Oleh Wayan Suiji
Meski lokasi mereka
terpisah, mereka tinggal di satu kosan, menandai hubungan yang mereka anggap
sudah cukup serius. Hari-hari dilalui dengan obrolan ringan, saling
berbagi cerita PKL masing-masing. Namun, satu malam, ketika Bagas tertidur
lelah, Wati tanpa sengaja membaca isi pesan WhatsApp Bagas—percakapan akrab
Bagas dengan salah satu senior wanita di tempat PKL-nya. Bagi Wati, itu lebih
dari sekadar curhat biasa. Cemburu menguasai hati. Emosi memuncak. Tanpa banyak
kata, Wati memutuskan Bagas.
Kabar itu sampai ke telinga Pak Yanto dan Pak
Wija, dua guru pembimbing PKL di SMK Nusantara. Mereka segera koordinasi dengan
tempat PKL Bagas. Ternyata benar, Bagas sudah dikeluarkan. Pak Wija merasa iba,
ia menye-lidiki permasalahan dan berhasil bicara dengan Bagas.
"Aku udah nggak sama
Wati, Pak. Tapi aku juga udah nggak minat PKL... bosen," ujar Bagas datar,
matanya kosong menatap lantai.
Saat dicari ke rumahnya,
Bagas bahkan sempat berkata, "Kalau begini, mending beli aja
sertifikatnya, Pak. Biar cepet kelar."
Pak Wija tersentak. Baginya,
itu bentuk penghinaan pada marwah sekolah. Tapi ia sadar, anak ini sedang
goyah. Ia tahu, anak-anak seperti Bagas kerap terpapar hal instan dari media
sosial. Maka, bersama Pak Yanto, mereka tak memarahinya. Justru mereka menasihati
dengan penuh harap.
"Gas, kamu itu tinggal
selangkah lagi. Kami bantu carikan tempat baru. Coba kamu renungkan semalam...
bangun tahajud, minta petunjuk dari Tuhan. Besok, kasih kabar ke kami, ya.
Masih ada waktu."
328.Gatra Humas Edisi ketiga 2025
Esok pagi, tak ada kabar dari Bagas.
Ponsel Pak Wija dan Pak
Yanto sunyi.
Mereka menunggu. Harap-harap
cemas dan terus taka da itu artinya,Bagas sudag bulat tekadnya untuk memilih jalannya
sendiri dan munghkin akan melanjutkan usaha bapaknya sebagai pembuat
bangunan,apalagi waktu dikunjungi kelihatan ia sedang ngukir yang merupakan
keahliannya,pikir Pak Wija.
Diam. Pak Wija menatap
langit. Ada getir di dadanya.
Satu anak lagi yang memilih jalur berbeda.
Namun, dalam hati kecilnya,
ia tahu: setiap anak punya jalan masing-masing. Dan mungkin, ini jalan Bagas
yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar