Senin, 07 September 2026

Kedisiplinan Dimulai dari Diri Sendiri

Oleh: I Komang Sumarta(Kepala SMK Giri Pendawa)

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan/Ida Hyang Widhi Wasa. Di antara seluruh ciptaan-Nya, manusia sesungguhnya memiliki keistimewaan karena dibekali idep, yaitu kemampuan untuk berpikir dan mempertimbangkan sesuatu. Dengan idep tersebut, manusia memiliki wiweka, kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang patut dilakukan dan mana yang seharusnya dihindari.

Namun, memiliki wiweka tidak serta-merta membuat manusia selalu mampu menggunakannya dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering dihadapkan pada keadaan ketika pikiran, perkataan, dan perbuatan belum berjalan searah. Kita mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang belum mampu melaksanakannya secara konsisten.

Kita sering kali mampu memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi lupa menerapkan nasihat tersebut kepada diri sendiri.

Hal sederhana dapat kita lihat dalam kehidupan di sekolah. Sebagai lembaga pendidikan, kita membuat berbagai aturan demi menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan kondusif. Misalnya, aturan mengenai penggunaan seragam, kedatangan tepat waktu, kebersihan, tata krama, dan berbagai bentuk kedisiplinan lainnya.

Ketika ada siswa yang melanggar aturan, kita menegur, bahkan terkadang memarahi mereka agar memahami kesalahannya. Hal tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan. Anak-anak memang masih membutuhkan arahan, bimbingan, pengawasan, dan keteladanan dari orang dewasa.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang lebih penting:

Bagaimana dengan kita sebagai orang dewasa?

Di sekolah juga terdapat aturan mengenai seragam dan kedisiplinan bagi guru dan pegawai. Namun, terkadang masih ada di antara kita yang belum sepenuhnya menjalankan aturan tersebut.

Di sinilah sebenarnya letak pentingnya wiweka.

Kita adalah orang dewasa. Kita memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan untuk memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Oleh karena itu, kedisiplinan bagi orang dewasa semestinya tidak selalu harus lahir karena teguran atau kemarahan dari seorang pimpinan.

Kedisiplinan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu berkata kepada dirinya sendiri:

“Saya melakukan ini bukan karena takut ditegur, tetapi karena saya sadar bahwa ini adalah kewajiban saya.”

Seorang guru atau pegawai tidak harus selalu menunggu kepala sekolah menegur untuk mengenakan seragam sesuai ketentuan. Tidak harus selalu diingatkan untuk datang tepat waktu. Tidak harus menunggu diperintah untuk menjaga kebersihan dan melaksanakan tanggung jawab.

Kesadaran itulah yang disebut disiplin diri.

Guru dan Pegawai Adalah Teladan

Sekolah bukan hanya tempat siswa belajar melalui buku dan pelajaran. Sekolah juga merupakan tempat siswa belajar melalui apa yang mereka lihat setiap hari.

Siswa memperhatikan bagaimana gurunya datang ke sekolah. Mereka melihat bagaimana guru berpakaian. Mereka melihat bagaimana guru berbicara, bersikap, menghargai waktu, menaati aturan, dan menjalankan tanggung jawab.

Karena itu, keteladanan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar nasihat.

Kita dapat mengatakan kepada siswa:

“Datanglah tepat waktu.”

Tetapi pesan tersebut akan jauh lebih kuat apabila siswa melihat gurunya selalu hadir tepat waktu.

Kita dapat mengatakan:

“Gunakan seragam sesuai aturan.”

Namun pesan itu akan lebih bermakna apabila orang dewasa di sekolah terlebih dahulu memberikan contoh melalui dirinya sendiri.

Kita dapat mengatakan:

“Jadilah pribadi yang disiplin.”

Tetapi sesungguhnya siswa akan belajar disiplin ketika mereka melihat orang-orang dewasa di sekelilingnya hidup dengan disiplin.

Maka, sebelum kita meminta anak-anak untuk berubah, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah saya menjadi contoh dari apa yang saya ajarkan?

Aturan Bukan untuk Ditakuti

Pada dasarnya, aturan dibuat bukan untuk menakut-nakuti atau membatasi seseorang. Aturan dibuat untuk menciptakan keteraturan, keadilan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama yang lebih baik.

Demikian pula dengan aturan di sekolah.

Ketika sekolah mengatur penggunaan seragam, jam kedatangan, kebersihan, etika, dan tanggung jawab kerja, tujuan akhirnya bukan sekadar agar semua orang patuh kepada kepala sekolah. Lebih jauh daripada itu, aturan dibuat agar seluruh warga sekolah memiliki budaya yang sama: budaya disiplin dan tanggung jawab.

Disiplin bukan karena ada yang mengawasi.

Disiplin adalah ketika kita tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat.

Inilah yang membedakan antara takut kepada aturan dan sadar akan tanggung jawab.

Orang yang hanya takut kepada aturan akan tertib ketika diawasi. Tetapi orang yang memiliki kesadaran akan tetap melakukan yang benar meskipun tidak ada pimpinan di dekatnya.

Di sinilah wiweka seharusnya digunakan.

Mulai dari Diri Sendiri

Menegakkan disiplin tidak harus selalu dimulai dengan memberikan teguran kepada orang lain.

Disiplin harus dimulai dari diri sendiri.

Jika kita ingin siswa datang tepat waktu, mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk datang tepat waktu.

Jika kita ingin siswa berpakaian rapi sesuai aturan, mari kita mulai dari diri kita sendiri.

Jika kita ingin siswa bertanggung jawab terhadap tugasnya, mari kita tunjukkan bahwa kita pun bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada kita.

Jika kita ingin siswa menghormati aturan, mari kita menjadi orang pertama yang menghormati aturan tersebut.

Dengan demikian, kedisiplinan tidak hanya menjadi sebuah peraturan tertulis, tetapi berubah menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah.

Keteladanan dari seorang guru atau pegawai mungkin terlihat sederhana. Datang tepat waktu, mengenakan seragam sesuai ketentuan, menjaga kebersihan, melaksanakan tugas dengan baik, berbicara dengan sopan, dan menaati aturan.

Namun, hal-hal sederhana tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar kepada anak-anak kita.

Menjadi Manusia yang Menggunakan Wiweka

Sebagai manusia yang dianugerahi idep dan wiweka, sudah seharusnya kita mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, kemudian memilih untuk melakukan yang benar.

Kita tidak perlu selalu menunggu seseorang mengingatkan kita.

Tidak perlu menunggu ditegur.

Tidak perlu menunggu dimarahi.

Kesadaran diri seharusnya menjadi penggerak utama dalam menjalankan kewajiban.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat siswa menjadi pintar. Pendidikan juga tentang membentuk manusia yang mampu berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik.

Tri Kaya Parisudha mengajarkan kita untuk menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kedisiplinan pun sesungguhnya dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Ketika pikiran kita sadar akan tanggung jawab, perkataan kita selaras dengan nilai yang kita ajarkan, dan perbuatan kita menjadi contoh bagi orang lain, maka pendidikan akan memiliki makna yang lebih dalam.

Mari kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam diri masing-masing.

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa siswa belum disiplin?”

Tetapi mari kita bertanya:

“Sudahkah saya memberikan contoh kedisiplinan kepada siswa?”

Jangan hanya meminta anak-anak menaati aturan.

Mari kita terlebih dahulu menaati aturan yang sama.

Karena aturan akan jauh lebih mudah ditegakkan apabila dimulai dari keteladanan.

Dan ketika setiap guru dan pegawai mulai membangun disiplin dari dirinya sendiri, sesungguhnya kita sedang memberikan stimulasi kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Kedisiplinan menular melalui keteladanan.

Semoga kita semua mampu menggunakan idep dan wiweka dengan sebaik-baiknya, sehingga apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan senantiasa mengarah pada kebaikan.

Mari kita mulai dari diri sendiri.

Saya disiplin karena saya sadar.
Saya menaati aturan karena saya bertanggung jawab.
Saya menjadi teladan karena saya adalah bagian dari pendidikan.

Semoga langkah kecil yang kita mulai dari diri sendiri dapat menjadi perubahan besar bagi budaya disiplin di SMK Giri Pendawa.

Astungkara !!!

CATATAN REDAKSI: Penulis adalah salah seorang tokoh di desa Nongan,karena beliau menjabat Klian Pura Dalem Kupa,sebagai pemangku dadia,Ketua Koperasi,Pengawas LPD,Ketua BPD, dan di dunia pendidikan banyak jabatan yang dipegang pernah sebagai pengurus PGRI,sebagai dosen UT,wakil ketua yayasan giri pendawa,guru SMP,SMA sebagai wakil kepala sekolah belasan tahun dan masa pensiunnya kini dipercaya sebagai kepala sekolah di SMK Giri Pendawa dan masih banyak lagi jabatan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar