koramil untuk melatih siswa dan kemudian diintensifkan oleh para guru," ungkapnya.

Antusiasme siswa, terutama dari tim putri, juga terlihat cukup tinggi. Mereka tidak hanya serius mengikuti latihan, tetapi juga berusaha memberikan penampilan terbaik saat perlombaan. Bahkan, karena keterbatasan dana, sejumlah siswa rela mengeluarkan biaya secara pribadi untuk kebutuhan rias dan penampilannya.

"Anak-anak pada intinya sangat antusias, terutama tim putri. Mereka bahkan rela membiayai diri untuk merias. Karena keterbatasan dana, kami laksanakan sesuai kemampuan," ujarnya.

Sementara itu, I Wayan Budi Artawan yang mendampingi siswa di titik start mengatakan pelepasan peserta dilakukan oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) bersama dinas terkait. Sejumlah instansi lainnya juga turut hadir menyaksikan kegiatan tersebut, termasuk pihak sekolah dan kepala sekolah.

Menurutnya, kehadiran berbagai unsur dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelaksanaan rangkaian kegiatan dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta didik.

Pemantauan terhadap peserta juga dilakukan sepanjang rute hingga menuju garis finis. Gusti Ngurah Gede Adnyana yang turut memantau perjalanan peserta melaporkan bahwa para siswa tetap menunjukkan semangat dan antusiasme meskipun harus menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer.

"Sepanjang perjalanan siswa kelihatan tetap bersemangat dan cukup antusias hingga finis. Kegiatan dapat berjalan lancar dan tidak ada satu hambatan," lapornya.

Dukungan juga datang dari teman-teman peserta yang tidak ikut dalam barisan gerak jalan. Sejumlah siswa, khususnya anggota OSIS, terlihat memantau perjalanan dari sepanjang rute. Mereka memberikan semangat dan dukungan kepada rekan-rekannya yang sedang berjuang menyelesaikan lomba.

Sementara itu, di garis finis, tim kesehatan dan konsumsi SMK Giri Pendawa telah bersiap menyambut para peserta. I Wayan Gede Suarnata mengatakan pihaknya menyiapkan kebutuhan peserta setelah menyelesaikan perjalanan, termasuk makanan dan layanan pijat sederhana bagi siswa yang merasa lelah.

"Kami sudah siap untuk menyambut peserta dengan pijatan kalau lelah dan makanan untuk memulihkan tenaga mereka," ujarnya.

Pelaksanaan gerak jalan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai kegiatan perlombaan. Bagi pihak sekolah, kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi siswa untuk memahami nilai-nilai perjuangan, disiplin, kebersamaan, solidaritas, serta semangat persatuan dan kesatuan.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan dapat merasakan secara sederhana bagaimana perjuangan para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Perjalanan menuju garis finis menjadi gambaran bahwa sebuah tujuan membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.

Sementara bagi siswa yang tidak ikut sebagai peserta, dukungan yang diberikan kepada rekan-rekannya sepanjang perjalanan menjadi bentuk solidaritas. Mereka belajar bahwa sebuah perjuangan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di barisan depan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

"Harapannya, para siswa peserta bisa merasakan perjuangan pendahulu kita, bagaimana disiplin dan kerasnya perjuangan untuk sampai pada finis, yaitu kemerdekaan. Sedangkan yang tidak ikut, mereka bisa memahami bentuk solidaritas untuk mendukung mereka yang berjuang, sebagai wujud kesatuan dan persatuan dalam perjuangan untuk mencapai kesuksesan," demikian harapannya.

Semangat tersebut menjadi bagian dari pesan penting dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI: bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu harus diisi dengan kerja keras, kedisiplinan, kebersamaan, solidaritas, serta semangat persatuan.(manixs)

Merdeka!

Kepala Sekolah hadir di start memberi suport pada siswa

Pleton putri start di Buyan

Pleton putra di start

Dalam perjalanan

Tiba di garis finis

Beberapa dokumen jepretan Pak Budi Artawan

Latihan Persiapan
 
Saat di start


Dalam perjalanan

Istirahat sampai di finis

Tim Gerak jalan SMK Giri Pendawa tetap solid,merdeka!!!



SEMARAK HUT KE-81 RI,KECAMATAN RENDANG GELAR JALAN SANTAI

Gatra Humas, 7 Agustus 2026 — Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kecamatan Rendang menyelenggarakan kegiatan jalan santai pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung meriah dan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat serta instansi di wilayah Kecamatan Rendang.

Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimcam Rendang, para Perbekel se-Kecamatan Rendang, Bendesa Adat, siswa SMPN 1 Rendang, SMA Negeri 1 Rendang, SMK Giri Pendawa, serta perwakilan dinas/instansi kecamatan, BPD, Korwil, Dekopinda, BRI, dan berbagai unsur lainnya.

Kegiatan diawali dari Lapangan Umum Singarata. Camat Rendang secara resmi melepas para peserta untuk mengikuti jalan santai dengan rute dari Lapangan Umum Singarata menuju Pertigaan Pringalot, kemudian ke Candu, selanjutnya menuju Pertigaan Pedukuhan dan mengambil arah ke kanan melalui Jalan Raya hingga kembali ke Lapangan Umum Singarata sebagai titik finis.

Saat melepas peserta, Camat Rendang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi memeriahkan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Apresiasi secara khusus juga disampaikan kepada Kepala SMK Giri Pendawa, I Km. Sumarta, yang telah mengikutsertakan para siswa, guru, dan pegawai dalam kegiatan tersebut.

Menurut Camat Rendang, kehadiran seluruh peserta menunjukkan semangat kebersamaan dan nasionalisme dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dihubungi secara terpisah, Kepala SMK Giri Pendawa, I Km. Sumarta, menyampaikan terima kasih kepada para siswa, guru, dan pegawai yang telah hadir dan mengikuti kegiatan jalan santai dengan penuh semangat.

“Terima kasih kepada seluruh siswa, guru, dan pegawai yang telah hadir. Keikutsertaan kita dalam kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu dan para pahlawan yang telah berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan,” ungkap Sumarta.

Ia menambahkan, kegiatan jalan santai tidak hanya menjadi momentum untuk menghargai jasa para pahlawan, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi kesehatan.

“Dengan mengikuti kegiatan seperti ini, kita tidak hanya menghargai perjuangan para pendahulu kita, tetapi juga mendapatkan manfaat berupa kesehatan jasmani. Semoga semangat kebersamaan dan nasionalisme ini terus tumbuh di lingkungan sekolah,” tambahnya.

Kegiatan jalan santai berlangsung dengan penuh semangat dan kekeluargaan. Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 RI, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan antara pemerintah, sekolah, instansi, dan masyarakat di Kecamatan Rendang disamping sebagai ajang temu kangen.(manixs)

Brefing sebelum pelaksanaan jalan santai di kecamatan

Siswa SMK Giri Pendawa saat mengikuti jalan santai

 
Redaktur gatra humas juga ikut memantau kegiatan jalan santai

 
Start jalan santai HUT Kemerdekaan  RI ke 81






Senin, 03 Agustus 2026

Langkah Preventif Pencegahan Kenakalan Remaja di SMK Giri Pendawa: Mengutamakan Pembinaan, Menegakkan Disiplin

Oleh:

I Wayan Suiji,Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas,SMK Giri Pendawa.


Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang sarat dengan tantangan. Pengaruh lingkungan, pergaulan, media sosial, hingga kurangnya pengawasan dapat memicu munculnya berbagai bentuk kenakalan remaja, seperti perkelahian, pelanggaran tata tertib, penyalahgunaan waktu belajar, hingga pergaulan bebas yang melampaui norma agama, etika, dan budaya.

Sebagai lembaga pendidikan vokasi yang berkomitmen membentuk lulusan yang unggul dalam kompetensi sekaligus berkarakter, SMK Giri Pendawa menerapkan langkah-langkah preventif dan pembinaan secara berjenjang dalam menangani setiap pelanggaran yang dilakukan peserta didik. Pendekatan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyadari kesalahannya, memperbaiki perilaku, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan.


Pencegahan Menjadi Prioritas

Upaya pencegahan dilakukan melalui berbagai program pembinaan karakter, antara lain:


Penegakan tata tertib sekolah secara konsisten.

Pengawasan guru selama kegiatan pembelajaran agar tidak terjadi jam kosong tanpa pengawasan.

Penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Komunikasi intensif antara wali kelas, guru BK, kesiswaan, humas, dan orang tua.

Pembentukan grup komunikasi dengan orang tua sebagai media koordinasi apabila muncul permasalahan peserta didik.

Pemberian keteladanan oleh seluruh warga sekolah dalam sikap, disiplin, dan etika.

Melalui langkah preventif tersebut diharapkan potensi kenakalan remaja dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi pelanggaran yang lebih serius.


Penanganan Dilakukan Secara Bertahap

Apabila terdapat peserta didik yang melakukan pelanggaran, seperti perkelahian, tindakan perundungan, pergaulan yang melampaui batas norma, maupun bentuk pelanggaran tata tertib lainnya, sekolah menerapkan mekanisme pembinaan secara bertahap sesuai ketentuan yang berlaku.


Tahapan tersebut meliputi:

1. Pembinaan oleh Wali Kelas

Wali kelas menjadi pihak pertama yang memberikan nasihat, pembinaan, serta melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada peserta didik.


2. Pendampingan oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK)

Apabila belum menunjukkan perubahan, peserta didik akan mendapatkan layanan konseling dan pendampingan dari guru BK untuk menggali akar permasalahan serta mencari solusi yang tepat.


3. Penanganan oleh Bidang Kesiswaan

Jika pelanggaran masih berlanjut, penanganan diteruskan kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan untuk dilakukan pembinaan yang lebih intensif.


4. Pembinaan oleh Pimpinan Sekolah

Peserta didik yang tetap mengulangi pelanggaran akan dipanggil oleh pimpinan sekolah guna memperoleh arahan, nasihat, dan peringatan secara langsung.


5. Sidang Pembinaan dan Pemanggilan Orang Tua

Apabila belum ada perubahan, sekolah menyelenggarakan sidang pembinaan yang melibatkan wali kelas, guru BK, bidang kesiswaan, humas, kaprodi,serta orang tua(bila perlu) atau wali siswa. Forum ini bertujuan mencari solusi terbaik demi kepentingan peserta didik.


6. Skorsing Sementara

Bila seluruh upaya pembinaan tersebut belum memberikan hasil, peserta didik dapat dikenai sanksi skorsing selama satu minggu sesuai tata tertib sekolah. Masa skorsing dimaksudkan sebagai waktu untuk melakukan refleksi dan memperbaiki sikap, bukan sebagai bentuk hukuman semata.


7. Pengembalian kepada Orang Tua

Sebagai langkah terakhir, apabila peserta didik tetap tidak menunjukkan perubahan dan terus melakukan pelanggaran berat sesuai ketentuan tata tertib sekolah, maka sekolah dapat memutuskan untuk mengembalikan peserta didik kepada orang tua melalui keputusan yang ditetapkan sesuai prosedur sekolah. Selanjutnya, administrasi kepesertaan didik diproses sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk penghapusan data dari Dapodik apabila status peserta didik telah resmi berakhir.


8. Membangun Karakter Menjadi Tanggung Jawab Bersama

SMK Giri Pendawa meyakini bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan sinergi antara keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dengan orang tua terus diperkuat agar setiap perkembangan peserta didik dapat dipantau dan ditangani secara bersama.

Sekolah berharap seluruh peserta didik menjadikan tata tertib bukan sebagai beban, melainkan sebagai pedoman untuk membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Dengan kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua, dan siswa, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta kondusif sehingga setiap peserta didik dapat berkembang menjadi generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(manix)

Salah satu kasus kenakalan remaja yang sampai ke sidang pembinaan sesuai tahapan (kasus berat) 

Nasaehat dari kepala sekolah dan kaprodi

Penandatanganan Berita Acara Kesanggupan dan Berjanji Merubah Diri


Paraf kaprodi

Penandatanganan oleh waka humas guna memanggil orang tua (bila perlu kalau tak berubah)

Penandatanganan BA oleh Wakasek Kesiswaan

Penandatangan BA oleh Kepala Sekolah