Rabu, 22 Oktober 2025

Menteri yang Tergelincir di Atas Chromebook

 (Sebuah Fiksi Satir yang Terinspirasi dari Negeri yang Terlalu Mudah Terpesona)

Di negeri bernama “Republika Akademika”, pendidikan adalah urusan suci. Setidaknya, begitu yang sering ditulis di buku PPKn.

Setiap tahun, triliunan rupiah digelontorkan dari langit birokrasi untuk memperbaiki nasib sekolah, guru, dan murid. Tapi entah kenapa, atap sekolah tetap bocor, guru honorer tetap berbonceng-an dengan utang, dan anak-anak masih belajar sambil menahan lapar — atau tawa, ketika upacara bendera dilakukan di lapangan yang berubah jadi kolam saat musim hujan.

Suatu hari, datanglah seorang menteri. Usianya muda, setelan jasnya pas, senyumnya glossy. Orang-orang menyebutnya si je-nius. Katanya lulusan luar negeri, jebolan raksasa teknologi du-nia. Ia bukan politikus, katanya. Ia pembawa perubahan.

Media menyambutnya seperti nabi digital.Ia tak banyak bicara soal kurikulum, tapi ia bicara tentang algoritma.Ia tak bicara soal literasi, tapi tentang disrupsi.Ia tak peduli pada guru honorer, tapi ia percaya pada laptop sebagai cahaya zaman.

“Semua anak bangsa berhak dapat Chromebook!”teriaknya dalam rapat akbar, disambut tepuk tangan dari orang-orang yang akan menerima tender.

Dan dimulailah proyek suci itu.


Laptop demi laptop dikirim ke sekolah-sekolah.Tapi listrik tak sampai.Jaringan internet masih suka tidur siang.   Dan guru-guru? Mereka belum sempat belajar, karena sibuk mengisi 27 form pelaporan online.

Tapi pengadaan jalan terus.Anggaran mengalir deras seperti sungai Amazon.Dan para vendor pun bersyukur atas kemajuan pendidikan yang bisa dikonversi jadi profit.

Tahun berlalu. Sang menteri pamit, katanya ingin kembali ke dunia bisnis.“Sudah cukup. Saya ingin melihat anak saya tum-buh,” katanya sambil tersenyum penuh moralitas.

Rakyat pun mengangguk.Pintar, bersih, modern.Tak mungkin dia macam-macam.Dia beda.

Tapi hukum di negeri ini kadang datang dengan sepatu pelan.
Dan pada suatu sore yang teduh, berita itu meledak:

“Mantan Menteri Pendidikan Ditangkap. Korupsi Penga-daan Laptop.”

Publik tercengang. Chromebook-chromebook itu kini tak hanya jadi beban sekolah, tapi juga alat bukti perkara pidana.

Jaksa menyebut angka: 1,98 triliun rupiah.Mata orang-orang terbelalak, lalu mengendur.Karena mereka sudah lelah kaget.

Di ruang tahanan, sang mantan menteri menatap lantai. Ia masih memakai kemeja putih bersih, seperti saat konferensi pers bertahun lalu.

Di pikirannya, mungkin ia sedang membela diri:

“Saya tidak korup. Saya hanya ingin pendidikan maju.

”“Saya hanya mengarahkan, bukan mengatur.

”“Saya tak pernah pegang uangnya.”


 “Saya hanya mau anak-anak Indonesia mengenal teknologi.”

Tapi di luar, publik bertanya:

·       ”Apakah kemajuan harus dibeli dari kedekatan dengan vendor?”

·       “Mengapa spesifikasinya hanya cocok untuk satu merk?”

·       “Siapa sebenarnya yang belajar dari proyek ini? Anak-anak, atau perusahaan besar?”

Dan yang paling pahit:Semua ini terjadi atas nama “Pendidikan”.

Betapa ironis, bahwa di negeri ini, pendidikan tak hanya dijadikan janji kampanye atau puisi 17 Agustus,tapi juga ladang basah untuk para pejabat yang ingin ‘berinovasi sambil mengun-tung diri sendiri.’

Di pojok ruang guru, dua guru honorer menatap berita itu lewat ponsel retak.Salah satunya tertawa miris.“Eh, Bro. Menteri yang janji semua dapat laptop, akhirnya malah masuk penjara ya?”
Yang satu lagi menjawab sambil menyeduh kopi sachet:
“Pendidikan itu... kadang terlalu ideal untuk dijalankan. Tapi terlalu menggiurkan untuk tidak dimanfaatkan.”

Dan dari ruang kelas bocor di desa terpencil, seorang murid menulis di papan:“Laptop bisa rusak. Tapi ingatan rakyat tidakkan luntur.”

Catatan Penulis:         
Cerita ini fiksi. Tapi jika terasa familiar,mungkin karena Kenya-taannya sudah terlalu sering terdengar seperti cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar