(Sebuah Fiksi Satir yang Terinspirasi dari Negeri yang Terlalu Mudah Terpesona)
Di negeri
bernama “Republika Akademika”, pendidikan adalah urusan suci. Setidaknya,
begitu yang sering ditulis di buku PPKn.
Setiap tahun,
triliunan rupiah digelontorkan dari langit birokrasi untuk memperbaiki nasib
sekolah, guru, dan murid. Tapi entah kenapa, atap sekolah tetap bocor, guru
honorer tetap berbonceng-an dengan utang, dan anak-anak masih belajar sambil
menahan lapar — atau tawa, ketika upacara bendera dilakukan di lapangan yang
berubah jadi kolam saat musim hujan.
Suatu hari, datanglah seorang menteri. Usianya muda, setelan jasnya pas,
senyumnya glossy. Orang-orang menyebutnya si je-nius. Katanya lulusan luar
negeri, jebolan raksasa teknologi du-nia. Ia bukan politikus, katanya. Ia
pembawa perubahan.
Media menyambutnya seperti nabi digital.Ia tak banyak bicara soal
kurikulum, tapi ia bicara tentang algoritma.Ia tak bicara soal literasi, tapi
tentang disrupsi.Ia tak peduli pada guru honorer, tapi ia percaya pada laptop
sebagai cahaya zaman.
“Semua anak bangsa berhak dapat Chromebook!”teriaknya dalam rapat akbar,
disambut tepuk tangan dari orang-orang yang akan menerima tender.
Dan dimulailah
proyek suci itu.
Tapi pengadaan
jalan terus.Anggaran mengalir deras seperti sungai Amazon.Dan para vendor pun
bersyukur atas kemajuan pendidikan yang bisa dikonversi jadi profit.
Tahun berlalu. Sang menteri pamit, katanya ingin kembali ke dunia
bisnis.“Sudah cukup. Saya ingin melihat anak saya
tum-buh,” katanya sambil tersenyum penuh moralitas.
Rakyat pun
mengangguk.Pintar, bersih, modern.Tak mungkin dia macam-macam.Dia beda.
Tapi hukum di negeri ini kadang datang dengan sepatu pelan.
Dan pada suatu sore yang teduh, berita itu meledak:
“Mantan Menteri Pendidikan Ditangkap. Korupsi Penga-daan Laptop.”
Publik tercengang. Chromebook-chromebook itu kini tak hanya jadi beban
sekolah, tapi juga alat bukti perkara pidana.
Jaksa menyebut angka: 1,98 triliun rupiah.Mata orang-orang terbelalak,
lalu mengendur.Karena mereka sudah lelah kaget.
Di ruang tahanan, sang mantan menteri menatap lantai. Ia masih memakai
kemeja putih bersih, seperti saat konferensi pers bertahun lalu.
Di pikirannya, mungkin ia
sedang membela diri:
“Saya tidak korup. Saya
hanya ingin pendidikan maju.
”“Saya hanya mengarahkan,
bukan mengatur.
”“Saya tak pernah pegang uangnya.”
Tapi di luar, publik bertanya:
· ”Apakah kemajuan harus
dibeli dari kedekatan dengan vendor?”
· “Mengapa spesifikasinya
hanya cocok untuk satu merk?”
· “Siapa sebenarnya yang belajar dari proyek ini? Anak-anak, atau perusahaan
besar?”
Dan yang paling pahit:Semua ini terjadi atas nama “Pendidikan”.
Betapa ironis, bahwa di negeri ini, pendidikan tak hanya dijadikan janji
kampanye atau puisi 17 Agustus,tapi juga ladang basah untuk para pejabat
yang ingin ‘berinovasi sambil mengun-tung diri sendiri.’
Di pojok ruang guru, dua guru honorer menatap berita itu lewat ponsel
retak.Salah satunya tertawa miris.“Eh, Bro. Menteri yang janji semua dapat
laptop, akhirnya malah masuk penjara ya?”
Yang satu lagi menjawab sambil menyeduh kopi sachet:
“Pendidikan itu... kadang terlalu ideal untuk dijalankan. Tapi terlalu
menggiurkan untuk tidak dimanfaatkan.”
Dan dari ruang kelas bocor di desa terpencil, seorang murid menulis di
papan:“Laptop bisa rusak. Tapi ingatan rakyat tidakkan luntur.”
Catatan Penulis:
Cerita
ini fiksi. Tapi jika terasa familiar,mungkin karena Kenya-taannya sudah terlalu
sering terdengar seperti cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar