Indonesia di hari ulang tahunnya yang ke-81 mungkin sudah pantas disebut memasuki usia tua. Delapan puluh satu tahun itu bukan lagi usia anak muda. Kalau manusia, mungkin sudah mulai gampang lupa: lupa menaruh kacamata, lupa mematikan lampu, bahkan lupa tadi mau mengambil apa.
Tetapi kalau sebuah bangsa mulai “lupa”, persoalannya menjadi lebih serius.
Indonesia tampaknya mulai lupa kepada cita-cita kemerdekaan. Lupa bahwa kemerdekaan seharusnya membuat rakyat hidup lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Atau jangan-jangan bukan lupa? Mungkin hanya kelelahan.
Lelah melihat pemimpin dan tokoh politik yang sibuk saling menyalahkan. Lelah melihat pejabat yang seharusnya menjadi pelayan rakyat tetapi justru sering membuat rakyat bertanya-tanya. Lelah melihat rakyat sendiri ikut bertengkar, saling hujat, bahkan kadang menjadi beringas hanya karena berbeda pilihan.
Pidato kenegaraan pun tidak luput dari komentar pedas warganet. Baru selesai pidato, komentar sudah lebih cepat daripada tepuk tangan. Ada yang bilang pemerintah tidak pro-rakyat, ada yang bilang programnya amburadul. Program MBG diperdebatkan, Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi sorotan karena anggarannya sangat besar. Bahkan abdi negara pun ikut merasakan tekanan ketika TPP atau penghasilannya dipotong.
Indonesia pun seperti sedang mengalami “masuk angin nasional”.
Di Aceh muncul suara-suara yang ingin berpisah dari NKRI. Di Papua, kekayaan bumi masih menjadi persoalan panjang tentang siapa yang menikmati hasilnya. Pedagang kecil mengeluh karena pajak dan beban ekonomi. Yang lebih menyakitkan, uang yang dikumpulkan dari rakyat melalui pajak justru kadang dikorupsi oleh oknum pejabat.
Rakyat akhirnya bertanya:
“Jadi kami bayar pajak untuk siapa?”
Jawabannya jangan sampai:
“Untuk membiayai orang yang nanti masuk berita karena korupsi.”
Itu namanya rakyat sudah kena pajak, kena macet, kena harga mahal, lalu kena berita korupsi pula.
Di tengah semua itu, kriminalitas terasa semakin mengkhawatirkan. Orang tua mulai takut kepada anaknya sendiri, masyarakat takut keluar malam, dan berita tentang begal, perampokan, kekerasan, serta pembunuhan terasa begitu sering muncul.
Harga-harga naik. Ekonomi terasa berat. Rupiah tertekan. Masyarakat kecil semakin pandai berhitung—bukan menghitung keuntungan, tetapi menghitung apakah uang di dompet masih cukup sampai akhir bulan.
Belum selesai memikirkan cicilan dan harga sembako, datang pula bencana: gempa, longsor, banjir, dan berbagai musibah lainnya.
Para peramal kemudian ikut berbicara tentang “gelagat semesta”. Ramalan berseliweran di media sosial. Sebagian dipercaya, sebagian ditertawakan.
Yang pasti, yang paling jelas bukan ramalannya, tetapi kecemasan manusianya.
Lalu muncul pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling dalam:
“Pertanda apakah ini, Tuhan?”
Mungkin Tuhan sedang mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak akan hancur hanya karena satu orang pemimpin. Bangsa bisa rapuh ketika semua orang mulai merasa dirinya paling benar dan orang lain selalu salah.
Mungkin Tuhan sedang mengingatkan bahwa korupsi bukan hanya soal mengambil uang negara. Korupsi juga berarti mencuri masa depan anak-anak. Mencuri kesempatan orang miskin. Mencuri kepercayaan rakyat.
Dan mungkin Tuhan juga sedang mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara, bendera, pidato, lomba penjor dan atau lomba panjat pinang dll..
Kemerdekaan adalah ketika rakyat tidak takut kepada negaranya sendiri.
Kemerdekaan adalah ketika pedagang kecil bisa mencari nafkah tanpa merasa terus dikejar beban.
Kemerdekaan adalah ketika pejabat takut berbuat salah karena hukum benar-benar berdiri tegak.
Kemerdekaan adalah ketika perbedaan pilihan politik tidak membuat sesama anak bangsa berubah menjadi musuh.
Jadi, di usia 81 tahun ini, apakah Indonesia benar-benar mulai pikun?
Semoga tidak.
Kalau pun mulai lupa, mudah-mudahan yang dilupakan hanyalah dendam, keserakahan, korupsi, dan kebiasaan saling menyalahkan.
Sedangkan yang jangan sampai lupa adalah Pancasila, persatuan, keadilan, gotong royong, dan cita-cita para pendiri bangsa.
Sebab Indonesia boleh tua, tetapi jangan sampai menjadi tua sebelum waktunya.
Dan kalau bangsa ini sesekali terlihat bingung, mudah-mudahan bukan karena sudah pikun.
Mungkin Indonesia hanya sedang lelah melihat kelakuan anak-anaknya.
Dirgahayu Indonesia ke-81.
Semoga tahun depan kita tidak perlu bertanya lagi, “Ini pertanda apa, Tuhan?”
Cukup Tuhan bersabda dalam hati kita:
“Sudah, jangan ribut. Kerja yang benar, jujur, dan saling menjaga,kalian jangan hanya pintar debat,protes,nyinyir,dengki dan iri,berikanlah apa yang kau bisa berikan untuk negaramu !!! RAHAYU.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar