I WAYAN SUIJI
(Ketua Pembina Yayasan Giri Pendawa)
Ada kegelisahan yang semakin sering dirasakan oleh para pendidik: mengapa sebagian siswa sekarang semakin sulit diarahkan? Nasihat diberikan berulang-ulang, aturan dibuat, pembinaan dilakukan, bahkan teguran disampaikan hampir setiap hari. Namun perubahan perilaku sering hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, kebiasaan lama muncul kembali.
Fenomena ini tentu tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh siswa. Masih banyak anak muda yang memiliki semangat belajar, menghormati guru, bertanggung jawab, dan memiliki cita-cita besar. Namun, perilaku sebagian siswa yang semakin sulit dikendalikan patut menjadi perhatian serius karena jika dibiarkan, bukan hanya prestasi akademik yang terganggu, tetapi juga pembentukan karakter dan masa depan mereka.
Dari keterlambatan hingga hilangnya rasa hormat
Di lingkungan sekolah, bentuk pelanggaran yang sering menjadi perhatian antara lain datang terlambat, berkelahi, melanggar tata tertib, membentuk kelompok atau geng yang memberikan pengaruh negatif, berkendara secara ugal-ugalan, hubungan pergaulan yang tidak sehat, serta berkurangnya rasa hormat kepada guru.
Ada pula persoalan yang sebenarnya lebih mendasar: sebagian anak semakin sulit menerima nasihat orang tua. Ketika keinginannya tidak dipenuhi, ia dapat menunjukkan sikap membantah, mengabaikan nasihat, tidur larut malam, bangun kesiangan, tidak mau membantu pekerjaan keluarga, bahkan menggunakan berbagai cara untuk menekan orang tua.
Dalam keadaan tertentu, orang tua akhirnya menyerah.
Bukan karena mereka tidak menyayangi anaknya, melainkan karena merasa tidak berdaya menghadapi perlawanan anak. Teguran berulang kali tidak menghasilkan perubahan. Ketika konflik semakin besar, orang tua memilih diam daripada menghadapi pertengkaran.
Di sinilah persoalannya menjadi serius.
Anak yang merasa bahwa dirinya dapat menentukan segala sesuatu di rumah berpotensi membawa pola tersebut ke sekolah. Jika di rumah ia terbiasa membantah tanpa konsekuensi yang jelas, ia dapat menganggap guru pun dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Jika kelompok sebaya memberikan penguatan terhadap perilaku tersebut, terbentuklah lingkungan yang semakin sulit dikendalikan.
Media sosial dan lahirnya budaya membandingkan kehidupan
Salah satu perubahan besar yang membedakan generasi sekarang dengan generasi sebelumnya adalah derasnya arus informasi melalui media sosial.
Setiap hari anak-anak dapat melihat kendaraan baru, pakaian mahal, rumah mewah, perjalanan wisata, kehidupan selebritas, hiburan, dan berbagai bentuk kemudahan hidup. Yang sering tidak terlihat adalah proses panjang di balik kehidupan tersebut: kerja keras, kegagalan, utang, perjuangan keluarga, atau keadaan sebenarnya yang tidak ditampilkan di media sosial.
Akhirnya, yang terlihat hanya hasilnya.
Anak kemudian dapat berpikir, “Mengapa orang lain bisa memiliki semua itu sementara saya tidak?”
Keinginan untuk memiliki sesuatu sebenarnya bukan kesalahan. Persoalan muncul ketika keinginan tersebut tidak disertai kemampuan menerima kenyataan, kesabaran menunggu, kemauan bekerja, dan pemahaman tentang kondisi ekonomi keluarga.
Misalnya, seorang anak sangat menginginkan sepeda motor baru, sementara orang tuanya belum mampu membelikannya. Keinginan itu kemudian berubah menjadi tuntutan. Ketika tuntutan tidak dipenuhi, muncul perilaku mogok, malas membantu orang tua, tidur larut malam, bangun kesiangan, membantah, atau bahkan mengancam secara emosional.
Jika orang tua akhirnya menyerah, anak belajar sebuah pola yang sangat berbahaya:
“Kalau saya menekan cukup keras, keinginan saya akan dipenuhi atau setidaknya orang tua akan menyerah.”
Pola tersebut dapat terbawa ke lingkungan sekolah.
Persoalannya bukan semata-mata kemiskinan
Ada kecenderungan untuk mengaitkan masalah kenakalan remaja dengan kondisi ekonomi keluarga. Namun, kita perlu berhati-hati.
Keterbatasan ekonomi memang dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kehidupan keluarga, tetapi bukan berarti keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah pasti menghasilkan anak yang bermasalah. Sebaliknya, banyak anak dari keluarga sederhana justru tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, santun, dan bertanggung jawab.
Karena itu, persoalannya lebih tepat dilihat sebagai pertemuan berbagai faktor: pola asuh, keteladanan orang dewasa, lingkungan pergaulan, budaya sekolah, penggunaan media sosial, kondisi psikososial, kesempatan berkembang, serta konsistensi aturan dan konsekuensi.
Yang harus dibangun bukan sekadar kemampuan anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan, melainkan kemampuan untuk menerima kenyataan, menunda keinginan, bekerja keras, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.
Ketika nasihat kehilangan kekuatannya
Sekolah selama ini tentu telah berusaha.
Nasihat diberikan pada pagi hari. Sebelum pulang, siswa kembali diingatkan. Ketika melakukan pelanggaran, mereka dipanggil dan dibina. Besok diingatkan lagi. Lusa diingatkan lagi.
Namun, jika pembinaan hanya berbentuk nasihat yang berulang tanpa sistem yang kuat, lama-kelamaan nasihat kehilangan daya.
Anak mungkin mendengarkan karena takut sesaat. Tiga hari kemudian perilakunya kembali seperti semula. Seminggu kemudian nasihat tersebut mungkin sudah dilupakan.
Lebih buruk lagi, apabila sebagian siswa melihat bahwa pelanggaran tidak menghasilkan konsekuensi yang jelas, mereka dapat menyimpulkan bahwa aturan sekolah sebenarnya tidak terlalu penting.
Pada titik inilah sekolah membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis.
Pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui ceramah. Karakter dibentuk melalui kebiasaan, keteladanan, aturan yang konsisten, hubungan yang sehat, penghargaan, tanggung jawab, dan konsekuensi yang mendidik.
Guru jangan dibuat takut mendidik
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: posisi guru.
Guru memang tidak boleh menggunakan kekerasan, penghinaan, atau tindakan yang merendahkan peserta didik. Anak harus dilindungi dari perlakuan yang tidak mendidik.
Namun, perlindungan terhadap anak tidak boleh dimaknai sebagai pembiaran terhadap pelanggaran.
Guru yang menjalankan tugas pembinaan secara profesional juga membutuhkan perlindungan dan dukungan. Jangan sampai seorang guru yang berusaha menegakkan tata tertib justru merasa takut menghadapi siswa karena khawatir akan dipermalukan, dilaporkan, atau diposisikan sebagai pihak yang selalu bersalah.
Jika setiap teguran terhadap siswa langsung dianggap sebagai kesalahan guru, lama-kelamaan guru dapat kehilangan keberanian untuk mendidik.
Ketika guru takut menegakkan aturan, siswa akan belajar bahwa guru tidak memiliki kekuatan.
Dan ketika siswa mengetahui bahwa tidak ada konsekuensi yang tegas dan adil, keberanian melakukan pelanggaran dapat semakin meningkat.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan keberpihakan kepada guru melawan siswa, atau sebaliknya keberpihakan kepada siswa melawan guru.
Yang dibutuhkan adalah keadilan bagi keduanya.
Siswa harus mendapatkan perlindungan dari tindakan yang salah. Guru juga harus mendapatkan perlindungan ketika menjalankan pembinaan yang sah, proporsional, dan sesuai aturan.
Jangan biarkan sekolah berjalan sendirian
Pendidikan karakter bukan pekerjaan sekolah saja.
Sekolah dapat membuat aturan, tetapi keluarga membentuk kebiasaan. Sekolah dapat mengajarkan sopan santun, tetapi anak melihat contoh nyata setiap hari di rumah. Sekolah dapat berbicara tentang disiplin, tetapi anak akan lebih mudah memahami disiplin apabila melihat orang dewasa di sekitarnya hidup secara disiplin.
Karena itu, ketika terjadi masalah perilaku, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya:
“Apa yang salah dengan anak ini?”
Tetapi juga:
“Lingkungan seperti apa yang sedang membentuk anak ini?”
Bagaimana komunikasi orang tua dengan anak?
Apakah aturan di rumah konsisten?
Apakah setiap keinginan anak selalu dipenuhi?
Apakah ada konsekuensi ketika anak melanggar?
Apakah penggunaan telepon dan media sosial diawasi?
Siapa teman-temannya?
Bagaimana budaya kelompoknya?
Bagaimana sekolah menangani pelanggaran?
Dan yang tidak kalah penting: apa yang dicontohkan oleh orang-orang dewasa kepada mereka?
Anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari masyarakat
Kegelisahan tentang karakter generasi muda pada akhirnya membawa kita kepada persoalan keteladanan.
Anak-anak setiap hari melihat masyarakat di sekelilingnya. Mereka melihat orang yang bekerja keras dan berhasil. Mereka juga melihat orang yang memperoleh kekayaan dengan cara yang dipertanyakan. Mereka melihat orang yang jujur. Mereka juga mendengar berita tentang penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi.
Di sinilah muncul pertanyaan yang sangat mengganggu:
Apa pesan yang sebenarnya diterima anak-anak dari masyarakat kita?
Kita mengatakan kepada mereka agar rajin belajar.
Kita mengatakan agar jujur.
Kita mengatakan agar sopan.
Kita mengatakan agar bekerja keras.
Kita mengatakan agar menghormati aturan.
Tetapi anak-anak juga menyaksikan kehidupan orang dewasa. Mereka dapat bertanya dalam hati: “Kalau orang yang melanggar aturan tetap bisa hidup enak, mengapa saya harus bersusah payah menjadi orang baik?”
Pertanyaan seperti itu tidak boleh kita jawab dengan kemarahan kepada anak.
Kita harus menjawabnya dengan keteladanan.
Masyarakat yang ingin memiliki generasi berkarakter harus menciptakan lingkungan yang menghargai kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan integritas. Pendidikan karakter akan sulit berhasil apabila pesan yang diterima anak dari kehidupan nyata bertolak belakang dengan apa yang diajarkan di sekolah.
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Kita tidak bisa mengubah keadaan hanya dengan menambah jumlah nasihat.
Beberapa langkah perlu dilakukan secara bersama-sama.
Pertama, keluarga harus kembali menjadi tempat pendidikan karakter yang utama. Orang tua perlu berani mengatakan “tidak” ketika memang tidak mampu atau ketika permintaan anak tidak tepat. Kasih sayang tidak berarti memenuhi semua keinginan.
Kedua, aturan harus jelas dan konsisten. Anak perlu mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta apa konsekuensinya. Konsekuensi harus mendidik, proporsional, dan diterapkan secara adil.
Ketiga, sekolah dan orang tua harus menjadi satu tim. Jangan sampai ketika sekolah membina anak, keluarga justru langsung membela tanpa terlebih dahulu mengetahui persoalannya. Sebaliknya, sekolah juga harus mau mendengarkan keluarga dan memahami kondisi anak.
Keempat, pembinaan jangan berhenti pada ceramah. Siswa perlu diberi pengalaman yang membangun tanggung jawab: kegiatan sosial, kerja kelompok, pelayanan masyarakat, olahraga, kegiatan seni, kepemimpinan, proyek produktif, dan berbagai aktivitas yang membuat mereka mengalami langsung arti disiplin dan tanggung jawab.
Kelima, guru harus mendapatkan dukungan institusional. Guru yang bertindak sesuai prosedur untuk mendidik siswa harus mendapatkan pendampingan, bukan dibiarkan menghadapi masalah seorang diri.
Keenam, penggunaan media sosial perlu menjadi bagian dari pendidikan keluarga. Anak perlu diajarkan bahwa apa yang muncul di layar bukan gambaran lengkap kehidupan. Kemewahan yang terlihat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Ketujuh, siswa perlu diajarkan bahwa keinginan berbeda dengan kebutuhan. Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki sekarang. Kemampuan menunda keinginan merupakan bagian penting dari kedewasaan.
Kedelapan, sekolah harus membangun budaya yang menghargai perilaku baik. Jangan sampai perhatian sekolah hanya tertuju kepada anak yang bermasalah, sementara anak yang disiplin dan bertanggung jawab tidak pernah mendapatkan apresiasi.
Mengembalikan pendidikan kepada tujuan yang lebih besar
Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan membuat anak pintar secara akademik. Pendidikan berkaitan dengan tuntunan terhadap pertumbuhan anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari nilai rapor, kelulusan, atau diterimanya siswa di sekolah lanjutan.
Kita juga harus bertanya:
Apakah mereka mampu menghormati orang lain?
Apakah mereka mampu mengendalikan keinginan?
Apakah mereka berani bertanggung jawab atas kesalahan?
Apakah mereka mampu bekerja keras ketika sesuatu tidak dapat diperoleh dengan mudah?
Apakah mereka mampu hidup bersama orang lain tanpa merendahkan?
Apakah mereka memahami bahwa kebebasan selalu disertai tanggung jawab?
Inilah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar apakah siswa mendapatkan nilai tinggi.
Negeri ini tidak kekurangan anak pintar, tetapi membutuhkan manusia berkarakter
Kegelisahan terhadap perilaku sebagian siswa sebenarnya harus menjadi alarm bagi semua pihak.
Jangan buru-buru menyalahkan anak.
Jangan pula seluruh kesalahan dilemparkan kepada guru.
Jangan hanya menyalahkan orang tua.
Dan jangan menjadikan kondisi ekonomi sebagai satu-satunya penjelasan.
Anak-anak adalah hasil dari lingkungan yang ikut kita ciptakan.
Jika keluarga menyerah, sekolah berjalan sendiri, masyarakat memberikan contoh yang buruk, aturan tidak konsisten, dan guru takut mendidik, maka kita sedang menciptakan kondisi yang memungkinkan masalah karakter semakin besar.
Sebaliknya, apabila keluarga berani mendidik, sekolah konsisten membina, guru mendapatkan perlindungan, masyarakat memberikan teladan, dan anak diberi ruang untuk belajar bertanggung jawab, maka perubahan tetap mungkin terjadi.
Generasi muda bukan generasi yang harus kita takuti.
Mereka adalah generasi yang harus kita tuntun.
Mereka memang perlu didengar, tetapi bukan berarti semua keinginannya harus dituruti. Mereka perlu dilindungi, tetapi bukan berarti setiap kesalahannya harus dibenarkan. Mereka perlu diberi kebebasan, tetapi kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya “Anak-anak kita akan menjadi seperti apa?”
Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
“Orang dewasa seperti apa yang sedang mereka lihat setiap hari?”
Sebab sebelum menuntut anak-anak menjadi generasi yang berkarakter, kita harus memastikan bahwa keluarga, sekolah, masyarakat, dan para pemegang amanah di negeri ini memberikan cukup banyak alasan bagi mereka untuk percaya bahwa kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, kerja keras, dan integritas memang masih layak diperjuangkan.
Jika tidak, jangan heran apabila nasihat tentang karakter hanya bertahan tiga hari, sementara teladan yang mereka lihat setiap hari membentuk mereka jauh lebih kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar