Selasa, 30 September 2025

MENGENANG JASA DALAM UPACARA PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA DI SMK GIRI PENDAWA

Gatra Humas, 01 Oktober 2025

Rabu, 1 Oktober 2025, SMK Giri Pendawa melaksanakan Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, yang berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh khidmat. Upacara ini merupakan bagian dari pelaksanaan serempak di seluruh Indonesia, khususnya di Provinsi Bali, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Sekda Provinsi Bali Nomor: B.10.400.3/42158/UK/DIKPORA, tanggal 29 September 2025, tentang pelaksanaan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di seluruh Instansi Pemerintah serta Satuan Pendidikan SMA/SMK Negeri dan Swasta se-Bali.

Bertindak sebagai pembina upacara Dewa Putu Suarya,  Kepala Program Studi Tata Boga SMK Giri Pendawa. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan bahwa pelaksanaan upacara pagi ini telah berlangsung lancar dan tertib, serta menunjukkan semangat nasionalisme yang tinggi dari seluruh peserta.

Lebih lanjut, Suarya mengisahkan kembali tentang perjuangan para pahlawan bangsa dalam mempertahankan ideologi Pancasila. Dengan penuh semangat beliau menyampaikan:

“Pendahulu kita telah berjuang hingga meneteskan darah demi mempertahankan Pancasila. Maka, sudah sepantasnya kita menghormati dan menghargai jasa beliau melalui upacara yang khidmat seperti pagi ini.”

Suarya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh petugas upacara, peserta didik, serta bapak dan ibu guru yang hadir lengkap sebagai undangan dalam kegiatan tersebut.

Namun, beliau juga menyampaikan permakluman atas ketidakhadiran beberapa guru, karena kemungkinan adanya kesibukan yang tidak dapat diwakilkan. Secara khusus, Bapak Suarya juga mengajak seluruh peserta untuk mendoakan Ibu KTU yang sedang dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan.

“Mari kita doakan bersama, semoga Ibu KTU lekas sembuh dan dapat kembali hadir di tengah-tengah kita seperti biasa,” ucap beliau.

Di akhir amanatnya, pembina upacara memberikan catatan kepada kelas X PH, yang menurut pengamatan beliau terlihat kurang tertib selama pelaksanaan upacara.

“Tolong koreksi diri kalian. Kalian ini siswa di vocational school, maka sikap dan kedisiplinan harus mencerminkan kesiapan menuju dunia kerja. Kalau ingin berhasil, sesuaikan sikap sejak sekarang,” tutupnya tegas.

Upacara ini menjadi momen penting untuk menanamkan kembali semangat kebangsaan serta nilai-nilai luhur Pancasila kepada seluruh warga sekolah (manixs).

Pembina upacara saat memberikan amanatnya

Pembina upacara

Guru dan staf pegawai saat mengikuti upacara


UPACARA SENIN TERAKHIR BULAN SEPTEMBER BERLANGSUNG KHIDMAT DI SMK GIRI PENDAWA

Gatra Humas, 29 September 2025

SMK Giri Pendawa melaksanakan upacara bendera rutin pada hari Senin, 29 September 2025. Upacara yang digelar di lapangan sekolah ini merupakan upacara Senin terakhir di bulan September dan berlangsung dengan tertib serta khidma

Bertindak sebagai pembina upacara kali ini adalah  Ngakan Made Ariawan, selaku pendamping Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta upacara karena telah mengikuti kegiatan dengan tertib hingga selesai.

Ucapan terima kasih juga diberikan kepada petugas upacara dari kelas XI TB, yang telah melaksanakan tugas dengan baik dan lancar. Beliau berharap kinerja mereka dapat menjadi contoh positif bagi kelas-kelas lainnya.

Selain itu, Ngakan juga menyampaikan beberapa pesan penting, di antaranya adalah:

  • Setiap piket kelas diingatkan untuk menyetorkan jurnal kegiatan mereka ke resepsionis sekolah setiap akhir pelajaran, agar dapat dievaluasi langsung oleh Kepala Sekolah.

  • Siswa kelas X diminta untuk lebih menjaga fasilitas sekolah, khususnya dalam penggunaan bangku dan peralatan lainnya. Beliau mencontohkan kejadian sebelumnya di mana bangku berserakan karena dipakai bermain dan dibiarkan berserakan begitu saja,prilaku itu tidak sesuai dengan tata etika di lingkungan sekolah.

"Kalian sudah besar, bukan anak-anak lagi. Gunakan wiweka—kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak—dalam setiap perilaku di sekolah," tegas beliau dalam amanatnya.

Di akhir amanat, beliau juga mengingatkan kepada seluruh siswa agar tetap menunaikan kewajiban mereka setiap bulan, mengingat SMK Giri Pendawa adalah sekolah swasta yang menjalankan operasional berlandaskan patisipasi orang tua/wali siswa dan pengabdian guru beserta staf pegawai.

“Kami sudah memberikan hak kalian, maka tolong ingat kewajiban kalian. Semoga semua bisa memahami dan terus menjaga semangat disiplin dan tanggung jawab di lingkungan sekolah,” tutup beliau (manixs).

Pembina, Ngk.Made Ariawan menerima pembacaan janji siswa yang diikuti seluruh siswa

Pembina Upacara saat menerimaa laporan

Pengibaran bendera merah putih




Kamis, 25 September 2025

Perlu Kepedulian dan Aksi Nyata untuk Bali yang Lebih Tangguh

OPINI: oleh Ni Putu Dina Ketua OSIS SMK Giri Pendawa 2025/2026.

Perkenalkan, nama saya Ni Putu Dina, saya berasal dari kelas XI Tata Boga, dan saat ini saya dipercaya sebagai Ketua OSIS. Sebelumnya, saya juga pernah menjadi Ketua Kelas saat kelas X. Saya sangat bersyukur dan bangga bisa diberikan kesempatan memimpin, karena sejak kecil saya memang menyukai dunia kepemimpinan. Bagi saya, menjadi pemimpin bukan hanya soal memberi arahan, tetapi juga tentang peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Melihat peristiwa banjir besar yang melanda Bali baru-baru ini, hati saya sangat sedih. Banyak rumah rusak, ribuan warga harus mengungsi, dan bahkan ada korban jiwa. Kawasan heritage seperti Pasar Badung dan Pasar Seni Kumbasari yang biasanya ramai pengunjung kini terendam lumpur tebal. Ini bukan hanya bencana alam, tapi juga peringatan keras bagi kita semua.

Sebagai generasi muda, kita tidak boleh tinggal diam. Bencana ini tidak terjadi tanpa sebab. Selain hujan deras, ada faktor lain seperti kerusakan lingkungan, sedimentasi sungai, dan tata ruang yang kurang baik. Kita harus sadar bahwa setiap tindakan kita, sekecil apa pun, bisa berdampak besar bagi alam.

Saya percaya bahwa dari peristiwa ini, kita bisa belajar. Kita bisa lebih peduli terhadap lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, ikut serta dalam kegiatan gotong royong membersihkan saluran air, dan mendukung program-program pemerintah dalam penanggulangan bencana. Kita juga perlu mendorong sekolah-sekolah untuk lebih aktif mengedukasi tentang pentingnya menjaga alam.

Mari jadikan momen ini sebagai panggilan untuk bertindak. Sebagai Ketua OSIS, saya ingin mengajak seluruh siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Kita mungkin masih muda, tapi dengan semangat dan kepedulian, kita bisa membawa perubahan untuk Bali yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih tangguh terhadap bencana,mari kita mulai dari rumah karakter SMK Giri Pendawa yang kita cintai.(Din@)


Bio Data Penulis:
Nama : NI PUTU DINA
Nama Panggilan : Dyna
Tempat/Tgl.Lahir : Batusesa,23 April 2009
Agama : Hindu
Cita-Cita : Menjadi Boss di usia Muda (BOSS MUDA)


"Percaya Diri, Berkarakter Baik, dan Disiplin: Tiga Kunci Sukses Pelajar Giri Pendawa"

Om swastiastu,

Assalamu'alaikum wr. wb,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Namo budaya, Rahayu.

Yang terhormat Bapak Kepala SMK Giri Pendawa,
Bapak/Ibu guru dan staf TU,
serta teman-teman siswa-siswi yang saya banggakan.

Perkenalkan, saya Ni Putu Ayu Indah Lestari dari kelas XI Tata Boga, juga sebagai bagian dari OSIS SMK Giri Pendawa. Melalui narasi ini, saya ingin berbagi pengalaman dan semangat tentang tiga hal penting yang bisa membawa kita menjadi pelajar yang hebat: percaya diri, karakter yang baik, dan kedisiplinan.

1. Percaya Diri Itu Penting

Dulu saya adalah siswi yang pemalu dan ragu-ragu. Mau ke kantin saja tidak berani sendiri. Saat diajak ikut lomba, saya mundur karena tidak percaya diri. Tapi saya sadar, saya harus berubah. Maka saya mencoba—dan terus mencoba.

Menjadi OSIS adalah langkah awal saya untuk melawan rasa takut itu. Dan benar saja, perlahan saya mulai berani bicara di depan umum, angkat tangan di kelas, bahkan akhirnya bisa meraih juara 2 umum di kelas X. Ternyata, percaya diri bisa dibangun dengan kemauan untuk mencoba dan tidak takut salah.

2. Karakter Baik Membentuk Diri Kita

Sebagai pelajar, karakter yang baik itu sangat penting. Mulai dari jujur, sopan, tanggung jawab, religius, hingga saling menghargai sesama. Karakter bukan cuma soal nilai—tapi tentang bagaimana kita bersikap setiap hari, di sekolah maupun di luar.

Jadilah siswa yang sopan saat berbicara, menghormati guru, menggunakan seragam dengan rapi, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan. Karena karakter baik akan membawa kita dipercaya oleh banyak orang.

3. Disiplin Adalah Kunci Konsistensi

Datang tepat waktu, mengenakan helm dan atribut lengkap, tidak bolos, dan mengikuti aturan sekolah—semua itu adalah bentuk kedisiplinan yang harus kita jaga.

Disiplin bukan untuk membuat kita terbebani, tapi untuk melatih kita jadi pribadi yang bertanggung jawab. Karena sesungguhnya, orang sukses bukan hanya mereka yang pintar, tapi mereka yang konsisten dan berkomitmen menjalani proses.

Pesan untuk Teman-Teman

“Percaya diri, karakter yang baik, dan kedisiplinan adalah tiga pilar kekuatan diri.”
Tiga hal ini saling melengkapi dan membawa kita menuju kesuksesan yang sejati.

Jangan takut gagal. Gagal itu bagian dari belajar.
Jangan menunda perubahan. Berubah sekarang, demi masa depanmu sendiri.
Jadilah versi terbaik dari dirimu. Kamu bisa dan harus bisa.

Sekian yang bisa saya sampaikan. Semoga narasi singkat ini bisa memotivasi kita semua untuk terus tumbuh menjadi pelajar yang hebat, berani, dan berkarakter.

Om shanti shanti shanti om.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Salam sejahtera, namo budaya, rahayu.
SMK Bisa, SMK Hebat, Giri Pendawa Luar Biasa!(Indah Lestari)

Bio Data:

Nama : Ni Putu Ayu Indah Lestari

Nama Panggilan : Indah 

sAlamat : Br. Dinas Geriana Kangin,Desa Duda Utara, Kec Selat, Kabupaten Karangasem 

Tempat, Tanggal Lahir : Geriana Kangin, 27 Januari 2009

Agama : Hindu 

Hoby : Memasak

Cita - cita : kedepanya saya ingin menjadi orang yang sukses

"I hope to become the best version of myself”

JEJAK LANGKAH SEORANG PEMBELAJAR (CERITA DARI GARDA PENDAWA)

(Oleh: Ni Luh Buncing Putri Kembar – XI Perhotelan 1)

Di balik seragam sekolah dan aktivitas harian sebagai pelajar, aku menyimpan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Aku adalah Putri, seorang siswi biasa yang percaya bahwa belajar bukan hanya tentang nilai atau pelajaran di kelas, tapi juga tentang bagaimana memahami kehidupan itu sendiri.

Dari organisasi OSIS hingga pengalaman menjadi perangkat kelas, aku mulai menyadari satu hal: bahwa setiap kegiatan adalah ruang belajar, setiap tantangan adalah guru, dan setiap kegagalan adalah pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.

Aku gemar membaca. Tapi bukan sekadar untuk menuntaskan bab demi bab, melainkan untuk menyelami isi dan makna. Buku-buku seperti "Masih Belajar", stoikisme, hingga public speaking, membawaku memahami bahwa karakter seseorang dibentuk bukan hanya dari apa yang ia ketahui, tetapi dari apa yang ia lakukan setelah tahu.

Aku belajar dari mendengar, dari menulis kembali apa yang telah kupahami, dari berbicara di depan orang banyak, dari bersikap dalam berbagai situasi, dan yang paling penting—dari memperbaiki diri sendiri.

Di era digital ini, aku menjadikan internet bukan sekadar hiburan, tetapi sumber informasi dan inspirasi. Dari TikTok, aku menemukan potongan-potongan hikmah yang seringkali datang tepat ketika aku hampir menyerah. Seperti kutipan yang berbunyi:

“Aku gagal—aku belajar. Apa yang memang untukku tak akan pernah pergi dariku.”

Atau, dalam ajaran Hindu yang menyentuh hati:

“Kebetulan hanyalah nama lain dari sesuatu yang belum kita pahami.”

Hal-hal seperti ini membuatku sadar: bahwa hidup bukan sekadar tentang pencapaian, tapi tentang proses. Bahwa menjadi bahagia bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil dari menjalani hidup dengan benar, jujur, dan tulus.


Menjadi Cerdas Bukan Sekadar Pintar

Dalam perjalanan ini, aku belajar membedakan antara pintar dan cerdas.

Pintar itu tahu banyak,
Cerdas itu tahu kapan dan bagaimana menggunakan pengetahuan itu.

Orang pintar bisa unggul sendiri, tapi orang cerdas bermanfaat bagi orang lain. Mereka bertanya bukan karena tak tahu, tapi karena ingin lebih paham. Mereka belajar sedikit tapi konsisten. Dan mereka tahu bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.


Refleksi dan Pesan untuk Teman-Teman

Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang terus bertahan.
Kita bisa peduli tanpa mengontrol, percaya tanpa bergantung, dan bermimpi tanpa melupakan kenyataan.
Belajar, ya. Tapi jangan meniru. Temukan versi terbaik dari dirimu sendiri.

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk bangkit, memperbaiki diri, dan menebar kebaikan sekecil apa pun bentuknya. Bahkan sekadar senyum, sapaan, atau membantu teman bisa menjadi berkah besar.

Jika hari ini kamu sedang bingung arah, atau hampir menyerah, ingatlah:

Belajar butuh waktu, dan kamu sedang berkembang.
Kesalahan adalah bagian dari proses. Jangan takut untuk jatuh, karena kamu bisa bangkit lebih kuat.

 

Penutup

Aku menulis ini bukan karena aku sudah sempurna. Tapi justru karena aku masih belajar—dan akan terus belajar. Semoga tulisan ini bisa menjadi teman seperjalanan bagi siapa pun yang sedang berproses, yang sedang mencari makna, atau yang hanya butuh diingatkan bahwa mereka tidak sendiri.

Mari bertumbuh bersama di Garda Pendawa.
Karena masa muda terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk menggulir layar.
Mari jadi pelajar yang bukan hanya cerdas di kepala, tapi juga kuat di hati.

Om shanti shanti shanti om.
Rahayu.
SMK Bisa, SMK Hebat, Giri Pendawa Luar Biasa.

Aneka aktivitas Putri



Siswa Kelas XI PH1 SMK Giri Pendawa Tampilkan Drama Kisah Legenda Gunung Rinjani

Jumat, 26 September 2025 – Suasana berbeda tampak di SMK Giri Pendawa pagi ini. Siswa-siswi kelas XI PH1 mendapatkan tugas literasi yang unik, yaitu dengan menampilkan sebuah drama sebabak berjudul Legenda Gunung Rinjani. Pementasan ini dibawakan dengan apik oleh para siswa, di bawah bimbingan wali kelas, I Wayan Gede Suarnata, S.Pd.

Yang menarik, drama ini dipandu oleh dua narator dengan suara merdu dan artikulasi yang jelas, yakni Ni Luh Buncing Putri Kembar dan I Made Juli Pradnyana. Keduanya berhasil membawa alur cerita dengan lancar dan menarik, terlebih dengan iringan instrumental musik Bali yang memperkuat suasana magis pementasan.

Penonton pun tampak antusias. Beberapa kali terdengar teriakan histeris saat adegan romantis antara Tuan Datu dan permaisurinya ditampilkan. Tepuk tangan meriah juga menggema saat tiap babak cerita berakhir.

Namun demikian, menurut Wali Kelas Suarnata, pementasan ini masih memiliki beberapa catatan penting. "Para pemain memang belum maksimal dalam mendubbing suara serta menyelaraskan ucapan bibir dan akting. Tapi, sebagai pemula, penampilan mereka sudah cukup bagus dan patut diapresiasi," ujarnya saat diwawancarai oleh tim Gatra Humas. Penulis naskah sekaligus sutradara pementasan ini Ni Luh Ari Namayanti merasa bersyukur dan puas dengan hasil pementasannya walaupun ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki,kedepan akan ditingkatkan lagi dengan adanya pengalaman in,ujarnya.

Sebagai penutup, narator menyampaikan poin-poin penting dari cerita yang dipentaskan. Untuk menambah semangat penonton, panitia juga mengadakan kuis seputar cerita yang telah dibawakan. Bagi penonton yang bisa menjawab dengan tepat, disediakan hadiah menarik sebagai bentuk motivasi.

Pementasan ini menjadi salah satu contoh pembelajaran literasi yang kreatif dan menyenangkan, sekaligus melatih kepercayaan diri dan kerja sama para siswa.(manixs)

Berikut sinopsis dari Legenda Gunung Rinjani.


LEGENDA GUNUNG RINJANI

 

Dahulu kala tak jauh dari pelabuhan lembah terdapat sebuah kerajaan, kerajaan ini di pimpin oleh seorang raja bernama datu tuan, di kerjaan tersebut datu tuan menghabiskan waktunya bersama sang permasyuri yang bernama dewi mas. Putri

Dewi mas: datu tuan, marilah minum teh bersama selagi hangat. Putri

Datu tuan: ohh, ya dewi mas (duduk meminum teh). Juli

Dewi mas: suamiku kau nampak murung belakangan ini kalau boleh tau sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu? Putri

Datu tuan: dewi ini sungguh berat bagiku untuk mengatakannya padamu. Juli

Dewi mas: katakan saja datu tuan, siapa tau aku bisa mengurangi beban pikiranmu. Putri

Datu tuan: sebelumnya aku minta maaf dewi mas, seperti yang kau ketahui kita telah lama berumah tangga namun tak juga di beri anak, sementara aku kian tua kita perlu penerus untuk membawakan kerajaan ini agar tetap makmur, oleh karena itu aku meminta ijinmu supaya aku diperbolehkan menikah lagi untuk memperoleh keturunan. Juli

Dewi mas: sungguh keputusan yang berat, namun jika demi kerajaan ini aku harus ikhlas atas keputusan yang diambil olehmu selaku raja, tentunya engkau telah memikirkan ini matang – matang aku harus mendukungnya. Putri

Datu tuan: terimakasih dewi mas, aku akan tetap memperhatikanmu dan sayangku padamu tak akan berubah. Juli

Dewi mas: baiklah datu tuan. Putri

 Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya datu tuan melangsungkan pernikahannya, datu tuan memperistri seorang putri dari pati haur yang bernama sunggar tutul. Hari demi hari mereka lalui bersama, lambat laun perhatian datu tuan kepada dewi mas semakin berkurang. Sekali pun perhatian datu tuan semakin tersurah kepada sunggar tutul namun dewi mas tetap bersikap sabar ia mendoakan suaminya dan semuanya agar tetap sejahtera.  Putri

Di pagi hari, hingga sebuah kabar mengejutkan terjadi dewi mas tiba – tiba dikabarkan hamil, dewi mas tentu merasa senang karena penantianya selama ini telah terwujud akan tetapi tidak semuanya merasa senang mendengar kabar kehamilan dewi mas. Juli

Sunggar tutul: uhhh, ini tidak bisa dibiarkan perhatian raja hanyalah untukku seorang. Putri

(sunggar tutul segera menemui datu tuan) Juli

Sunggar tutul: datu tuan, tidakah kau merasa janggal, dewi mas tiba – tiba hamil tentunya ini bukan berita bagus untuk disebarkan kepada rakyat. Putri

 

 Datu tuan: hmmm, ada benarnya juga perkataan mu sunggar tutul. Putri

(datu tuan terhasut oleh perkataan sunggar tutul, ia pun menghampiri dewi mas) Putri

Datu tuan: pergi kau dewi mas. Juli

(dewi mas pun keluar dari istana, dewi mas diasingkan disebuah gili atau pulau di antar oleh penggiringnya, dewi mas merasa sedih ditinggal disebuah pulau kecil yang tak berpenghuni di pulau tersebut dewi mas mencoba bertahan hidup hanya dengan memanfaatkan tanaman sayur yang ada. Hari terus berlalu hingga pada suatu ketika sebuah kapal berlabuh digili tersebut nahkoda dan awak kapal tersebut pun turun ia pun kaget bertemu dengan dewi mas) Putri

Nahkoda: aku tak menyangka ada orang di pulau ini, terlebih dia adalah seorang wanita hamil. Juli

Dewi mas: namaku dewi mas tuan nahkoda aku telah beberapa hari tinggal disini. Putri

Nahkoda: sebenarnya apa yang membuatmu bisa sampai di tempat asing seperti ini? Juli

(dewi mas pun menceritakan kejadianya) Putri

Nahkoda: sungguh malang nasibmu, aku turut prihatin, aku akan membantumu ke pulau bali kebetulan aku sedang menuju kesana. Juli

(akhirnya nahkoda menghantarkan dewi mas untuk keluar dari pulau tersebut menuju kebali, di bali dewi mas tinggal disebuah gubuk hingga datanglah masa kelahiran dewi mas, dewi mas melahirkan bayi kembar laki – laki dan perempuan, hari demi hari anak – anak dari dewi mas tumbuh besar anak laki – laki tersebut dinamakan raden nuna putra janjak, sedangkan yang perempuan namanya dewi rinjani) Putri

Raden: ibu bolehkah aku bertanya suatu hal? Juli

Dewi mas: tentu saja anakku apakah yang hendak kau tanyakan?  Putri

Raden: sebenarnya siapakah ayahku itu? aku dan dewi rinjani terlahir tanpa ayah. Juli

(dewi mas terkejut, dewi mas lalu menceritakan semua kisahnya kepada putranya tersebut)

Raden: (tidak percaya dan marah) tidak bisa dibiarkan ibu berhak mendapatkan kebahagiaan aku harus menemui ayah. Juli

Dewi mas: tenangkanlah dirimu nak. Putri

Raden: ibu, ijinkan aku untuk menemui ayah. Juli

Dewi mas: ibu merestui kepergianmu nak, pesan ibu berhati – hatilah selama perjalanan, jaga sikapmu.  Putri

(raden nuna berjalan dan mencari pusat kerajaan datu tuan, hingga dia tiba dikerajaan datu tuan) Putri

Raden: permisi pengawal aku hendak bertemu dengan baginda raja. Juli

Pengawal: siapa kau apa urusanmu bertemu dengan baginda raja? Juli

Raden: mohon maaf tuanku aku belum bisa mengatakannya hingga aku bertemu dengan datu tuan.  Juli

Pengawal: sombong sekali kau, raja tidak bisa ditemui semaumu, sebelum kau menemui raja kau harus melawanku dan pengawal lainnya. Juli

(pertarungan raden dengan pengawal berlangsung, pengawal kerajaan berhasil dikalahkan raden nuna,,,,,,,, pertempuran itu pun didengar oleh datu tuan ia segera turun tangan untuk mengatasi keributan  tersebut, hendak melawan raden nuna, tiba – tiba terdengar suara “ datu tuan,,, datu tuan” ) Putri

 Datu tuan: siapa itu siapa disana keluarlah!!!. Juli

 “ hentikan langkahmu janganlah bertarung dengan anakmu sendiri” Putri

Datu tuan: anakku? Anaku…. Jangan – jangan kau siapakah namamu anak muda? Siapakah ibumu? Putri

Raden: perkenalkan nama hamba adalah raden nuna putra janjak, putra dari seorang ibu yang bernama dewi mas. Juli

Datu tuan: ohhh,, anakku maafkan ayahmu yang tak mengenalmu, dimanakah ibumu apakah ia baik – baik saja? Juli

Raden: beliau baik – baik saja ayah. Juli

(akhrinya datu tuan pun menjemput istrinya dewi mas untuk kembali ke istana, sekembalinya ke istana dewi mas tidak menaruh dendam pada sunggar tutul, mereka hidup damai) Putri

(suatu hari datu tuan, mengajak dewi rinjani ke gunung, rinjani terpukau melihat keindahan gunung tersebut, rinjani pun ingin tinggal di gunung tersebut) Putri

Rinjani: ayah bolehkah aku tinggal disini? Aku ingin mengenal gunung ini lebih jauh. Putri

Datu tuan: boleh saja anakku, tapi apakah kamu bisa bertahan hidup disini sendirian? Juli

Rinjani: tenang saja ayahku, aku bisa jaga diri dengan baik.  Putri

(datu tuan meninggalkan rinjani digunung tersebut, berhari – hari rinjani bertapa digunung tersebut dengan sungguh – sungguh dan khusyuk dalam berdoa, dia memohon kepada sang kuasa agar diberikan ketentraman dan kesejahteraan untuk semua rakyat kerajaannya, ternyata para jin mengetahui kekhusyukan doa rinjani, maka ia pun diangkat sebagai ratu oleh para jin dan terus tinggal digunung tersebut gunung itu kini biasanya di kenal sebagai gunung rinjani) Putri

-TAMAT-

 

PESAN MORAL:

·       Kepercayaan

·       Kesetiaan

·       Menghormati alam dan memahami bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga limgkungan.

PERTANYAAN:

·       Siapakah nama anak dari datu tuan dan dewi mas?

·       Pesan  moral dari cerita legenda gunung rinjani?

·       Siapa nama istri kedua dari datu tuan?

·       Apa judul dari cerita drama ini?

·       Hadiah utama: sebutkan nama nama tokoh yang ada dicerita legenda gunung rinjani?


Pemeran legenda gunung rinjani:

I ketut restiawan:datu tuan

Ni ketut sutrisna: dewi mas

Ni putu lestari: sunggar tutul

Ni luh pebriani: dewi rinjani

I komang juniarta: raden nuna putra janjak

I gede eka agus andika prawidya, i putu agus saputra darma wiguna , i putu agus pradana, i komang aditia, i gede padmayasa, i gede murtiyasa: pasukan

I wayan agus tisna: awak kapal

I gede mariana: nahkoda

Narator Putri dan Juli,Penggalan kisah Gunung Renjani

acting pemain cukup baik

 antusias penonton

 Pemberian hadiah bagi yang menjawab benar













Minggu, 14 September 2025

“Yadnya Hebat, Tapi Prilaku Sekarat”

Bencana alam — itulah kata yang tergesa-gesa keluar dari mulut manusia setiap kali alam murka. Seolah-olah “alam” yang bersalah, bukan kita pelakunya. Seperti kejadian banjir bandang yang belum lama ini menghantam Denpasar,Badung dan seantero jagat Bali . Tukad Badung, yang selama ini mengalir tenang,sejuk membawa keindahan di bawah pura dan jembatan, tak kuat lagi menampung luapan air bercampur limbah dan sampah yang kita lempar seenaknya sebagai prilaku yang sekarat terhadap semesta.

Padahal Bali bukan sembarang tempat tanpa harmoni kesucian. Di sini, di tanah Bali tiap hari asap dupa membumbung, canang berjejer rapi, dan suara kidung suci menggema. Kita punya Panca Yadnya, lima bentuk pengabdian suci untuk membayar utang atau rna— kepada dewa, leluhur atau pitra, Rsi atau para guru, sesama manusia, dan alam semesta. Lengkap dan sakral. Tapi toh, kenapa saat Hari Raya Pagerwesi, 10 September 2025, justru air bah menyapu tanah suci ini?

Apakah para Dewa sedang marah? Mungkin.
Bhuta kala ngamuk? Bisa jadi.
Tapi bukankah yadnya di Bali nyaris tak pernah absen? Iya memang,Yadnya kita hebat,tapi prilaku manusia mulai sekarat.

Konon, kita juga punya konsep Tri Hita Karana. Tiga harmoni suci — dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Tapi mungkin, kita terlalu fokus pada dua yang pertama, lalu lupa yang ketiga — hubungan dengan alam. Karena, bagaimana bisa bicara "harmoni dengan alam" jika sampah kita buang sembarangan, got kita penuhi, sungai kita rusak, dan tanah kita tindih beton?

