Selasa, 27 Mei 2025

JEJAK LANGKAH WAYAN MELINA PEBRIANI

Di sebuah desa kecil yang sejuk dan asri bernama Pempatan, lahirlah seorang anak perempuan pada tanggal 26 Februari 1989. Namanya Wayan Melina Pebriani disapa Peby. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang penuh kasih anak dari seorang ibu guru sekolah dasar di desanya, di tengah gemuruh alam Bali yang masih perawan. Sejak kecil, Peby sudah menunjukkan ketekunan dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia sekitarnya.

Langkah awal pendidikannya dimulai di SD Negeri 1 Pempatan, yang ia tamatkan pada tahun 1994. Masa kecilnya dipenuhi tawa, kambing kambing peliharaan bapaknya menjadi mainannya, dan suara gamelan dari Pura Puseh menjadi hiburannya. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 2 Rendang dekat rumahnya dan lulus pada tahun 2000, lalu meneruskan ke SMA hingga tamat di tahun 2003.

Namun, bukan hanya di bangku sekolah Peby belajar. Hidup dan alam seolah menjadi guru keduanya. Ia belajar memahami orang-orang di sekitarnya, meresapi kehidupan masyarakat desa, dan menghargai nilai-nilai tradisi Bali yang begitu kental.

Cinta dan ketertarikannya terhadap bahasa dan budaya asing, terutama Jepang, membawanya ke bangku kuliah di jurusan Bahasa Jepang. Ia menamatkan kuliahnya pada tahun 2006. Dengan ilmu yang ia dapatkan, kini Peby mengabdikan dirinya sebagai guru Bahasa Jepang di dua sekolah sekaligus: SMK Giri Pendawa dan SMAN 1 Rendang. Bagi para siswanya, ia bukan hanya guru, tetapi juga teman, kakak, dan sosok ibu yang hangat dan bersahaja.

Wayan Peby adalah pribadi yang cantik luar dan dalam. Senyumnya yang lembut, tutur katanya yang ramah, dan kesederhanaannya membuat ia disenangi oleh semua orang, terutama murid-muridnya. Ia selalu merasa bahagia ketika melihat anak didiknya mampu memahami pelajaran, tetapi lebih dari itu, ia bersyukur saat mereka tumbuh menjadi manusia yang tahu tata krama dan peduli pada sekelilingnya.

"Belajarlah mengenal lingkungan di mana kita berada," pesannya sering terdengar dalam kelas. "Agar kita tahu rasa, dan tahu diri."

Namun hidup bukan hanya tentang suka. Peby juga pernah merasakan kehilangan yang begitu dalam. Seseorang yang sangat dekat dengannya pergi untuk selamanya. Duka itu sempat menghentikan langkahnya, tapi ia memilih untuk bangkit dan menyalurkan rasa itu ke dalam pengabdian dan cinta untuk sesama.

Kini, di sela kesibukannya mengajar, Peby aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di desanya yang kini bermukim di banjar Sukaluwih, Kecamatan Selat. Ia gemar menari, menabuh gamelan, dan melakukan yoga sebagai cara menjaga kesehatannya—baik fisik maupun batin,disamping untuk membaur bergaul dengan masyarakat lingkungannya.

Ia juga mendapat amanah  sebagai pendamping Wakil Kepala Sekolah bidang Humas di SMK Giri Pendawa. Perannya semakin luas, tapi semangatnya tak pernah padam. Disamping itu ia juga sebagai pengelola dana suka duka,kerap ketika teman kantornya mengalami musibah atau sakit ,ia yang pertama di perintahkan oleh waka humas untuk mengkordinasikan,untuk membesuk teman yang sakit sebagai rasa persaudaraan dan melayat berbela sungkawa ketika ada keluarga teman yang meninggal dunia.

Wayan Peby , seorang ibu dari satu anak yang kini masih duduk di bangku TK, ia terus melangkah dengan keyakinan. Ia percaya bahwa kehidupan adalah tentang belajar dari hari kemarin, bersyukur atas hari ini, dan mempersiapkan hari esok dengan lebih baik.

Dan di setiap langkahnya, ia tak pernah lelah menabur kebaikan dan pengetahuan bagi generasi penerus bangsanya,karena setiap saat ia ingin langkahnya  berguna bagi lingkungan,keluarga,masyarakat terutama anak anak didiknya yang ia cintai.(manixs)

 
Ni Wayan Melina Pebriani,SS.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar