Senin, 26 Januari 2026

Menjaga Kesucian Tak Cukup Hanya dengan Upacara

Pelaksanaan Upacara Ngusaba Pitra di Pura Dalem Puri Besakih diawaali dengan pecaruan pada tilem  kepitu 18 Januari dan puncaknya pada kajeng nemonin tanggal ganjil(7) sasih kawolu yakni 25 Januari 2026 dan mesineb 26 Januari 2026. pemedek sudah ramai h-2 pecaruan dan membludaknya pada h-2 dan -1 puncak upacara bahkan sempat macet sampai di wilayah Nongan,ramainya pemedek tahun ini karena pengaruh media sosial juga, sehingga umat mengetahui pentingnya upacara ini terhadap leluhur,sebelum ini belum begitu tersosialisasikan,ujar Gst Aji Mk. Adnyana salah seorang tokoh di Besakih,beliau kembali mengingatkan bahwa menjaga kesucian kawasan suci tidak cukup hanya dengan kemegahan upacara dan ramainya seremonial. Kesucian juga menuntut tanggung jawab nyata dalam wujud kepedulian terhadap lingkungan.

Kesadaran inilah yang ditunjukkan keluarga besar SMK Giri Pendawa melalui kegiatan kerja bakti mereresik di kawasan Pura Besakih dan sekitarnya, bekerja sama dengan Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Besakih. Di tengah sorotan publik terhadap pengelolaan kawasan suci yang kerap diwarnai persoalan sampah dan ketertiban, kehadiran para pendidik dan pelajar ini menjadi catatan penting.

Sekretaris Badan Pengelola Kawasan Suci Pura Besakih, I Wayan Mastra, menegaskan bahwa menjaga Pura Besakih tidak bisa dibebankan pada satu lembaga saja. “Kami tidak mampu menjaga kawasan ini sendirian. Partisipasi semua pihak mutlak diperlukan, terutama generasi muda,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kesucian niskala tanpa kebersihan sekala hanya akan menjadi simbol kosong, terlebih Besakih juga merupakan destinasi wisata dunia.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terselubung terhadap pola keberagamaan umat saat ini yang cenderung menitikberatkan pada ritual, namun abai pada makna dan implementasi nilai-nilai dasarnya. Tri Hita Karana kerap dikumandangkan, tetapi belum sepenuhnya dihidupi.

Hal ini diamini oleh Putri, salah satu pelajar SMK Giri Pendawa. Menurutnya, kerja bakti bukan sekadar membersihkan sampah, tetapi sarana ngaturang ayah sebagai wujud sraddha bhakti kepada Hyang Widhi. “Kalau kita bicara cinta lingkungan, seharusnya dimulai dari tindakan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, bukan baru sibuk saling menyalahkan saat banjir datang,” ujarnya.

Ia menyoroti realitas sosial umat Hindu dewasa ini yang dinilai belum seimbang dalam menerapkan Tri Hita Karana. Pada aspek parhyangan, upacara berjalan megah. Namun pada aspek pawongan, ruang publik—termasuk media sosial—justru sering dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan saling menjatuhkan. Sementara pada aspek palemahan, kesadaran menjaga lingkungan masih rendah dan reaktif, bukan preventif.

Kegiatan kerja bakti ini menjadi pengingat keras bahwa spiritualitas tanpa etika sosial dan kepedulian lingkungan hanya akan melahirkan kemunafikan religius. Generasi muda perlu dibiasakan tidak hanya “hadir” dalam upacara, tetapi juga “hadir” dalam menjaga harmoni alam dan sesama.

Jika tidak, Tri Hita Karana akan terus berhenti sebagai slogan, bukan jalan hidup menuju hita-hita yang sejati,pungkas Putri. (manixs)

Putri (paling kiri)bersama temannya menunggu pelaksanaan kegiatan

Ngayah di sekitar pura

Mereresik di besmen/parkir

Mendengarkan arahan panitia

Nyoman Pande Setiawan(suara) memimpin rombongan di zona Pura Penataran Agung Besakih



Tidak ada komentar:

Posting Komentar