Rabu, 22 Oktober 2025

Bagas Dalam Persimpangan

Oleh Wayan Suiji

 Di sebuah kota kecil yang sunyi, hidup seorang siswa SMK Nusantara bernama Bagas, kelas XII Teknik Elek-tro. Sosok yang ramah, mudah bergaul, dan cepat akrab dengan siapa saja, terutama dengan para senior di tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL) miliknya. Di semester yang sama, sang kekasih, Wati, siswi kelas Manajemen Akuntansi di sekolah yang sama, juga tengah menjalani PKL—meski di tempat berbeda.

 

Meski lokasi mereka terpisah, mereka tinggal di satu kosan, menandai hubungan yang mereka anggap sudah cukup serius. Hari-hari dilalui dengan obrolan ringan, saling berbagi cerita PKL masing-masing. Namun, satu malam, ketika Bagas tertidur lelah, Wati tanpa sengaja membaca isi pesan WhatsApp Bagas—percakapan akrab Bagas dengan salah satu senior wanita di tempat PKL-nya. Bagi Wati, itu lebih dari sekadar curhat biasa. Cemburu menguasai hati. Emosi memuncak. Tanpa banyak kata, Wati memutuskan Bagas.

 


Bagas panik. Dunia seolah runtuh. Ia yang ceria berubah menjadi muram. Semangatnya sirna, wajahnya kuyu. Ia mulai bolos PKL. Hari-hari dihabiskan di kamar, terme-nung. Orang tuanya bingung, melihat perubahan drastis anak mereka. Hingga akhirnya, tempat PKL-nya memu-tuskan untuk mengeluarkan Bagas karena tidak pernah hadir. Ayah dan ibunya mencoba mencari "orang pintar" untuk mengobatinya. Tapi nihil. Bagas tetap diam, bahkan mulai bicara sendiri.

 

Kabar itu sampai ke telinga Pak Yanto dan Pak Wija, dua guru pembimbing PKL di SMK Nusantara. Mereka segera koordinasi dengan tempat PKL Bagas. Ternyata benar, Bagas sudah dikeluarkan. Pak Wija merasa iba, ia menye-lidiki permasalahan dan berhasil bicara dengan Bagas.

 

"Aku udah nggak sama Wati, Pak. Tapi aku juga udah nggak minat PKL... bosen," ujar Bagas datar, matanya kosong menatap lantai.

 

Saat dicari ke rumahnya, Bagas bahkan sempat berkata, "Kalau begini, mending beli aja sertifikatnya, Pak. Biar cepet kelar."

 

Pak Wija tersentak. Baginya, itu bentuk penghinaan pada marwah sekolah. Tapi ia sadar, anak ini sedang goyah. Ia tahu, anak-anak seperti Bagas kerap terpapar hal instan dari media sosial. Maka, bersama Pak Yanto, mereka tak memarahinya. Justru mereka menasihati dengan penuh harap.

 

"Gas, kamu itu tinggal selangkah lagi. Kami bantu carikan tempat baru. Coba kamu renungkan semalam... bangun tahajud, minta petunjuk dari Tuhan. Besok, kasih kabar ke kami, ya. Masih ada waktu."

 

328.Gatra Humas Edisi ketiga 2025

Malam itu Bagas sendiri di kamarnya. Hening. Hanya sua-ra detik jam dan bayang-bayang kenangan yang terus berputar di pikirannya. Matanya menerawang. Entah apa yang ia pikirkan, tapi jelas sekali ada badai di dadanya.

 

Esok pagi, tak ada kabar dari Bagas.

Ponsel Pak Wija dan Pak Yanto sunyi.

Mereka menunggu. Harap-harap cemas dan terus taka da itu artinya,Bagas sudag bulat tekadnya untuk memilih jalannya sendiri dan munghkin akan melanjutkan usaha bapaknya sebagai pembuat bangunan,apalagi waktu dikunjungi kelihatan ia sedang ngukir yang merupakan keahliannya,pikir Pak Wija.

 

Diam. Pak Wija menatap langit. Ada getir di dadanya.

Satu anak lagi yang memilih jalur berbeda.

Namun, dalam hati kecilnya, ia tahu: setiap anak punya jalan masing-masing. Dan mungkin, ini jalan Bagas yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar