Senin, 21 September 2026

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TEFA E WIDYA GIRI SMK GIRI PENDAWA



Oleh :
Drs.I Wayan Suiji
Pengelola Kopsek Giri Amertha

A. Latar Belakang

TEFA E Widya Giri SMK Giri Pendawa lahir dari sebuah proses pemikiran dan pengembangan yang berawal dari perkembangan Koperasi Sekolah (Kopsek) Giri Amertha. Dari tahun ke tahun, koperasi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Perkembangan tersebut mendorong Kepala Sekolah I Komang Sumarta untuk memikirkan langkah yang lebih luas, tidak hanya dalam meningkatkan kegiatan usaha koperasi, tetapi juga dalam memberikan manfaat terhadap kesejahteraan guru dan pegawai.

Pemikiran beliau tersebut terutama dilatarbelakangi oleh keprihatinan pendapatan guru dan pegawai yang memperoleh penghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha produktif yang dapat memanfaatkan potensi yang telah tersedia di lingkungan sekolah.

SMK Giri Pendawa memiliki potensi sumber daya manusia yang cukup besar, baik dari unsur guru dan pegawai maupun siswa yang jumlahnya terus mengalami peningkatan. Potensi tersebut kemudian dipandang sebagai modal penting untuk mengembangkan kegiatan usaha sekaligus menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi siswa.

Berdasarkan pemikiran tersebut kepala sekolah menugaskan pengelola koperasi sekolah, untuk memunculkan gagasan  mengembangkan usaha koperasi melalui pembentukan Teaching Factory (TEFA) yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran nyata bagi siswa dalam menerapkan kompetensi kewirausahaan.

B. Awal Mula Pembangunan TEFA

Embrio pembangunan TEFA mulai diwujudkan melalui rapat orang tua siswa pada Tahun Pelajaran 2025/2026. Dalam rapat tersebut oleh Waka Humas disampaikan rencana untuk mengadakan sumbangan sukarela dari orang tua siswa yang akan digunakan untuk membangun kantin koperasi. Rencana tersebut telah dicantumkan dalam berita acara rapat dan mendapat persetujuan.

Namun, dalam pelaksanaannya, sumbangan sukarela tersebut belum terealisasi sampai saat ini. Tidak ada dana yang terkumpul dari sumbangan tersebut. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat untuk mewujudkan pembangunan  kantin.

Wakil Kepala Sekolah bidang Humas yang sekaligus menjadi pengelola koperasi kemudian menyampaikan permohonan kepada pimpinan sekolah agar diperkenankan mengupayakan pendanaan pembangunan kantin diubah menjadi pembangunan TEFA yang menjadi syarat wajib bagi sekolah kejuruan,sehingga karena keterbatasan dana maka diperkenankan dilaksanakan melalui kontribusi orang tua siswa sebesar Rp290.000,00 per orang tua. Atas persetujuan pimpinan, upaya tersebut kemudian dapat direalisasikan sehingga pembangunan TEFA mulai dapat dilaksanakan yang diberi nama Teaching factory Entrepreneur Widya Giri agar senada dengan nama yayasan,sekolah dan koperasi sekolah Giri Amertha. Widya Giri mengandung makna memperkuat pembelajaran dalam bidang kewirausahaan atau entrepreneur,agar kelak mereka alumni SMK Giri Pendawa memiliki life skill yang dapat diimplemantasikan dalam kehidupan mereka selanjutnya. Hal menarik lainnya,karena gagal mendapatkan sumbangan pembangunan kantin ketua OSIS (Dina) waktu itu bersama guru kewirausahaan dan waka sarpras berinisiatif mewejudkan kantin dan terlaksana dengan modal pinjaman kopsek 10 juta dan sebagai uji coba berhasil dengan baik walaupun dengan tempat seadanya. Dengan fakta itulah kepala sekolah lebih semangat mendorong terwujudnya Tefa ini sebagai salah satu sumber daya yang dapat diharapkan.

C. Proses Pembangunan

Dengan semangat membangun dan tetap berkoordinasi serta mendapat izin dari pimpinan sekolah, pengelola kemudian mencari pihak yang dapat melaksanakan pembangunan fisik TEFA. Setelah melalui proses pembicaraan dan kesepakatan, pekerjaan pembangunan disepakati dengan nilai kurang lebih Rp29.000.000,00.hanya gudang dan ruang tefa belum ruang pendukung dapur dan tempat cukur.

Dalam proses pembangunan, pembiayaan tidak hanya mengandalkan dana yang terkumpul. Sebagian kebutuhan pembangunan terlebih dahulu ditalangi menggunakan keuntungan dari kegiatan penjualan pakaian. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen pengelola koperasi untuk mempercepat terwujudnya fasilitas TEFA.

Selain pembangunan fisik, kebutuhan peralatan dan mebeler juga mulai dipersiapkan. Pengadaan berbagai perlengkapan tersebut untuk sementara ditalangi agar pada saat TEFA mulai beroperasi, sarana pendukung pelayanan sudah tersedia dan dapat digunakan secara optimal.

D. Grand Opening TEFA E Widya Giri

Setelah melalui proses perencanaan, penggalangan dana, pembangunan, serta persiapan sarana dan prasarana, TEFA E Widya Giri direncanakan melaksanakan upacara nyayutin sekaligus penetapan SK pengelola pada tanggal 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Kapat dan Grand Openingnya akan dilaksanakan setelah persiapan benar benar ready/ matang siap oprasional pada hari sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 sekaligus peluncuran Gatra Humas ke IV tahun 2026,diharapkan ketua yayasan dan pengawas manajerial bisa hadir untuk meresmikan.

Momentum tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan pengembangan usaha koperasi dan pembelajaran kewirausahaan di SMK Giri Pendawa. TEFA diharapkan tidak hanya menjadi unit usaha sekolah, tetapi juga menjadi ruang belajar nyata bagi siswa untuk mengenal, memahami, dan mempraktikkan dunia usaha,dengan semangat sumpah pemuda dan ikrar pelajar Indonesia.

E. Bidang Usaha dan Pelayanan

Dalam pengembangannya, TEFA E Widya Giri dirancang memiliki berbagai bidang usaha dan pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan warga sekolah dan masyarakat sekitar, antara lain:

  1. Pelayanan umum, termasuk penjualan makanan ringan dan berbagai kebutuhan harian.

  2. Penjualan alat tulis kantor (ATK) dan perlengkapan sekolah.

  3. Penjualan kebutuhan sembako bagi guru dan pegawai.

  4. Jasa cukur rambut untuk mendisiplinkan siswa.

  5. Pemasaran produk kelas Tata Boga, khususnya makanan dan makanan ringan hasil produksi.

  6. Jasa laundry sebagai bagian dari pengembangan usaha bidang perhotelan.

  7. Penjualan pulsa.

  8. Jasa pengetikan dan penjilidan, termasuk laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

  9. Pemasaran produk ke kantor-kantor dan pasar-pasar.

  10. Pengembangan berbagai usaha lain yang memungkinkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan sekolah serta masyarakat misalnya resepsi pernikahan dll.

Keberagaman bidang usaha tersebut diharapkan mampu membuat TEFA berkembang secara bertahap dan berkelanjutan.

F. TeFa sebagai Sarana Pembelajaran Kewirausahaan

Keberadaan TEFA E Widya Giri tidak semata-mata ditujukan untuk memperoleh keuntungan. Salah satu tujuan utama adalah menjadikan TEFA sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik bagi siswa.

Siswa akan dilibatkan dalam berbagai aktivitas usaha sesuai dengan kemampuan dan bidang pembelajaran, mulai dari proses produksi, pelayanan konsumen, pengelolaan barang, pemasaran, administrasi, hingga pengelolaan keuangan sederhana,termasuk mendapatkan bagian persentase keuntungan untuk memotivasi kerjanya.

Melalui keterlibatan tersebut, siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung mengenai bagaimana sebuah usaha dijalankan. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata dalam menghadapi konsumen, bekerja dalam tim, menjaga kualitas pelayanan, menghitung biaya dan pendapatan, serta memahami tanggung jawab dalam menjalankan sebuah usaha.

Dengan demikian, TEFA menjadi media untuk menumbuhkan karakter entrepreneur pada diri siswa, terutama sikap disiplin, mandiri, bertanggung jawab, kreatif, inovatif, mampu bekerja sama, serta memiliki keberanian untuk mengembangkan potensi diri.

G. Tujuan/Dampak yang Diharapkan

Pengembangan TEFA'E Widya Giri diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak.

Bagi koperasi, TEFA'E Widya Giri diharapkan dapat memperluas unit usaha dan meningkatkan kemampuan koperasi dalam menghasilkan pendapatan.

Bagi guru dan pegawai, perkembangan usaha diharapkan secara bertahap dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan, khususnya bagi mereka yang masih memiliki penghasilan relatif rendah.

Bagi siswa, TEFA'E Widya Giri menjadi laboratorium kewirausahaan yang memberikan pengalaman langsung dalam mengelola kegiatan usaha.

Bagi sekolah, keberadaan TEFA'E Widya Giri diharapkan memperkuat hubungan antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja.

Sementara bagi masyarakat sekitar, TEFA'E Widya Giri diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam memperoleh berbagai kebutuhan dan jasa dengan pelayanan yang baik.

H. Penutup

Sejarah TEFA'E Widya Giri merupakan bagian dari perjalanan pengembangan Koperasi Giri Amertha SMK Giri Pendawa. Berawal dari perkembangan koperasi dan kepedulian terhadap kesejahteraan guru serta pegawai, lahirlah gagasan untuk memanfaatkan potensi sekolah melalui pengembangan unit usaha yang sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi siswa.

Proses mewujudkan TEFA'E Widya Giri tidak terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber pendanaan hingga kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana. Namun, melalui koordinasi, persetujuan pimpinan, partisipasi orang tua, serta komitmen pengelola, pembangunan TEFA dapat diwujudkan.

Grand opening pada 28 Agustus 2026 akan menjadi momentum awal bagi TEFA E Widya Giri untuk berkembang menjadi pusat kegiatan usaha dan pembelajaran kewirausahaan di SMK Giri Pendawa.

Ke depan, TEFA'E Widya Giri diharapkan dapat berkembang menjadi unit usaha yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan serta mampu memberikan manfaat bagi sekolah, koperasi, guru, pegawai, siswa, dan masyarakat. Lebih dari itu, TEFA diharapkan menjadi wadah untuk melahirkan generasi muda yang memiliki karakter entrepreneur: disiplin, mandiri, kreatif, bertanggung jawab, dan siap menghadapi dunia usaha serta dunia kerja.astungkara

Jumat, 18 September 2026

Ketika Karakter Siswa Tergerus: Sekolah, Keluarga, Media Sosial, dan Krisis Keteladanan

Oleh:
I WAYAN SUIJI 
(Ketua Pembina Yayasan Giri Pendawa)

Ada kegelisahan yang semakin sering dirasakan oleh para pendidik: mengapa sebagian siswa sekarang semakin sulit diarahkan? Nasihat diberikan berulang-ulang, aturan dibuat, pembinaan dilakukan, bahkan teguran disampaikan hampir setiap hari. Namun perubahan perilaku sering hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, kebiasaan lama muncul kembali.

Fenomena ini tentu tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh siswa. Masih banyak anak muda yang memiliki semangat belajar, menghormati guru, bertanggung jawab, dan memiliki cita-cita besar. Namun, perilaku sebagian siswa yang semakin sulit dikendalikan patut menjadi perhatian serius karena jika dibiarkan, bukan hanya prestasi akademik yang terganggu, tetapi juga pembentukan karakter dan masa depan mereka.

Dari keterlambatan hingga hilangnya rasa hormat

Di lingkungan sekolah, bentuk pelanggaran yang sering menjadi perhatian antara lain datang terlambat, berkelahi, melanggar tata tertib, membentuk kelompok atau geng yang memberikan pengaruh negatif, berkendara secara ugal-ugalan, hubungan pergaulan yang tidak sehat, serta berkurangnya rasa hormat kepada guru.

Ada pula persoalan yang sebenarnya lebih mendasar: sebagian anak semakin sulit menerima nasihat orang tua. Ketika keinginannya tidak dipenuhi, ia dapat menunjukkan sikap membantah, mengabaikan nasihat, tidur larut malam, bangun kesiangan, tidak mau membantu pekerjaan keluarga, bahkan menggunakan berbagai cara untuk menekan orang tua.

Dalam keadaan tertentu, orang tua akhirnya menyerah.

Bukan karena mereka tidak menyayangi anaknya, melainkan karena merasa tidak berdaya menghadapi perlawanan anak. Teguran berulang kali tidak menghasilkan perubahan. Ketika konflik semakin besar, orang tua memilih diam daripada menghadapi pertengkaran.

Di sinilah persoalannya menjadi serius.

Anak yang merasa bahwa dirinya dapat menentukan segala sesuatu di rumah berpotensi membawa pola tersebut ke sekolah. Jika di rumah ia terbiasa membantah tanpa konsekuensi yang jelas, ia dapat menganggap guru pun dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Jika kelompok sebaya memberikan penguatan terhadap perilaku tersebut, terbentuklah lingkungan yang semakin sulit dikendalikan.

Media sosial dan lahirnya budaya membandingkan kehidupan

Salah satu perubahan besar yang membedakan generasi sekarang dengan generasi sebelumnya adalah derasnya arus informasi melalui media sosial.

Setiap hari anak-anak dapat melihat kendaraan baru, pakaian mahal, rumah mewah, perjalanan wisata, kehidupan selebritas, hiburan, dan berbagai bentuk kemudahan hidup. Yang sering tidak terlihat adalah proses panjang di balik kehidupan tersebut: kerja keras, kegagalan, utang, perjuangan keluarga, atau keadaan sebenarnya yang tidak ditampilkan di media sosial.

Akhirnya, yang terlihat hanya hasilnya.

Anak kemudian dapat berpikir, “Mengapa orang lain bisa memiliki semua itu sementara saya tidak?”

Keinginan untuk memiliki sesuatu sebenarnya bukan kesalahan. Persoalan muncul ketika keinginan tersebut tidak disertai kemampuan menerima kenyataan, kesabaran menunggu, kemauan bekerja, dan pemahaman tentang kondisi ekonomi keluarga.

Misalnya, seorang anak sangat menginginkan sepeda motor baru, sementara orang tuanya belum mampu membelikannya. Keinginan itu kemudian berubah menjadi tuntutan. Ketika tuntutan tidak dipenuhi, muncul perilaku mogok, malas membantu orang tua, tidur larut malam, bangun kesiangan, membantah, atau bahkan mengancam secara emosional.

Jika orang tua akhirnya menyerah, anak belajar sebuah pola yang sangat berbahaya:

“Kalau saya menekan cukup keras, keinginan saya akan dipenuhi atau setidaknya orang tua akan menyerah.”

Pola tersebut dapat terbawa ke lingkungan sekolah.

Persoalannya bukan semata-mata kemiskinan

Ada kecenderungan untuk mengaitkan masalah kenakalan remaja dengan kondisi ekonomi keluarga. Namun, kita perlu berhati-hati.

Keterbatasan ekonomi memang dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kehidupan keluarga, tetapi bukan berarti keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah pasti menghasilkan anak yang bermasalah. Sebaliknya, banyak anak dari keluarga sederhana justru tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, santun, dan bertanggung jawab.

Karena itu, persoalannya lebih tepat dilihat sebagai pertemuan berbagai faktor: pola asuh, keteladanan orang dewasa, lingkungan pergaulan, budaya sekolah, penggunaan media sosial, kondisi psikososial, kesempatan berkembang, serta konsistensi aturan dan konsekuensi.

Yang harus dibangun bukan sekadar kemampuan anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan kemampuan untuk menerima kenyataan, menunda keinginan, bekerja keras, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Ketika nasihat kehilangan kekuatannya

Sekolah selama ini tentu telah berusaha.

Nasihat diberikan pada pagi hari. Sebelum pulang, siswa kembali diingatkan. Ketika melakukan pelanggaran, mereka dipanggil dan dibina. Besok diingatkan lagi. Lusa diingatkan lagi.

Namun, jika pembinaan hanya berbentuk nasihat yang berulang tanpa sistem yang kuat, lama-kelamaan nasihat kehilangan daya.

Anak mungkin mendengarkan karena takut sesaat. Tiga hari kemudian perilakunya kembali seperti semula. Seminggu kemudian nasihat tersebut mungkin sudah dilupakan.

Lebih buruk lagi, apabila sebagian siswa melihat bahwa pelanggaran tidak menghasilkan konsekuensi yang jelas, mereka dapat menyimpulkan bahwa aturan sekolah sebenarnya tidak terlalu penting.

Pada titik inilah sekolah membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis.

Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui ceramah. Karakter dibentuk melalui kebiasaan, keteladanan, aturan yang konsisten, hubungan yang sehat, penghargaan, tanggung jawab, dan konsekuensi yang mendidik.

Guru jangan dibuat takut mendidik

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: posisi guru.

Guru memang tidak boleh menggunakan kekerasan, penghinaan, atau tindakan yang merendahkan peserta didik. Anak harus dilindungi dari perlakuan yang tidak mendidik.

Namun, perlindungan terhadap anak tidak boleh dimaknai sebagai pembiaran terhadap pelanggaran.

Guru yang menjalankan tugas pembinaan secara profesional juga membutuhkan perlindungan dan dukungan. Jangan sampai seorang guru yang berusaha menegakkan tata tertib justru merasa takut menghadapi siswa karena khawatir akan dipermalukan, dilaporkan, atau diposisikan sebagai pihak yang selalu bersalah.

Jika setiap teguran terhadap siswa langsung dianggap sebagai kesalahan guru, lama-kelamaan guru dapat kehilangan keberanian untuk mendidik.

Ketika guru takut menegakkan aturan, siswa akan belajar bahwa guru tidak memiliki kekuatan.

Dan ketika siswa mengetahui bahwa tidak ada konsekuensi yang tegas dan adil, keberanian melakukan pelanggaran dapat semakin meningkat.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan keberpihakan kepada guru melawan siswa, atau sebaliknya keberpihakan kepada siswa melawan guru.

Yang dibutuhkan adalah keadilan bagi keduanya.

Siswa harus mendapatkan perlindungan dari tindakan yang salah. Guru juga harus mendapatkan perlindungan ketika menjalankan pembinaan yang sah, proporsional, dan sesuai aturan.

Jangan biarkan sekolah berjalan sendirian

Pendidikan karakter bukan pekerjaan sekolah saja.

Sekolah dapat membuat aturan, tetapi keluarga membentuk kebiasaan. Sekolah dapat mengajarkan sopan santun, tetapi anak melihat contoh nyata setiap hari di rumah. Sekolah dapat berbicara tentang disiplin, tetapi anak akan lebih mudah memahami disiplin apabila melihat orang dewasa di sekitarnya hidup secara disiplin.

Karena itu, ketika terjadi masalah perilaku, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya:

“Apa yang salah dengan anak ini?”

Tetapi juga:

“Lingkungan seperti apa yang sedang membentuk anak ini?”

Bagaimana komunikasi orang tua dengan anak?

Apakah aturan di rumah konsisten?

Apakah setiap keinginan anak selalu dipenuhi?

Apakah ada konsekuensi ketika anak melanggar?

Apakah penggunaan telepon dan media sosial diawasi?

Siapa teman-temannya?

Bagaimana budaya kelompoknya?

Bagaimana sekolah menangani pelanggaran?

Dan yang tidak kalah penting: apa yang dicontohkan oleh orang-orang dewasa kepada mereka?

Anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari masyarakat

Kegelisahan tentang karakter generasi muda pada akhirnya membawa kita kepada persoalan keteladanan.

Anak-anak setiap hari melihat masyarakat di sekelilingnya. Mereka melihat orang yang bekerja keras dan berhasil. Mereka juga melihat orang yang memperoleh kekayaan dengan cara yang dipertanyakan. Mereka melihat orang yang jujur. Mereka juga mendengar berita tentang penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi.

Di sinilah muncul pertanyaan yang sangat mengganggu:

Apa pesan yang sebenarnya diterima anak-anak dari masyarakat kita?

Kita mengatakan kepada mereka agar rajin belajar.

Kita mengatakan agar jujur.

Kita mengatakan agar sopan.

Kita mengatakan agar bekerja keras.

Kita mengatakan agar menghormati aturan.

Tetapi anak-anak juga menyaksikan kehidupan orang dewasa. Mereka dapat bertanya dalam hati: “Kalau orang yang melanggar aturan tetap bisa hidup enak, mengapa saya harus bersusah payah menjadi orang baik?”

Pertanyaan seperti itu tidak boleh kita jawab dengan kemarahan kepada anak.

Kita harus menjawabnya dengan keteladanan.

Masyarakat yang ingin memiliki generasi berkarakter harus menciptakan lingkungan yang menghargai kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan integritas. Pendidikan karakter akan sulit berhasil apabila pesan yang diterima anak dari kehidupan nyata bertolak belakang dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Kita tidak bisa mengubah keadaan hanya dengan menambah jumlah nasihat.

Beberapa langkah perlu dilakukan secara bersama-sama.

Pertama, keluarga harus kembali menjadi tempat pendidikan karakter yang utama. Orang tua perlu berani mengatakan “tidak” ketika memang tidak mampu atau ketika permintaan anak tidak tepat. Kasih sayang tidak berarti memenuhi semua keinginan.

Kedua, aturan harus jelas dan konsisten. Anak perlu mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta apa konsekuensinya. Konsekuensi harus mendidik, proporsional, dan diterapkan secara adil.

Ketiga, sekolah dan orang tua harus menjadi satu tim. Jangan sampai ketika sekolah membina anak, keluarga justru langsung membela tanpa terlebih dahulu mengetahui persoalannya. Sebaliknya, sekolah juga harus mau mendengarkan keluarga dan memahami kondisi anak.

Keempat, pembinaan jangan berhenti pada ceramah. Siswa perlu diberi pengalaman yang membangun tanggung jawab: kegiatan sosial, kerja kelompok, pelayanan masyarakat, olahraga, kegiatan seni, kepemimpinan, proyek produktif, dan berbagai aktivitas yang membuat mereka mengalami langsung arti disiplin dan tanggung jawab.

Kelima, guru harus mendapatkan dukungan institusional. Guru yang bertindak sesuai prosedur untuk mendidik siswa harus mendapatkan pendampingan, bukan dibiarkan menghadapi masalah seorang diri.

Keenam, penggunaan media sosial perlu menjadi bagian dari pendidikan keluarga. Anak perlu diajarkan bahwa apa yang muncul di layar bukan gambaran lengkap kehidupan. Kemewahan yang terlihat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Ketujuh, siswa perlu diajarkan bahwa keinginan berbeda dengan kebutuhan. Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki sekarang. Kemampuan menunda keinginan merupakan bagian penting dari kedewasaan.

Kedelapan, sekolah harus membangun budaya yang menghargai perilaku baik. Jangan sampai perhatian sekolah hanya tertuju kepada anak yang bermasalah, sementara anak yang disiplin dan bertanggung jawab tidak pernah mendapatkan apresiasi.

Mengembalikan pendidikan kepada tujuan yang lebih besar

Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan membuat anak pintar secara akademik. Pendidikan berkaitan dengan tuntunan terhadap pertumbuhan anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari nilai rapor, kelulusan, atau diterimanya siswa di sekolah lanjutan.

Kita juga harus bertanya:

Apakah mereka mampu menghormati orang lain?

Apakah mereka mampu mengendalikan keinginan?

Apakah mereka berani bertanggung jawab atas kesalahan?

Apakah mereka mampu bekerja keras ketika sesuatu tidak dapat diperoleh dengan mudah?

Apakah mereka mampu hidup bersama orang lain tanpa merendahkan?

Apakah mereka memahami bahwa kebebasan selalu disertai tanggung jawab?

Inilah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar apakah siswa mendapatkan nilai tinggi.

Negeri ini tidak kekurangan anak pintar, tetapi membutuhkan manusia berkarakter

Kegelisahan terhadap perilaku sebagian siswa sebenarnya harus menjadi alarm bagi semua pihak.

Jangan buru-buru menyalahkan anak.

Jangan pula seluruh kesalahan dilemparkan kepada guru.

Jangan hanya menyalahkan orang tua.

Dan jangan menjadikan kondisi ekonomi sebagai satu-satunya penjelasan.

Anak-anak adalah hasil dari lingkungan yang ikut kita ciptakan.

Jika keluarga menyerah, sekolah berjalan sendiri, masyarakat memberikan contoh yang buruk, aturan tidak konsisten, dan guru takut mendidik, maka kita sedang menciptakan kondisi yang memungkinkan masalah karakter semakin besar.

Sebaliknya, apabila keluarga berani mendidik, sekolah konsisten membina, guru mendapatkan perlindungan, masyarakat memberikan teladan, dan anak diberi ruang untuk belajar bertanggung jawab, maka perubahan tetap mungkin terjadi.

Generasi muda bukan generasi yang harus kita takuti.

Mereka adalah generasi yang harus kita tuntun.

Mereka memang perlu didengar, tetapi bukan berarti semua keinginannya harus dituruti. Mereka perlu dilindungi, tetapi bukan berarti setiap kesalahannya harus dibenarkan. Mereka perlu diberi kebebasan, tetapi kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya “Anak-anak kita akan menjadi seperti apa?”

Pertanyaan yang lebih jujur adalah:

“Orang dewasa seperti apa yang sedang mereka lihat setiap hari?”

Sebab sebelum menuntut anak-anak menjadi generasi yang berkarakter, kita harus memastikan bahwa keluarga, sekolah, masyarakat, dan para pemegang amanah di negeri ini memberikan cukup banyak alasan bagi mereka untuk percaya bahwa kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, kerja keras, dan integritas memang masih layak diperjuangkan.

Jika tidak, jangan heran apabila nasihat tentang karakter hanya bertahan tiga hari, sementara teladan yang mereka lihat setiap hari membentuk mereka jauh lebih kuat.

Senin, 07 September 2026

Kedisiplinan Dimulai dari Diri Sendiri

Oleh: I Komang Sumarta(Kepala SMK Giri Pendawa)

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan/Ida Hyang Widhi Wasa. Di antara seluruh ciptaan-Nya, manusia sesungguhnya memiliki keistimewaan karena dibekali idep, yaitu kemampuan untuk berpikir dan mempertimbangkan sesuatu. Dengan idep tersebut, manusia memiliki wiweka, kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang patut dilakukan dan mana yang seharusnya dihindari.

Namun, memiliki wiweka tidak serta-merta membuat manusia selalu mampu menggunakannya dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering dihadapkan pada keadaan ketika pikiran, perkataan, dan perbuatan belum berjalan searah. Kita mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang belum mampu melaksanakannya secara konsisten.

Kita sering kali mampu memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi lupa menerapkan nasihat tersebut kepada diri sendiri.

Hal sederhana dapat kita lihat dalam kehidupan di sekolah. Sebagai lembaga pendidikan, kita membuat berbagai aturan demi menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan kondusif. Misalnya, aturan mengenai penggunaan seragam, kedatangan tepat waktu, kebersihan, tata krama, dan berbagai bentuk kedisiplinan lainnya.

Ketika ada siswa yang melanggar aturan, kita menegur, bahkan terkadang memarahi mereka agar memahami kesalahannya. Hal tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan. Anak-anak memang masih membutuhkan arahan, bimbingan, pengawasan, dan keteladanan dari orang dewasa.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting:

Bagaimana dengan kita sebagai orang dewasa?

Di sekolah juga terdapat aturan mengenai seragam dan kedisiplinan bagi guru dan pegawai. Namun, terkadang masih ada di antara kita yang belum sepenuhnya menjalankan aturan tersebut.

Di sinilah sebenarnya letak pentingnya wiweka.

Kita adalah orang dewasa. Kita memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan untuk memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Oleh karena itu, kedisiplinan bagi orang dewasa semestinya tidak selalu harus lahir karena teguran atau kemarahan dari seorang pimpinan.

Kedisiplinan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu berkata kepada dirinya sendiri:

“Saya melakukan ini bukan karena takut ditegur, tetapi karena saya sadar bahwa ini adalah kewajiban saya.”

Seorang guru atau pegawai tidak harus selalu menunggu kepala sekolah menegur untuk mengenakan seragam sesuai ketentuan. Tidak harus selalu diingatkan untuk datang tepat waktu. Tidak harus menunggu diperintah untuk menjaga kebersihan dan melaksanakan tanggung jawab.

Kesadaran itulah yang disebut disiplin diri.

Guru dan Pegawai Adalah Teladan

Sekolah bukan hanya tempat siswa belajar melalui buku dan pelajaran. Sekolah juga merupakan tempat siswa belajar melalui apa yang mereka lihat setiap hari.

Siswa memperhatikan bagaimana gurunya datang ke sekolah. Mereka melihat bagaimana guru berpakaian. Mereka melihat bagaimana guru berbicara, bersikap, menghargai waktu, menaati aturan, dan menjalankan tanggung jawab.

Karena itu, keteladanan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar nasihat.

Kita dapat mengatakan kepada siswa:

“Datanglah tepat waktu.”

Tetapi pesan tersebut akan jauh lebih kuat apabila siswa melihat gurunya selalu hadir tepat waktu.

Kita dapat mengatakan:

“Gunakan seragam sesuai aturan.”

Namun pesan itu akan lebih bermakna apabila orang dewasa di sekolah terlebih dahulu memberikan contoh melalui dirinya sendiri.

Kita dapat mengatakan:

“Jadilah pribadi yang disiplin.”

Tetapi sesungguhnya siswa akan belajar disiplin ketika mereka melihat orang-orang dewasa di sekelilingnya hidup dengan disiplin.

Maka, sebelum kita meminta anak-anak untuk berubah, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah saya menjadi contoh dari apa yang saya ajarkan?

Aturan Bukan untuk Ditakuti

Pada dasarnya, aturan dibuat bukan untuk menakut-nakuti atau membatasi seseorang. Aturan dibuat untuk menciptakan keteraturan, keadilan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama yang lebih baik.

Demikian pula dengan aturan di sekolah.

Ketika sekolah mengatur penggunaan seragam, jam kedatangan, kebersihan, etika, dan tanggung jawab kerja, tujuan akhirnya bukan sekadar agar semua orang patuh kepada kepala sekolah. Lebih jauh daripada itu, aturan dibuat agar seluruh warga sekolah memiliki budaya yang sama: budaya disiplin dan tanggung jawab.

Disiplin bukan karena ada yang mengawasi.

Disiplin adalah ketika kita tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat.

Inilah yang membedakan antara takut kepada aturan dan sadar akan tanggung jawab.

Orang yang hanya takut kepada aturan akan tertib ketika diawasi. Tetapi orang yang memiliki kesadaran akan tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada pimpinan di dekatnya.

Di sinilah wiweka seharusnya digunakan.

Mulai dari Diri Sendiri

Menegakkan disiplin tidak harus selalu dimulai dengan memberikan teguran kepada orang lain.

Disiplin harus dimulai dari diri sendiri.

Jika kita ingin siswa datang tepat waktu, mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk datang tepat waktu.

Jika kita ingin siswa berpakaian rapi sesuai aturan, mari kita mulai dari diri kita sendiri.

Jika kita ingin siswa bertanggung jawab terhadap tugasnya, mari kita tunjukkan bahwa kita pun bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada kita.

Jika kita ingin siswa menghormati aturan, mari kita menjadi orang pertama yang menghormati aturan tersebut.

Dengan demikian, kedisiplinan tidak hanya menjadi sebuah peraturan tertulis, tetapi berubah menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah.

Keteladanan dari seorang guru atau pegawai mungkin terlihat sederhana. Datang tepat waktu, mengenakan seragam sesuai ketentuan, menjaga kebersihan, melaksanakan tugas dengan baik, berbicara dengan sopan, dan menaati aturan.

Namun, hal-hal sederhana tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar kepada anak-anak kita.

Menjadi Manusia yang Menggunakan Wiweka

Sebagai manusia yang dianugerahi idep dan wiweka, sudah seharusnya kita mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, kemudian memilih untuk melakukan yang benar.

Kita tidak perlu selalu menunggu seseorang mengingatkan kita.

Tidak perlu menunggu ditegur.

Tidak perlu menunggu dimarahi.

Kesadaran diri seharusnya menjadi penggerak utama dalam menjalankan kewajiban.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat siswa menjadi pintar. Pendidikan juga tentang membentuk manusia yang mampu berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik.

Tri Kaya Parisudha mengajarkan kita untuk menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kedisiplinan pun sesungguhnya dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Ketika pikiran kita sadar akan tanggung jawab, perkataan kita selaras dengan nilai yang kita ajarkan, dan perbuatan kita menjadi contoh bagi orang lain, maka pendidikan akan memiliki makna yang lebih dalam.

Mari kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam diri masing-masing.

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa siswa belum disiplin?”

Tetapi mari kita bertanya:

“Sudahkah saya memberikan contoh kedisiplinan kepada siswa?”

Jangan hanya meminta anak-anak menaati aturan.

Mari kita terlebih dahulu menaati aturan yang sama.

Karena aturan akan jauh lebih mudah ditegakkan apabila dimulai dari keteladanan.

Dan ketika setiap guru dan pegawai mulai membangun disiplin dari dirinya sendiri, sesungguhnya kita sedang memberikan stimulasi kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Kedisiplinan menular melalui keteladanan.

Semoga kita semua mampu menggunakan idep dan wiweka dengan sebaik-baiknya, sehingga apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan senantiasa mengarah pada kebaikan.

Mari kita mulai dari diri sendiri.

Saya disiplin karena saya sadar.
Saya menaati aturan karena saya bertanggung jawab.
Saya menjadi teladan karena saya adalah bagian dari pendidikan.

Semoga langkah kecil yang kita mulai dari diri sendiri dapat menjadi perubahan besar bagi budaya disiplin di SMK Giri Pendawa.

Astungkara !!!

CATATAN REDAKSI: Penulis adalah salah seorang tokoh di desa Nongan,karena beliau menjabat Klian Pura Dalem Kupa,sebagai pemangku dadia,Ketua Koperasi,Pengawas LPD,Ketua BPD, dan di dunia pendidikan banyak jabatan yang dipegang pernah sebagai pengurus PGRI,sebagai dosen UT,wakil ketua yayasan giri pendawa,guru SMP,SMA sebagai wakil kepala sekolah belasan tahun dan masa pensiunnya kini dipercaya sebagai kepala sekolah di SMK Giri Pendawa dan masih banyak lagi jabatan lainnya.

“Trainee Bukan Sekadar Magang, tetapi Tempat Menukar Keringat dengan Pengalaman” Sekelumit Testimoni PKL.

oleh : Putri – XII PH 1 SMK Giri Pendawa


Menjalani masa trainee di Hilton Bali Resort menjadi salah satu perjalanan yang sangat berharga bagi saya. Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di bidang Front Office Management, sesuatu yang sebelumnya hanya saya pelajari secara teori di bangku sekolah.

Ketika pertama kali mengetahui bahwa saya diterima di hotel bintang lima ini, saya merasa sangat bersyukur sekaligus tertantang. Saya mulai mempersiapkan berbagai hal, mulai dari tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, tugas sekolah, hingga mengatur keuangan selama enam bulan. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa sebelum memulai sebuah perjalanan, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Salah satu hal sederhana yang sangat membantu saya adalah menabung.

Memasuki dunia kerja ternyata sangat berbeda dengan kehidupan di sekolah. Ada rasa lelah, tekanan, tanggung jawab, aturan, dan tuntutan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja. Namun, di balik semua itu, saya menemukan banyak pengalaman dan orang-orang baik yang membantu saya berkembang.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika saya melihat kegiatan Movie Night di area pantai hotel. Awalnya saya hanya penasaran dan ingin melihat bagaimana kegiatan tersebut berlangsung. Namun, tanpa saya duga, saya akhirnya ikut membantu salah satu staf dalam menyampaikan informasi terkait kupon Movie Night. Dari kejadian sederhana tersebut, saya belajar bahwa dalam dunia kerja kita harus memiliki inisiatif dan bersedia membantu, meskipun pekerjaan tersebut bukan bagian utama dari tanggung jawab kita.

Tidak lama setelah itu, saya juga mengalami kejadian yang sampai sekarang menjadi salah satu pelajaran terbesar bagi saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya terlambat bangun dan datang terlambat bekerja. Saya merasa sangat malu, panik, dan takut kesalahan tersebut memengaruhi penilaian saya.

Namun, saya memilih untuk jujur dan meminta maaf. Dari kejadian itu saya mendapatkan nasihat untuk lebih disiplin dan mempersiapkan diri dengan lebih baik. Saya menyadari bahwa satu kesalahan bukan akhir dari segalanya. Yang terpenting adalah berani mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan tidak mengulanginya.

Dari perjalanan trainee ini, saya belajar bahwa kejujuran, disiplin, ketelitian, fokus, komunikasi, dan kemampuan membangun relasi sangat penting dalam dunia kerja. Saya juga semakin memahami bahwa kemampuan berbahasa asing dapat menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang dan membuka lebih banyak peluang.

Selama trainee, saya tidak hanya belajar mengenai pekerjaan, tetapi juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan hotel seperti town hall, perayaan 17 Agustus, gathering trainee, dan kegiatan lainnya. Dari sana saya bertemu banyak orang baru, membangun relasi, dan mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin saya dapatkan hanya dari pembelajaran di sekolah.

Saya juga belajar bahwa hal-hal sederhana seperti sarapan, tidur yang cukup, menjaga kesehatan, menjaga penampilan, dan datang lebih awal ternyata sangat berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan kita. Tubuh yang sehat dan pikiran yang segar membuat kita lebih fokus dan teliti dalam menjalankan tanggung jawab.

Pesan untuk Adik-Adik SMK Giri Pendawa

Untuk adik-adik yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia trainee, jangan takut hanya karena kalian belum tahu harus memulai dari mana. Datanglah dengan hati yang mau belajar. Jangan malu bertanya, jangan gengsi menerima masukan, dan jangan hanya melakukan apa yang diminta.

Belajarlah lebih dari sekadar tugas yang diberikan.

Jaga kejujuran, disiplin waktu, etika, penampilan, kebersihan, dan sikap kepada semua orang. Ingatlah bahwa dunia kerja bukan hanya tentang kemampuan bekerja, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai orang lain dan dapat dipercaya.

Jangan takut melakukan kesalahan. Tetapi, setelah melakukan kesalahan, belajarlah untuk memperbaikinya dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Kesan Saya Selama Trainee

Perjalanan ini memang tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, canggung, bingung, bahkan ada saat ketika saya merasa ingin menyerah. Namun, setiap keringat, setiap kesalahan yang diperbaiki, setiap ilmu yang didapatkan, dan setiap orang yang saya temui telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya percaya bahwa:

“Trainee bukan sekadar magang. Trainee adalah tempat kita menukar keringat dengan pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.”

Saya pun masih terus belajar dan perjalanan saya belum selesai. Tetapi dari setiap langkah yang sudah saya lewati, saya semakin memahami bahwa pengalaman akan menjadi sangat berarti ketika kita mau belajar dan memperbaiki diri.

Jangan membandingkan proses kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki waktunya sendiri. Teruslah berusaha, tetap rendah hati, dan jangan pernah berhenti belajar.

Kerja keras memang melelahkan, tetapi bekerja dengan hati akan meninggalkan kesan yang lebih lama.

Semoga pengalaman kecil saya selama trainee ini dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman dan adik-adik di SMK Giri Pendawa. Persiapkan diri kalian sejak sekarang, karena suatu hari nanti kalian juga akan memasuki dunia kerja dan membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga cerita perjuangan yang akan selalu kalian ingat.

Mari kita tumbuh, belajar, dan meraih mimpi bersama.!!!

(Editor redaksi gatra humas/manixs)

Secreenshot salah satu percakapan(WA) putri komunikasi dengan senior

Putri bersama Team HBR

Bersama para leader yang hebat

Putri with Mr.Yudi -pool area

Putri with Mr.Putra - security

Putri with Mr.Andre--HDR

Putri with Ms.Yami--Spa

Putri with Mr.Suamba--Restaurant area

Putri with team and guest birthday, its so cute with cake Paw Patrol--Skye


SMK Giri Pendawa Sambut Sistem Sekolah Digital Skul.id.

Gatra Humas, 7 September 2026 — Upaya digitalisasi pengelolaan sekolah terus mendapat perhatian dari manajemen SMK Giri Pendawa. Setelah sebelumnya tim manajemen SMK Nusa Dua Toya Anyar (NDTA) beberapa hari lalu hadir dan menggunakan sistem absensi digital, langkah tersebut mendapat apresiasi dari tim manajemen Giri Pendawa.

Menariknya, tanpa adanya perjanjian atau agenda sebelumnya, pada Senin (7/9/2026) salah satu tim Manpower Development (MD) BUMN Telkomsel Region Bali Cabang Karangasem, Agus Budiarta, berkunjung ke SMK Giri Pendawa. Dalam kunjungan tersebut, ia memperkenalkan sistem pengelolaan sekolah berbasis digital melalui aplikasi Skul.id.

Dalam kesempatan tersebut, Agus mempresentasikan berbagai fungsi dan keunggulan Skul.id yang dirancang untuk mendukung pengelolaan sekolah secara digital. Salah satu fitur yang mendapat perhatian adalah sistem absensi guru, pegawai, dan siswa secara daring dengan penerapan radius lokasi sekolah.

Selain fitur absensi, Skul.id juga menyediakan berbagai menu yang dapat menunjang proses pembelajaran maupun administrasi dan pengelolaan sekolah. Kehadiran sistem tersebut dinilai dapat membantu sekolah meningkatkan efektivitas pelayanan sekaligus menciptakan pengelolaan data yang lebih akurat dan transparan.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, I Gst. Ngurah Adi Sandi Putra, menyambut baik penawaran tersebut. Keduanya terlihat antusias, terlebih sistem yang ditawarkan dapat dimanfaatkan secara gratis.

Komang Sumarta mengatakan, pihak sekolah berencana memprioritaskan penerapan fitur absensi bagi guru dan pegawai untuk segera digunakan. Setelah berjalan dengan baik, sekolah akan mempertimbangkan penerapan absensi digital bagi siswa.

Ia juga berharap ke depannya sistem absensi siswa dapat dikembangkan agar terkoneksi dengan telepon seluler orang tua. Dengan demikian, orang tua akan lebih mudah memantau kehadiran dan keberadaan anaknya di sekolah.

“Untuk tahap awal kami akan lebih memfokuskan pada absensi guru dan pegawai agar segera bisa diaplikasikan. Selanjutnya baru absensi siswa. Kalau memungkinkan terkoneksi dengan HP orang tua, tentu akan lebih mudah bagi orang tua memantau keberadaan anaknya,” ujar Komang Sumarta.

Ia pun meminta Wakasek Sarpras untuk memfasilitasi proses kerja sama dengan pihak Telkomsel agar rencana tersebut dapat segera direalisasikan.

Menanggapi hal itu, Wakasek Sarpras I Gst. Ngurah Adi Sandi Putra menyatakan kesiapan pihak sekolah untuk memfasilitasi kebutuhan pihak Telkomsel. Termasuk, menurutnya, mempersiapkan Memorandum of Understanding (MoU) antara pihak sekolah dan Telkomsel sebagai dasar kerja sama ke depan.

“Kami siap memfasilitasi pihak Telkom, termasuk mempersiapkan MoU antara sekolah dengan pihak Telkom agar kerja sama ini dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakasek Kesiswaan Agus Suciarta yang dihubungi secara terpisah juga menyambut antusias rencana penerapan sistem digital tersebut. Menurutnya, absensi digital akan memberikan data kehadiran siswa secara lebih akurat sehingga dapat menjadi dasar dalam melakukan pembinaan kedisiplinan.

Dengan sistem berbasis data, siswa tidak lagi mudah mengelak terkait kehadiran maupun keterlambatan karena seluruh aktivitas tercatat dalam sistem.

“Kehadiran siswa akan terdata secara akurat melalui aplikasi ini. Mereka tidak bisa mengelak karena ada fakta dan data. Sekaligus akan lebih mudah mendisiplinkan siswa yang malas,” ujar Agus Suciarta.

Menurutnya, penerapan teknologi digital dalam pengelolaan sekolah juga dapat meningkatkan kepercayaan orang tua. Pelayanan sekolah yang semakin transparan dan modern diharapkan menjadi salah satu nilai tambah bagi SMK Giri Pendawa dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik.

“Dampaknya, orang tua juga akan lebih yakin menyekolahkan anaknya di sekolah kita kalau kita mampu memberikan pelayanan yang lebih baik,” tambahnya.

Kehadiran Skul.id di SMK Giri Pendawa menjadi salah satu langkah awal sekolah dalam memperkuat transformasi digital, khususnya dalam sistem administrasi dan pengelolaan kehadiran. Pihak sekolah berharap proses komunikasi dan kerja sama dengan Telkomsel dapat segera ditindaklanjuti sehingga implementasi sistem tersebut dapat diwujudkan dalam waktu dekat.(Narsum:Ngurah Sandi.) manixs

Dari kanan Kepala sekolah I Km.Sumarta, Agus Budiarta(Telkomsel) dan 
IGNR Adi Sandi Putra wakasek Sarpras. saat berbincang di Ruang Kepsek.


Minggu, 06 September 2026

Upacara Senin di SMK Giri Pendawa Berbeda, Kehadiran Guru dan Pegawai Meningkat 45 Persen

Gatra Humas,070926 — Pelaksanaan upacara rutin hari Senin di SMK Giri Pendawa, Senin (7/9/2026), tampak berbeda dibandingkan dengan pelaksanaan upacara pada pekan-pekan sebelumnya. Kehadiran guru dan pegawai terlihat meningkat sekitar 45 persen, sementara peserta upacara dinilai lebih tertib dan rapi.

Pembina upacara, I Made Agus Suciarta, yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, menyampaikan bahwa upacara bendera bukan sekadar kegiatan rutin,tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter, khususnya dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme, menghargai jasa para pejuang bangsa, sekaligus membangun kerja sama dan kedisiplinan.

"Upacara ini penting karena selain memupuk jiwa nasionalisme dan menghargai para pejuang bangsa, juga membangun kerja sama dan kedisiplinan. Kita membiasakan karakter tertib dan disiplin yang sesuai dengan mentalitas yang dibutuhkan di dunia industri hospitality," ujar Suciarta.

Ia menegaskan, pihak sekolah akan terus melakukan pembenahan dalam mendidik siswa, terutama dalam hal kedisiplinan, kejujuran, dan kompetensi.

Menurut Suciarta, langkah pembenahan tersebut juga merupakan tindak lanjut dari hasil studi tiru yang dilakukan pihak sekolah pada SMK Nusa Dua Toya Anyar dua hari sebelumnya. Sekolah tersebut dinilai sebagai salah satu sekolah swasta yang cukup populer di Karangasem.

"Kami akan terus berbenah dan berupaya mendidik kedisiplinan, kejujuran, dan kompetensi anak-anak semua. Kami akan bertugas lebih optimal sesuai dengan hasil studi tiru pada SMK Nusa Dua Toya Anyar," katanya.

Ia mengatakan, tidak ada salahnya bagi SMK Giri Pendawa belajar dari sekolah yang dinilai telah lebih maju.

"Demi kemajuan, tidak ada salahnya kita berguru kepada yang lebih maju," ujar Suciarta.

Dalam studi tiru tersebut, kata dia, pihak sekolah juga mendapat sejumlah masukan terkait kedisiplinan dan penampilan siswa. Beberapa di antaranya menyangkut grooming, seperti rambut yang terlalu panjang, pakaian yang tidak rapi atau tidak dimasukkan, hingga persoalan sopan santun.

Suciarta menegaskan, masukan tersebut akan ditindaklanjuti secara serius dengan melibatkan seluruh pihak terkait.

"Kemarin sempat ditegur bahwa grooming kalian masih kurang, rambut gondrong, pakaian lecek dan tidak dimasukkan, sopan santun masih kurang, dan sebagainya. Teguran ini, seizin pimpinan, akan kita tindak lanjuti secara serius," tegasnya.

Ia meminta kerja sama seluruh siswa untuk menaati aturan sekolah. Menurutnya, sekolah akan memberikan pembinaan secara bertahap, tetapi juga akan mengambil tindakan tegas apabila siswa tetap mengabaikan peraturan.

"Apabila kalian tidak peduli dan tidak mengindahkan peraturan sekolah hingga batas yang ditentukan, kami bersama pimpinan akan memanggil orang tua kalian. Bila menemui jalan buntu, kami tidak tanggung-tanggung akan mengembalikan kalian kepada orang tua, alias diberhentikan. Kami tegas," ujar Suciarta.

Sementara itu, Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, mengatakan perubahan yang terlihat dalam pelaksanaan upacara tersebut menjadi indikasi awal adanya dampak dari studi tiru yang dilakukan pihak sekolah.

Saat berkunjung dan berbincang di ruang redaksi Gatra Humas, Sumarta menyebut perubahan tersebut sebagai "efek kejut" yang mulai terlihat dalam lingkungan sekolah.

"Efek kejut dari studi tiru kemarin terbukti hari ini. Pelaksanaan upacara lebih tertib karena kawan-kawan sudah mulai sadar dan bergerak memberikan pembinaan kepada siswa. Guru dan pegawai hari ini juga tampak hadir lebih banyak dibandingkan upacara sebelumnya," kata Sumarta.

Ia mengaku senang melihat perubahan tersebut. Namun, menurut dia, pembenahan tidak boleh berhenti hanya karena adanya perubahan dalam satu kali pelaksanaan upacara.

"Saya senang. Mudah-mudahan efek kejut ini terus mengalir di nadi masing-masing, sehingga senantiasa menyentuh saraf kesadaran jiwa untuk membangun sekolah ini menjadi sekolah favorit bagi masyarakat Rendang, khususnya," ujar Sumarta.

Pihak sekolah berharap perubahan kedisiplinan tersebut dapat menjadi budaya baru yang diterapkan secara konsisten, baik oleh siswa maupun guru dan pegawai. Dengan demikian, SMK Giri Pendawa tidak hanya mampu meningkatkan kualitas akademik dan kompetensi, tetapi juga mampu membentuk karakter lulusan yang siap bersaing di dunia kerja, khususnya industri hospitality.Mari kita mulai dari diri masing-masing terutama kaum pendidik dan tenaga kependidikan,karena kita sebagai pigur yang akan ditiru dan digugu oleh siswa,sekarang tergantung komitmen kita bersama,mau kemanakan jiwa kita yang sudah tertumbuh mengakar di rumah karakter yang berlebel SMK Giri Pendawa tercinta.astungkara semoga kita senada dalam langkah,seirama dalam cinta mendidik anak anak bangsa yang bernaung di Yayasan Giri Pendawa,rahayu!!! (manixs)

Peserta upacara lebih tertib

Guru pegawai lebih banyak yang hadir

Agus Suciarta pembina upacara

Pelaksanaan upacara bendera





SMK Giri Pendawa Gelar Studi Tiru pada SMK Nusa Dua Toya Anyar, Gali Strategi Memajukan Sekolah

Gatra Humas,050926-Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memajukan sekolah, SMK Giri Pendawa terus membuka diri untuk belajar dan berbagi pengalaman dengan sekolah-sekolah yang dinilai berhasil. Salah satunya melalui kegiatan studi tiru atau studi tular dengan menghadirkan jajaran SMK Nusa Dua Toya Anyar sebagai narasumber.

Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, mengundang Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar beserta tim untuk berbagi pengalaman dan strategi pengelolaan sekolah. SMK Nusa Dua Toya Anyar dipilih karena telah dikenal sebagai salah satu sekolah swasta favorit di Kabupaten Karangasem.

Tim SMK Nusa Dua Toya Anyar dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah I Gede Putu Suardana, didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum I Made Putu Ariawan, Kepala Program Keahlian Perhotelan Gede Rintawan Wana Astra, serta Kepala Program Keahlian Kuliner I Gede Darmajaya.

Kegiatan tersebut diikuti Kepala SMK Giri Pendawa bersama para wakil kepala sekolah, kepala program keahlian, guru, dan pegawai.

Dalam sambutannya, I Komang Sumarta menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran jajaran SMK Nusa Dua Toya Anyar. Menurutnya, pengalaman dan praktik baik yang dibagikan diharapkan mampu memberikan inspirasi baru bagi SMK Giri Pendawa.

“Terima kasih atas kehadiran Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar beserta tim untuk berbagi pengalaman. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini SMK Giri Pendawa bisa selangkah lebih maju dan ke depan dapat bersama-sama sejajar dengan SMK Toya Anyar,” ungkapnya.

Selanjutnya Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar I Gede Putu Suardana menjelaskan sejumlah langkah yang dilakukan sekolah hingga mampu berada pada posisi seperti saat ini.

Menurutnya, hal pertama yang harus dibangun adalah komitmen bersama seluruh guru dan pegawai. Guru dan tenaga kependidikan harus menyadari bahwa mereka merupakan pelayan siswa dan masyarakat sehingga wajib memberikan pelayanan terbaik.

“Guru dan pegawai selaku pelayan siswa dan masyarakat harus mempunyai komitmen yang sama untuk memberikan pelayanan terbaik,” tegasnya.

Selain aspek profesional, pihaknya juga menekankan pentingnya pendekatan spiritual. Sebagai umat beragama, warga sekolah juga melakukan berbagai kegiatan persembahyangan bersama di tempat-tempat suci yang diyakini membawa berkah, seperti Pura Melanting, Pura Saraswati, Kahyangan Tiga, maupun pura lainnya.

Ia mengibaratkan kegiatan tersebut seperti orang yang akan berjualan dan mempersiapkan diri menjelang penerimaan peserta didik baru (SPMB).

Langkah berikutnya adalah meningkatkan kompetensi guru dan pegawai. Berbagai cara dilakukan, antara lain melalui pemanfaatan media digital, pemagangan, serta kegiatan pengembangan kompetensi lainnya.

Untuk mendukung promosi sekolah, SMK Nusa Dua Toya Anyar juga aktif memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok.

Berbagai aktivitas sekolah dipublikasikan secara konsisten, mulai dari kegiatan sekolah, prestasi siswa, hingga video testimoni alumni yang telah berhasil di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan.

“Warga sekolah wajib ikut mempromosikan sekolah dengan melakukan tag terhadap berbagai kegiatan positif sekolah,” ujarnya.

Budaya disiplin, menurut Suardana, harus dimulai dari pimpinan. Kepala sekolah harus menjadi contoh dengan datang lebih pagi sehingga guru, pegawai, dan siswa akan mengikuti budaya tersebut.

Selain kedisiplinan waktu, sekolah juga memberikan perhatian serius terhadap grooming atau penampilan siswa. Ketentuan seperti potongan rambut, kebersihan pakaian, kerapian kelas, dan kebersihan lingkungan diterapkan secara konsisten, bahkan meniru standar yang berlaku di industri perhotelan.

“Grooming harus diperhatikan. Cukuran wajib satu, dua, tiga, penampilan harus oke. Kebersihan pakaian, kelas dan lingkungan dijaga persis seperti di industri perhotelan,” jelasnya.

Kehadiran siswa dalam pembelajaran juga menjadi perhatian. Sekolah menargetkan tingkat kehadiran siswa mencapai sekitar 90 persen. Demikian pula guru dan pegawai diharapkan menjaga kedisiplinan kehadiran.

Untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, SMK Nusa Dua Toya Anyar menerapkan kegiatan literasi bahasa secara terjadwal.

Hari Selasa dan Rabu digunakan untuk literasi bahasa Inggris, Kamis untuk bahasa Bali, sedangkan Jumat untuk bahasa Jepang.

Selain itu, sekolah menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa.

Penguatan kompetensi tidak hanya diberikan kepada guru produktif. Guru nonproduktif juga diberikan kesempatan mengikuti pemagangan di hotel berbintang selama satu hingga dua minggu.

Biaya pemagangan, termasuk uang saku dan transportasi, diprogramkan melalui dana BOS hingga guru memperoleh sertifikat kompetensi.

Menurut Suardana, langkah tersebut penting agar guru yang mengajar di SMK benar-benar memahami dunia industri.

“Bagaimana bisa seorang mandor mengawasi bangunan kalau dia sendiri tidak mempunyai kompetensi di bidang bangunan?” katanya, memberikan analogi pentingnya kompetensi bagi guru SMK.

SMK Nusa Dua Toya Anyar juga terus melakukan pembaruan sarana dan prasarana agar pembelajaran sesuai dengan perkembangan industri hospitality.

Di bidang perhotelan, misalnya, sistem front office sudah menggunakan sistem digital, sementara kunci kamar telah menggunakan kartu.

“Ilmu hospitality berkembang sangat pesat. Jangan sampai kita ketinggalan,” tegasnya.

Dalam pelaksanaan asesmen, sekolah juga menjalin kerja sama dengan LSP3. Sementara dalam proses pembelajaran, porsi praktik dibuat lebih dominan, yakni sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori.

Menurutnya, hal inilah yang menjadi salah satu ciri khas SMK dibandingkan sekolah umum.

Jika sekolah mengalami keterbatasan ruang belajar, sistem pembelajaran blok dapat diterapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Suasana kegiatan semakin menarik ketika memasuki sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan diajukan peserta, antara lain mengenai mekanisme pelaksanaan guru magang, strategi membangun teaching factory (TEFA), serta solusi dalam menangani siswa bermasalah.

Menjawab pertanyaan mengenai guru magang, Suardana menjelaskan bahwa langkah awal dilakukan oleh kepala sekolah dengan memerintahkan kepala program keahlian untuk menawarkan kesempatan kepada guru yang berminat atau menunjuk guru yang dinilai perlu mengikuti pemagangan.

Setelah guru ditentukan, kaprog berkoordinasi dengan pihak hotel untuk menyusun kerja sama melalui MoU. Kegiatan pemagangan biasanya dilaksanakan pada masa liburan sekolah dan telah diprogramkan menggunakan dana BOS.

Selain mengirim guru untuk magang, sekolah juga dapat mendatangkan instruktur dari industri ke sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.

Tujuannya agar guru umum juga memiliki pengalaman dan kompetensi yang relevan dengan pembelajaran SMK. Kehadiran guru tamu dari industri juga menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan sekolah dengan dunia kerja.

Dalam pengembangan Teaching Factory (TEFA), Suardana menekankan pentingnya membangun sistem manajemen yang jelas.

Sekolah perlu membentuk organisasi yang terdiri atas manajemen, tim produksi, serta tim promosi dan pemasaran.

Sebagai contoh, pada program keahlian perhotelan, siswa dapat mengembangkan usaha laundry. Produk yang dibuat harus benar-benar mengikuti standar industri, termasuk model, proses, lipatan, hingga kemasannya.

“Kalau kita membuat laundry, misalnya mengikuti model Tapa Hotel, maka produknya harus dibuat persis seperti standar mereka, mulai dari lipatan sampai kemasannya. Jangan sampai jauh berbeda karena nantinya bisa menimbulkan masalah,” jelasnya.

Dari sisi pemasaran, penampilan siswa juga harus diperhatikan. Sekolah bahkan dapat membuat kelas beauty untuk melatih penampilan dan pelayanan siswa agar lebih menarik ketika berhadapan dengan konsumen.

Produk TEFA juga harus dikelola secara profesional. Dari keuntungan yang diperoleh, misalnya, dapat diterapkan pembagian 50 persen untuk siswa dan 50 persen untuk modal pengembangan usaha berikutnya.

Terkait penanganan siswa bermasalah, Suardana menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut tidak boleh hanya dibebankan kepada bidang kesiswaan.

Semua guru memiliki tanggung jawab, terutama kepala program keahlian yang menjadi pemimpin sekaligus pembimbing siswa di jurusannya.

Penanganan dilakukan secara bertahap, dimulai dari wali kelas, kemudian kesiswaan, guru BK, dan kepala program keahlian. Apabila diperlukan keputusan lebih lanjut, penanganan terakhir berada di tangan kepala sekolah.

Dengan pola tersebut, permasalahan siswa diharapkan dapat ditangani secara menyeluruh dan tidak hanya dilihat dari satu sisi.

Untuk pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL), SMK Nusa Dua Toya Anyar juga menerapkan tahapan yang sistematis.

Sebelum berangkat, calon peserta PKL diberikan pembekalan dan harus memenuhi sejumlah persyaratan. Siswa mengisi form ketuntasan yang meliputi kewajiban administrasi, pembelajaran, keterampilan, hingga kemampuan speaking.

Siswa yang telah dinyatakan tuntas 100 persen diberangkatkan secara bersama-sama menggunakan bus sesuai tujuan. Mereka kemudian diserahkan kepada pihak industri oleh guru pendamping.

Selanjutnya, sekolah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, termasuk melalui monev setiap bulan.

“Anak-anak yang sudah tuntas 100 persen berangkat bersama menggunakan bus sesuai tujuan, diserahkan oleh pendamping, kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi setiap bulan,” terangnya.

Di akhir pemaparannya, Suardana menyampaikan rasa syukur atas perkembangan SMK Nusa Dua Toya Anyar yang kini menjadi salah satu sekolah swasta favorit di Kabupaten Karangasem.

“Astungkara, sekolah kami menjadi favorit bahkan sampai menolak siswa,”,kalau SMK Giri Pendawa dengan potensi lingkungan yang begini asri,sejuk,air jernih mengalir,Lab-nya bagus saya yakin akan bisa maju asal ada komitmen yang sama,sedikit catatan tadi saya keliling, groming anak anak perlu diperhatikan,  ujarnya.

Kegiatan studi tular tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum berbagi pengalaman, tetapi menjadi langkah konkret bagi SMK Giri Pendawa untuk mengadopsi berbagai praktik baik yang relevan dengan kondisi sekolah.

Melalui komitmen bersama, peningkatan kompetensi guru dan pegawai, penguatan budaya disiplin, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan TEFA, kemitraan dengan industri, serta pelayanan terbaik kepada siswa dan masyarakat, SMK Giri Pendawa optimistis dapat terus berkembang dan meningkatkan daya saingnya.(manixs)

Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar ,Kubu I Gede Putu Suardana saat memberikan materi

Diskusi dalam peninjauan lingkungan SMK Giri Pendawa
 



Kamis, 03 September 2026

Lokakarya Mini Lintas Sektor Puskesmas Rendang Perkuat Sinergi Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Gatra Humas,03092026 — UPTD Puskesmas Rendang menggelar Lokakarya Mini Lintas Sektor, Kamis, 3 September 2026, bertempat di Aula UPTD Puskesmas Rendang. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WITA dan dihadiri berbagai unsur pemerintahan, pendidikan, kesehatan serta tokoh masyarakat di Kecamatan Rendang.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem, Camat Rendang, Kepala UPTD Puskesmas Rendang, kepala sekolah SMA/SMK, para kepala desa, Korwil Pendidikan, Majelis Alit, unsur Forkopimka Rendang serta berbagai unsur lintas sektor lainnya. SMK Giri Pendawa turut hadir yang diwakili Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, I Wayan Suiji.

Dalam sambutannya, Camat Rendang,Gede Sastraadi Wiguna mengajak seluruh unsur lintas sektor untuk bersama-sama mendukung berbagai program yang dilaksanakan UPTD Puskesmas Rendang. Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab puskesmas, tetapi membutuhkan dukungan seluruh komponen masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat. Khususnya dalam persoalan rujukan, masyarakat harus mendapatkan pelayanan dan penjelasan yang baik sehingga tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Yang paling penting adalah memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Jangan sampai dalam mencari rujukan justru menimbulkan masalah. Layani masyarakat dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem berharap berbagai capaian yang telah diraih UPTD Puskesmas Rendang dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Berbagai persoalan kesehatan yang masih terjadi di masyarakat diharapkan dapat ditangani secara baik melalui kerja sama lintas sektor.

Menurutnya, kesehatan merupakan kebutuhan vital masyarakat sehingga setiap persoalan harus mendapat perhatian dan penanganan secara serius.

Kepala UPTD Puskesmas Rendang, dr. I Made Sudarmayasa, dengan lugaas dalam pemaparannya menyampaikan sejumlah persoalan kesehatan yang masih ditemukan di wilayah Kecamatan Rendang.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah masih kurangnya peran dan kesadaran ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, khususnya dalam kunjungan K1 dan K4. Masih ditemukan ibu hamil yang enggan datang memeriksakan kehamilannya ke puskesmas.

Untuk itu, dr. I Made Sudarmayasa berharap desa adat ikut mengambil peran memberikan pemahaman kepada calon pengantin (catin) agar mempersiapkan kesehatan sejak sebelum menikah.

“Harapan kami, desa adat ikut memberikan pemahaman kepada calon pengantin sehingga ketika menikah mereka benar-benar siap secara lahir dan batin,” ujarnya.

Persoalan gizi juga menjadi perhatian Puskesmas Rendang. Dalam upaya meningkatkan kualitas generasi muda, Puskesmas Rendang telah melaksanakan mengikuti program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut diharapkan turut meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk kecerdasan atau IQ generasi muda agar mampu bersaing dan sejajar dengan generasi muda di kawasan ASEAN.

Selain itu, Puskesmas Rendang juga telah melaksanakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal sebagai salah satu upaya penanganan masalah gizi masyarakat.

Selain masalah ibu dan anak serta gizi, beberapa penyakit lainnya juga masih ditemukan di Kecamatan Rendang, di antaranya hepatitis, GHPR (Gigitan Hewan Penular Rabies).

Khusus mengenai rabies, salah satu kendala yang dihadapi adalah proses mendapatkan vaksin yang tidak mudah serta biaya vaksin yang relatif mahal.

Kasus diare juga masih cukup tinggi, terutama di wilayah bagian atas Kecamatan Rendang. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap air bersih.

Selain faktor air bersih, lingkungan peternakan ayam juga menjadi perhatian karena dapat memicu meningkatnya populasi lalat yang berpotensi memengaruhi kebersihan lingkungan.

Puskesmas Rendang juga terus melaksanakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pelaksanaan telah menyasar sekolah-sekolah, komunitas, posyandu dan kelompok masyarakat lainnya.

Masyarakat yang ingin mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara lebih lengkap juga dipersilakan datang langsung ke Puskesmas Rendang.

Dalam lokakarya tersebut juga dibahas persoalan peserta BPJS yang mengalami penonaktifan berdasarkan desil yang ditetapkan oleh Dinas Sosial.

Dijelaskan bahwa peserta dengan desil 5 ke bawah dapat dibuatkan rujukan sesuai ketentuan. Sementara peserta dengan desil di atas 5 yang membutuhkan pelayanan dalam kondisi tertentu dapat memperoleh rujukan emergensi melalui sistem aplikasi sesuai ketentuan yang berlaku, karena secara data mereka dikategorikan mampu secara mandiri.

Puskesmas mengingatkan agar seluruh proses rujukan dilakukan sesuai aturan dan sistem yang telah ditetapkan. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat menimbulkan persoalan bagi petugas atau pihak yang mengeluarkan surat rujukan emergensi apabila kemudian dilakukan uji petik oleh BPJS maupun pemeriksaan oleh BPK.

Melalui Lokakarya Mini Lintas Sektor ini, UPTD Puskesmas Rendang berharap seluruh unsur pemerintahan, pendidikan, desa adat, desa dinas, serta komponen masyarakat dapat semakin memperkuat koordinasi dan bersama-sama mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Rendang.(manixs).

Gede Sastraadi Wiguna Camat Rendang didampingi dr.I Made Sudarmayasa Kepala UPTD Puskesmas Rendang
 
Aula UPTD Puskesmas Rendang