Gatra Humas, 23 Juni 2026 – SMK Giri Pendawa kembali menyelenggarakan kegiatan Pasraman Kilat Widya Giri Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat pendidikan agama, adat, seni, dan budaya Hindu di kalangan peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Surat Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali Nomor B.10-400.3/1785/UPTD.BPTKK/DISDIKPORA tanggal 8 Juni 2026 serta Surat Keputusan Kepala SMK Giri Pendawa Nomor 421.3/290/SMKGP/VI/2026 tanggal 15 Juni 2026 tentang Pembentukan Panitia dan Pelaksanaan Pasraman Kilat Tahun 2026.
Pasraman yang mengusung tema “Membentuk Generasi Hindu Berkarakter, Berbudaya, dan Berlandaskan Dharma” ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 23–24 Juni 2026 di Aula SMK Giri Pendawa. Kegiatan diikuti oleh seluruh siswa kelas XI, sementara siswa kelas XII tidak terlibat karena sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Pembiayaan kegiatan bersumber dari dana Komite Sekolah.
Ketua Panitia Pelaksana, I Wayan Budi Antara, saat pembukaan kegiatan melaporkan bahwa pasraman merupakan sarana pembinaan karakter generasi muda Hindu agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dharma di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan modernisasi.
Pada kesempatan yang sama, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, menekankan pentingnya pelaksanaan pasraman sebagai wadah pembelajaran agama, adat, seni, dan budaya Bali.
“Bali tidak memiliki tambang hasil bumi yang melimpah, tetapi Bali hidup dari tambang pariwisata yang bernapaskan agama Hindu, adat, dan budaya. Inilah energi magnet yang menarik wisatawan datang ke Bali. Namun, saat ini minat generasi muda terhadap budaya dan agamanya mulai mengalami degradasi karena lebih tertarik pada budaya modern dan mulai melupakan jati dirinya,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah mengeluarkan berbagai kebijakan pelestarian budaya, seperti penggunaan busana adat Bali, pelestarian bahasa Bali, serta pelaksanaan program pasraman di lingkungan pendidikan.
Ia juga menyoroti rendahnya partisipasi sebagian generasi muda dalam kegiatan keagamaan. Sebagai contoh, pada perayaan Hari Saraswati, sangat sedikit siswa yang membawa canang maupun banten ke sekolah. Demikian pula saat Hari Raya Galungan, hanya sebagian kecil siswa yang hadir untuk sembahyang bersama di Padmasana sekolah.
“Fenomena yang lebih sering terlihat justru aktivitas berkumpul di jalan, konvoi kendaraan, hingga konten media sosial yang kurang mencerminkan nilai-nilai budaya dan agama. Ini merupakan situasi yang perlu menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.
Selain itu, ia menyayangkan masih adanya sejumlah siswa yang tidak hadir dalam kegiatan pasraman meskipun telah diumumkan sebelumnya.
Sementara itu, Jero Komang Warsa, Bendesa Alitan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Rendang yang menjadi salah satu narasumber, mengapresiasi antusiasme peserta selama mengikuti kegiatan. Usai menyampaikan materi tentang peran generasi muda dalam pelestarian adat dan awig-awig, ia menilai kegiatan seperti pasraman sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda Bali.
“Kami berterima kasih karena sudah dua kali dilibatkan dalam kegiatan pasraman ini. Melalui kegiatan seperti ini kami dapat menyosialisasikan kepada generasi muda agar tidak tercabut dari jati dirinya sebagai orang Bali. Masa SMA dan SMK merupakan masa yang sangat menentukan arah kehidupan mereka. Jika tidak diberikan pencerahan dan pemahaman yang baik, dikhawatirkan mereka akan semakin jauh dari nilai-nilai leluhurnya,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah SMK Giri Pendawa yang telah mempelopori program ‘MDA Goes to School’ dan berharap sekolah-sekolah lain dapat mengikuti langkah serupa dalam memperkuat pendidikan adat dan budaya di kalangan pelajar.
Secara terpisah, Koordinator Pasraman yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji, menjelaskan bahwa Pasraman Kilat Widya Giri merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap masa liburan sekolah. Namun, tahun ini materi yang diberikan lebih menitikberatkan pada aspek yang langsung bersentuhan dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Adapun materi yang diberikan meliputi persembahyangan, pendidikan karakter dan budi pekerti, Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, Tri Hita Karana, etika dan tanggung jawab generasi muda dalam pelestarian desa adat melalui ketaatan terhadap awig-awig dan tata kehidupan masyarakat adat. Selain itu, peserta juga mendapatkan berbagai materi praktik seperti mekidung, wirama, nyurat aksara Bali, mejejaitan, serta yoga.
“Kami berharap seluruh materi yang diperoleh selama pasraman dapat diimplementasikan oleh siswa di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing, baik melalui keterlibatan dalam kegiatan ngayah di pura maupun partisipasi aktif di banjar dan masyarakat adat,” harapnya.
Melalui pelaksanaan Pasraman Kilat Widya Giri Tahun 2026, SMK Giri Pendawa kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi Hindu yang berkarakter, berbudaya, serta memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai agama dan kearifan lokal Bali di tengah tantangan perkembangan zaman.(manixs).


.jpeg)






.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar