Minggu, 26 Oktober 2025

Jalan Santai Tutup Rangkaian Kegiatan Bulan Bahasa di SMK Giri Pendawa

Dalam rangka mengakhiri rangkaian kegiatan Peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda ke-97, SMK Giri Pendawa menggelar kegiatan jalan santai pada hari Senin,27 Oktober 2025. Kegiatan ini dilepas langsung oleh Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, di depan gedung sekolah.

Peserta jalan santai diikuti oleh siswa-siswi kelas X dan XI, dewan guru, para wakil kepala sekolah, ketua program studi, staf tata usaha, serta unsur yayasan Giri Pendawa.

Rute yang ditempuh dimulai dari area sekolah menuju Jalan Pura Dalem Kupa, kemudian dilanjutkan ke Segah, berbelok kiri menuju Rendang, dan di sebelah selatan pertigaan SMA, peserta diarahkan  kembali belok kiri melewati jalan menuju Taman, dan akhirnya finish di sekolah. Total jarak yang ditempuh kurang lebih 3 kilometer.

Cuaca yang teduh dengan langit cerah berawan, serta panorama pedesaan yang asri dengan pemandangan sawah dan Gunung Agung dari area Segah, menambah semangat para peserta. Keindahan alam sepanjang rute turut mengobati rasa lelah peserta selama perjalanan.

Salah satu peserta tertua, Dewa Putu Suaba, tampil penuh semangat tanpa berhenti hingga garis akhir. Saat ditemui di sela-sela perjalanan, beliau mengaku senang mengikuti kegiatan ini sambil berolahraga.

“Saya biasa berlatih jalan setiap sore di lapangan dekat rumah, sekitar dua sampai tiga kilometer. Jalan seperti ini lebih seru karena ada tanjakan dan turunan, jadi ada tantangannya. Kalau di lapangan kan datar saja, tidak seseru ini,hanya dapat cuci mata tambahannya,” ujarnya sambil bergurau.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, yang didampingi Ketua Panitia I Wayan Gede Suarnata, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini.

“Kegiatan ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga sekolah dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Ibaratnya, kita mengenang perjuangan para pemuda tempo dulu,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan pengundian hadiah utama serta hiburan di lapangan sekolah yang berlangsung meriah dan penuh kegembiraan (manixs).

Pelepasan peserta Jalan Santai oleh Kepala Sekolah di depan sekolah

Guru,staf pegawai


Veuw Gunung Agung tampak dari Desa Segah

Salah satu peserta senior Drs.Dewa Putu Suaba yang tampak bugar mengikuti jalan santai




Rabu, 22 Oktober 2025

Pembukaan Bulan Bahasa ke-97 di SMK Giri Pendawa Angkat Tema “Bahasa Indonesia Berdaulat, Indonesia Maju

Gatra Humas, 23 Oktober 2025 — Suasana semarak mewarnai halaman SMK Giri Pendawa saat acara pembukaan Bulan Bahasa ke-97 resmi dibuka pada Kamis (23/10). Dengan mengusung tema “Bahasa Indonesia Berdaulat, Indonesia Maju”, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh warga sekolah untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Acara pembukaan yang diawali dengan tari puspanjali dilanjutkan dengan laporan kegiatan oleh Ketua Panitia, I Wayan Gde Suarnata, mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan sejak dua hari sebelumnya. “Persiapan telah dimulai dua hari lalu, dan hari ini kita melaksanakan pembukaan secara resmi. Kegiatan diisi dengan berbagai lomba seperti baca puisi, pidato, deklamasi, poster, story telling, fashion show, nafkin, towel, hingga senematik. Kegiatan akan ditutup dengan jalan santai dan puncaknya pada 28 Oktober 2025, bersamaan dengan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 serta penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba,” jelasnya.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memahami makna sejarah perjuangan pemuda dan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan. “Sumpah Pemuda bukan sekadar janji, tetapi pernyataan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebuah tekad bersatu sebagai bangsa dalam tanah air dan bahasa yang satu — Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Beliau juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh panitia dan OSIS atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam menyukseskan acara ini. “Hari ini semangat itu tampak pada diri kalian. Walaupun tidak sama dengan perjuangan para pemuda dahulu, komitmen kalian dalam mewujudkan acara ini luar biasa — bekerja hingga sore, bermandikan peluh, bahkan rela mengosongkan kantong demi terselenggaranya kegiatan ini. Untuk itu, bapak sampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya,” pungkasnya.

Kemeriahan pembukaan Bulan Bahasa ini semakin terasa dengan berbagai penampilan seni dan lagu hiburan dari siswa-siswi SMK Giri Pendawa. Diharapkan, melalui kegiatan ini, semangat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda, sejalan dengan semangat persatuan yang diwariskan para pemuda 1928,apalagi UNESCO tanggal 20 November 2023 telah menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional ke sepuluh.

Redaksi Gatra Humas SMK Giri Pendawa

Dari atas kebawah : MC,Tari Penyambutan,Laporan Ketua Panitia I Wayan Gede Suarnata, Sambutan Kepala Sekolah I Komang Sumarta dan Dewan Juri Membaca Puisi I Wayan Suiji dan Ni Wayan Melina Pebriani,SS.

 

Dua peserta lomba baca puisi yang sempat terekam










Bagas Dalam Persimpangan

Oleh Wayan Suiji

 Di sebuah kota kecil yang sunyi, hidup seorang siswa SMK Nusantara bernama Bagas, kelas XII Teknik Elek-tro. Sosok yang ramah, mudah bergaul, dan cepat akrab dengan siapa saja, terutama dengan para senior di tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL) miliknya. Di semester yang sama, sang kekasih, Wati, siswi kelas Manajemen Akuntansi di sekolah yang sama, juga tengah menjalani PKL—meski di tempat berbeda.

 

Meski lokasi mereka terpisah, mereka tinggal di satu kosan, menandai hubungan yang mereka anggap sudah cukup serius. Hari-hari dilalui dengan obrolan ringan, saling berbagi cerita PKL masing-masing. Namun, satu malam, ketika Bagas tertidur lelah, Wati tanpa sengaja membaca isi pesan WhatsApp Bagas—percakapan akrab Bagas dengan salah satu senior wanita di tempat PKL-nya. Bagi Wati, itu lebih dari sekadar curhat biasa. Cemburu menguasai hati. Emosi memuncak. Tanpa banyak kata, Wati memutuskan Bagas.

 


Bagas panik. Dunia seolah runtuh. Ia yang ceria berubah menjadi muram. Semangatnya sirna, wajahnya kuyu. Ia mulai bolos PKL. Hari-hari dihabiskan di kamar, terme-nung. Orang tuanya bingung, melihat perubahan drastis anak mereka. Hingga akhirnya, tempat PKL-nya memu-tuskan untuk mengeluarkan Bagas karena tidak pernah hadir. Ayah dan ibunya mencoba mencari "orang pintar" untuk mengobatinya. Tapi nihil. Bagas tetap diam, bahkan mulai bicara sendiri.

 

Kabar itu sampai ke telinga Pak Yanto dan Pak Wija, dua guru pembimbing PKL di SMK Nusantara. Mereka segera koordinasi dengan tempat PKL Bagas. Ternyata benar, Bagas sudah dikeluarkan. Pak Wija merasa iba, ia menye-lidiki permasalahan dan berhasil bicara dengan Bagas.

 

"Aku udah nggak sama Wati, Pak. Tapi aku juga udah nggak minat PKL... bosen," ujar Bagas datar, matanya kosong menatap lantai.

 

Saat dicari ke rumahnya, Bagas bahkan sempat berkata, "Kalau begini, mending beli aja sertifikatnya, Pak. Biar cepet kelar."

 

Pak Wija tersentak. Baginya, itu bentuk penghinaan pada marwah sekolah. Tapi ia sadar, anak ini sedang goyah. Ia tahu, anak-anak seperti Bagas kerap terpapar hal instan dari media sosial. Maka, bersama Pak Yanto, mereka tak memarahinya. Justru mereka menasihati dengan penuh harap.

 

"Gas, kamu itu tinggal selangkah lagi. Kami bantu carikan tempat baru. Coba kamu renungkan semalam... bangun tahajud, minta petunjuk dari Tuhan. Besok, kasih kabar ke kami, ya. Masih ada waktu."

 

328.Gatra Humas Edisi ketiga 2025

Malam itu Bagas sendiri di kamarnya. Hening. Hanya sua-ra detik jam dan bayang-bayang kenangan yang terus berputar di pikirannya. Matanya menerawang. Entah apa yang ia pikirkan, tapi jelas sekali ada badai di dadanya.

 

Esok pagi, tak ada kabar dari Bagas.

Ponsel Pak Wija dan Pak Yanto sunyi.

Mereka menunggu. Harap-harap cemas dan terus taka da itu artinya,Bagas sudag bulat tekadnya untuk memilih jalannya sendiri dan munghkin akan melanjutkan usaha bapaknya sebagai pembuat bangunan,apalagi waktu dikunjungi kelihatan ia sedang ngukir yang merupakan keahliannya,pikir Pak Wija.

 

Diam. Pak Wija menatap langit. Ada getir di dadanya.

Satu anak lagi yang memilih jalur berbeda.

Namun, dalam hati kecilnya, ia tahu: setiap anak punya jalan masing-masing. Dan mungkin, ini jalan Bagas yang sebenarnya.

Ketika Murid Berbuat Keliru, Siapa yang Salah?

Oleh : I Wayan Suiji (Waka Humas SMK Giri Pendawa)

Ketika seorang murid berbuat keliru—berperilaku me-nyimpang, tidak sopan, malas belajar, bahkan bertindak kasar—pertanyaan yang sering muncul adalah: siapa yang salah? Apakah murid itu sendiri? Orang tua? Guru? Atau sistem pendidikan secara keseluruhan?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan satu jari me-nunjuk, karena sesungguhnya ini adalah cermin dari banyak keping yang tidak utuh dalam lingkaran besar bernama pendidikan.

Di rumah banyak orang tua merasa sudah menjalankan tugasnya karena setiap hari memberi anaknya uang jajan, membayar uang sekolah, membeli kuota, seragam, bahkan kendaraan. Tapi apakah itu cukup? Anak bukan hanya tubuh yang harus dikenyangkan, ia adalah jiwa yang harus dipeluk dan disayang.

Anak tidak hanya butuh nasi, tetapi juga butuh kasih. Ia tidak hanya butuh HP, tetapi juga butuh didengar. Sering-kali perhatian digantikan dengan materi, dan kasih sayang diukur dari seberapa mahal barang yang diberikan. Aki-batnya, banyak anak tumbuh dalam rumah yang penuh barang, tapi kosong dari kehangatan. Maka, ketika anak mencari perhatian di luar dengan cara yang “keliru”, ja-ngan langsung dicap durhaka. Mungkin ia sedang berte-riak dalam diam pada anda orang tuanya: "Lihat aku. De-ngar aku. Sayangi aku."

Di sekolah, guru pun bukan malaikat. Mereka juga manusia yang hidup dalam tekanan. Mengajar dengan gaji yang tak layak, dituntut mengikuti administrasi yang membebani, sementara di sisi lain, beban hidup kian berat. Akhirnya, banyak guru yang datang ke kelas tanpa sema-ngat, atau bahkan sering absen karena urusan pribadi yang tak bisa dielakkan.Bagaimana mungkin  guru bisa menya-lakan cahaya dalam diri murid, jika dalam dirinya sendiri nyaris padam ,redup tanpa nyala?

Dan ketika pembelajaran hanya menjadi rutinitas tanpa ruh, saat itulah kelas menjadi sunyi dari makna. Murid belajar karena takut, bukan karena cinta. Mereka patuh karena kewajiban, bukan karena rasa hormat.

Benang merah kekuatan pendidikan adalah kurikulum , kita tahu setiap pergantian menteri, kurikulum pun ikut berubah. Seolah-olah pendidikan adalah ajang eksperi-men. Teori-teori canggih dari negara maju ditiru, padahal kondisi kita berbeda jauh. Di kota mungkin teknologi mendukung, tapi di pelosok, anak kelas 10 masih terbata-bata dalam membaca.


324.Gatra Humas Edisi ketiga 2025

Apa gunanya kurikulum keren, jika murid tidak mampu mengeja namanya sendiri dengan lancar? Apa arti kecang-gihan, jika fondasi dasarnya masih rapuh?

Sementara itu, pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi malah terlupakan. Murid diajari rumus, tapi tidak diajari bagaimana menjadi manusia.

Lalu, Siapa yang Salah?

Kalau mau jujur, kita semua punya andil dalam membentuk watak atau karakter anak anak kita. Ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Tapi soal keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang berjalan pincang.

Orang tua perlu belajar kembali bahwa mencintai anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan emosional.Gengsi besar bukan menjamin ke-cerdasan anak,bukan pula menentukan kebahagiaan anak, justru mempuk kebodohan dan keegoisan karena merasa diri paling hebat,kesombongan muncul dan mulailah membuli teman temannya.Karakternya jebol,berbuat see-naknya,menganggap remeh temeh orang lain. Ketika guru memberi arahan mereka sibuk bermain game,ketika melaksanakan trening/PKL mereka dengan seenaknya menolak tugas yang diberikan oleh seniornya,mereka bilang tidak suka,bosan,malas dan pulang tanpa kabar, liar tanpa nalar,herannya orang tua membiarkan mereka bebas karena mengaku cuti dan bertukar libur. Orang tua percaya saja tanpa konfirmasi,dan ketika dikontak sekolah ,disurati dipanggil ke sekolah demi anaknya,beliau tidak juga datang dan membiarkan keangkuhan anaknya meraja lela karena didukung oleh semangnya. Ketika detik detik terakhir akan tiba,barulah berulah mengucur peluh,butuh belas kasihan untuk meluluhkan hati. Kepala sekolah bingung harus melangkah dari mana lagi,maka langkah-nya mulai dari mengingatkan guru,guru perlu diyakinkan kembali bahwa tugas mereka bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik, dan untuk itu mereka harus diberikan dukungan dan penghargaan yang lebih layak.

Pemerintah atau lembaga yang bertanggungjawab  perlu sadar bahwa pendidikan bukan soal keren-kerenan kuri-kulum, tapi soal menyentuh kehidupan nyata murid, terutama yang ada di garis terbelakang. Murid yang berbuat salah bukan semata-mata produk dari dirinya sendiri. Ia adalah hasil dari rumah yang cuek dan dingin, sekolah yang kosong dan sunyi, dan sistem yang terburu-buru menjadi pintar tanpa sempat menjadi manusia.

Jika ingin menyembuhkan keadaan ini, jangan hanya memperbaiki apa yang terlihat. Tapi masuklah ke dalam: dengarkan, rasakan, sentuh hatinya.

Karena anak yang keliru tidak butuh dimarahi dulu. Ia butuh dipahami dan dirasakan.kalau kita berbicara dengan mulut maka dampaknya hanya akan didengar saat itu dan kalau kita bisa berbicara dan memahami dengan rasa,maka hatinya akan tersentuh dan ketika itu bisa terjadi,maka karakter anak itu akan menggunakan rasa dan hati.

326.Gatra Humas Edisi ketiga 2025


Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari siapa yang peduli ,peduli akan anak-anak bangsa yang semakin hari semakin terdegradasi oleh kemajuan teknologi dan terhempas oleh moral dan karakter yang terdepak karena persaingan gengsi dan ego.

Mari bangkitkan kepedulian untuk menyayangi anak bangsa yang semakin rapuh dari peradaban nenekmoyang dan leluhur leluhur kita,yang telah mewariskan tradisi,adat budaya kita yang dibangun dengan rasa dan hati dengan keagungan dan kekuatan alam semesta.astungkara terka-bulkan (281025)


Menjaga Jati Diri Melalui Kekerabatan dan Tri Hita Karana

Oleh : Mangku Manik Puspa Yoga

Di Bali, kehidupan masyarakatnya dikenal sangat erat dengan nilai-nilai kekerabatan yang disebut soroh.           Soroh  merupakan kelompok kekerabatan yang sepadan dengan istilah marga dalam budaya Batak. Keberadaan soroh bukan hanya sekadar penanda silsilah, melainkan juga menjadi penjaga keutuhan identitas budaya melalui bahasa, makanan khas, pakaian adat, dan berbagai bentuk kesenian yang diwariskan turun-temurun.

Dalam konteks Bali, soroh bukan hanya simbol genea-logis, tetapi juga jembatan penting dalam menerapkan konsep luhur Tri Hita Karana—tiga penyebab utama kebahagiaan dan keharmonisan hidup. Tri Hita Karana menekankan pentingnya hubungan manusia dengan Tu-han (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan alam (Palemahan).

Salah satu perwujudan nyata dari nilai soroh dan Tri Hita Karana terlihat saat digelarnya hajatan atau upacara adat. Momen ini menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar, baik yang dekat maupun jauh, mempererat ikatan batin yang didasarkan bukan hanya atas hubungan darah, tetapi juga hubungan emosional yang dilandasi oleh rasa. Inilah yang membuat setiap anggota soroh merasa memiliki tanggung jawab moral satu sama lain—menegur ketika ada yang salah, dan turut bersuka saat yang lain berba-hagia.

Rasa yang muncul dari kedalaman hati itu lebih kuat dari sekadar komunikasi verbal. Bila kita berbicara dengan mulut, yang mendengar adalah telinga. Namun, bila kita berbicara dengan hati, yang mendengar adalah rasa. Dan rasa inilah yang mampu menyentuh lapisan terdalam dalam diri manusia, membangun koneksi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Dalam hidup, kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan. Namun, dari rahim yang berbeda  itulah tum-buh kesadaran bahwa persaudaraan sejati melampaui garis keturunan—ia hadir karena rasa yang murni. Rasa itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, karena manusia mampu merasakan sedih, marah, dan bahagia. Tinggal bagaimana kita mempolarisasi dan mengendalikan rasa itu agar yang muncul adalah kebahagiaan dan kedamaian.

Simbol Swastika dalam agama Hindu menggambarkan keharmonisan yang seimbang. Ke atas, melambangkan hubungan dengan Sang Pencipta; ke kanan, hubungan dengan soroh dan kerabat; ke kiri, hubungan dengan masyarakat luas dan ke bawah, hubungan dengan alam semesta. Ketika empat arah ini selaras, maka di titik tengah—diri kita sendiri—akan muncul kedamaian sejati. Kedamaian yang tidak tergantung pada suka maupun duka, sebuah kondisi batin yang disebut suka tan pa wali duka.

Dengan menjaga warisan soroh, kita sejatinya sedang merawat harmoni dalam kehidupan. Bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam. Inilah esensi kehidupan menurut nilai-nilai Hindu Bali—kesadaran akan keterikatan kita satu sama lain dalam bingkai rasa, bukan hanya sekadar darah atau genetika,tetapi yang lebih penting adalah persaudaraan berdasarkan rasa yang tumbuh dari ketulusan hati,mau dari soroh/golongan manapun,karena dari rasa itulah, kebahagiaan sejati bisa tumbuh. Astungkara.