Laporan Khusus Gatra Humas.
Selasa, 14 April 2026, halaman SMK Giri Pendawa tampak lebih ramai dari biasanya. Siang itu, sebuah agenda penting digelar: penjajakan kerja sama antara pihak sekolah dengan LPK Zenith untuk membuka jalur pelatihan dan penempatan kerja ke Jepang.
Rombongan LPK Zenith dipimpin langsung oleh sang pemilik, Gusti Lanang Muliarta. Dalam pemaparannya, Lanang menegaskan bahwa tujuan kedatangannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan langkah awal membangun sinergi konkret antar lembaga.
“Kami ingin menjalin kerja sama strategis dengan SMK Giri Pendawa dalam program pelatihan kerja ke Jepang,” ujarnya di hadapan peserta rapat.
Pertemuan itu dipimpin oleh Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, serta dihadiri jajaran yayasan, termasuk Ketua Dewan Pembina dan sejumlah pengurus. Diskusi berlangsung hangat namun terarah, menimbang peluang sekaligus tantangan dari kerja sama lintas lembaga ini.
Dalam paparannya, Lanang yang juga menjabat Kepala Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih (BPFKSPAB) menjelaskan visi LPK Zenith: meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sumber daya manusia. Jalurnya adalah membuka akses pengalaman kerja internasional, khususnya ke Jepang.
Adapun misinya mencakup pelatihan bahasa Jepang, pembekalan teknik kerja sesuai minat, hingga pengenalan budaya Jepang. Menariknya, lembaga ini juga menekankan penguatan budaya Bali sebagai fondasi spiritual bagi peserta, terutama bagi “semeton Bali” yang akan merantau.
Pendekatan sosial menjadi salah satu ciri utama program ini. Biaya pelatihan dirancang lebih terjangkau dengan skema cicilan, guna meringankan beban masyarakat. “Kami ingin layanan ini tetap inklusif,” kata Lanang.
Kerangka kerja sama yang ditawarkan cukup sistematis. Pembinaan dimulai sejak siswa masih di bangku SMK. Bahasa, budaya, dan etika kerja Jepang akan diperkenalkan sejak dini agar peserta lebih siap secara mental dan profesional. Bahkan, wacana pembentukan kelas khusus Jepang pun mengemuka sebagai nilai tambah bagi sekolah.
Tahapan awal seleksi mencakup pemeriksaan kesehatan tiga kali, dengan rincian biaya bertahap. Setelah itu, peserta mengikuti pelatihan bahasa intensif maksimal tiga bulan dalam sistem karantina. Selama masa ini, kebutuhan dasar seperti penginapan selama 3 bulan maksimal, listrik, air, hingga jatah beras 5 kg perbulan disediakan.
Untuk keberangkatan, peserta membayar uang muka sebesar Rp3 juta, sementara sisa biaya dapat diangsur hingga sepuluh kali setelah mulai bekerja di Jepang. “Jadi tidak perlu terlalu memikirkan biaya di awal,” ujar Lanang.
Dari pihak yayasan, respons yang muncul cenderung positif. Ketua Yayasan Giri Pendawa, I Ketut Sudana, menyebut kerja sama ini sebagai peluang strategis.
“Yang penting mutualisme, saling menguntungkan, dan menjadi nilai tambah bagi sekolah,” katanya.
Melalui forum yang berlangsung aklamatif, para peserta rapat menyatakan persetujuan awal terhadap rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Namun, rincian teknis akan dikaji lebih lanjut sebelum dituangkan dalam perjanjian kerja sama (PKS) yang lebih detail.
Pertemuan ditutup dengan suasana santai namun bermakna: santap siang bersama. Hidangan yang tersaji bukan sekadar konsumsi, melainkan hasil praktik siswa di restoran teaching factory sekolah—penegas bahwa pendidikan vokasi tak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga kesiapan nyata menghadapi dunia kerja.
Di tengah meningkatnya minat generasi muda untuk bekerja di luar negeri, langkah SMK Giri Pendawa ini bisa menjadi model. Pertanyaannya kini: sejauh mana kesiapan sistem pendidikan vokasi mengintegrasikan kebutuhan global tanpa kehilangan akar lokalnya?(manixs).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar