Selasa, 27 Mei 2025

MALAM TILEM KEPITU WAHYU DARI PURA PENDAWA

Malam sunyi menyelimuti desa, langit gelap tanpa rembulan. Tilem kepitu—malam suci di mana roh-roh leluhur diyakini mendekat ke alam manusia. Dalam keheningan yang sakral itu, lima orang tokoh pendidikan ,spiritual dan pemuka masyarakat memulai perjalanan suci mereka. Mereka adalah Ngakan Putu Murtika, Dewa Suaba, KM Warsa, Ngakan Suarjana, dan Made Lumbung.

Tujuan mereka jelas: mohon petunjuk suci untuk mendirikan sebuah sekolah kejuruan (SMK). Sekolah yang kelak akan menjadi tempat menempa generasi muda agar berkarakter dan berbudi pekerti seperti para satria Pandawa. Mereka mendaki menuju ”Pura Panca Pendawa”, sebuah pura tua yang berada di punggung Gunung Tapis, tempat yang hanya dijangkau oleh mereka yang berani dan bersih hati. Angin malam terasa menusuk, diselingi suara-suara hutan yang menambah aura mistis. Sesampainya di pura, kelima tokoh itu langsung memulai persembahyangan dan meditasi. Api dupa mengepul ke langit, membawa doa-doa suci yang lirih terucap.

Tengah malam, suasana menjadi sangat sunyi hingga suara dedaunan pun terdengar jelas. Dalam keheningan itu, Dewa Suaba tersentak dari meditasinya. Ia melihat bayangan berkelebat cepat di antara pohon-pohon tinggi, diikuti suara ’geraman harimau’ yang menggema menembus kegelapan. Tapi anehnya, tak ada sosok harimau yang benar-benar terlihat. Hanya suara... dan hawa dingin yang membekukan tulang. Ia tahu, itu bukan binatang biasa. Itu adalah “isyarat alam”.

Sementara itu, Ngakan Murtika, yang terlelap dalam duduk semedinya, bermimpi. Dalam mimpi itu, ia berada di tengah kabut putih. Dari balik kabut muncullah sosok tua berjubah putih, menyodorkan sebuah tulisan beraksara Bali kuno yang bila dibaca berbunyi: "SMK Giri Pendawa." Sosok itu berkata lembut namun tegas: "Giri adalah kekuatan gunung. Pendawa adalah cerminan kebajikan, keberanian, dan kebijaksanaan. Sekolah ini akan mencetak murid dengan jiwa satria seperti Pandawa. Teguhkan niat, luruskan hati."

Di sudut lain dengan khusuknya Komang Warsa bermeditasi hingga badannya bergoyang goyang pertanda ada kekuatan lain merasuki dirinya,ia mengerang,merintih seolah melawan kekuatan itu,bibirnya komat kamit seolah berkomunikasi dengan makluk gaib,lama berdiam lalu manggut manggut seolah olah mengerti maksud lawan bicaranya. Suara binatang malam dihutan itu semakin larut semakin menyeramkan dan tiba tiba berkelebat sosok kucing besar berwana putih dengan sorot mata tajam mendekat pada Warsa,dan dengan kibasan ekor yang jinak dan dengan auman seperti suara manusia..."tujuanmu direstui" dan seketika bayangan itu menghilang dibenaknya Warsa. 

Pagi harinya, mereka semua turun dari pura. Matahari mulai menembus kabut gunung. Di tengah perjalanan, mereka saling berbagi pengalaman malam itu,Saya juga merasakan aada kekuatan yang luar biasa ada sosok besar seperti gunung tutur Ngakan Suarjana. Saat Ngakan Murtika menceritakan mimpinya, yang lain terdiam. Semua merasa merinding, seolah semesta telah menyampaikan restunya. Tanpa ragu, mereka pun sepakat menamai sekolah itu: "Giri Pendawa."

Sebuah sekolah yang kelak tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur Pandawa Lima—Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa—ke dalam jiwa anak-anak bangsa (manixs).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar