Hari raya Saraaswati adalah hari yang penting bagi umat hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Hari raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Ujar Koordinator Piodalan Saraswati yang sekaligus Waka Humas SMK Giri Pendawa I Wayan Suiji,lebih lanjut Suiji memaparkan apabila menelisik tentang sejarah rahina Saraswati maka tidak terlepas dari cerita Watugunung Runtuh yang dimulai saat jatuhnya wuku Watugunung dalam wariga dewasa yakni pada hari Redite Klion Watugunung,mitosnya ketika Watugunung kalah berperang disorga loka maka mayatnya jatuh kebumi pada hari itu. Permohonannya apabila jatuh di laut maka ijinkanlah cuaca panas agar tubuhnya tidak kedinginan,sebaliknya bila jatuh didarat maka akan turun hujan,begitulah mitosnya,seperti hari ini gerimis turun di hari Saraswati,mungkin juga Watugunung jatuh di darat maka mungkin juga karakter watugunung menyusupi jiwa jiwa manusia apalagi ini tahun pemilu akan kemungkinan akan terjadi berjiwa perang,mengedepankan ego,memfitnah dan menjelekan orang lain ,merasa diri paling hebat dan paling benar,serta unggul itulah karakter Watugunung,tapi akhirnya runtuh juga dan muncul pemenang yang dilindungi semesta ungkap Suiji.
Kepala SMK Giri Pendawa I Komang Sumarta,S.Pd ,M.Pd menambahkan dalam diskusi itu bahwa hari-hari pada wuku Watugunung dan wuku Sinta adalah rangkain hari penuh makna dalam menjalani kehidupan,dimulai dari hari Soma Umanis Candung atau dikenal juga dengan hari Candung Watang, ibaratnya ketika kita dilahirkan oleh ibu tercinta,betapa perjuangan beliau dalam melahirkan kita bagaikan air didaun talas,sedikit bergoyang maka air diatas daun talas itu akan jatuh,demikian juga ketika ibu melahirkan kita,sedikit saja salah maka nyawa akan melayang ibaratnya megantung bok akatih maka hargai dan hormatilah ibu kita,karena sorga ditelapak kaki ibu.
Anggara Pahing Watugunung disebut Paid-Paidan artinya ketika kita dilahirkan sebelum bisa berjalan pasti mengalami proses merangkak atau mepaid-paidan,mulai belajar dituntun orang tua,dipelihara orang tua sehingga nantinya kita bisa berdiri dan memulai kehidupan baru di semesta ini.
Buda Pon Watugunung disebut Urip Kelatas,setelah kita bisa berdiri,sedikit demi sedikit,selangkah demi langkah mulai maju berproses menjalani kehidupan,menuju masa depan sesuai usaha dan karma kita kedepannya.
Raspati Wage Watugunung disebut Penegtegan,disinilah kita mulai mengenal jati diri mulai bisa berkomunikasi dengan tetangga dan lingkungan sekitar,mulai mengenal orang lain selain keluarga menetapkan/negtegang jiwa jiwa kemanusiaan,bertumbuh sebagai manusia dengan menggunakan wiweka.
Sukra Klion disebut Pengredanaan,disini orang tua mendoakan dan membimbing bahwa kita akan dilepas untuk diberikan tanggungjawab mendidik kepada orang lain khususnya guru pengajian untuk lebih berkembang dan berkolaborasi dengan insan insan lainnya sesama manusia.
Sabtu Umanis Watugunung dikenal hari Saraswati yang artinya Tuhan menurunkan Ilmu Pengetahuan sehingga manusia dianugrahkan keistimewaan dalam Tri Premana jika dibandingkan dengan makluk lain, karena kita dikaruniai kelebihan yang berupa idep dan idep inilah yang membedakan dan dapat menguasai makluk makluk lainnya. Kalau dalam kehidupan kita sudah mulai masuk sekolah dan diajarkan pengetahuan baru oleh guru guru kita sehingga pengetahuan hidup kita semakin luas dan mulai mengenal proses kehidupan.
Minggu Pahing Wuku Sinta dikenal dengan hari Banyu Pinaweruh/Banyu Pinaruh artinya apabila kita sudah melalui proses pendidikan dan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luas, sehingga kecerdasan kita semakin mengalir seperti air (Banyu pinaruh) dengan sendirinya kita akan mempunyai posisi tertentu dalam kehidupan bermasyarakat karena punya kompetensi sehingga mudah mencari pekerjaan dan bahkan bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat banyak.
Soma Pon Sinta disebut Soma Ribek merupakan hari yang penuh berkah pada umumnya hari ini mengupacarai harta benda khususnya uang.Artinya apabila kita sudah mempunyai kompetensi bisa mengelola hidup dan kehidupan tentu akan memiliki harta yang banyak karena berkah pengetahuan itu.
Anggara Wage Sinta disebut hari Sabuh Emas mengandung makna kemuliaan,karena orang yang dianugrahi Dewi Saraswati adalah orang pilihan karena dianugrahi kemuliaan,apakah kemuliaan karena jabatan,karena kebajikan,karena kedarmawanan dan sebagainya.
Terakhir Buda Klion Sinta disebut Pagerwesi atau Pagar dari besi artinya setelah memiliki kemakmuran dan kemuliaan jagalah semua itu dengan kuat dan kokoh sebagai anugrah dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa khususnya Dewi Saraswati. Denngan demikian kehidupan kita akan berkah dan mendapatkan kemuliaan dan keberlimpahan.,Pungkas Sumarta.
Demikian penting Pilosofi pelaksanaan hari Saraswati mestinya bisa kita menyikapi dan mengimplementasikan dalam kehidupan nyata sehingga bisa membentuk karakter mulia sesuai ajaran dharma,maka kalau semua bisa melaksanakan,maka dunia akan tentram,damai sejahtra.astungkara cetus Dewa Putu Suaba Kaprodi PH mengakhiri obrolan Saraswati,karena acara persembahyangan akan dimulai yang dipandu oleh Wakasek Sarpras I Komang Wedana,S.Pd yang juga penyiar paporit Radio Srinadi Klungkung. Usai persembahyangan acara diakhiri dengan nunas boga samatra layuban babi guling. (manixs)
Obrolan Saraswati Kepala Sekolah bersama Humas dan Kaprodi PH
.jpeg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar