Senin, 12 Oktober 2026

KETIKA KETELADANAN MULAI PUDAR: REFLEKSI TRI GURU DAN GURU SWADIYAYA DALAM MENYELAMATKAN KARAKTER BANGSA

Oleh: Sebuah Refleksi untuk Kita Semua

Dewasa ini, fenomena pelanggaran yang dilakukan oleh siswa semakin sering kita jumpai. Berbagai bentuk pelanggaran, mulai dari hal-hal kecil hingga tindakan serius, seolah menjadi pemandangan yang kian biasa. Pelanggaran tata tertib berpakaian, ketidaklengkapan kendaraan bermotor seperti tidak menggunakan helm, tidak memasang spion, hingga penggunaan knalpot brong, merupakan sebagian contoh perilaku yang masih kerap ditemukan. Belum lagi persoalan pemalakan dan perundungan atau bullying yang semakin menambah keprihatinan kita terhadap perkembangan karakter generasi muda.

Padahal, setiap pagi dan siang, para siswa secara kolektif telah diberikan pengarahan di lapangan. Nasihat, teguran, imbauan, dan penegasan tentang kedisiplinan terus disampaikan. Namun, mengapa berbagai pelanggaran tersebut seolah tidak pernah berhenti? Apakah nasihat yang diberikan belum menyentuh kesadaran mereka? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar yang selama ini luput dari perhatian kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak kita untuk kembali melakukan introspeksi. Jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata terletak pada siswa, melainkan juga pada lingkungan pendidikan, keteladanan orang dewasa, serta sistem nilai yang berkembang di tengah masyarakat kita.

Dalam ajaran Hindu, kita mengenal konsep Catur Guru, yakni empat guru yang menjadi sumber tuntunan bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Keempatnya adalah Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, dan Guru Swadiyaya. Konsep luhur ini mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara selaras dan berkesinambungan.

Guru Rupaka: Ketika Orang Tua Kehilangan Kendali dalam Mendidik

Guru Rupaka adalah orang tua yang memiliki tanggung jawab utama dalam mengasuh, membimbing, dan membentuk karakter anak sejak dini. Rumah merupakan sekolah pertama bagi seorang anak, sedangkan orang tua adalah guru pertama yang memperkenalkan nilai-nilai kehidupan.

Namun, realitas yang kita jumpai terkadang menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Sebagian orang tua memberikan kebebasan yang berlebihan kepada anak-anaknya. Demi kasih sayang, rasa tidak tega, atau keinginan agar anak tidak kecewa, mereka cenderung menuruti hampir semua kemauan anak tanpa mempertimbangkan apakah keinginan tersebut benar atau salah.

Akibatnya, batas antara kasih sayang dan pembiaran menjadi kabur. Anak merasa memiliki kebebasan tanpa batas, sementara kewajiban, tanggung jawab, dan konsekuensi atas perilakunya semakin kurang dipahami.

Ironisnya, dalam beberapa keluarga, keadaan seolah berbalik: bukan lagi orang tua yang membimbing anak, melainkan orang tua yang takut kepada anaknya sendiri. Ketika anak membantah, orang tua mengalah. Ketika anak melanggar, orang tua mencari pembenaran. Ketika anak berbuat salah, orang tua justru sibuk melindunginya dari konsekuensi.

Tentu, tidak semua orang tua demikian. Banyak pula orang tua yang telah berjuang mendidik anak dengan penuh tanggung jawab. Namun, kecenderungan pola asuh yang terlalu permisif patut menjadi bahan renungan bersama.

Kasih sayang sejatinya bukan berarti membebaskan anak melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya. Kasih sayang justru harus disertai ketegasan, batasan, dan keberanian untuk mengatakan tidak ketika anak melakukan kesalahan.

Anak yang tidak pernah belajar menerima batasan di rumah akan kesulitan menghormati aturan di sekolah maupun di masyarakat. Karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga. Jangan sampai kita berharap sekolah mampu membentuk anak yang disiplin, sementara di rumah mereka justru dibiasakan mengabaikan aturan.

Guru Pengajian: Guru Dituntut Menegakkan Aturan, tetapi Sudahkah Menjadi Teladan?

Guru Pengajian adalah guru yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, dan menuntun peserta didik menuju kedewasaan intelektual maupun moral.

Di sekolah, guru telah berupaya menjalankan tugasnya. Mereka mengajar, menasihati, memberikan pengarahan, menegakkan tata tertib, dan mengingatkan siswa agar menjadi pribadi yang disiplin. Akan tetapi, mengapa hasil yang diharapkan terkadang belum sesuai dengan kenyataan?

Salah satu hal yang perlu kita renungkan adalah keteladanan. Sebab, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui perilaku nyata. Siswa bukan sekadar mendengarkan apa yang disampaikan guru; mereka juga mengamati apa yang dilakukan gurunya.

Bagaimana mungkin kita menegur siswa yang datang terlambat jika kita sendiri kerap datang tidak tepat waktu? Bagaimana mungkin kita meminta siswa mengenakan seragam sesuai ketentuan, sementara kita sendiri tidak konsisten mematuhi aturan berpakaian yang berlaku? Ketika jadwal seragam tertentu telah ditetapkan, tetapi kita justru mengenakan pakaian lain, bahkan kaus pada hari yang bukan jadwalnya, bukankah kita sedang mempertontonkan ketidakkonsistenan di hadapan peserta didik?

Demikian pula ketika jam pelajaran pertama tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena guru belum hadir. Waktu belajar yang seharusnya menjadi hak siswa akhirnya terabaikan. Jika hal seperti ini terjadi berulang kali, pesan apakah yang sesungguhnya diterima oleh siswa?

Mereka dapat saja menyimpulkan bahwa aturan hanyalah sesuatu yang harus dipatuhi oleh orang yang lebih lemah, sedangkan orang yang memiliki kedudukan tertentu boleh mengabaikannya.

Tentu, kita tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua guru melakukan pelanggaran. Banyak guru yang telah menunjukkan dedikasi, disiplin, dan keteladanan luar biasa. Namun, justru karena guru merupakan figur panutan, setiap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan patut menjadi perhatian serius.

Kita perlu jujur bertanya kepada diri sendiri: apakah tuntutan yang kita berikan kepada siswa sudah sejalan dengan perilaku kita sehari-hari?

Menegakkan disiplin tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman atau mengulang pengarahan setiap pagi dan siang. Disiplin harus tumbuh melalui budaya yang konsisten. Guru yang datang tepat waktu, berpakaian sesuai ketentuan, menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, serta memperlakukan siswa secara adil sedang memberikan pelajaran karakter yang jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kesalahan siswa, tetapi lupa memeriksa kekurangan diri sendiri. Sebelum meminta peserta didik menjadi pribadi yang baik, marilah kita terlebih dahulu berusaha menjadi pendidik yang patut diteladani.

Guru Wisesa: Ketika Pemegang Kekuasaan Kehilangan Keteladanan

Guru Wisesa adalah pemerintah beserta unsur pemegang kewenangan yang memiliki tanggung jawab mengatur kehidupan masyarakat, menjaga ketertiban, dan menegakkan keadilan berdasarkan aturan yang berlaku.

Pada tataran ideal, Guru Wisesa menjadi teladan dalam integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan pengabdian kepada bangsa. Negara hadir untuk melindungi masyarakat, memberikan kepastian hukum, serta memastikan bahwa setiap warga diperlakukan secara adil.

Namun, ketika publik terus menyaksikan berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan dugaan ketidakadilan dalam penegakan hukum, kepercayaan terhadap institusi dapat terkikis. Masyarakat pun mulai bertanya-tanya: apakah hukum benar-benar berlaku sama bagi semua orang, ataukah keadilan dapat berubah arah ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang?

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat. Uang yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat justru dapat beralih menjadi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

Lebih menyakitkan lagi apabila masyarakat melihat adanya perlakuan yang berbeda antara mereka yang memiliki kekuasaan dan mereka yang lemah. Ketika hukum terasa keras kepada rakyat kecil, tetapi seolah kehilangan ketajamannya di hadapan orang yang berpengaruh, rasa keadilan publik pun terluka.

Demikian pula proses pembentukan peraturan perundang-undangan harus dijalankan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Setiap dugaan konflik kepentingan maupun transaksi yang mencederai integritas legislasi harus diperiksa secara serius berdasarkan bukti dan mekanisme hukum yang berlaku.

Persoalan pemberantasan korupsi, termasuk perdebatan mengenai pengesahan dan penerapan aturan perampasan aset hasil tindak pidana serta pemulihan kerugian negara, juga menjadi bagian dari tuntutan publik terhadap negara. Masyarakat menginginkan agar kekayaan yang diperoleh secara melawan hukum tidak sekadar menjadi persoalan pidana, tetapi juga dapat ditangani melalui mekanisme pemulihan aset yang sah, efektif, dan tetap menjamin hak-hak hukum setiap orang.

Ketika pemegang kekuasaan tidak mampu menunjukkan keteladanan, dampaknya tidak berhenti pada menurunnya kepercayaan kepada pemerintah. Dampaknya dapat merembet ke dunia pendidikan dan kehidupan sosial.

Siswa yang setiap hari mendengar nasihat tentang kejujuran akan menghadapi kebingungan ketika menyaksikan orang-orang yang seharusnya menjadi teladan justru tersandung persoalan integritas. Mereka dapat bertanya dalam hati: untuk apa bersikap jujur jika kebohongan terlihat menguntungkan? Untuk apa mematuhi aturan jika orang yang melanggarnya justru dapat memperoleh keuntungan?

Inilah bahaya ketika keteladanan publik mulai pudar. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah berisiko kehilangan kekuatannya karena bertentangan dengan kenyataan yang dilihat generasi muda.

Oleh sebab itu, para pemegang kekuasaan harus menyadari bahwa jabatan bukanlah hak istimewa untuk bertindak sesuka hati. Jabatan adalah amanah yang menuntut tanggung jawab lebih besar. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk memberikan contoh yang baik.

Guru Swadiyaya: Harapan Terakhir di Tengah Kemerosotan Moral

Guru Swadiyaya adalah Tuhan Yang Maha Esa, sumber tuntunan spiritual dan nilai-nilai luhur yang mengarahkan manusia kepada kebenaran, kebajikan, dan kehidupan yang harmonis.

Ketika kita melihat berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, pemerintahan, dan masyarakat, hati kita mungkin dipenuhi kesedihan, kekecewaan, kemarahan, bahkan keputusasaan.

Masyarakat lelah mendengar janji yang tidak ditepati, kebohongan yang berulang, serta berbagai persoalan korupsi yang menggerogoti kekayaan negara. Para pendidik merasa prihatin ketika nilai-nilai yang diajarkan kepada siswa seolah tidak mendapat dukungan yang memadai dari lingkungan di luar sekolah. Orang tua pun menghadapi tantangan besar dalam membesarkan anak di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Dalam keadaan demikian, kita berharap agar Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan tuntunan, menguatkan hati manusia, dan membuka kesadaran kita untuk kembali kepada jalan dharma.

Namun, harapan kepada Tuhan hendaknya tidak membuat kita pasif dan hanya menunggu perubahan terjadi. Dalam keyakinan spiritual, doa harus berjalan beriringan dengan usaha. Memohon kedamaian harus disertai tindakan yang menciptakan kedamaian. Memohon kejujuran harus diikuti keberanian untuk berkata dan bertindak jujur. Memohon keadilan harus diwujudkan melalui sikap adil terhadap sesama.

Kita tidak mengetahui ketetapan Tuhan atas perjalanan bangsa ini. Karena itu, tidak sepatutnya kita memastikan bahwa kehancuran akan terjadi sebagai hukuman ilahi. Akan tetapi, secara moral dan sosial, kita patut menyadari bahwa masyarakat yang terus-menerus mengabaikan kebenaran, membiarkan ketidakadilan, serta kehilangan rasa tanggung jawab sedang menempatkan dirinya dalam bahaya besar.

Jika perilaku buruk dibiarkan, kepercayaan akan runtuh, persatuan melemah, dan masa depan generasi penerus menjadi taruhan.

Maka, marilah kita memohon tuntunan Guru Swadiyaya agar diberi kejernihan pikiran, keteguhan hati, dan keberanian untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita begitu mudah menyalahkan orang lain, tetapi enggan membersihkan kekotoran yang ada dalam diri sendiri.

Masyarakat yang Jenuh dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

Masyarakat bukanlah sekadar penonton dalam persoalan ini. Masyarakat adalah pihak yang merasakan langsung akibat dari buruknya keteladanan dan lemahnya penegakan nilai-nilai moral.

Ketika korupsi menggerogoti anggaran publik, masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan yang lebih baik. Ketika hukum dipersepsikan tidak adil, kepercayaan kepada institusi melemah. Ketika kekerasan, pemalakan, dan perundungan dianggap biasa, rasa aman di lingkungan pendidikan dan kehidupan sosial ikut terancam.

Tidak mengherankan jika sebagian masyarakat merasa muak, kecewa, marah, dan kehilangan kepercayaan. Berbagai perasaan tersebut merupakan peringatan bahwa ada persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi.

Namun, kejenuhan tidak boleh berubah menjadi sikap apatis. Kemarahan tidak boleh berkembang menjadi kebencian yang membutakan. Sebaliknya, kekecewaan harus menjadi energi untuk memperbaiki keadaan melalui cara-cara yang bermartabat, konstitusional, dan bertanggung jawab.

Kita perlu membangun masyarakat yang berani menolak korupsi, tidak membenarkan kekerasan, tidak menormalisasi kebohongan, serta tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri dan kelompok.

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari tindakan yang besar. Terkadang, perubahan dimulai ketika seorang ayah berani menegur anaknya dengan penuh kasih sayang, seorang guru datang tepat waktu, seorang kepala sekolah konsisten menegakkan aturan, seorang pejabat menolak gratifikasi, seorang penegak hukum bertindak tanpa pandang bulu, dan seorang warga berani membela kebenaran tanpa harus merendahkan orang lain.

Dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten itulah budaya kejujuran dan tanggung jawab dapat dibangun kembali.

Penutup: Jangan Hanya Menuntut Perubahan, Jadilah Bagian dari Perubahan

Persoalan pelanggaran siswa yang semakin memprihatinkan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah nasihat, memperkeras hukuman, atau menyalahkan generasi muda. Persoalan ini harus dilihat secara menyeluruh dengan melibatkan keempat unsur Catur Guru.

Guru Rupaka harus menguatkan kembali perannya sebagai pendidik pertama di rumah. Guru Pengajian harus menegakkan disiplin melalui keteladanan. Guru Wisesa harus menghadirkan pemerintahan yang bersih, adil, dan bertanggung jawab. Sementara itu, Guru Swadiyaya hendaknya menjadi sumber tuntunan spiritual yang menguatkan komitmen manusia untuk menjalani kehidupan berdasarkan dharma.

Keempatnya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan karakter akan sulit mencapai hasil optimal apabila keluarga mengajarkan satu hal, sekolah menunjukkan hal lain, dan kehidupan publik mempertontonkan perilaku yang bertentangan dengan keduanya.

Karena itu, marilah kita melakukan introspeksi dengan jujur. Jika kita menginginkan siswa yang disiplin, jadilah orang dewasa yang disiplin. Jika kita menginginkan anak yang jujur, tunjukkan kejujuran dalam tindakan. Jika kita menginginkan masyarakat yang taat hukum, pastikan bahwa hukum ditegakkan secara adil. Jika kita memohon tuntunan Tuhan, jangan abaikan kewajiban untuk memperbaiki diri dan lingkungan.

Jangan sampai kita sibuk mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi menutup mata terhadap kesalahan sendiri. Jangan sampai kita menuntut generasi muda menjadi baik, sementara mereka setiap hari menyaksikan contoh yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter. Tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga pemimpin yang dapat dipercaya. Tidak hanya membutuhkan guru yang mampu menyampaikan pelajaran, tetapi juga guru yang hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkannya.

Pada akhirnya, masa depan bangsa bukan hanya ditentukan oleh apa yang kita katakan kepada generasi muda, melainkan juga oleh apa yang kita contohkan kepada mereka hari ini.

Semoga kita semua disadarkan sebelum keadaan semakin jauh menyimpang. Semoga keluarga kembali menjadi tempat tumbuhnya karakter, sekolah menjadi ruang berkembangnya keteladanan, pemerintahan menjadi pelindung keadilan, dan kehidupan spiritual menjadi sumber kekuatan moral.

Sebab, ketika keteladanan menghilang, aturan kehilangan wibawa, dan kejujuran kehilangan harga, yang terancam bukan hanya perilaku siswa, melainkan juga masa depan bangsa dan peradaban manusia itu sendiri.

Rahayu, rahayu, rahayu.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Renungan Anggara Pon Klau,Penanggal 2 sasih Kelima rah 8 tenggek 4 icaka 1948.

Manixs.

Kamis, 08 Oktober 2026

SMK Giri Pandawa Dukung Pariwisata Berkelanjutan melalui Aksi Bersih Lingkungan Kawasan Pura Gua Gala Gala dan Petirtan Pura Agung Besakih di Wisata Tirta Lembah Arca.

Gatra Humas,9-10-26 – Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMK Giri Pandawa melaksanakan kegiatan bakti sosial di Desa Adat Tegenan, Desa Menanga,Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, yang merupakan zona kawasan suci Pura Agung Besakih. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan OSIS pada setiap masa bakti kepengurusan baru, sekaligus bentuk nyata kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan, pelestarian alam, dan keberlanjutan destinasi pariwisata.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Pariwisata Destinasi Wisata yang Berkelanjutan, Bersih, dan Lestari.” Melalui kegiatan ini, para siswa diajak untuk terlibat langsung dalam menjaga lingkungan sekaligus memahami pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Giri Pandawa, I Made Agus Suciarta, menjelaskan bahwa kegiatan bakti sosial merupakan salah satu tahapan penting dalam pembinaan pengurus OSIS. Rangkaian pembinaan diawali dengan pembentukan kepengurusan, dilanjutkan pelatihan dan pembinaan di sekolah, kemudian diimplementasikan melalui kegiatan sosial di tengah masyarakat.

“Sebagai sekolah yang bergerak di bidang pariwisata, tentunya kami mendukung berbagai unsur industri pariwisata. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah menggiatkan kegiatan bersih-bersih, menjaga alam, dan melestarikan lingkungan. Kebersihan dan kelestarian alam merupakan faktor penting yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu destinasi,” ungkap I Made Agus Suciarta.

Menanamkan Kepedulian terhadap Alam dan Lingkungan

Menurutnya, kegiatan bakti sosial tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menanamkan kesadaran kepada siswa bahwa alam harus dijaga sebagai bagian penting dari keberlangsungan kehidupan dan pariwisata.

“Ketika kita menjaga alam, alam juga akan menjaga kita. Hubungan ini merupakan bentuk timbal balik yang memberikan manfaat bagi manusia dan lingkungan,” jelasnya.

Melalui kegiatan di sumber tirta pesucian Pura Agung Besakih sekaligus di objek wisata tirta Lembah Arca, siswa belajar mengenali secara langsung berbagai tempat yang membutuhkan perhatian dan pemeliharaan, mulai dari objek wisata, kawasan suci seperti pura, hingga lingkungan alam yang harus dijaga kelestariannya.

Pengalaman tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa terhadap lingkungan, baik ketika berada di sekolah maupun ketika kelak terjun ke dunia kerja dan industri pariwisata.

Mengembangkan Kepemimpinan dan Kompetensi Siswa

Lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih, bakti sosial ini juga menjadi sarana pembelajaran karakter dan pengembangan kompetensi siswa. Para pengurus OSIS dilatih untuk bekerja sama, membagi tugas, mengatur waktu, mengelola kelompok, menunjukkan kepemimpinan, serta menjalankan tanggung jawab dan komitmen.

Keterampilan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan industri pariwisata, termasuk bidang perhotelan dan tata boga. Dalam dunia kerja, kemampuan teknis perlu didukung oleh keterampilan berkomunikasi, kedisiplinan, kerja tim, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Karena itu, kegiatan di luar kelas seperti ini menjadi pengalaman pembelajaran yang penting bagi siswa SMK. Mereka tidak hanya memperoleh pemahaman melalui teori, tetapi juga belajar menghadapi situasi nyata, berinteraksi dengan masyarakat, dan berkontribusi terhadap lingkungan sekitar.

Belajar Sambil Berkegiatan

Kegiatan bakti sosial juga dirancang agar siswa dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan. Sambil melaksanakan tugas menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, siswa memperoleh pengalaman baru, mempererat kebersamaan, serta mengenal potensi lingkungan dan destinasi yang ada di sekitarnya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat kegiatan pembinaan OSIS lebih menarik dan tidak monoton. Siswa dapat mengembangkan kepedulian sosial sekaligus membangun hubungan yang positif dengan masyarakat setempat.

Melalui kegiatan ini, SMK Giri Pandawa berharap para pengurus OSIS mampu menjadi teladan bagi siswa lainnya dalam menerapkan budaya bersih, disiplin, gotong royong, dan tanggung jawab. Kegiatan bakti sosial juga diharapkan memperkuat kontribusi sekolah dalam mendukung pariwisata Bali yang bersih, lestari, dan berkelanjutan.

Bagi SMK Giri Pandawa, membangun pariwisata bukan hanya tentang menyiapkan tenaga kerja yang kompeten, tetapi juga mendidik generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap alam, budaya, dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan kepariwisataan dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus mempersiapkan siswa menjadi sumber daya manusia yang profesional dan berkarakter.(manixs)

Aksi bersih bersih sepanjang jalan menuju Pr.Agung Besakih

Area lawangan Pr.Besakih di Pr.Toya Ketipat

Sone Rest Area Arca

 
Agus Suciarta memberikan penjelasan tentang kegiatan Bakti Sosial OSIS SMK Giri Pendawa

Semangat OSIS dengan energi positif dituangkan dalam berbakti pada semesta









OSIS: Organisasi Siswa yang Diharapkan Mampu Mengubah Paradigma Mental Stroberi, Sikap Cuek, dan Keegoisan

Oleh: I MADE AGUS SUCIARTA
Wakasek Kesiswaan SMK Giri Pendawa


OSIS Bukan Sekadar Organisasi, Melainkan Wadah Pembentukan Karakter

Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) bukan sekadar organisasi formal yang dibentuk untuk memenuhi struktur kelembagaan sekolah. Lebih dari itu, OSIS merupakan wadah pembinaan karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, kedisiplinan, kejujuran, serta kepedulian sosial bagi peserta didik. OSIS diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak perubahan perilaku siswa, khususnya dalam menghadapi tantangan mentalitas generasi muda yang cenderung mudah menyerah, kurang peduli terhadap lingkungan, atau terlalu mengutamakan kepentingan pribadi.

Istilah mental stroberi kerap digunakan untuk menggambarkan sikap yang dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan, kritik, atau kesulitan. Sementara itu, sikap cuek dan egois mencerminkan rendahnya kepedulian terhadap kepentingan bersama. Namun, persoalan tersebut tidak seharusnya dijawab dengan stigma atau pelabelan terhadap siswa. Sebaliknya, diperlukan proses pembinaan yang mendidik agar peserta didik mampu membangun ketangguhan mental, kedewasaan emosional, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun lingkungannya.

Di sinilah OSIS memiliki peran strategis. Melalui program kerja yang terarah dan keteladanan para pengurusnya, OSIS diharapkan mampu mengajak siswa bertransformasi menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, berintegritas, dan memiliki semangat kebersamaan.

Landasan Hukum dan Struktur Organisasi OSIS

Penyelenggaraan pembinaan kesiswaan memiliki landasan regulasi, antara lain Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan OSIS juga perlu diselaraskan dengan peraturan pendidikan yang relevan, ketentuan yang berlaku, serta tata tertib sekolah.

Perlu dipahami bahwa Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 mengatur kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Oleh karena itu, penerapannya perlu ditempatkan sesuai dengan ruang lingkup pengaturannya, bukan dijadikan satu-satunya dasar hukum pembentukan OSIS.

Dalam pelaksanaan pembinaan di sekolah, kepala sekolah bertindak sebagai penanggung jawab, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menjalankan fungsi koordinasi sesuai pembagian tugas, sedangkan guru pembina mendampingi pengurus OSIS dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan. Struktur organisasi juga dilengkapi dengan ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, serta pengurus bidang sesuai kebutuhan dan ketentuan sekolah. Majelis Perwakilan Kelas (MPK), apabila dibentuk, dapat berperan sebagai wadah perwakilan siswa dalam menyampaikan aspirasi dan menjalankan fungsi pengawasan organisasi sesuai aturan yang berlaku.

Bidang-bidang kegiatan OSIS dapat mencakup:

  1. Keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
  2. Kedisiplinan, kepemimpinan, dan bela negara.
  3. Prestasi akademik dan kompetensi kejuruan.
  4. Demokrasi, aspirasi, dan hak peserta didik.
  5. Lingkungan hidup dan kebersihan.
  6. Kreativitas, kewirausahaan, dan kemandirian.
  7. Kesehatan, olahraga, dan kesejahteraan siswa.
  8. Seni, sastra, dan budaya.
  9. Teknologi informasi dan komunikasi.
  10. Bahasa dan komunikasi.

Pembagian bidang tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, struktur organisasi yang ditetapkan, serta ketentuan pembinaan kesiswaan yang berlaku. Yang terpenting, setiap bidang tidak hanya tercantum di atas kertas, tetapi memiliki program kerja yang nyata, terukur, dan memberikan manfaat bagi warga sekolah.

Pemilihan Pengurus Harus Demokratis, Transparan, dan Akuntabel

Kualitas OSIS sangat ditentukan oleh proses pemilihan pengurusnya. Pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS perlu dilaksanakan secara demokratis, transparan, dan akuntabel, melalui pemungutan suara atau mekanisme musyawarah mufakat sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), apabila ditetapkan, serta tata tertib yang berlaku.

Proses pemilihan bukan sekadar ajang popularitas atau perlombaan untuk memperoleh jabatan. Pemilihan harus menjadi sarana pendidikan demokrasi yang mengajarkan siswa tentang hak memilih, tanggung jawab, penghormatan terhadap perbedaan pendapat, dan penerimaan terhadap hasil keputusan bersama.

Pengurus yang terpilih diharapkan merupakan siswa yang memiliki integritas, komitmen, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan menjadi teladan. Jabatan dalam OSIS bukan simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk melayani kepentingan bersama.

Karena itu, pemilihan pengurus perlu mempertimbangkan rekam jejak perilaku, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, serta kesediaan calon untuk menjalankan program kerja. Dengan demikian, OSIS dapat dipimpin oleh siswa yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga konsisten dalam tindakan.

OSIS Harus Menjadi Teladan, Bukan Justru Melanggar Aturan

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah ketika pengurus OSIS justru melakukan pelanggaran terhadap tata tertib yang seharusnya mereka bantu tegakkan. Situasi semacam ini merupakan ironi dalam pembinaan karakter. Bagaimana mungkin siswa diharapkan menaati aturan apabila orang-orang yang dipercaya menjadi teladan justru mengabaikannya?

Pengurus OSIS harus memahami bahwa kedudukan mereka membawa tanggung jawab moral yang lebih besar. Mereka tidak boleh merasa memiliki keistimewaan untuk melanggar peraturan, bersikap arogan, atau bertindak seolah-olah berada di atas siswa lainnya.

OSIS bukan aparat penghukum dan bukan pula alat untuk menunjukkan kekuasaan kepada teman sebaya. Perannya adalah menjadi mitra sekolah dalam membangun budaya disiplin melalui keteladanan, komunikasi, edukasi, dan partisipasi siswa.

Apabila pengurus OSIS terbukti melakukan pelanggaran, sekolah perlu menanganinya secara objektif, proporsional, dan sesuai prosedur pembinaan yang berlaku. Evaluasi, teguran, pembinaan khusus, hingga pergantian atau penyegaran kepengurusan (reshuffle) dapat dipertimbangkan apabila memang diperlukan dan sesuai aturan organisasi.

Langkah tersebut bukan semata-mata bentuk hukuman, melainkan upaya menjaga integritas organisasi. Jangan sampai OSIS kehilangan kepercayaan siswa karena pengurusnya tidak mampu menunjukkan konsistensi antara perkataan dan perbuatan.

Mengubah Pola Pikir Melalui Keteladanan dan Kolaborasi

Tantangan OSIS bukan hanya mengadakan kegiatan seremonial, memperingati hari besar, atau menyelenggarakan perlombaan. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana organisasi ini mampu berkontribusi dalam membangun perubahan perilaku siswa.

Siswa yang mudah menyerah perlu didorong agar berani menghadapi tantangan dan belajar dari kegagalan. Siswa yang kurang peduli perlu diajak terlibat dalam kegiatan sosial, kebersihan lingkungan, dan kerja sama antarkelas. Sementara itu, siswa yang cenderung egois perlu belajar menghargai perbedaan, mendengarkan pendapat orang lain, serta memahami bahwa kepentingan bersama juga harus diperhatikan.

Perubahan tersebut tidak dapat dicapai melalui perintah semata. Dibutuhkan contoh nyata dari pengurus OSIS, pendampingan guru pembina, keterlibatan wali kelas, dukungan tenaga kependidikan, serta konsistensi seluruh unsur sekolah.

OSIS juga perlu membuka ruang aspirasi agar siswa dapat menyampaikan keluhan, kritik, dan gagasan secara sehat. Dengan cara ini, siswa belajar bahwa kedisiplinan tidak bertentangan dengan kebebasan berpendapat, dan kepatuhan terhadap aturan tidak berarti kehilangan kesempatan untuk menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.

Program-program OSIS sebaiknya diarahkan pada pembentukan kebiasaan positif, seperti datang tepat waktu, menjaga kebersihan, menghormati guru dan sesama siswa, menghindari perundungan, menjaga kejujuran akademik, serta menyelesaikan konflik melalui dialog.

Keberhasilan OSIS tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan nyata dalam budaya sekolah: meningkatnya kepedulian, menurunnya pelanggaran, tumbuhnya rasa tanggung jawab, dan semakin kuatnya semangat gotong royong.

Penutup: OSIS Harus Menjadi Motor Perubahan Karakter

OSIS memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pilar penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Akan tetapi, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila organisasi dikelola secara bertanggung jawab, pengurusnya memberikan teladan, dan program kerjanya benar-benar menyentuh kebutuhan siswa.

Mentalitas mudah menyerah, sikap cuek, keegoisan, maupun perilaku agresif tidak dapat diubah hanya melalui slogan atau ancaman sanksi. Perubahan membutuhkan pembinaan yang konsisten, keteladanan, komunikasi yang terbuka, serta kerja sama antara OSIS, guru pembina, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah.

Pada akhirnya, OSIS harus mampu membuktikan bahwa organisasi siswa bukan sekadar pelengkap administrasi sekolah. OSIS harus menjadi ruang belajar untuk membangun ketangguhan, kedisiplinan, kejujuran, loyalitas, dedikasi, dan kepedulian terhadap kemajuan bersama.

Pengurus OSIS harus menjadi contoh sebelum mengajak, menjadi teladan sebelum menegur, dan menunjukkan integritas sebelum menuntut kedisiplinan orang lain. Dengan semangat tersebut, OSIS diharapkan mampu membantu mewujudkan lingkungan sekolah yang tertib, berkarakter, inklusif, dan berorientasi pada prestasi serta kemajuan bersama.Astungkara.(01-10-26)


Rabu, 07 Oktober 2026

Ayu Adnyani, Si Imut yang Juara 1 Platting Dessert

Gatra Humas,071026 — Wajah mungil dan pembawaannya yang sederhana ternyata menyimpan semangat juang luar biasa. Ni Kadek Ayu Adnyani, siswi kelas XI TB 1 SMK Giri Pendawa, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara I lomba platting dessert yang diselenggarakan Monarch Candidasa, Selasa, 7 Oktober lalu.

Dalam ajang tersebut, Ayu mengangkat karya bertajuk “Lempog Bali” sebagai sajian dessert yang diperlombakan. Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena lomba ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi, namun ia langsung berhasil meraih posisi tertinggi.

Ayu merupakan putri pasangan I Made Darmayasa, seorang pengrajin sanggah, dan Ni Wayan Kertiasih, yang berasal dari Br. Dinas Segah, Desa Nongan.

Kepada Gatra Humas, Ayu mengaku sempat tidak percaya ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama. Ia menyadari bahwa peserta lainnya memiliki kemampuan yang tidak kalah potensial dan tangguh.

"Saya sebenarnya tidak percaya bisa mendapat juara satu karena lawan-lawan saya cukup potensial dan tangguh. Namun, dengan keyakinan dan percaya diri, akhirnya saya berhasil merebut prestasi ini," ungkap Ayu.

Bagi Ayu, kemenangan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti lomba, ia merasa bersyukur sekaligus bangga bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya.

"Saya sangat bersyukur dan bangga. Ini baru pertama kali saya ikut lomba dan langsung mendapat juara satu," katanya.

Di balik keberhasilannya, Ayu mengakui peran besar Dewa Putu Suarya, Kepala Program Studi Tata Boga (TB) SMK Giri Pendawa, yang dengan serius membimbing dan melatihnya menghadapi kompetisi.

Menariknya, Ayu mengaku tidak melakukan latihan khusus di rumah. Seluruh proses latihan lebih banyak dilakukan di sekolah di bawah bimbingan sang kaprodi. Di rumah, ia hanya menghafalkan materi presentasi dalam bahasa Inggris yang akan digunakan saat perlombaan.

"Terus terang, di rumah saya tidak pernah berlatih. Hanya menghafalkan presentasi bahasa Inggris. Semuanya dilatih di sekolah oleh Pak Dewa," tuturnya.

Ia pun memberikan apresiasi khusus kepada gurunya yang dinilai memiliki gaya melatih disiplin dan tegas, tetapi tetap penuh perhatian.

"Dalam melatih, beliau memang disiplin dan keras bahasanya, tetapi lembut dan kebapakan jiwanya. Beliau luar biasa dalam melatih saya," ujar Ayu.

Putri seorang pengrajin sanggah ini juga dikenal memiliki kehidupan yang dekat dengan aktivitas keluarga. Sepulang sekolah, ia terbiasa membantu ayahnya mengerjakan pengecatan sanggah yang diproduksi untuk menambah penghasilan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sekolahnya.

Kemandirian tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Ayu terbiasa bangun pagi sekitar pukul 05.30 untuk mempersiapkan diri berangkat sekolah. Sebelum berangkat, ia membantu ibunya di dapur. Setelah pulang sekolah, waktunya kembali digunakan untuk membantu sang ayah.

"Saya sudah biasa pulang sekolah membantu orang tua mengecat sanggah yang diproduksi. Itu juga untuk menambah bekal sekolah agar tidak terlalu banyak membebani orang tua," ungkapnya.

Di tengah kesibukannya, Ayu juga berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mengembangkan kemampuan, khususnya bahasa Inggris. Ia belajar dengan cara yang menurutnya menyenangkan, yakni menonton film-film Barat melalui internet, menyimak percakapan, sekaligus memahami arti dari dialog yang didengarnya.

Kakak Ayu, Putu Agus Adnyana, juga merupakan jebolan SMK Giri Pendawa dan kini bekerja di salah satu hotel berbintang di kawasan Seminyak. Jejak sang kakak turut menjadi motivasi bagi Ayu untuk terus menyiapkan diri menghadapi masa depan.

Ke depan, Ayu mengaku ingin lebih serius mempersiapkan masa depannya dengan belajar dan memperbanyak keterampilan.

"Saya sangat senang dan bangga bisa mengikuti kontestasi ini karena mendapat pengalaman baru. Ke depan saya akan lebih fokus mempersiapkan masa depan melalui belajar dengan serius dan mengisi diri agar memiliki lebih banyak skill," ujarnya.

Yang membuat prestasi ini semakin bermakna, Ayu mengaku sejak sekolah dasar dirinya belum pernah memiliki pengalaman berprestasi maupun mendapat kesempatan mengikuti perlombaan. Karena itu, kemenangan pertamanya di SMK Giri Pendawa menjadi sebuah pembuktian bahwa kesempatan dan keberanian untuk mencoba dapat membuka jalan menuju prestasi.

"Juara ini saya persembahkan untuk sekolah tercinta, SMK Giri Pendawa. Semoga bisa memotivasi teman-teman. Saya yang sejak SD tidak pernah berprestasi dan tidak pernah diberi kesempatan lomba, ternyata setelah mencoba dan dibimbing dengan baik, kita bisa," katanya.

Ayu pun berpesan kepada teman-temannya agar tidak takut mencoba dan tidak ragu menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

"Saya yakin kalau teman-teman berani mencoba dan berani berbuat maksimal, maka hasilnya akan memuaskan, apa pun itu," pungkasnya.

Prestasi Ayu menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu berawal dari mereka yang sudah berpengalaman. Terkadang, keberanian untuk mencoba, kemauan belajar, disiplin, dan bimbingan yang tepat justru menjadi langkah pertama untuk melahirkan seorang juara. (manixs)

Ayu saat lomba

sedang menghadapi juri

Mempresentasikan hasil karyanya dengan Bahasa Inggris dihadapan  juri

 
Suasana saat lomba

 
Kaprodi dan kabeng juga OSIS tim pendukung lomba

Hasil karya yang dilombakan

Ayu saat menerima ucapan selamat dari juri

Foto bareng dengan para juri dan pemenang lomba

Dokumentasi

Piala Juara 1



Saat penerimaan hadiah 






Siswa SMK Giri Pendawa Raih Juara 2 Lomba Making Bed Tingkat Bali Timur

Karangasem,Gatra Humas,07-10-2026 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMK Giri Pendawa. I Gede Arimbawa, siswa kelas XI P1, berhasil meraih juara II dalam lomba making bed yang diselenggarakan Monarch Candidasa pada 7 Oktober lalu.

Lomba tersebut diikuti belasan peserta yang merupakan siswa SMK dari berbagai sekolah di wilayah Bali Timur. Keberhasilan Arimbawa menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah sekaligus membuktikan bahwa siswa daerah mampu bersaing dan menunjukkan kompetensinya di bidang perhotelan.

I Gede Arimbawa lahir di Tegenan pada 23 Januari 2010. Ia merupakan putra pasangan Gede Astawa dan Ni Wayan Asih Armini, yang berasal dari Sawan, Buleleng. Saat ini keluarganya tinggal di Br. Dinas Tegenan, Desa Menanga, Kecamatan Rendang.

Kepada redaksi Gatra Humas, Arimbawa mengungkapkan bahwa persiapannya menghadapi lomba mendapat bimbingan dari Kepala Program Studi Perhotelan (PH) SMK Giri Pendawa, Dewa Putu Suaba. Namun, menjelang pelaksanaan lomba, khususnya lima hari terakhir, ia lebih banyak melakukan latihan secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran di internet.

"Persiapan lomba dibimbing oleh Kaprodi PH, Bapak Dewa Putu Suaba. Namun lima hari terakhir saya lebih banyak berlatih secara mandiri melalui internet," ungkapnya.

Arimbawa menamatkan pendidikan dasar di SD 2 Menanga pada 2021. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 3 Rendang sebelum akhirnya menempuh pendidikan di SMK Giri Pendawa.

Menurutnya, kebiasaan hidup mandiri yang ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakternya. Kesibukan kedua orang tuanya membuat Arimbawa terbiasa mengurus dan mengembangkan dirinya sendiri. Sang ayah bekerja sebagai salah satu kepercayaan bos di LA Resort & Restaurant, sedangkan ibunya bekerja sebagai resepsionis sekaligus menjadi salah satu karyawan perintis di restoran tersebut.

Tempaan tersebut, kata Arimbawa, membuat dirinya memahami arti penting kemandirian dan inisiatif. Ia meyakini bahwa seseorang harus memiliki prinsip dan kemauan dari dalam diri sendiri.

"Menurut saya, hidup harus punya prinsip dan kemauan sendiri. Kalau tidak ada kemauan dari dalam diri, apa pun yang kita lakukan tidak akan ada gairahnya," ujarnya.

Ia pun mengajak teman-temannya agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan. Baginya, tantangan harus dihadapi, bukan dihindari, karena pengalaman menghadapi tantangan akan menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan di masa depan.

"Jangan cengeng menghadapi masalah. Tantangan harus dihadapi, bukan dihindari, karena itu akan menentukan cara kita menghadapi tantangan di masa depan. Kita harus mandiri karena tidak selamanya bisa bergantung kepada orang tua," katanya.

Arimbawa juga menekankan pentingnya inisiatif untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi, baik ada maupun tidak ada guru yang mengawasi.

"Bagi saya, ada atau tidak ada guru, disuruh atau tidak disuruh, kita harus punya inisiatif untuk mengisi diri agar memiliki kompetensi. Dengan keterampilan, skill, dan knowledge yang kita punya, kita akan memiliki branding. Ketika kemampuan kita dibutuhkan orang, uang akan datang. Atau kita bisa mengelola potensi yang ada sehingga memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain," tuturnya.

Menutup wawancaranya, Arimbawa menyampaikan pesan kepada sahabat dan teman-temannya agar terus belajar, membangun disiplin, serta membiasakan diri melakukan hal-hal positif.

"Ayo kita semangat belajar, biasakan disiplin diri, pupuk skill kehidupan, dan biasakan melakukan hal-hal baik sehingga kita membangun karakter yang baik. Dengan begitu, di masa depan kita tidak kelimpungan menghadapi kehidupan," pesannya.

Ia juga mengingatkan generasi muda untuk mendengarkan nasihat dan arahan para guru karena guru dinilainya telah lebih dahulu mengalami berbagai tantangan dan pahit getir kehidupan.

"Dengarkan nasihat dan arahan guru, karena beliau sudah lebih dulu mengalami pahit getirnya kehidupan. Astungkara kita bisa sukses ke depannya dan tidak merepotkan orang lain," pungkasnya. (manixs)

Arimbawa saat akan berangkat lomba

Foto bersama peserta dan dewan juri

Hasil kreasi making bad Gde Arimbawa

Saat menerima hadiah

Urutan juara

Foto bersama saat diberi ucapan selamat
dari kiri Kepala Sekolah,Pengawas manajerial Provinsi Bali,Gd.Arimbawa,
Ayu juara plating disert dan kaprodi Perhotelan

Arimbawa saat usai menerima hadiah pada puncak peringatan hari sumpeh pemuda 28 Oktober 2026









SMK Giri Pendawa Raih Juara I Lomba Dessert Plating di Monarch Candidasa

Gatra Humas, 6 Oktober 2026 — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh peserta didik SMK Giri Pendawa dalam ajang Lomba Dessert Plating yang diselenggarakan di Monarch Candidasa, Selasa (6/10/2026). Dalam kompetisi tersebut, peserta didik SMK Giri Pendawa berhasil meraih Juara I melalui kreativitas dan keterampilan dalam menyajikan hidangan penutup.

Kompetisi yang berlangsung pada pukul 09.00–13.00 WITA tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai SMK Negeri dan Swasta se wilayah Bali Timur yang memiliki keterampilan dan minat di bidang tata boga, khususnya dalam penyajian serta dekorasi dessert.

SMK Giri Pendawa mengirimkan Ni Kadek Ayu Adnyani dari kelas XI TB1 sebagai peserta lomba. Dalam kompetisi tersebut, ia mengangkat Kue Lempog sebagai hidangan yang disajikan dan dikembangkan melalui teknik dessert plating.

Dalam waktu 25 menit, peserta dituntut mampu menyelesaikan plating dengan memperhatikan berbagai aspek, mulai dari komposisi, warna, bentuk, kebersihan, kerapian, kreativitas, hingga keindahan tampilan akhir. Penilaian dilakukan oleh dewan juri berdasarkan kreativitas, teknik plating, kebersihan, komposisi, kesesuaian konsep, dan tampilan dessert.

Dengan persiapan yang matang serta kemampuan dalam mengolah dan menyajikan makanan, Ni Kadek Ayu Adnyani mampu menampilkan hidangan yang menarik dan berhasil memperoleh nilai terbaik sehingga membawa pulang Juara I untuk SMK Giri Pendawa.

Dalam persiapan dan pelaksanaan lomba, peserta juga mendapat pendampingan dari Kaprodi Tata Boga, Dewa Putu Suarya, S.H., dan Kabeng Tata Boga, I Wayan Gede Suarnata. Selain itu, persiapan kegiatan turut dibantu oleh anggota OSIS, yaitu Ni Ketut Krismiyanti (XI TB1) dan Ni Luh Eka Kusumawati (XI TB2).

Suarya yang juga anggota Indonesian Chef Association (ICA) Bali, menyampaikan bahwa Prestasi ini menjadi bukti bahwa peserta didik SMK Giri Pendawa tidak hanya memiliki kemampuan dalam mengolah makanan, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam penyajian hidangan. Kegiatan seperti ini juga memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik untuk mengasah keterampilan, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun mental kompetitif. I Wayan Gede Suarnata, selaku kabeng Tata Boga turut pula memberikan dukungan dan pendampingan selama persiapan hingga pelaksanaan lomba. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta agar mampu memberikan penampilan terbaik dalam kompetisi,ujar Suarya.

Dipihak lain kepala SMK Giri Pendawa I Komang Sumarta dihubungi via telpon menyampaikan kesannya bahwa Keberhasilan meraih Juara I diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peserta didik SMK Giri Pendawa lainnya untuk terus mengembangkan keterampilan dan berani mengikuti berbagai kompetisi. Prestasi ini sekaligus menjadi kebanggaan bagi sekolah dan menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran praktik di bidang tata boga. Pada kesempatan ini saya selaku pimpinan menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada kaprodi Tata Boga dan kabengnya beserta guru pembimbing lainnya. semoga prodi lain dan siswa khususnya termotivasi untuk mengikuti lomba dan kegiatan lainnya sehingga mengharumkan sekolah kita,pungkasnya. (Suarnata)

Latihan Persiapan sebelum lomba

Pra Lomba

Hasil uji coba

Siap untuk dinilai

Tim SMK Giri Pendawa yang dimotori Dewa Putu Suarya (paling kanan)
berhasil sebagai Juara I mengalahkan SMKN 1 Amlapura,SMKN 1 Manggis dll