Agus, siswa kelas XII Perhotelan SMK Nusantara, kembali duduk tertunduk di depan meja wali kelasnya. Namanya sudah terlalu sering muncul di daftar panggilan. Tercatat tiga puluh tiga kali ia belum melunasi SPP, uang PKL, uang ujian akhir, dan UKK. Surat panggilan untuk orang tuanya sudah berkali-kali dikirim, namun tak satu pun berbalas kehadiran.
“Besok, Pak,”
jawab Agus lirih setiap kali ditanya. Jawaban yang sama, berulang, tanpa
kepastian.
Akhirnya, wali kelas menyerahkan kasus itu kepada WakA Kesiswaan, Pak Suci.
Agus dibina, dinasihati, namun tetap tak ada
penyelesaian. Masalah itu pun berlanjut ke meja Wakasek Humas, Pak Manik.
Di ruang humas yang sunyi, Pak Manik menatap Agus lekat-lekat. Dengan suara
pelan dan mata yang tak berani menatap, Agus akhirnya mengaku. Uang sebesar 1,2
juta rupiah yang diberikan ayahnya ia katakan hilang. Uang berikutnya dipakai
untuk memodifikasi motor, dan sebagian lagi habis untuk judi online.
Pak Manik dan Pak
Suci terdiam. Kaget, kecewa, sekaligus sedih.
Orang tua Agus pun dipanggil. Ibunya, sebut saja
Nyoman, datang bersama keponakannya. Baru duduk, air matanya sudah jatuh tak
tertahan. Suaranya bergetar saat bercerita.
“Saya sudah
berusaha, Pak… setiap bulan SPP kami bayar. Saya jualan canang, kerja serabutan, apa saja saya
lakukan. Saya tidur paling satu jam sehari demi
anak-anak saya. Adiknya masih SMP…”
Ia terisak.
Suaminya sudah enam bulan tidak bekerja. Kakinya dioperasi akibat kecelakaan. Semua tabungan habis. Namun Agus tak
memahami keadaan itu. Bangun siang, tak pernah membantu, sore hari baru pulang
dari kongko-kongko.
“Hati saya hancur,
Pak,” ucapnya lirih.
Setelah diberi rincian tunggakan, Nyoman menelpon suaminya. Ia menjelaskan
semuanya. Sore itu juga, mereka berjanji akan datang.
Menjelang senja,
Pak Wayan—ayah Agus—datang ke rumah Pak Manik bersama istrinya. Ia berjalan
tertatih, bertumpu pada tongkat yang menyangga kaki kanannya yang belum pulih. Dengan suara berat, ia menceritakan bagaimana anaknya
selama tiga tahun pintar membohongi orang tua sendiri.
“Kami sangat kecewa, Pak,” katanya jujur.
Pak Manik menasehati dengan tenang, meredakan luka yang terlalu dalam untuk
sekadar dimarahi. Setelah itu, Pak Wayan menyerahkan uang sebesar Rp8.550.000,
hasil pinjaman, untuk melunasi seluruh kewajiban Agus hingga tamat.
Tangannya gemetar saat menyerahkan uang itu.
“Saya mohon, Pak,” ucapnya penuh harap,
“Setiap minggu, kalau bisa sepuluh menit saja, panggil anak saya. Pantau
dia. Bantu dia berhenti main slot. Saya ingin dia punya masa depan.”
Ia menunduk dalam-dalam.
“Saya titipkan anak saya pada guru-guru. Tolong bina dia
lebih intensif. Kalau ada biaya lain, langsung hubungi saya.”
Dengan mata
berkaca-kaca, Pak Manik mengangguk. Janji itu ia terima, bukan hanya sebagai tugas, tetapi sebagai amanah.
“Atas nama pimpinan sekolah, saya mengucapkan terima kasih atas tanggung
jawab Bapak dan Ibu sebagai orang tua Agus,” ucapnya tulus.
Dalam keterbatasan dan musibah, orang tua itu tetap berdiri tegak demi
pendidikan anaknya. Pak Manik merasa salut—dan bangga.
Senja pun benar-benar turun ketika Pak Wayan pamit. Ia dibonceng istrinya, perlahan meninggalkan halaman rumah. Di balik langkah tertatih itu, ada cinta orang tua yang tak pernah menyerah, meski berkali-kali dilukai.(manixs)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar