Gatra Humas,050926-Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memajukan sekolah, SMK Giri Pendawa terus membuka diri untuk belajar dan berbagi pengalaman dengan sekolah-sekolah yang dinilai berhasil. Salah satunya melalui kegiatan studi tiru atau studi tular dengan menghadirkan jajaran SMK Nusa Dua Toya Anyar sebagai narasumber.
Kepala SMK Giri Pendawa, I Komang Sumarta, mengundang Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar beserta tim untuk berbagi pengalaman dan strategi pengelolaan sekolah. SMK Nusa Dua Toya Anyar dipilih karena telah dikenal sebagai salah satu sekolah swasta favorit di Kabupaten Karangasem.
Tim SMK Nusa Dua Toya Anyar dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah I Gede Putu Suardana, didampingi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum I Made Putu Ariawan, Kepala Program Keahlian Perhotelan Gede Rintawan Wana Astra, serta Kepala Program Keahlian Kuliner I Gede Darmajaya.
Kegiatan tersebut diikuti Kepala SMK Giri Pendawa bersama para wakil kepala sekolah, kepala program keahlian, guru, dan pegawai.
Dalam sambutannya, I Komang Sumarta menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran jajaran SMK Nusa Dua Toya Anyar. Menurutnya, pengalaman dan praktik baik yang dibagikan diharapkan mampu memberikan inspirasi baru bagi SMK Giri Pendawa.
“Terima kasih atas kehadiran Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar beserta tim untuk berbagi pengalaman. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini SMK Giri Pendawa bisa selangkah lebih maju dan ke depan dapat bersama-sama sejajar dengan SMK Toya Anyar,” ungkapnya.
Selanjutnya Kepala SMK Nusa Dua Toya Anyar I Gede Putu Suardana menjelaskan sejumlah langkah yang dilakukan sekolah hingga mampu berada pada posisi seperti saat ini.
Menurutnya, hal pertama yang harus dibangun adalah komitmen bersama seluruh guru dan pegawai. Guru dan tenaga kependidikan harus menyadari bahwa mereka merupakan pelayan siswa dan masyarakat sehingga wajib memberikan pelayanan terbaik.
“Guru dan pegawai selaku pelayan siswa dan masyarakat harus mempunyai komitmen yang sama untuk memberikan pelayanan terbaik,” tegasnya.
Selain aspek profesional, pihaknya juga menekankan pentingnya pendekatan spiritual. Sebagai umat beragama, warga sekolah juga melakukan berbagai kegiatan persembahyangan bersama di tempat-tempat suci yang diyakini membawa berkah, seperti Pura Melanting, Pura Saraswati, Kahyangan Tiga, maupun pura lainnya.
Ia mengibaratkan kegiatan tersebut seperti orang yang akan berjualan dan mempersiapkan diri menjelang penerimaan peserta didik baru (SPMB).
Langkah berikutnya adalah meningkatkan kompetensi guru dan pegawai. Berbagai cara dilakukan, antara lain melalui pemanfaatan media digital, pemagangan, serta kegiatan pengembangan kompetensi lainnya.
Untuk mendukung promosi sekolah, SMK Nusa Dua Toya Anyar juga aktif memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok.
Berbagai aktivitas sekolah dipublikasikan secara konsisten, mulai dari kegiatan sekolah, prestasi siswa, hingga video testimoni alumni yang telah berhasil di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan.
“Warga sekolah wajib ikut mempromosikan sekolah dengan melakukan tag terhadap berbagai kegiatan positif sekolah,” ujarnya.
Budaya disiplin, menurut Suardana, harus dimulai dari pimpinan. Kepala sekolah harus menjadi contoh dengan datang lebih pagi sehingga guru, pegawai, dan siswa akan mengikuti budaya tersebut.
Selain kedisiplinan waktu, sekolah juga memberikan perhatian serius terhadap grooming atau penampilan siswa. Ketentuan seperti potongan rambut, kebersihan pakaian, kerapian kelas, dan kebersihan lingkungan diterapkan secara konsisten, bahkan meniru standar yang berlaku di industri perhotelan.
“Grooming harus diperhatikan. Cukuran wajib satu, dua, tiga, penampilan harus oke. Kebersihan pakaian, kelas dan lingkungan dijaga persis seperti di industri perhotelan,” jelasnya.
Kehadiran siswa dalam pembelajaran juga menjadi perhatian. Sekolah menargetkan tingkat kehadiran siswa mencapai sekitar 90 persen. Demikian pula guru dan pegawai diharapkan menjaga kedisiplinan kehadiran.
Untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, SMK Nusa Dua Toya Anyar menerapkan kegiatan literasi bahasa secara terjadwal.
Hari Selasa dan Rabu digunakan untuk literasi bahasa Inggris, Kamis untuk bahasa Bali, sedangkan Jumat untuk bahasa Jepang.
Selain itu, sekolah menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa.
Penguatan kompetensi tidak hanya diberikan kepada guru produktif. Guru nonproduktif juga diberikan kesempatan mengikuti pemagangan di hotel berbintang selama satu hingga dua minggu.
Biaya pemagangan, termasuk uang saku dan transportasi, diprogramkan melalui dana BOS hingga guru memperoleh sertifikat kompetensi.
Menurut Suardana, langkah tersebut penting agar guru yang mengajar di SMK benar-benar memahami dunia industri.
“Bagaimana bisa seorang mandor mengawasi bangunan kalau dia sendiri tidak mempunyai kompetensi di bidang bangunan?” katanya, memberikan analogi pentingnya kompetensi bagi guru SMK.
SMK Nusa Dua Toya Anyar juga terus melakukan pembaruan sarana dan prasarana agar pembelajaran sesuai dengan perkembangan industri hospitality.
Di bidang perhotelan, misalnya, sistem front office sudah menggunakan sistem digital, sementara kunci kamar telah menggunakan kartu.
“Ilmu hospitality berkembang sangat pesat. Jangan sampai kita ketinggalan,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan asesmen, sekolah juga menjalin kerja sama dengan LSP3. Sementara dalam proses pembelajaran, porsi praktik dibuat lebih dominan, yakni sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori.
Menurutnya, hal inilah yang menjadi salah satu ciri khas SMK dibandingkan sekolah umum.
Jika sekolah mengalami keterbatasan ruang belajar, sistem pembelajaran blok dapat diterapkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Suasana kegiatan semakin menarik ketika memasuki sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan diajukan peserta, antara lain mengenai mekanisme pelaksanaan guru magang, strategi membangun teaching factory (TEFA), serta solusi dalam menangani siswa bermasalah.
Menjawab pertanyaan mengenai guru magang, Suardana menjelaskan bahwa langkah awal dilakukan oleh kepala sekolah dengan memerintahkan kepala program keahlian untuk menawarkan kesempatan kepada guru yang berminat atau menunjuk guru yang dinilai perlu mengikuti pemagangan.
Setelah guru ditentukan, kaprog berkoordinasi dengan pihak hotel untuk menyusun kerja sama melalui MoU. Kegiatan pemagangan biasanya dilaksanakan pada masa liburan sekolah dan telah diprogramkan menggunakan dana BOS.
Selain mengirim guru untuk magang, sekolah juga dapat mendatangkan instruktur dari industri ke sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.
Tujuannya agar guru umum juga memiliki pengalaman dan kompetensi yang relevan dengan pembelajaran SMK. Kehadiran guru tamu dari industri juga menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan sekolah dengan dunia kerja.
Dalam pengembangan Teaching Factory (TEFA), Suardana menekankan pentingnya membangun sistem manajemen yang jelas.
Sekolah perlu membentuk organisasi yang terdiri atas manajemen, tim produksi, serta tim promosi dan pemasaran.
Sebagai contoh, pada program keahlian perhotelan, siswa dapat mengembangkan usaha laundry. Produk yang dibuat harus benar-benar mengikuti standar industri, termasuk model, proses, lipatan, hingga kemasannya.
“Kalau kita membuat laundry, misalnya mengikuti model Tapa Hotel, maka produknya harus dibuat persis seperti standar mereka, mulai dari lipatan sampai kemasannya. Jangan sampai jauh berbeda karena nantinya bisa menimbulkan masalah,” jelasnya.
Dari sisi pemasaran, penampilan siswa juga harus diperhatikan. Sekolah bahkan dapat membuat kelas beauty untuk melatih penampilan dan pelayanan siswa agar lebih menarik ketika berhadapan dengan konsumen.
Produk TEFA juga harus dikelola secara profesional. Dari keuntungan yang diperoleh, misalnya, dapat diterapkan pembagian 50 persen untuk siswa dan 50 persen untuk modal pengembangan usaha berikutnya.
Terkait penanganan siswa bermasalah, Suardana menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut tidak boleh hanya dibebankan kepada bidang kesiswaan.
Semua guru memiliki tanggung jawab, terutama kepala program keahlian yang menjadi pemimpin sekaligus pembimbing siswa di jurusannya.
Penanganan dilakukan secara bertahap, dimulai dari wali kelas, kemudian kesiswaan, guru BK, dan kepala program keahlian. Apabila diperlukan keputusan lebih lanjut, penanganan terakhir berada di tangan kepala sekolah.
Dengan pola tersebut, permasalahan siswa diharapkan dapat ditangani secara menyeluruh dan tidak hanya dilihat dari satu sisi.
Untuk pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL), SMK Nusa Dua Toya Anyar juga menerapkan tahapan yang sistematis.
Sebelum berangkat, calon peserta PKL diberikan pembekalan dan harus memenuhi sejumlah persyaratan. Siswa mengisi form ketuntasan yang meliputi kewajiban administrasi, pembelajaran, keterampilan, hingga kemampuan speaking.
Siswa yang telah dinyatakan tuntas 100 persen diberangkatkan secara bersama-sama menggunakan bus sesuai tujuan. Mereka kemudian diserahkan kepada pihak industri oleh guru pendamping.
Selanjutnya, sekolah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, termasuk melalui monev setiap bulan.
“Anak-anak yang sudah tuntas 100 persen berangkat bersama menggunakan bus sesuai tujuan, diserahkan oleh pendamping, kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi setiap bulan,” terangnya.
Di akhir pemaparannya, Suardana menyampaikan rasa syukur atas perkembangan SMK Nusa Dua Toya Anyar yang kini menjadi salah satu sekolah swasta favorit di Kabupaten Karangasem.
“Astungkara, sekolah kami menjadi favorit bahkan sampai menolak siswa,”,kalau SMK Giri Pendawa dengan potensi lingkungan yang begini asri,sejuk,air jernih mengalir,Lab-nya bagus saya yakin akan bisa maju asal ada komitmen yang sama,sedikit catatan tadi saya keliling, groming anak anak perlu diperhatikan, ujarnya.
Kegiatan studi tular tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum berbagi pengalaman, tetapi menjadi langkah konkret bagi SMK Giri Pendawa untuk mengadopsi berbagai praktik baik yang relevan dengan kondisi sekolah.
Melalui komitmen bersama, peningkatan kompetensi guru dan pegawai, penguatan budaya disiplin, pemanfaatan teknologi digital, pengembangan TEFA, kemitraan dengan industri, serta pelayanan terbaik kepada siswa dan masyarakat, SMK Giri Pendawa optimistis dapat terus berkembang dan meningkatkan daya saingnya.(manixs)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar