Pada pagi hari yang cerah di SMK Nusantara, sebuah sekolah swasta yang berdiri kokoh di tengah kota, Pak Wira berdiri di depan kelas XII PH 2 sedang menjelaskan tentang cara memasak daging entok untuk persiapan UKKS. Di tengah leretan siswa, ada seorang pemuda berwajah kurus bernama Ngada yang terus mengacungkan tangan untuk bertanya. Walaupun sering terlambat datang, Ngada memang salah satu siswa yang agam malas.
Setelah selesai mengajar, Pak Wira dipanggil ke ruang kepala sekolah. Pak Anton, kepala sekolah yang sudah menjabat selama lima tahun, duduk di belakang meja besar dengan wajah sedikit berat. "Wira, ada masalah dengan salah satu siswa kita. Ngada dari kelas XII PH 2. Ayahnya bernama Bringhas, teman baik saya dari masa muda. Mereka benar-benar tidak mampu membayar uang sekolah sejak tahun pertama, bahkan sampai sekarang akan segera lulus SMK."
Pak Wira mengerutkan kening.
"Kenapa tidak saya tahu dari awal, Pak Anton?"
"Saya kasihan, Wira. Bringhas
dulu pernah menolong saya saat kesusahan. Sekarang giliran saya membantu dia.
Tapi sekolah juga punya keuangan yang harus dijaga. Tolong setelah tamat
carikan kerja untuk Ngada agar bisa melunasi tunggakannya. Saya percaya
padamu."
Dengan rasa kasihan dan tanggung
jawab terhadap sekolah, Pak Wira langsung menghubungi temannya yang mengelola
sebuah perusahaan konstruksi kecil di pinggiran kota. Setelah beberapa hari
proses, Ngadasetelah pulang sekolah diterima sebagai karyawan magang dengan
gaji yang cukup untuk mulai melunasi hutangnya.
"Saya berjanji akan membayar
semua tunggakan sekolah saya, Pak Wira. Terima kasih banyak telah memberi saya
kesempatan," ujar Ngada dengan mata penuh harapan saat menerima surat
penerimaan kerja.
Sekitar lima bulan tamat dan
bekerja, Pak Wira mendapatkan panggilan dari perusahaan temannya. "Pak
Wira, anak buahmu Ngada mulai sering terlambat dan malas bekerja. Kadang-kadang
bahkan tidak datang tanpa kabar. Sudah kami beri teguran beberapa kali tapi
tidak ada perubahan."
Pak Wira langsung menghubungi Ngada
melalui telepon. "Ngada, perusahaan bilang kamu malas bekerja. Apa
masalahnya?"
"Saya sedang sakit, Pak Wira. Maaf ya," jawab Ngada dengan suara lesu.
"Lantas, uang untuk membayar
tunggakan sekolah yang kamu janjikan dulu ,sudah kamu bisa bayar berapa dari
gajimu?" tanya Pak Wira.
"Belum, Pak. Saya masih perlu waktu lebih lama," jawab Ngada
dengan nada tergesa-gesa sebelum memotong panggilan.
Pak Wira merasa kesal. Ia mengingat
janji Ngada yang begitu tegas dulu. Keesokan harinya, ia mencari Ngada untuk
memberikan nasihat dengan nada sedikit marah. "Kamu harus tahu, Ngada,
kerja itu bukan permainan. Sekolah sudah memberi tenggang waktu,dan saya bantu
kamu kerja dan perusahaan sudah memberi kamu kesempatan besar, jangan sampai
kamu menyia-nyiakan itu!"
Namun, kabar itu cepat sampai ke telinga
Bringhas. Tak lama
kemudian, Pak Wira menerima pesan WhatsApp yang sangat kasar: "Pak Wira,
kenapa kamu marahi anak saya? Dia sudah capek bekerja, kamu tidak tahu
kesusahan kami! Jangan sekali-kali kamu menyakitkan hati Ngada lagi!"
Pak Wira merasa kesel. Ia hanya
ingin membantu dan demi me nyelamatkan uang sekolah, tapi malah mendapat
celaan. Tak lama setelah itu, kabar datang bahwa perusahaan tempat Ngada
bekerja terbakar akibat korsleting listrik. Semua karyawan harus diberhentikan,
termasuk Ngada.
Satu tahun berlalu tanpa kabar dari Bringhas dan Ngada. SMK Nusantara tetap
berjalan dengan baik berkat kerja keras dan kekompakan para guru dan staf
lainnya. Suatu hari, seorang pegawai administrasi sekolah bernamaa Pakde
mengajukan pengunduran diri karena ingin pindah kerja.
Pak Anton kembali memanggil Pak Wira
ke ruang kerjanya. "Wira, saya ingin menawarkan posisi kosong itu kepada
Bringhas. Dia sekarang tidak bekerja dan sangat membutuhkan penghasilan. Saya
sudah bicara dengan ketua yayasan agar proses wawancara hanya sekadar bentuk
saja. Tolong beri saya pertimbangan dan dukunganmu."
Pak Wira menggeleng perlahan. "Pak Anton,
saya rasa lebih baik kita manfaatkan sisa dana sekolah untuk meningkatkan
kesejahtraan karyawan yang sudah ada,itu diintensifkan kerjanya,dan atau cari karyawan baru yang lebih memenuhi syarat.
Tugas administrasi
bisa saja digantikan oleh pegawai lain yang sudah ada. Selain itu, kita harus
menjaga profesionalisme dalam perekrutan karyawan sekolah."
Namun, Pak Anton tampaknya tidak
peduli dengan masukandan perasaan Pak Wira. Beberapa hari kemudian, proses
wawancara dilakukan dengan cara yang sudah direncanakan sebelumnya, dan
Bringhas akhirnya diterima sebagai pegawai administrasi SMK Nusantara.
Pak Wira merasa sangat kecewa. Ia telah banyak berkorban untuk mendukung kemajuan
sekolah—mulai dari mengerjakan tabloid tanpa bayaran, membantu merencanakan
kegiatan sekolah, hingga mencari solusi untuk masalah keuangan kecil-kecilan.
Namun, atasannya memilih mengutamakan hubungan pribadi daripada kepentingan
sekolah.
Tanpa berkata apa-apa, Pak Wira
hanya diam dan keluar dari ruang kepala sekolah. Perasaan terpukul membuatnya
merasa lesu dan malas untuk melakukan aktivitas sekolah seperti biasa. Hatinya
penuh dengan pertanyaan: apakah semua kerja kerasnya selama ini tidak berharga
bagi sekolah yang ia cintai?
Apakah Pak Wira akan terus tinggal di SMK Nusantara atau memutuskan untuk
mencari tempat kerja lain? Dan bagaimana kelanjutan hubungan antara Pak Wira,
Pak Anton, dan Bringhas di masa depan ? Tunggu episode berikutnya!!! (manixs)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar