Rabu, 22 Oktober 2025

Menjaga Jati Diri Melalui Kekerabatan dan Tri Hita Karana

Oleh : Mangku Manik Puspa Yoga

Di Bali, kehidupan masyarakatnya dikenal sangat erat dengan nilai-nilai kekerabatan yang disebut soroh.           Soroh  merupakan kelompok kekerabatan yang sepadan dengan istilah marga dalam budaya Batak. Keberadaan soroh bukan hanya sekadar penanda silsilah, melainkan juga menjadi penjaga keutuhan identitas budaya melalui bahasa, makanan khas, pakaian adat, dan berbagai bentuk kesenian yang diwariskan turun-temurun.

Dalam konteks Bali, soroh bukan hanya simbol genea-logis, tetapi juga jembatan penting dalam menerapkan konsep luhur Tri Hita Karana—tiga penyebab utama kebahagiaan dan keharmonisan hidup. Tri Hita Karana menekankan pentingnya hubungan manusia dengan Tu-han (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan alam (Palemahan).

Salah satu perwujudan nyata dari nilai soroh dan Tri Hita Karana terlihat saat digelarnya hajatan atau upacara adat. Momen ini menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar, baik yang dekat maupun jauh, mempererat ikatan batin yang didasarkan bukan hanya atas hubungan darah, tetapi juga hubungan emosional yang dilandasi oleh rasa. Inilah yang membuat setiap anggota soroh merasa memiliki tanggung jawab moral satu sama lain—menegur ketika ada yang salah, dan turut bersuka saat yang lain berba-hagia.

Rasa yang muncul dari kedalaman hati itu lebih kuat dari sekadar komunikasi verbal. Bila kita berbicara dengan mulut, yang mendengar adalah telinga. Namun, bila kita berbicara dengan hati, yang mendengar adalah rasa. Dan rasa inilah yang mampu menyentuh lapisan terdalam dalam diri manusia, membangun koneksi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Dalam hidup, kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan. Namun, dari rahim yang berbeda  itulah tum-buh kesadaran bahwa persaudaraan sejati melampaui garis keturunan—ia hadir karena rasa yang murni. Rasa itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena manusia mampu merasakan sedih, marah, dan bahagia. Tinggal bagaimana kita mempolarisasi dan mengendalikan rasa itu agar yang muncul adalah kebahagiaan dan kedamaian.

Simbol Swastika dalam agama Hindu menggambarkan keharmonisan yang seimbang. Ke atas, melambangkan hubungan dengan Sang Pencipta; ke kanan, hubungan dengan soroh dan kerabat; ke kiri, hubungan dengan masyarakat luas dan ke bawah, hubungan dengan alam semesta. Ketika empat arah ini selaras, maka di titik tengah—diri kita sendiri—akan muncul kedamaian sejati. Kedamaian yang tidak tergantung pada suka maupun duka, sebuah kondisi batin yang disebut suka tan pa wali duka.

Dengan menjaga warisan soroh, kita sejatinya sedang merawat harmoni dalam kehidupan. Bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Inilah esensi kehidupan menurut nilai-nilai Hindu Bali—kesadaran akan keterikatan kita satu sama lain dalam bingkai rasa, bukan hanya sekadar darah atau genetika,tetapi yang lebih penting adalah persaudaraan berdasarkan rasa yang tumbuh dari ketulusan hati,mau dari soroh/golongan manapun,karena dari rasa itulah, kebahagiaan sejati bisa tumbuh. Astungkara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar