Bencana alam — itulah kata yang tergesa-gesa
keluar dari mulut manusia setiap kali alam murka. Seolah-olah “alam” yang
bersalah, bukan kita pelakunya. Seperti kejadian banjir bandang yang belum lama
ini menghantam Denpasar,Badung dan seantero jagat Bali . Tukad Badung, yang
selama ini mengalir tenang,sejuk membawa keindahan di bawah pura dan jembatan,
tak kuat lagi menampung luapan air bercampur limbah dan sampah yang kita lempar
seenaknya sebagai prilaku yang sekarat terhadap semesta.
Padahal
Bali bukan sembarang tempat tanpa harmoni kesucian. Di sini, di tanah Bali tiap
hari asap dupa membumbung, canang berjejer rapi, dan suara kidung suci
menggema. Kita punya Panca Yadnya, lima bentuk pengabdian suci untuk
membayar utang atau rna— kepada dewa, leluhur atau pitra, Rsi atau para guru,
sesama manusia, dan alam semesta. Lengkap dan sakral.
Tapi toh, kenapa saat Hari Raya Pagerwesi, 10 September 2025, justru air bah
menyapu tanah suci ini?
Konon,
kita juga punya konsep Tri Hita Karana. Tiga harmoni suci — dengan Tuhan
(Parhyangan), dengan sesama (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan). Tapi
mungkin, kita terlalu fokus pada dua yang pertama, lalu lupa yang ketiga —
hubungan dengan alam. Karena, bagaimana bisa bicara "harmoni dengan
alam" jika sampah kita buang sembarangan, got kita penuhi, sungai kita
rusak, dan tanah kita tindih beton?
Lihatlah
yang terjadi setelah TPA Suwung ditutup. Gubernur
bilang: “Sampahmu, tanggung jawabmu.” Katanya zero waste from the source.
Bagus sih... di atas kertas. Tapi rakyat kebingungan. Solusi seperti teba modern masih jauh
panggang dari api. Akhirnya apa? Sampah dibuang sembunyi-sembunyi ke selokan,
ke got, ke sungai. Malam hari jadi pesta buang
limbah.
Akhurnya air mulai membasahi tanah tanggal 7.
Menggenangi pada tanggal 8. Mengalir deras di tanggal 9. Dan pada tanggal 10 — blar
blar blar! — banjir bandang menerjang. Bersama itu, semua sampah yang kita
buang diam-diam akhirnya datang menagih dan membalas prilaku kita yang sekarat
terhadap alam.
Sungai Badung berubah jadi monster. Pasar Badung
porak-poranda. Tukad Korea yang dulu fotogenik sekarang jadi kolam murka. Pura
Niang Sakti yang penuh misteri, tersapu bersih. Jembatan penghubung dua pasar
kini dihiasi... tas kresek warna-warni. Cantik? Menakutkan!
Tangis pedagang pecah. Harta yang dikumpulkan
bertahun tahun dalam sekejap lenyap dibawa banjir, dagangan yang masih tersisa
ditelan mentah oleh ganasnya air bah, harapan — hilang dalam hitungan menit. Tapi
mungkin, ini bukan hanya soal curah hujan. Ini tentang ego kita.
Tentang kerakusan yang dibungkus kain putih. Tentang
upacara yang mewah meriah, tapi perilaku yang jahat terhadap alam.
Manusia
yang merasa suci karena rajin sembahyang, tapi sambil meracuni tanahnya
sendiri. Manusia yang merasa hebat karena punya kekuasaan, tapi lupa bahwa air
tidak bisa dilawan dengan jabatan. Manusia yang tersenyum saat membangun vila
di pinggir sungai, lalu heran ketika air datang menjebol vila dan bangunan
rumahnya sendiri.
Kita tahu
di Bali, karma phala masih berlaku. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.
Yadnya sebesar apapun tak akan bisa menipu alam jika kita memperlakukan bumi
seperti tempat sampah. Percuma mengadakan pemujaan yang besar di gunung gunung kalau
kita biarkan plastik menutupi akarnya.
Bukan berarti kita berhenti berdoa. Tapi mulailah
juga mendengar doa dari alam. Sebab mungkin... air bah itu bukan kutukan. Tapi
sebuah peringatan.“Kalau alam sudah bicara, tak ada tempat lagi untuk
berdebat.” seperti sungai yang lagi menggungat berikut ini.......
"Dari Perut Sungai yang Menggugat"
Air datang bukan sekadar tamu,
ia meraung, meraung—menggugat langit biru!
Bukan salah hujan, bukan
salah awan,
ini jerit bumi yang kau campakkan pelan-pelan.
Lihat!
Sungai mengamuk seperti naga dibakar dendam,
menggulung rumah, merobek jalan, menelan malam.
Hutan ditebang tanpa pamit,
lalu kau bertanya: kenapa tanah tak sanggup menyerap sakit?
Ini bukan
bencana alam, ini bencana kerna ulahmu!
Kau congkel gunung, kau tikam akar, kau himpit jalannya,kau bodohi air yang
dulu bersamamu.
Lalu saat ia membanjir dan menggila,
kau pura-pura suci, memohon doa, menyalahkan cuaca?
Air bah
bukan kutukan,
ia hanya balasan dari keserakahan.
Banjir bandang bukan keajaiban,
ia adalah hasil rencana tanpa pertimbangan!
Sudah cukup isak tangis di balik reruntuhan,
sudah cukup jasad dibungkus lumpur dan kenangan.
Kalau masih kau anggap alam bisa terus kau akali,
ingatlah: air bisa diam seribu hari, lalu menenggelamkanmu sekali!
(manixs,medio 11-09-2025)

Semua itu hanya teguran , bukan hukuman
BalasHapus