Lihatlah yang terjadi setelah TPA Suwung ditutup. Gubernur bilang: “Sampahmu, tanggung jawabmu.” Katanya zero waste from the source. Bagus sih... di atas kertas. Tapi rakyat kebingungan. Solusi seperti teba modern masih jauh panggang dari api. Akhirnya apa? Sampah dibuang sembunyi-sembunyi ke selokan, ke got, ke sungai. Malam hari jadi pesta buang limbah.

Akhurnya air mulai membasahi tanah tanggal 7. Menggenangi pada tanggal 8. Mengalir deras di tanggal 9. Dan pada tanggal 10 — blar blar blar! — banjir bandang menerjang. Bersama itu, semua sampah yang kita buang diam-diam akhirnya datang menagih dan membalas prilaku kita yang sekarat terhadap alam.

Sungai Badung berubah jadi monster. Pasar Badung porak-poranda. Tukad Korea yang dulu fotogenik sekarang jadi kolam murka. Pura Niang Sakti yang penuh misteri, tersapu bersih. Jembatan penghubung dua pasar kini dihiasi... tas kresek warna-warni. Cantik? Menakutkan!

Tangis pedagang pecah. Harta yang dikumpulkan bertahun tahun dalam sekejap lenyap dibawa banjir, dagangan yang masih tersisa ditelan mentah oleh ganasnya air bah, harapan — hilang dalam hitungan menit. Tapi mungkin, ini bukan hanya soal curah hujan. Ini tentang ego kita. Tentang kerakusan yang dibungkus kain putih. Tentang upacara yang mewah meriah, tapi perilaku yang jahat terhadap alam.

Lalu siapa yang salah?
Alam? Tidak.
Tuhan? Apalagi.
Manusia? Ya... manusia.

Manusia yang merasa suci karena rajin sembahyang, tapi sambil meracuni tanahnya sendiri. Manusia yang merasa hebat karena punya kekuasaan, tapi lupa bahwa air tidak bisa dilawan dengan jabatan. Manusia yang tersenyum saat membangun vila di pinggir sungai, lalu heran ketika air datang menjebol vila dan bangunan rumahnya sendiri.

Kita tahu di Bali, karma phala masih berlaku. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Yadnya sebesar apapun tak akan bisa menipu alam jika kita memperlakukan bumi seperti tempat sampah. Percuma mengadakan pemujaan yang besar di gunung gunung kalau kita biarkan plastik menutupi akarnya.

Bukan berarti kita berhenti berdoa. Tapi mulailah juga mendengar doa dari alam. Sebab mungkin... air bah itu bukan kutukan. Tapi sebuah peringatan.“Kalau alam sudah bicara, tak ada tempat lagi untuk berdebat.” seperti sungai yang lagi menggungat berikut ini.......

"Dari Perut Sungai yang Menggugat"

Air datang bukan sekadar tamu,
ia meraung, meraung—menggugat langit biru!
Bukan salah hujan, bukan salah awan,
ini jerit bumi yang kau campakkan pelan-pelan.

Lihat!
Sungai mengamuk seperti naga dibakar dendam,
menggulung rumah, merobek jalan, menelan malam.
Hutan ditebang tanpa pamit,
lalu kau bertanya: kenapa tanah tak sanggup menyerap sakit?

Ini bukan bencana alam, ini bencana kerna ulahmu!
Kau congkel gunung, kau tikam akar, kau himpit jalannya,kau bodohi air yang dulu bersamamu.
Lalu saat ia membanjir dan menggila,
kau pura-pura suci, memohon doa, menyalahkan cuaca?

Air bah bukan kutukan,
ia hanya balasan dari keserakahan.
Banjir bandang bukan keajaiban,
ia adalah hasil rencana tanpa pertimbangan!

Sudah cukup isak tangis di balik reruntuhan,
sudah cukup jasad dibungkus lumpur dan kenangan.
Kalau masih kau anggap alam bisa terus kau akali,
ingatlah: air bisa diam seribu hari, lalu menenggelamkanmu sekali!

(manixs,medio 11-09-2025)