Gatra Humas,06-04-26,Upacara bendera pada Senin pagi, 6 April 2026, di SMK Giri Pendawa berlangsung tidak seperti biasanya. Tanpa kehadiran lengkap kepala sekolah dan jajaran guru, kegiatan tetap digelar atas instruksi guru piket, I Wayan Suiji. Keputusan ini membuat pengurus OSIS dan perangkat kelas kelabakan karena tidak sempat melakukan persiapan maupun latihan.
Namun, Suiji justru menekankan bahwa upacara rutin tidak semestinya bergantung pada latihan khusus. Menurutnya, kesiapan siswa adalah bentuk penghormatan terhadap jasa pahlawan bangsa. “Kalian harus selalu siap,” tegasnya di hadapan peserta upacara.
Situasi di lapangan pun menjadi cerminan yang cukup “menyentil”. Setelah barisan dirapikan, banyak siswa enggan ditunjuk untuk mengambil peran. Hal ini terlihat jelas saat penunjukan petugas, bahkan hingga pemimpin Trisandya—tidak ada yang berani maju hingga nada suara guru piket sedikit meninggi, barulah ada yang mengangkat tangan.
Masalah lain muncul ketika dilakukan pengecekan siswa yang tidak mengikuti upacara. Bersama I Gst Ngr Gde Adnyana, ditemukan sebanyak 38 siswa mengaku sakit. Jumlah ini langsung menjadi perhatian serius guru piket karena dinilai tidak wajar.
Upacara tetap berlangsung, namun kendala belum berakhir. Beberapa perangkat kelas tampak ragu bahkan takut tampil sebagai pemimpin pleton. Ketua kelas XI TB pun sempat enggan maju hingga akhirnya dipanggil langsung oleh guru piket.
Dalam amanatnya, pembina upacara Ngakan Made Ariawan memberikan apresiasi kepada OSIS yang tetap sigap menjalankan tugas. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih banyak hal yang perlu dilatih dan diperbaiki.
Ariawan menegaskan makna upacara bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap perjuangan pahlawan. Ia mengajak siswa untuk membayangkan kondisi negara yang masih dilanda konflik seperti di Timur Tengah. “Kita di Bali ini aman, harusnya kita bersyukur,” ujarnya.
Usai upacara, Suiji langsung mengumpulkan siswa yang mengaku sakit. Secara tegas, ia menyoroti terutama siswa laki-laki yang diduga berpura-pura. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan berbohong akan membentuk karakter buruk yang tidak sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
“Kalau terus dilakukan, ini bisa fatal untuk masa depanmu,” tegasnya. Ia juga meminta agar kejadian serupa tidak terulang pada minggu berikutnya. Bagi yang benar-benar sakit, ia mempersilakan untuk beristirahat di rumah.
Tak berhenti di situ, Suiji juga mengumpulkan siswa yang pernah mengikuti pelatihan bela negara di Rindam Tabanan. Mereka direncanakan menjadi garda terdepan dalam membentuk kedisiplinan siswa lainnya, sekaligus menjadi teladan dalam sikap tegas, jujur, disiplin, dan sopan.
Upacara pagi itu bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi cermin yang cukup jelas: kesiapan, kejujuran, dan keberanian generasi muda masih perlu ditempa—bukan nanti, tapi mulai sekarang.(manixs)
.jpeg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar