Perawakannya
kekar,murah senyum,suka bercanda,namun kadang tegas dan serius ketika hal yang
dibicarakan dianggap urgen, itulah sosok pemimpin ke tiga SMK Giri Pendawa ini.
Dalam memimpin dia selalu mengedepankan rasa dan perasaan, sehingga bawahannya
tidak pernah ditegur secara langsung walaupun kadang melakukan kesalahan ,namun
dalam memori pikirannya dalam diamnya ia
merekam segala peristiwa yang terjadi, semua prilaku bawahanya ia ketahui dan kalau
terpaksa mungkin ia akan mengajak berbicara secara kekeluargaan untuk
memperbaiki kesalahan yang dibuat. Ia lebih cendrung memimpin secara kekeluarga
an dengan sadar diri sebagai orang dewasa yang bisa berfikir dewasa dengan
wiwekanya, tak pernah berbicara kasar untuk mengajak bawahannya, namun dengan
contoh ia lakukan,seperti ketika melihat di depan pintu kantor kotor penuh
sarang laba-laba,ia tidak menegur stafnya tetapi ia langsung mengambil sapu
bulu untuk membersihkan kotoran tersebut, munghkin ia berfikir,kalau orang
dewasa, pastinya sudah berfikir dewasa, maka kewajibannya pasti diingat sesuai
tupoksinya, tidak harus ditegur, diperintah seperti anak TK, namun dengan
kesadaran akan swadarma dan swadikara maka hal itu akan berjalan
dengan sendirinya. Namun namanya manusia kadang terbalik dalam menganalisa swadarma
dan swadikara, yang terjadi kadang swadikara lebih dulu daripada swadarma.
Ini penting kita renungkan bersama,kalau swadikara menjadi landasan
utama dalam bertugas maka akan menjadi jiwa-jiwa yang kerdil dan hanya
mementingkan diri sendiri,lupa bahwa lembaga ini dibangun atas dasar kebersamaan
dalam mencerdaskan anak bangsa. Tujuan mulia ini jangan sampai ternodai oleh
kepen-tingan sesaat,karena dengan melakukan swadarma dalam mewujudkan
tujuan mulia ini, maka akan berkelimpahan karma baik sebagai bekal kita pulang
nanti. Astungkara di lembaga ini secara umum sudah melaksanakan swadarma
terlebih dahulu, kemudian baru ada swadikara walaupun sesungguhnya belum
bisa sesuai dengan harapan, namun paling tidak bisa menjaga status dan prestis
dari warga sekolah.
Tumbuh
kembang karakter anak didik kita adalah cerminan keberhasilan atau kegagalan
kita dalam melaksanakan swadarma ,karena tugas utama kita adalah
mendidik anak anak kita agar menjadi insan berkarakter pelajar Pancasila ,tiada
lain mewujudkan pelajar yang terpelajar sepanjang hayat yang memiliki
kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan
enam ciri utama yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia,
berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Ini
yang mesti kita wujudkan bersama sama,kuncinya kita harus bisa saling
bersinergi,saling mengisi dan saling menghargai satu sama lain, karena ada
anekdot berbunyi “lebih baik jadi orang bodo tetapi bisa menghargai orang
lain dari pada orang pintar tetapi tidak bisa menghargai orang lain” .(manixs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar