Minggu, 24 Maret 2024

SUMARTA KEPALA SEKOLAH YANG BERAKSI NYATA

Sumarta sedang melakukan fungsi pembinaan dengan contoh nyata kepada stafnya.


Perawakannya kekar,murah senyum,suka bercanda,namun kadang tegas dan serius ketika hal yang dibicarakan dianggap urgen, itulah sosok pemimpin ke tiga SMK Giri Pendawa ini. Dalam memimpin dia selalu mengedepankan rasa dan perasaan, sehingga bawahannya tidak pernah ditegur secara langsung walaupun kadang melakukan kesalahan ,namun dalam  memori pikirannya dalam diamnya ia merekam segala peristiwa yang terjadi, semua prilaku bawahanya ia ketahui dan kalau terpaksa mungkin ia akan mengajak berbicara secara kekeluargaan untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat. Ia lebih cendrung memimpin secara kekeluarga an dengan sadar diri sebagai orang dewasa yang bisa berfikir dewasa dengan wiwekanya, tak pernah berbicara kasar untuk mengajak bawahannya, namun dengan contoh ia lakukan,seperti ketika melihat di depan pintu kantor kotor penuh sarang laba-laba,ia tidak menegur stafnya tetapi ia langsung mengambil sapu bulu untuk membersihkan kotoran tersebut, munghkin ia berfikir,kalau orang dewasa, pastinya sudah berfikir dewasa, maka kewajibannya pasti diingat sesuai tupoksinya, tidak harus ditegur, diperintah seperti anak TK, namun dengan kesadaran akan swadarma dan swadikara maka hal itu akan berjalan dengan sendirinya. Namun namanya manusia kadang terbalik dalam menganalisa swadarma dan swadikara, yang terjadi kadang swadikara lebih dulu daripada swadarma. Ini penting kita renungkan bersama,kalau swadikara menjadi landasan utama dalam bertugas maka akan menjadi jiwa-jiwa yang kerdil dan hanya mementingkan diri sendiri,lupa bahwa lembaga ini dibangun atas dasar kebersamaan dalam mencerdaskan anak bangsa. Tujuan mulia ini jangan sampai ternodai oleh kepen-tingan sesaat,karena dengan melakukan swadarma dalam mewujudkan tujuan mulia ini, maka akan berkelimpahan karma baik sebagai bekal kita pulang nanti. Astungkara di lembaga ini secara umum sudah melaksanakan swadarma terlebih dahulu, kemudian baru ada swadikara walaupun sesungguhnya belum bisa sesuai dengan harapan, namun paling tidak bisa menjaga status dan prestis dari warga sekolah.

Tumbuh kembang karakter anak didik kita adalah cerminan keberhasilan atau kegagalan kita dalam melaksanakan swadarma ,karena tugas utama kita adalah mendidik anak anak kita agar menjadi insan berkarakter pelajar Pancasila ,tiada lain mewujudkan pelajar yang terpelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Ini yang mesti kita wujudkan bersama sama,kuncinya kita harus bisa saling bersinergi,saling mengisi dan saling menghargai satu sama lain, karena ada anekdot berbunyi “lebih baik jadi orang bodo tetapi bisa menghargai orang lain dari pada orang pintar tetapi tidak bisa menghargai orang lain” .(manixs)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar