Kamis, 14 September 2023

AURA MISTIS DI PURA PENATARAN AGUNG DALEM PED

Pura Penataran Agung Dalem Ped yang terletak di Desa Ped, Sampalan, Nusa Penida, adalah  pura yang terkenal di seluruh pelosok Bali,berada sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai  Selat Nusa. sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat yang selalu dipadati pemedek untuk memohon  keselamatan,kesejahtera-an, kerahayuan, dan ketenangan,sehingga merupakan  salah satu objek wisata spiritual yang paling diminati di Nusa Penida. Kamipun bergegas ke tempat ini tiba sekitar jam 18.15 sebagai tempat persembahyangan terakhir napak tilas spiritual SMK Giri Pendawa di Bumi Nusa. Turun dari kendaraan langsung melukat masuk gapura dan mempersiapkan perlengkapan persembahyangan menuju pura segara dengan persembahyangan diawali dengan melantunkan puja trisandya,lanjut ke pura Taman dan di Pura ratu Gde Dalem Ped dipimpin oleh Jero Mangku Lingsir juga persembahyangan terakhir yaitu di Penataran Agung dilaksanakan dengan sangat khusuk,karena lelah seharian perjalanan dan perut kosong. namun demikian kami sempat menanyakan bagaimana sejarah dan keberadaan pura ini.

Menurut mangku lingsir keberadaan Pura Pentaran Agung Ped sangat simpang-siur,sumber literasi tentang sejarah pura itu sangatlah minim, sehingga sempat menimbulkan perdebatan diantara kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja — Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.

Seorang penekun spiritual dari Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang "Selayang Pandang Pura Ped" beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.

Pada awalnya  pura ini bernama Pura Dalem Nusa,penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung,berawal dari  Ida Pedanda Abiansemal kehilangan 3 tapel saktinya,yang santer diberitakan ada di pura dalem Nusa ,karenanya beliau datang dan ingin menyaksikan secara langsung. Sampai Di Dalem Nusa betul tapel itu milik beliau,namun dengan hasil perenungannya,beliau tidak mengambil tapel tersebut,namun minta tanggungjawab krama untuk nyungsung dan melaksanakan acara mepeed . masyarakat berjanji apabila padi dan tumbuhan serta hewan mereka selamat ,maka akan dilakukan acara tersebut. Singkat cerita permohonan mereka terkabul,padi tumbuh subur,hasil melimpah maka dilaksanakanlah upacara mepeed oleh krama subak Sampalan. Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped). Pura Dalem Ped ini bukan tergolong Kahyangan Tiga Desa tetapi Dalem untuk sebutan Raja penguasa wilayah Nusa Penida waktu itu yakni Ratu Gde Sakti Nusa atau Ratu Gde Mecaling.tuturnya.

Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Batara-batara pada waktu ngusaba,sedangkan di jaba ada wantilan besar untuk pertunjukan dan ngayah mempersiapkan wewantenan.

Ketut Wiana alias Ketut Gobyah mengatakan Dalam Lontar Ratu Nusa tertulis Batara Siwa menurunkan Dewi Uma dan berstana di Puncak Mundi Nusa Penida diiringi oleh para Bhuta Kala simbol kekuatan fisik material berupa ruang dan waktu. Bhuta itu membentuk ruang dan Kala adalah waktu. Waktu timbul karena ada dinamika ruang. Di Pura Puncak Mundi, Dewi Uma bergelar Dewi Rohini dan berputra Dalem Sahang. Pepatih Dalem Sahang bernama I Renggan dari Jambu Dwipa — kompyang dari Dukuh Jumpungan.

Dukuh Jumpungan itu lahir dari pertemuan Batara Guru dengan Ni Mrenggi, dayang dari Dewi Uma. Kama dari Batara Guru berupa awan kabut yang disebut limun. Karena itu disebut Hyang Kalimunan. Kama Batara Guru ini di-urip oleh Hyang Tri Murti dan menjadi manusia. Setelah digembleng berbagai ilmu kerohanian dan kesidhian, dan oleh Hyang Tri Murti terus diberi nama Dukuh Jumpungan dan bertugas sebagai ahli pengobatan. Setelah turun-temurun Dukuh Jumpungan menurunkan I Gotra yang juga dikenal I Mecaling. Inilah yang selanjutnya disebut Ratu Gede Nusa.

Ratu Gede Nusa ini berpenampilan bagaikan Batara Kala. Menurut penafsiran Ida Pedanda Made Sidemen (alm) dari Geria Taman Sanur yang dimuat dalam buku hasil penelitian Sejarah Pura oleh Tim IHD Denpasar (sekarang Unhi) antara lain menyatakan sbb: saat Batara di Gunung Agung, Batukaru dan Batara di Rambut Siwi dari Jambu Dwipa ke Bali diiringi oleh seribu lima ratus (1.500) orang halus (wong samar).

Lima ratus wong samar itu dengan lima orang taksu menjadi pengiring Ratu Gede Nusa atas wara nugraha Batara di Gunung Agung. Batara di Gunung Agung memberi wara nugraha kepada Ratu Gede Nusa atas tapa brata-nya yang keras. Atas tapa brata itulah Batara di Gunung Agung memberi anugrah dan wewenang untuk mengambil upeti berupa korban manusia Bali yang tidak taat melakukan perbuatan baik dan benar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Di Pura Dalem Penataran Peed ini Ida Batara Dalem Penataran Peed dipuja di Pelinggih Gedong, sedangkan Pelinggih Ratu Gede Nusa berada areal tersendiri di barat areal Pelinggih Dalem Penataran Peed. Pelinggih Dalem Penataran Peed ini berada di bagian timur, sedangkan Pelinggih Padmasana sebagai penyawangan Batara di Gunung Agung berada di bagian utara dalam areal Pura Dalem Penataran Peed. Di Pura Dalem Penataran Peed ini merupakan penyatuan antara pemujaan Batara Siwa di Gunung Agung dengan pemujaan Dewi Durgha atau Dewi Uma di Pura Puncak Mundi.   Dengan demikian Pura Dalem Penataran Peed itu sebagai Pemujaan Siwa Durgha dan Pemujaan Raja disebut Pura Dalem. Sedangkan disebut sebagai Pura Penataran Peed karena pura ini sebagai Penataran dari Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha. Artinya, Pura Penataran Peed ini sebagai pengejawantahan yang aktif dari fungsi Pura Puncak Mundi pemujaan Batari Uma Durgha.

Di pura inilah bertemunya unsur Purusa dari Batara di Gunung Agung dengan Batari Uma Durgha di Puncak Mundi. Dari pertemuan dua unsur ciptaan Tuhan inilah yang akan melahirkan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya yang disebut Rambut Sedhana. Baik sarana hidup untuk memajukan kesejahteraan maupun sarana untuk mempertahankan kesehatan dan menghilangkan berbagai penyakit. Upacara pujawali di Pura Dalem Penataran Peed ini dilangsungkan pada setiap Budha Cemeng Klawu.   Hari Budha Cemeng Klawu ini adalah hari untuk mengingatkan umat Hindu pada hari keuangan yang disebut Pujawali Batari Rambut Sedhana. Pada hari ini umat Hindu diingatkan agar uang itu digunakan dengan baik dan setepat mungkin. Uang itu sebagai alat untuk mendapatkan berbagai sarana hidup agar digunakan dengan seimbang untuk menciptakan sarana kehidupan yang tiada habis-habisnya. Uang itu sebagai sarana menyukseskan tujuan hidup mewujudkan Dharma, Artha dan Kama sebagai dasar mencapai Moksha.  Berdasarkan adanya Pelinggih Manjangan Saluwang di sebelah barat Tugu Penyimpanan dapat diperkirakan bahwa Pura Dalem Penataran Peed ini sudah ada sejak Mpu Kuturan mendampingi Raja memimpin Bali. Pura ini mendapatkan perhatian saat Dalem Dukut memimpin di Nusa Penida dan dilanjutkan pada zaman kepemimpinan Dalem di Klungkung.

Demikian tentang keberadaan Pura Penataran Agung Dalem Ped yang dipenuhi aura mistis seperti pada saat kami sembahyang sempat ada beberapa orang kerauhan,menurut dane Mangku Lingsir hal itu sudah biasa terutama bagi penekun spiritual. Akhirnya tepat pukul 21.30 kami mengakhiri perjalanan tirta yatra kami,semoga dengan adanya aura positif mistis religius dari Penataran Agung Dalem Ped dapat membawa nuansa spirit positif untuk kemakmuran,ketenangan dan keharmonisan dalam melaksanakan swadarma baik darma sesana,darma agama lan darma negara. Melalui perjalan suci di bumi Nusa Penida mari kita bangkitkan spirit membesarkan SMK Giri Pendawa dengan hati yanag tulus menegakan karakter Pendawa yakni Bijak,Tegas,Cerdas,Tuntas dan Iklas. (manixs)

Pura Penataran Agung Dalem Ped

Pura Segara


di Jeroan Pura Dalem Ped




Sejarah Pura Dalem Ped

Sejarah Pura Dalem Ped berawal dari artefak atau tiga buah tapel yang sakti dan ditempatkan di Pura Dalem Nusa. Ketiga tapel ini melahirkan nama "Ped." Pada kala itu, ketiga tabel tersebut sangatlah populer sehingga pedanda bernama Ida Pedanda Abiansemal datang ke Nusa untuk menyaksikan secara langsung keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal kehilangan tiga buah tapel dari kediamannya. Kesaktian yang dimiliki ketiga tapel tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit yang diderita manusia hingga tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu, ketika mendengar kabar tiga tapel yang berada di dalam Pura Dalem Ped, ia segera memastikan ketiga tapel di dalam Pura Dalem Ped.

Nyatanya, ketiga tapel tersebut memang tapel miliknya yang hilang. Namun, ia tidak mengambilnya kembali dengan syarat agar warga Nusa menjaganya dengan baik dan senantiasa melakukan upacara sebagaimana mestinya.

Ketiga tapel milik Ida Pedanda Abiansemal selanjutnya dimanfaatkan oleh warga Subak Sampalan juga untuk memperbaiki panen yang berantakan. Kala itu, warga Subak Sampalan harus menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus dan walang sakit sehingga frustasi dan meminta bantuan tapel. Permohonan itu akhirnya terkabul dan penyakit tanaman pergi jauh dari subak Sampalan, Alhasil, panen pun sukses dan melimpah.

Sejak kedatangan Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya, nama Pura Dalem Nusa berganti menjadi Pura Dalem Ped. Namun, pergantian nama ini dilakukan oleh seorang tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung.

Ada banyak hal yang diperdebatkan sejumlah tokoh spiritual karena informasi yang simpang siur pada awalnya. Salah satu hal yang menjadi pembahasan adalah nama pura itu sendiri. Menurut Kelompok Puri Klungkung, Puri Gelgel, dan Mangku Rumodja Mangku Lingsir, pura tersebut bernama Pura Penataran Ped. Di sisi lain, para orang Bali menyebutnya sebagai Pura Dalem Ped. Namun, bagi Dewa Ketut Soma sebagai penekun spiritual, kedua versi tersebut sama benarnya. Perubahan nama ini dapat terjadi karena penggelaran upacara mapeed yang dijalankan secara rutin.

Meski pada namanya terdapat kata "Dalem," pura tersebut bukan berarti menjadi bagian dari Tri Kahyangan. Dalem yang dimaksud merujuk pada sebutan raja yang berkuasa di Nusa Penida dan sakti, yaitu Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling.

Sosok Ratu Gede Mecaling punya tempat istimewa di Pura Dalem Ped. Dikutip dari situs ISI Denpasar, Ratu Gede Mecaling yang juga disebut Ratu Sakti Ring Nusa adalah putra dari Pangeran Renggan dan istrinya Ni Meraim, menjadikannya keturunan dari Dukuh Jumpungan atau seorang pendeta.

Pangeran Gotra, putra dari Pangeran Renggan, mengadakan perjalanan di Bukit Biye untuk merundingkan siapa yang menerima kekuasaan di Nusa. Keputusan berakhir dengan Pangerang Mecaling sebagai penerima kuasa sehingga akhirnya disebut Ratu Mecaling. Ratu Mecaling menerima wewenang untuk menghukum mereka yang tidak memenuhi aturan dengan memberikan penyakit. Tidak hanya itu, ia juga berwenang memungut utpeti di seluruh pulau, mewarisi segala ilmu yang dimiliki Dukuh Jumpungan atau disebut kesaktian Kanda Sanga, dan memiliki panjak (anak buah).

Pada akhirnya, Ida Ratu Gede Mas Mecaling dikenal sebagai sosok magis yang menyebarkan wabah dan bencana di jagat Bali. Meskipun begitu, citra Ida Ratu Gede Mas Mecaling Dalem Nusa Penida seolah menjadi mitos hidup dan objek pemujaan. Beragam versi wacana magi tentangnya kian berkembang di masyarakat.
Lokasi Pura Dalem Ped

Dikutip dari online travel agency, Pura Dalem Ped terlokasi di Nusa Penida dan dikenal juga sebagai Pura Penataran Agung Ped. Pura Dalem Ped sendiri memiliki lima lokasi pura di dalamnya.

Lokasi pertama ada di Pura Segara, Istana Batara Baruna bagian utara. Pada lokasi ini, pengunjung dapat menikmati deburan ombak. Lokasi selanjutnya ada di bagian selatan, yaitu Pura Taman yang digunakan sebagai tempat penyucian berhiaskan kolam bunga teratai.

Sementara itu, pura utama Dalem Ped terletak di bagian barat dan diberi nama Penataran Ratu Gede Mecaling sekaligus menjadi simbol Kesaktian Penguasa Nusa. Lokasi keempat ada di bagian timur, yaitu Pelabuhan Ratu Mas, dan lokasi kelimanya adalah Pura Bale Agung.

Pura Dalem Ped berada sekitar 50 meter di selatan bibir pantai Selat Nusa Penida. Pengunjung akan membutuhkan setidaknya 5-10 menit berkendara bila berasal dari Pelabuhan Buyuk. Namun, bila berasal dari Pelabuhan Sanur atau Padang Bai, pengunjung akan membutuhkan setidaknya 30 menit untuk sampai ke Nusa Penida dengan penggunaan speed boat atau kapal roro.

Pada lokasi ini, pengunjung tidak perlu bingung memarkirkan kendaraannya karena Pura Dalem Ped menyediakan tempat parkir sebagai salah satu fasilitasnya. Ada juga kamar mandi untuk pengunjung.

Harga tiket untuk masuk ke Pura Dalem Ped sendiri gratis atau tidak dikenakan biaya. Oleh karena itu, pengunjung dapat segera masuk tanpa perlu memikirkan biayanya.
Pantangan di Pura Dalem Ped

Mengingat Pura Dalem Ped merupakan tempat suci untuk bersembahyang, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dan ditaati ketika berada di lokasinya. Mengutip indonesiabaik.id, pengunjung tidak diperbolehkan buang air kecil di sekitar area Pura atau menggunakan Saput Poleng. Kemudian, pengunjung juga dilarang mengenakan bunga pucuk di dekat pura hingga menyanyikan lagu janger. Hal ini menjadi salah satu pantangan wajib juga.

Pantangan-pantangan ini berlaku untuk semua pemeluk agama, baik Hindu maupun lainnya. Meski wisatawan lokal dan mancanegara sekadar berkunjung sebentar, penjagaan sikap dan tata krama tetap perlu dilakukan. Berikut ini sejumlah hal etika yang perlu diperhatikan ketika mengunjungi Pura Dalem Ped atau tempat suci lainnya:
1. Menggunakan Pakaian Sopan

Etika satu ini merupakan hal paling sederhana dan mendasar saat berkunjung ke tempat sakral, tetapi tidak semua orang melakukannya. Berbeda dari destinasi lainnya yang bebas menggunakan pakaian apa saja, tempat sakral memerlukan pakaian yang lebih sopan untuk menghormati tempat tersebut.
2. Menjaga Sikap dan Ucapan

Ketika mendatangi tempat suci, menjaga sikap dan ucapan dengan sopan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Pastikan untuk menghindari berbicara dengan kasar, berteriak, meludah, hingga membuang sampah sembarangan. Tidak hanya itu, pengunjung tidak seharusnya mencemooh atau menjelek-jelekkan benda yang ada di area tempat sakral karena eksistensi benda tersebut seringkali berkaitan dengan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat sekitar.
3. Menaati Setiap Aturan

Setiap tempat wisata yang sakral tentu memiliki aturan yang berbeda-beda dan perlu dipatuhi wisatawan. Hal ini perlu diperhatikan dan ditaati oleh pengunjung untuk menghindari hal-hal yang tidak berkenan atau diinginkan untuk terjadi.
4. Meminta Izin Sebelum Mengambil Gambar

Umumnya, mengunjungi tempat sakral mendorong keinginan untuk mengabadikannya melalui foto atau video. Namun, pengunjung tetap harus meminta izin terlebih dahulu sebelum memotret atau merekam.
5. Hormati Orang yang Beribadah

Etika terpenting selanjutnya adalah menghormati orang yang beribadah. Tempat wisata yang sakral tentunya memiliki orang-orang yang datang untuk beribadah atau melakukan ritual tertentu. Oleh karena itu, pastikan untuk selalu menghormati mereka yang tengah melakukan ibadah. Hal ini dapat dilakukan dengan menghindari berbicara di dekat orang yang beribadah, terlebih berbicara buruk tentang kepercayaan tempat tersebut.

Itulah sejarah atau asal usul dari Pura Dalem Ped dan sejumlah pantangannya. Anda perlu menjaga sikap dan ucapan selama berada di Pura Dalem Ped karena tempat tersebut adalah tempat sakral yang harus dihormati. Semoga artikel ini membantu Anda sebelum berkunjung ke tempat sakral, ya!

Baca artikel detikbali, "Mengulik Sejarah Asal-usul Pura Dalem Ped dan Pantangannya" selengkapnya https://www.detik.com/bali/budaya/d-6405439/mengulik-sejarah-asal-usul-pura-dalem-ped-dan-pantangannya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar