Senin, 04 Agustus 2025

Media Sosial Kebebasan Bernarasi dan Risiko Kegamangan Arah

Masyarakat kita hari ini semakin berani bersuara khususnya kaum genZ, tapi tak semua suara lahir dari kedewasaan narasi. Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kebebasan tanpa kebijaksanaan bisa berubah jadi racun,ini yang dikhawatirkan. Moralitas cair dimana  banyak anak muda yang kehilangan rujukan nilai,apa yang viral dianggap benar. Historisitas terputus mereka tidak tahu atau tidak peduli tentang perjuangan pendiri bangsa, karena tidak diajarkan secara relevan dan membumi,kurikulum hanya konsep membumbung tinggi meniru bangsa maju,tapi relita tak tergapai anak bangsa semakin kehilangan arah dari moral peradaban bangsa,kritis tapi tak realistis .Budaya instan dan ekspresif, yang tidak diimbangi dengan refleksi dan tanggung jawab sosial semakin diumbar tanpa ada teguran,semakin berani tanpa nurani. Sopan santun budaya timur sudah lari kebudaya lain yang syarat akan hegemoni, persaingan,perjuangan egoistis,kekuasaan dan otoritarian semakin menyamarkan atittude anak anak pertiwi nusantara.

Stop ujaran Kebencian

Modernisasi itu tidak salah, tapi jika dibiarkan tanpa arah akar nilai, ia menjadi badai yang mencabut pohon jati diri bangsa. Ideologi luar dan politik adu domba sangat valid atraksinya di panggung dunia maya . Indonesia adalah negara strategis secara geopolitik—besar, kaya, majemuk, dan rawan dipecah. Narasi kebangsaan vs narasi ’kebangsatan’ adalah medan perang informasi hari ini. Siapa yag menguasai narasi, menguasai arah sejarah dia menguasai panggung.Banyak pihak, termasuk kekuatan global, lebih suka Indonesia lemah dan tercerai-berai agar mudah dikontrol dan dikendalikan.Ada pula elite yang menjual luka sejarah untuk balas dendam politik, menggunakan simbol-simbol nasional hanya sebagai alat perebutan kekuasaan. Mereka yang teriak “revolusi” atau “runtuhkan sistem” tanpa menawarkan solusi konkret—itulah bentuk kedunguan (meminjam istilah Rocky Gerung), yakni keberanian berteriak tanpa keberanian berpikir panjang untuk mengurai kekusutan terminologi kenegaraan.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan etnis dan bahasa, berdiri di atas konsensus yang rapuh namun mulia ’Bhinneka Tunggal Ika’.Narasi pemersatu harus diperbarui agar tidak usang tapi tetap berakar.Jika tidak, yang muncul adalah apatisme nasional dan akhirnya perpecahan.Dalam sejarah, negara besar hancur bukan karena invasi luar, tapi karena perpecahan dari dalam—dari rakyat yang kehilangan harapan dan kepercayaan. Semua ini bukanlah salah generasi muda jika mereka kehilangan arah—bisa jadi kita yang lebih tua belum menyalakan mercusuar nilai kebangsaan secara relevan.Tapi bukan berarti mereka dibiarkan bebas tanpa arah. Kita harus hadir, bukan dengan doktrin, tapi dengan dialog dan keteladanan. Kini masa kritis, antara bangkit jadi bangsa besar Indonesia Emas, atau tenggelam jadi kisah tragis seperti bangsa-bangsa besar yang hilang dari sejarah.

"Kedunguan". Mungkin bukan hanya soal tidak berpikir, tapi tidak mau berpikir jernih, karena sudah terlanjur terjebak dalam ego, luka, atau kepentingan,akhirnya rakyat yang jadi korban,lucunya korban dari orang orang "dungu" penyebar hoak,narasi narasi yang menyesatkan.

Indonesia butuh suara orang yang peduli walau gelisah, tapi sadar,emosional, tapi tetap rasional. Itulah akar dari perlawanan yang sehat yang harus kita gaungkan. Untuk itu apa yang harus kita lakukan ?

Kita harus jadi “Penjaga Arah” di lingkungan sendiri,kita mungkin tidak bisa mengubah negara dalam sehari, tapi kita bisa menjadi kompas di lingkungan sekitar. Anak-anak muda—apalagi di desa—butuh panutan nyata, bukan hanya teori, Tunjukkan bahwa nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan cinta tanah air itu masih relevan untuk mungkin kita jalani.Anak muda lebih mudah meniru aksi nyata ketimbang mendengar ceramah panjang. Mari kita bangun ruang diskusi kecil yang sehat, bisa lewat obrolan warung kopi, kegiatan karang Taruna, Seka Teruna, atau komunitas literasi GARDA PENDAWA dan lainnya. Buat mereka berpikir kritis, bukan hanya ikut-ikutan tren media sosial. Pertanyaan seperti: “Siapa yang kamu percaya di media sosial, dan kenapa?” bisa membuka mata hati mereka untuk tidak tergerus omong kosong seperti ocehan ditempat nongkrong.

Mari kita lawan narasi sesat dengan edukasi yang luwes dan relatable,kalau orang menyebar hoaks atau kebencian lewat TikTok, Reels, atau story, maka lawanlah dengan cara yang sama—tapi lebih cerdas dan santun.Gunakan konten pendek dan tajam, edukasi dengan visual, humor, atau kisah inspiratif lokal yang menyentuh. Dorong anak muda desa bikin konten positif, cerita lokal, sejarah desa, atau kisah tokoh leluhur yang inspiratif. Bagaimana kita buat mereka bangga jadi bagian dari pertiwi Nusantara yang dibangun dari tetesan darah leluhur.

Bangunlah filter narasi melalui nalar kritis, karena hoaks dan kebencian menyebar bukan karena orang bodoh, tapi karena orang tidak punya filter nalar.Mari belajar berpikir logis"Jangan percaya sebelum periksa. Jangan sebarkan sebelum pahami."

Tetap waspada  ini“bahaya kronis”kita butuh stamina jangka panjang. Jangan berharap perubahan instan terjadi, tapi jangan biarkan apatisme menang merenggut kepercayaan.Tetaplah percaya bahwa satu orang jujur yang konsisten bisa jadi mercusuar di tengah badai.Tapi juga waspada terhadap provokator dan pecundang intelektual yang suka membakar emosi rakyat tanpa tanggung jawab moral.

Orang baik sering kalah ,karena mereka tersebar dalam diam. Mari  kita"Jaga Negara dari Desa", lewat cerdas dalam "Literasi Digital", yang santun dan terdidik,tumbangkan kebangsatan dengan kebangsaan dengan rendah hati.

Zaman ini zaman penuh kebingungan. Tapi bangsa ini dibangun bukan oleh orang banyak, tapi oleh segelintir orang yang tak menyerah,tekad kuat bakti pertiwi teteskan darah,satukan langkah demi bangsa yang merdeka.

Semoga keresahan kita tetap menjadi bara yang menyala—bukan untuk membakar, tapi untuk menerangi sekitar. Jangan lelah menjadi waras di tengah dunia yang gaduh dan keras.

Indonesia butuh orang-orang waras yang gelisah tapi peduli, lelah tapi tidak menyerah.

Salam hormat dan tetap semangat untukmu para genZ.(Manixs)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar