Oleh : Mangku Manik Puspa Yoga
Di Bali, kehidupan masyarakatnya dikenal sangat erat dengan nilai-nilai
kekerabatan yang disebut soroh.
Soroh merupakan kelompok kekerabatan yang sepadan
dengan istilah marga dalam budaya Batak. Keberadaan soroh bukan
hanya sekadar penanda silsilah, melainkan juga menjadi penjaga keutuhan
identitas budaya melalui bahasa, makanan khas, pakaian adat, dan berbagai
bentuk kesenian yang diwariskan turun-temurun.
Dalam konteks Bali, soroh bukan hanya simbol genea-logis, tetapi juga jembatan penting dalam menerapkan konsep luhur Tri Hita Karana—tiga penyebab utama kebahagiaan dan keharmonisan hidup. Tri Hita Karana menekankan pentingnya hubungan manusia dengan Tu-han (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan alam (Palemahan).
Rasa yang muncul dari kedalaman hati itu lebih kuat dari sekadar
komunikasi verbal. Bila kita berbicara dengan mulut, yang mendengar adalah
telinga. Namun, bila kita berbicara dengan hati, yang mendengar adalah rasa.
Dan rasa inilah yang mampu menyentuh lapisan terdalam dalam diri
manusia, membangun koneksi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.
Dalam hidup, kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan.
Namun, dari rahim yang berbeda itulah
tum-buh kesadaran bahwa persaudaraan sejati melampaui garis keturunan—ia hadir
karena rasa yang murni. Rasa itulah yang membedakan manusia dengan makhluk
lainnya, karena manusia mampu merasakan sedih, marah, dan bahagia. Tinggal
bagaimana kita mempolarisasi dan mengendalikan rasa itu agar yang muncul adalah
kebahagiaan dan kedamaian.
Simbol Swastika dalam agama Hindu menggambarkan keharmonisan yang
seimbang. Ke atas, melambangkan hubungan dengan Sang Pencipta; ke kanan,
hubungan dengan soroh dan kerabat; ke kiri, hubungan dengan masyarakat
luas dan ke bawah, hubungan dengan alam semesta. Ketika empat arah ini selaras,
maka di titik tengah—diri kita sendiri—akan muncul kedamaian sejati. Kedamaian
yang tidak tergantung pada suka maupun duka, sebuah kondisi batin yang disebut suka
tan pa wali duka.
Dengan menjaga warisan soroh, kita sejatinya sedang merawat harmoni dalam kehidupan. Bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Inilah esensi kehidupan menurut nilai-nilai Hindu Bali—kesadaran akan keterikatan kita satu sama lain dalam bingkai rasa, bukan hanya sekadar darah atau genetika,tetapi yang lebih penting adalah persaudaraan berdasarkan rasa yang tumbuh dari ketulusan hati,mau dari soroh/golongan manapun,karena dari rasa itulah, kebahagiaan sejati bisa tumbuh. Astungkara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar