Belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja adalah jargon merdeka belajar yang sering terngiang dalam telinga para siswa dan guru. Jargon tersebut menjadi booming di era pembelajaran mediamorfosis ketiga. Jargon ini terdengar seperti suatu kemajuan yang revolusioner, namun perlu dipertanyakan apakah keberadaan guru masih memiliki peran yang signifikan dalam proses pendidikan? Seakan-akan “kehadiran guru tidak diperlukan lagi” karena kemajuan teknologi yang “dianggap” bisa menggantikan guru. Belajar tidak lagi terpaku pada ruang kelas dan jadwal tertentu. Dengan teknologi sebagai katalisator, siswa dapat mengakses pengetahuan di manapun mereka berada. Ini adalah bentuk kebebasan belajar yang mencerminkan semangat merdeka belajar. Namun, perlu diingat bahwa kebebasan ini bukan berarti kehilangan kehadiran dan bimbingan seorang guru.
Pendidikan
kapan pun tetap memerlukan sosok gùru yang sangat dirindukan oleh peserta didik
untuk mengejawantah peradaban karakter dan moralitas. Belajar bagian dari
mentrasfer ilmu pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu bisa dilakukan di mana
saja dan kapan saja. Akan tetapi, proses mendidik adalah menuntun umat manusia
agar menjadi selamat dunia akhirat. Masih ingatkah dengan cerita
Bangbang Ekalawya seorang siswa yang ditolak oleh guru Drona
sebagai muridnya tetapi tetap memerlukan figur guru Drona yang selalu hadir
sekalipun hanya sebatas patung Drona yang terbuat dari tanah liat. Jika kita
ilhami dan renungkan sejatinya guru harus hadir di tengah-tengah siswa jika
kita berbicara Pendidikan sebagai taksu spirit rumah karakter. Pendidikan
bagian proses memanusiakan manusia menjadi manusia yang manusiawi dan berbeda
dengan seekor binatang tidak lagi memerlukan proses pembinatangan. Kambing
dilahirkan secara otomatis menjadi kambing. Akan tetapi, manusia lahir jika di
besarkan di lingkungan harimau otomatis perilakunya menjadi harimau karena
naluri kebitangannya ditempa oleh lingkungnan binatang. Makanya guru
(guru rupaka dan guru pengajian) memiliki tugas untuk mendidik. Oleh
karena itu, tugas guru mendidik pikiran agar tidak liar dan membangun akhlak .
mengajar jauh lebih mudah dibandingkan mendidik. Guru dalam mengajar tugasnya
mentrasfer ilmu kemungkinannya bisa tergantikan oleh teknologi tetapi mendidik
adalah penguasaan pengetahuan yang disinkronkan dengan etika moralitas
keilmuan. Hanya Pendidikan yang menghasilkan peradaban ilmu sebagai
kemasklahatan umat manusia sedangkan belajar tanpa bingkai Pendidikan
menghasilkan kehancuran kemanusiaan karena ilmu. Misalnya senjata kimiawi, bom
dan senjata biologis semua itu memicu kehancuran manusia jika tidak hadir rasa
kemanusiaan. Guru adalah suatu kebutuhan karena tidak ada seorang
pun akan berhasil dalam kemajuan dan bisa melepaskan diri dari kegelapan
tanpa guru.
Mediamorfosis
ketiga menjadikan siswa dan guru dihadapkan satu pilihan mengikuti
atau akan tertinggal dan tergilas oleh teknologi untuk selamanya.
Belajar pada dunia mediamorfosis ketiga seakan-akan dunia pendidikan kehilangan
roh ketika konsep belajar lebih ditekankan dibandingkan dengan konsep mendidik.
Belajar di era mediamorfosis ketiga menghadirkan kebebasan yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Siswa dan guru dapat mengakses pengetahuan di mana saja dan
kapan saja. Namun, kebebasan ini tidak boleh mengaburkan pemahaman akan hakikat
pendidikan sebagai proses mendidik, bukan hanya memperoleh informasi. Jika
belajar lebih diutamakan niscaya pendidikan tanpa roh bahkan ancaman
rapuhnya peradaban karakter di depan mata. Jika pendidikan tanpa roh belajar
hanya untuk bisa bukan untuk mengubah prilaku ke arah yang lebih baik. Jadi
belajar hanya untuk menjadi tahu dari tidak tahu. Belajar hanya
untuk memperoleh pengetahuan tanpa mengubah perilaku menuju kebaikan akan
membuat pendidikan kehilangan substansi. Hakikat pendidikan sejati adalah
mengubah prilaku manusia ke arah yang lebih baik, menjadikan mereka lebih
manusiawi dalam menjaga harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam menghadapi
mediamorfosis ketiga, pendidikan harus tetap memegang teguh hakikatnya sebagai
agen perubahan perilaku. Mempertahankan keseimbangan antara belajar dan
mendidik adalah kunci untuk mencegah kehilangan roh pendidikan.
Dasyatnya
gelombang digital nyaris menghempaskan kita (baca: guru yang tidak melek
teknologi) bahkan terdampar di pantai begitu saja hanya karena tidak bisa
berenang di lautan teknologi. Wajah guru akan menjadi kusam pada mirat
teknologi tanpa bingkai digital bahkan nyaris wajah kita tidak terlihat pada
cermin. Wajah guru mesti menjadi pajangan dan terlihat indah pada cermin
di kelas-kelas karakter seperti layaknya patung guru Drona yang dibuat Ekalawya
sekalipun ditolak guru drona hanya karena bukan kalangan ningrat. Guru simbol
karakter yang harus hadir dan sebagai sosok panutan yang digugu dan ditiru dan
sebagai penghapus kegelapan. Belajar tanpa guru ibarat manusia tanpa jiwa maka
penguasaan ilmu seperti hewan-hewan pintar. guru ibarat napas yang selalu
hadir dan ada setiap jiwa sebagai napas kehidupan. Belajar tanpa guru ibarat
manusia tanpa jiwa. Proses pemanusiaan, yang tidak hanya terbatas pada
pengetahuan, memerlukan kehadiran guru sebagai pemandu. Manusia membutuhkan
pendidikan, bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk mengalami proses
pemanusiaan yang membuatnya berbeda dengan binatang. Manusia butuh proses
pemanusiaan dan akan berbeda dengan binatang. Binatang seperti kambing tidak
butuh proses pembinatangan atau pengkambingan karena kambing dilahirkan pasti
menjadi kambing sedangkan manusia butuh proses pemanusiaan agar menjadi manusia
yang manusiawi melalui pendidikan bukan sebatas belajar.
Dalam kehidupan kita, guru bukan hanya sosok yang berada di bangku sekolah, tetapi juga manifestasi dari nilai-nilai budaya dan spiritualitas. Setiap tanggal 25 November, kita merayakan Hari Guru sebagai penghormatan kepada mereka yang mengajarkan kita tentang tahu dari tidak tahu, dan lebih dari sekadar pendidikan formal, guru juga menjadi panduan dalam membangun pondasi kehidupan. Kita dilahirkan dari guru yang disebut guru reka, yang melibatkan nilai-nilai kehidupan sehari-hari, etika, dan norma-norma budaya. Kemudian, melalui sang guru, kita memperoleh pengetahuan formal yang membantu kita menjadi tahu tentang tahu. Keduanya adalah pilar penting dalam membentuk karakter dan kepribadian. Kita selalu harus ingat dan perlu dengan guru. Kalau mau kerja ingat sujud sembah kepada betara guru sane melinggih di merajan kemulan, saat membangun pondasi banggunan undagi juga harus membuat sepat siku-siku sebagai guru agar bangunan menjadi pas, jika kita belajar mewirama juga jangan melupakan guru laghu yang bermakna guru "berat" laghu "ringan". Dan juga tidak kalah pentingnya jika mencari hari baik untuk memulai suatu pekerjaan yang disebut dewasa harus juga memperhatikan guru karena dewasa tanpa guru akan tidak baik. Guru memang harus selalu hadir di setiap napas kehidupan umat manusia. Selamat hari guru disemogakan selalu ada dan hadir di hati para siswa(bali tribun news/manixs).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar