Senin, 04 Agustus 2025

FENOMENA ONE PIECE DI HUT 80 RI


Fenomena pengibaran Bendera One Piace satu tiang dengan Bendera Merah Putih
sebagai simbul bentuk protes terhadap negara

One Piece adalah salah satu anime paling populer di dunia, dan Indonesia memiliki basis penggemar yang sangat besar.Generasi muda lebih relate dengan nilai-nilai persahabatan, petualangan, dan kebebasan yang diusung anime ini dibandingkan narasi-narasi nasionalisme klasik.One Piece Adalah Simbol Perlawanan dan "Romantisme Bajak Laut": Dimana bendera bajak laut Straw Hat (Topi Jerami) dianggap simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, otoritas korup, dan sistem yang menindas—hal yang dirasakan relevan oleh sebagian masyarakat Indonesia,sehingga muncul sebagai bentuk ekspresi frustrasi terhadap realita sosial-politik dalam negeri. One Piece juga menggambarkan perasaan distrust terhadap Institusi Formal ,banyak anak muda merasa jenuh dengan retorika kenegaraan yang dianggap kosong atau tidak menyentuh kebutuhan riil mereka.One Piece—meskipun fiksi—menawarkan alternatif imajiner tentang dunia yang lebih adil dan bermakna.

Melihat fenomena ini bagi Indonesia dapat dimaknai sebagai pergeseran Identitas Kultural Generasi Muda,Dimana generasi muda Indonesia hari ini makin cair dalam soal identitas. Mereka bisa nasionalis, tapi dalam bentuk yang baru—lebih pop, simbolik, bahkan global.Ini bukan sekadar “kehilangan rasa cinta tanah air”, tapi bentuk ekspresi yang berbeda ,sebagai pertanda Indonesia Menuju Krisis Simbolikkah?

Bila anak muda lebih bangga mengibarkan bendera bajak laut ketimbang Merah Putih di momen sakral seperti HUT RI, itu sinyal bahwa narasi kebangsaan perlu diperbarui.Kita tidak bisa lagi menjual nasionalisme model 1945 ke generasi digital 2025 tanpa adaptasi makna kekinian namun juga jangan sampai tercabut dari akar budaya bangsa kita. Melihat realita ini kita bisa optimis dan juga pesimis terhadap kelangsungngan berbangsa dan bernegara. Optimis Jika tren ini dibaca sebagai bentuk kritik kreatif dan respons terhadap ketimpangan, ini bisa jadi peluang bagi negara memperbarui pendekatan terhadap anak muda.Pesimis, Jika ini terus dibiarkan tanpa pemahaman dan dialog, bisa berkembang jadi apatisme atau bahkan delegitimasi simbol negara.

Fenomena bendera One Piece bukan sekadar "gaya-gayaan" atau "main-main". Ia adalah refleksi dari kejenuhan terhadap narasi negara yang usang,ketertarikan terhadap nilai-nilai universal yang dibalut budaya pop dan kegamangan arah identitas kolektif kita hari ini.Indonesia sedang berada di persimpangan arah kebangsaan. Jika negara ingin merangkul masa depan, maka ia harus mendengarkan suara anak mudanya—bahkan jika itu datang dalam bentuk bendera bajak laut.

Kontroversi & Respons Pemerintah

Pemerintah dan DPR menganggap pengibaran bendera fiksi tersebut sebagai potensi provokatif dan ancaman terhadap nasionalisme. Wakil Ketua DPR menyebutnya kemungkinan upaya terstruktur untuk memecah persatuan bangsa  .

Menteri HAM bahkan menyatakan bahwa simbol ini bisa dilarang dan dikategorikan sebagai makar berdasarkan UU serta kovenan internasional yang diadopsi Indonesia  .

Selain itu, hukum nasional mewajibkan penghormatan penuh terhadap bendera Merah Putih. Bila bendera lain dikibarkan di satu tiang dengan Merah Putih, atau berada di posisi yang sama/lebih tinggi, bisa dianggap melanggar norma hukum dan etika kebangsaan  .

Jadi dengan demikian pengibaran bendera one piace ini dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang dan interprestasinya,dari sudut pandang sebagai kritik kreatif,interpresatsinya Adalah sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah tanpa kekerasan atau aksi massa. Jika dari sudut pandang sebagai simbol subversive,interprestasinya dikhawatirkan melemahkan simbol negara dan bahkan memicu perpecahan. Sudut pandang dari Pandangan generasi muda dimaknai oleh Luffy & krunya menjadi analogi bagi rakyat yang melawan ketidakadilan. Bagi banyak orang, simbol ini menggambarkan ketidakpuasan terhadap keadaan yang dianggap jauh dari cita-cita kemerdekaan. Namun tanda ini tetap harus dihormati dalam koridor hukum dan etika nasional, di mana Merah Putih wajib dikibarkan lebih tinggi dan lebih utama dari simbol apapun.merdeka !!!  (manixs/04-08-2025)


Media Sosial Kebebasan Bernarasi dan Risiko Kegamangan Arah

Masyarakat kita hari ini semakin berani bersuara khususnya kaum genZ, tapi tak semua suara lahir dari kedewasaan narasi. Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kebebasan tanpa kebijaksanaan bisa berubah jadi racun,ini yang dikhawatirkan. Moralitas cair dimana  banyak anak muda yang kehilangan rujukan nilai,apa yang viral dianggap benar. Historisitas terputus mereka tidak tahu atau tidak peduli tentang perjuangan pendiri bangsa, karena tidak diajarkan secara relevan dan membumi,kurikulum hanya konsep membumbung tinggi meniru bangsa maju,tapi relita tak tergapai anak bangsa semakin kehilangan arah dari moral peradaban bangsa,kritis tapi tak realistis .Budaya instan dan ekspresif, yang tidak diimbangi dengan refleksi dan tanggung jawab sosial semakin diumbar tanpa ada teguran,semakin berani tanpa nurani. Sopan santun budaya timur sudah lari kebudaya lain yang syarat akan hegemoni, persaingan,perjuangan egoistis,kekuasaan dan otoritarian semakin menyamarkan atittude anak anak pertiwi nusantara.

Stop ujaran Kebencian

Modernisasi itu tidak salah, tapi jika dibiarkan tanpa arah akar nilai, ia menjadi badai yang mencabut pohon jati diri bangsa. Ideologi luar dan politik adu domba sangat valid atraksinya di panggung dunia maya . Indonesia adalah negara strategis secara geopolitik—besar, kaya, majemuk, dan rawan dipecah. Narasi kebangsaan vs narasi ’kebangsatan’ adalah medan perang informasi hari ini. Siapa yag menguasai narasi, menguasai arah sejarah dia menguasai panggung.Banyak pihak, termasuk kekuatan global, lebih suka Indonesia lemah dan tercerai-berai agar mudah dikontrol dan dikendalikan.Ada pula elite yang menjual luka sejarah untuk balas dendam politik, menggunakan simbol-simbol nasional hanya sebagai alat perebutan kekuasaan. Mereka yang teriak “revolusi” atau “runtuhkan sistem” tanpa menawarkan solusi konkret—itulah bentuk kedunguan (meminjam istilah Rocky Gerung), yakni keberanian berteriak tanpa keberanian berpikir panjang untuk mengurai kekusutan terminologi kenegaraan.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan etnis dan bahasa, berdiri di atas konsensus yang rapuh namun mulia ’Bhinneka Tunggal Ika’.Narasi pemersatu harus diperbarui agar tidak usang tapi tetap berakar.Jika tidak, yang muncul adalah apatisme nasional dan akhirnya perpecahan.Dalam sejarah, negara besar hancur bukan karena invasi luar, tapi karena perpecahan dari dalam—dari rakyat yang kehilangan harapan dan kepercayaan. Semua ini bukanlah salah generasi muda jika mereka kehilangan arah—bisa jadi kita yang lebih tua belum menyalakan mercusuar nilai kebangsaan secara relevan.Tapi bukan berarti mereka dibiarkan bebas tanpa arah. Kita harus hadir, bukan dengan doktrin, tapi dengan dialog dan keteladanan. Kini masa kritis, antara bangkit jadi bangsa besar Indonesia Emas, atau tenggelam jadi kisah tragis seperti bangsa-bangsa besar yang hilang dari sejarah.

"Kedunguan". Mungkin bukan hanya soal tidak berpikir, tapi tidak mau berpikir jernih, karena sudah terlanjur terjebak dalam ego, luka, atau kepentingan,akhirnya rakyat yang jadi korban,lucunya korban dari orang orang "dungu" penyebar hoak,narasi narasi yang menyesatkan.

Indonesia butuh suara orang yang peduli walau gelisah, tapi sadar,emosional, tapi tetap rasional. Itulah akar dari perlawanan yang sehat yang harus kita gaungkan. Untuk itu apa yang harus kita lakukan ?

Kita harus jadi “Penjaga Arah” di lingkungan sendiri,kita mungkin tidak bisa mengubah negara dalam sehari, tapi kita bisa menjadi kompas di lingkungan sekitar. Anak-anak muda—apalagi di desa—butuh panutan nyata, bukan hanya teori, Tunjukkan bahwa nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan cinta tanah air itu masih relevan untuk mungkin kita jalani.Anak muda lebih mudah meniru aksi nyata ketimbang mendengar ceramah panjang. Mari kita bangun ruang diskusi kecil yang sehat, bisa lewat obrolan warung kopi, kegiatan karang Taruna, Seka Teruna, atau komunitas literasi GARDA PENDAWA dan lainnya. Buat mereka berpikir kritis, bukan hanya ikut-ikutan tren media sosial. Pertanyaan seperti: “Siapa yang kamu percaya di media sosial, dan kenapa?” bisa membuka mata hati mereka untuk tidak tergerus omong kosong seperti ocehan ditempat nongkrong.

Mari kita lawan narasi sesat dengan edukasi yang luwes dan relatable,kalau orang menyebar hoaks atau kebencian lewat TikTok, Reels, atau story, maka lawanlah dengan cara yang sama—tapi lebih cerdas dan santun.Gunakan konten pendek dan tajam, edukasi dengan visual, humor, atau kisah inspiratif lokal yang menyentuh. Dorong anak muda desa bikin konten positif, cerita lokal, sejarah desa, atau kisah tokoh leluhur yang inspiratif. Bagaimana kita buat mereka bangga jadi bagian dari pertiwi Nusantara yang dibangun dari tetesan darah leluhur.

Bangunlah filter narasi melalui nalar kritis, karena hoaks dan kebencian menyebar bukan karena orang bodoh, tapi karena orang tidak punya filter nalar.Mari belajar berpikir logis"Jangan percaya sebelum periksa. Jangan sebarkan sebelum pahami."

Tetap waspada  ini“bahaya kronis”kita butuh stamina jangka panjang. Jangan berharap perubahan instan terjadi, tapi jangan biarkan apatisme menang merenggut kepercayaan.Tetaplah percaya bahwa satu orang jujur yang konsisten bisa jadi mercusuar di tengah badai.Tapi juga waspada terhadap provokator dan pecundang intelektual yang suka membakar emosi rakyat tanpa tanggung jawab moral.

Orang baik sering kalah ,karena mereka tersebar dalam diam. Mari  kita"Jaga Negara dari Desa", lewat cerdas dalam "Literasi Digital", yang santun dan terdidik,tumbangkan kebangsatan dengan kebangsaan dengan rendah hati.

Zaman ini zaman penuh kebingungan. Tapi bangsa ini dibangun bukan oleh orang banyak, tapi oleh segelintir orang yang tak menyerah,tekad kuat bakti pertiwi teteskan darah,satukan langkah demi bangsa yang merdeka.

Semoga keresahan kita tetap menjadi bara yang menyala—bukan untuk membakar, tapi untuk menerangi sekitar. Jangan lelah menjadi waras di tengah dunia yang gaduh dan keras.

Indonesia butuh orang-orang waras yang gelisah tapi peduli, lelah tapi tidak menyerah.

Salam hormat dan tetap semangat untukmu para genZ.(Manixs)


Minggu, 03 Agustus 2025

Hari Pertama Atova Indonesia Gelar Les Gratis Bahasa Inggris di SMK Giri Pendawa

Gatra Humas, 4 Agustus 2025 – Suasana berbeda tampak di SMK Giri Pendawa hari ini. Sebanyak 72 siswa antusias mengikuti kegiatan les Bahasa Inggris gratis yang difasilitasi oleh Atova Indonesia sebagai bagian dari kerja sama resmi antara yayasan tersebut dengan pihak sekolah.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari MoU antara Yayasan Atova Indonesia dengan SMK Giri Pendawa, yang mencakup kerja sama di bidang kursus Bahasa Inggris, kesehatan, serta pelestarian cinta alam. Pada hari pertama pelaksanaan, les digelar dalam dua sesi, yakni sesi pertama pukul 10.30–11.30 WITA dan sesi kedua pukul 11.30–12.30 WITA.

Les Bahasa Inggris hari ini dipandu langsung oleh pimpinan Atova Indonesia, Mbak Nurul, bersama tim yang terdiri dari tiga orang instruktur. Mereka membagi diri ke dalam beberapa kelas sesuai jumlah peserta dan ruang belajar yang disediakan.

Adapun materi yang diberikan pada pertemuan pertama ini meliputi topik "Greeting and Farewell" – bagaimana cara memberikan salam dan perpisahan dalam Bahasa Inggris, baik secara formal maupun informal. Selain itu, siswa juga dikenalkan pada pelafalan (pronunciation) yang benar untuk kata-kata dasar dalam komunikasi sehari-hari.

Guru pendamping Bahasa Inggris, Sri Erawati, menyampaikan bahwa para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. "Materi disampaikan secara sederhana, menarik, dan diselingi dengan ice breaking serta permainan edukatif, membuat siswa lebih berani dan percaya diri," ujarnya.

Sri Erawati juga menambahkan bahwa kegiatan ini sangat membantu dalam penguatan keterampilan komunikasi siswa. "Les ini sangat bermanfaat sebagai bekal persiapan PKL. Saya yakin dengan jeda satu semester, akan ada perubahan signifikan dalam kemampuan mereka berbahasa Inggris," pungkasnya.

Kegiatan les Bahasa Inggris ini rencananya akan berlangsung secara berkala dan terus dikembangkan ke materi-materi lanjutan, sejalan dengan semangat SMK untuk membekali siswa dengan keterampilan global yang relevan di dunia kerja.(manixs)

Nurul AI sedang memberikan materi

 Kegiatan ice breaking dan game

Praktek pengucapan salam


Yayasan Giri Pendawa Gelar Rapat Perdana Tahun Pelajaran 2025/2026

Gatra Humas, 2 Agustus 2025 – Dalam rangka menyongsong tahun ajaran baru 2025/2026, Yayasan Giri Pendawa menggelar rapat perdana pada Sabtu (2/8) di ruang restaurant SMK Giri Pendawa. Rapat yang bertujuan untuk menyamakan persepsi dalam implementasi visi dan misi yayasan sekaligus mengevaluasi pelaksanaan kegiatan tahun sebelumnya. Sebanyak 71% anggota yayasan hadir dan mengikuti rapat dengan penuh keseriusan.

Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Giri Pendawa JM. Ketut Sudana,dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kinerja kepala sekolah SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta. “Kegiatan sekolah tahun lalu telah berjalan baik berkat kepemimpinan Bapak Komang dalam memimpin dan mengelola sekolah. Tahun ini, jumlah peserta didik baru meningkat secara signifikan, ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim,” ungkap Ketua Yayasan.

Selanjutnya, Kepala Sekolah I Komang Sumarta menyampaikan laporan capaian sekolah. Beliau menjelaskan bahwa delapan standar pendidikan nasional telah berhasil diimplementasikan dengan baik berkat kolaborasi antara guru dan pegawai. Namun, beliau juga menggarisbawahi adanya kendala mendesak, yaitu kekurangan mobiler (meja dan kursi belajar) akibat meningkatnya jumlah siswa.

"Kami telah berkoordinasi dengan bendahara yayasan untuk segera melakukan pengadaan mobiler. Selain itu, hasil rapat bersama orang tua siswa menghasilkan rencana untuk membuka donasi sukarela yang diinisiasi oleh Wakasek Humas, mengingat keterbatasan anggaran," . Program lain kami telah mengadakan kerjasama dengan pihak yayasan Atova Internasional lembaga nirlaba yang bergerak dibidang pendidikan,kesehatan dan perlindungan alam yang dimulai tahun ajaran ini kontrak kerjasama selama satu semester yang kita libatkan anak anak kelas XI kursus bahasa inggris gratis dalam persiapan  PKL kedepan,ujar I Komang Sumarta.

Sementara itu, pengelola koperasi sekolah, I Wayan Suiji, memaparkan peluang pengembangan koperasi sekolah yang sejalan dengan kewajiban SMK untuk mengembangkan Teaching Factory (TEFA). Ia menyampaikan bahwa peningkatan jumlah siswa membuka peluang usaha koperasi yang lebih luas. Orang tua siswa yang hadir dalam rapat yang lalu, juga menyatakan kesediaannya untuk mendukung rencana pembangunan warung koperasi melalui bantuan sukarela.

"Program ini tidak hanya bertujuan untuk kesejahteraan anggota—guru, pegawai, yayasan, dan siswa—tetapi juga sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan siswa. Mereka dilatih langsung dalam manajemen usaha seperti berdagang, laundry, produksi makanan dari jurusan tata boga, dan lainnya," . Kemudian sebagai upaya menjaga transparansi dan menghindari kesalahpahaman antara pihak sekolah dan wali siswa, seluruh orang tua telah menandatangani surat pernyataan kesediaan mengikuti program sekolah dengan segala ketentuannya,pungkas Suiji.

Di akhir rapat, Bendahara Yayasan I Komang Warsa menyampaikan laporan keuangan, termasuk saldo kas dan strategi penagihan terhadap siswa yang masih menunggak pembayaran, terutama yang telah lulus. “Kondisi keuangan saat ini masih terbatas. Kami akan mengalokasikan dana untuk pengadaan sekitar 200 set mobiler dengan harga Rp750.000 per set. Jika hanya digunakan untuk gaji, dana yang tersedia saat ini hanya cukup untuk dua bulan ke depan,” paparnya.

Sesi tanya jawab juga berjalan aktif. Beberapa masukan konstruktif disampaikan oleh anggota yayasan, antara lain Gusti Mataram dan Ngakan Putu Suarjana, yang menyoroti pentingnya strategi penguatan keuangan dan perencanaan jangka panjang yayasan serta prinsif kehati-hatian dalam menerima ajakan kerjasama dari pihak lain,perlu ada MoU dan kordinasi dengan pihak dinas pendidikan sebagai atasan kita,agar tidak ada masalah dikemudian hari.(manixs)

Rapat dipimpin Ketua Yayasan Ketut Sudana

Kepala Sekolah I Komang Sumarta dalam penyampaian laporannya

Bendahara Yayasan I Komang Warsa memberikan lapooran

Gst Ngurah Mataram dalam acara tanya jawab





Pelaksanaan ANBK Tahun Ajaran 2025/2026 di SMK Giri Pendawa Dimulai Hari Ini

Gatra Humas, 4 Agustus 2025 — Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Tahun Pelajaran 2025/2026 di SMK Giri Pendawa resmi dimulai hari ini, Senin (4/8), dan akan berlangsung hingga Kamis (7/8). Kegiatan ini diikuti oleh 45 siswa kelas XI dan mencakup asesmen kompetensi minimum (AKM) yang meliputi literasi dan numerasi.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan bahwa ANBK terdiri dari tiga komponen utama. "Pertama, asesmen kompetensi minimum untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa. Kedua, survei karakter untuk menggali nilai-nilai gotong royong, integritas, dan kemandirian. Ketiga, survei lingkungan belajar yang bertujuan mengetahui kondisi pembelajaran di sekolah," ujarnya.

Lebih lanjut, I Komang Sumarta mengakui bahwa pada pelaksanaan tahun sebelumnya, sekolah mengalami kelemahan pada aspek literasi. "Padahal, implementasi literasi sudah kita lakukan cukup baik. Semoga tahun ini terjadi peningkatan," harapnya.

Secara teknis, pelaksanaan ANBK tahun ini berjalan lancar berkat dukungan jaringan internet yang stabil. Kegiatan ini dimotori oleh proktor I Nyoman Pande Setiawan dan teknisi I Gusti Ngurah Adi Sandi Putra, dengan pengawas dari SMKN 1 Manggis.

Namun, ia menyoroti kendala utama yang terus berulang dari tahun ke tahun, yakni keterbatasan sarana komputer. "Laptop sekolah saat ini sekitar 90% sudah tidak layak pakai. Kami terpaksa meminjam dari rekan-rekan guru agar kegiatan tetap berjalan. Harapan kami ke depan, pihak yayasan bisa merencanakan pengadaan sarana vital ini," ujar Jik Sandi yang sekaligus Wakasek Sarpras SMK Giri Pendawa.(manixs)

Persembahyangan bersama sebelum ANBK berlangsung

Suasana saat ANBK pada hari pertama

Salah seorang peserta dengan serius menjawab soal soal ANBK

 
Pemantauan pengawas dari SMKN 1 Manggis