Kamis, 13 Agustus 2026

Langkah Kecil Menuju Mimpi

Oleh: Ni Putu Ayu Indah Lestari, Siswa SMK Giri Pendawa


Setiap orang memiliki mimpi. Ada yang terlihat sederhana, ada pula yang terasa begitu besar untuk diraih. Bagi saya, mimpi bukan sekadar angan-angan, melainkan alasan untuk terus melangkah meskipun terkadang rasa takut dan keraguan datang menghampiri.

Saya adalah siswi SMK Giri Pendawa, kelas program TB/FB Service. Saya memiliki cita-cita untuk suatu hari nanti bekerja di kapal pesiar. Saya ingin mendapatkan pengalaman, menjadi pribadi yang mandiri, memiliki masa depan yang baik, dan yang paling penting, membanggakan kedua orang tua saya.

Namun, perjalanan menuju cita-cita itu tidak selalu mudah.

Ketika memasuki masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Adi Dharma Hotel Legian, Kuta, saya justru dihadapkan pada banyak rasa takut. Lingkungan baru, pekerjaan baru, orang-orang baru, serta tanggung jawab yang berbeda membuat saya sempat merasa tidak percaya diri.

Hari pertama PKL masih saya ingat dengan jelas. Saat memasuki lingkungan hotel, saya mendengar kalimat, “Trainingan baru ya, Dik? Siap-siap, semoga kuat dan betah di sini.” Kalimat sederhana tersebut justru membuat saya semakin berpikir, “Bagaimana kalau saya tidak bisa?”

Saya melihat para pekerja yang sudah terbiasa bekerja dengan cepat dan teratur. Mereka tampak percaya diri dan memahami apa yang harus dilakukan. Sementara itu, saya merasa masih begitu kecil dan belum memiliki kemampuan seperti mereka.

Namun, saya kemudian mencoba menenangkan diri dengan satu kalimat: “Saya datang ke sini untuk belajar.”

Hari-hari pertama memang tidak mudah. Saya harus beradaptasi dengan aturan, mengikuti arahan, bekerja sama dengan orang lain, dan mempelajari berbagai tugas. Saya tidak selalu mampu melakukan semuanya dengan sempurna. Ada kalanya saya bingung dan melakukan kesalahan.

Setiap kesalahan sempat membuat saya sedih dan takut dianggap tidak mampu. Bahkan, saya pernah berpikir bahwa mungkin saya tidak cocok berada di lingkungan tersebut.

Ketika rasa lelah dan keinginan untuk menyerah muncul, saya kembali mengingat orang tua. Saya membayangkan wajah mereka dan mengingat dukungan serta pengorbanan yang telah diberikan kepada saya.

Saya kemudian berkata kepada diri sendiri, “Saya tidak boleh menyerah hanya karena saya belum bisa.”

Sejak saat itu, saya mulai mengubah cara pandang. Saya menyadari bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Saya tidak harus langsung sempurna. Saya hanya perlu berani bertanya, mau mendengarkan, mencoba kembali, dan terus memperbaiki diri.

Hari demi hari berlalu. Tanpa saya sadari, saya mulai berubah. Saya mulai terbiasa dengan lingkungan hotel, lebih berani bertanya, mampu berkomunikasi dengan lebih baik, serta memahami arti disiplin dan tanggung jawab.

PKL juga mengajarkan saya bahwa datang tepat waktu berarti menghargai pekerjaan dan orang lain. Ketika mendapatkan tugas, saya harus menyelesaikannya dengan penuh tanggung jawab. Jika melakukan kesalahan, saya harus berani mengakuinya dan berusaha memperbaikinya.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa tidak ada seseorang yang langsung mahir ketika memulai sesuatu. Semua orang pernah menjadi pemula. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah apakah seseorang memilih berhenti atau mencoba kembali.

Kini, jika dibandingkan dengan diri saya pada hari pertama PKL, saya merasa sudah jauh berbeda. Dulu saya sering mengatakan, “Saya tidak bisa.” Sekarang saya belajar mengatakan, “Saya belum bisa.”

Perubahan kecil dalam cara berpikir tersebut membuat saya lebih berani menghadapi tantangan.

Bagi saya, PKL bukan hanya kewajiban sebagai siswa SMK. PKL menjadi perjalanan yang mengajarkan saya untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Cita-cita bekerja di kapal pesiar memang masih panjang jalannya. Masih banyak keterampilan yang harus saya pelajari dan banyak hal yang harus saya persiapkan.

Namun, saya tidak lagi ingin terlalu takut memikirkan apakah saya akan berhasil atau tidak. Saya belajar bahwa saya tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mencapai sebuah mimpi. Saya hanya perlu berani mengambil langkah berikutnya.

Mungkin ada banyak siswa di luar sana yang memiliki mimpi tetapi takut untuk mengejarnya. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Saya pernah merasa tidak mampu, takut gagal, sedih, bahkan ingin menyerah.

Tetapi saya memilih untuk mencoba sekali lagi.

Saya percaya bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Terkadang, semuanya dimulai dari sebuah langkah kecil: berani mencoba, mau belajar, menerima kesalahan, dan tidak berhenti berusaha.

Suatu hari nanti, mungkin saya akan berada jauh dari rumah, bekerja di kapal pesiar dan mewujudkan cita-cita yang selama ini saya simpan. Saat mengingat masa ketika saya masih menjadi siswa SMK Giri Pendawa dan menjalani PKL di sebuah hotel, saya mungkin akan tersenyum.

Bukan karena perjalanan itu mudah, melainkan karena saya berhasil melewatinya.

Saya masih memiliki jalan yang panjang. Tetapi sekarang saya memiliki tujuan, harapan, dan mimpi. Mimpi untuk bekerja di kapal pesiar dan membuat kedua orang tua saya tersenyum bangga.

Karena itu, saya akan terus berjalan. Tidak harus cepat dan tidak harus sempurna. Yang penting, jangan berhenti.

Sebab, satu langkah kecil hari ini mungkin terlihat sederhana. Namun, jika terus dilakukan, langkah-langkah kecil itu dapat membawa kita menuju tempat yang selama ini hanya berani kita impikan.

Inilah langkah kecil saya menuju mimpi. Dan perjalanan itu baru saja dimulai !!!.

(catatan redaksi: Artikel ini ditulis saat Indah merasa kesulitan menghadapi tantangan PKL di bulan Juni 2026 awal PKL,namun karena tekad,komitmen dan prinsip yang tegas untuk menggapai mimpinya,maka semua itu dilalui dengan kesungguhan hati melalui langkah-langkah kecilnya,rahayu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar