Desiran angin sepoi menyapa kami rombongan SMK Giri Pendawa di pulau yang nampak gersang,namun kaya makna sprit rohani pembersih jiwa,melepas langkah dari boat gangga expres kami ber lima belas menuju daratan,dengan senyum ramah drever perjalanan kami menyambut dan menyapa swastyastu pada kami sang tamu domestik,perawakan sang sopir (sebelumnya sudah diboking) agak tambun dengan rambut yang dikepang kulit sedikit gelap,ia siap melayani perjalanan kami dengan wahananya cary pic up,namun sayang kapasitasnya hanya muat 11 orang itupun cukup berdesakan dan empat kawan kami terpaksa naik motor bergoncengan dengan 2 motor sewaan,sang komandan yang biasa naik mobil berAC hanya manggut-manggut saja,tapi tetep teposaliro,berharap harap maklum aja boss bisik sang drever yang menyebut dirinya dengan nama Dewa Kakul.
Jam tangan kami menunjuk posisi angka 07.16,cary distater dan menderit diatas tanah hitam hasil pabrikan PT.Pertamina dan motor sewaan tman kamipun menguntilnya. Dengan santainya sang drever memacu carynya,karena hasil diskusi sebelum naik cary, disepakati mencari lokasi pertama adalah lokasi yang terjauh dengan pertimbangan agar tidak kelelahan bila siang hari sampai di Pura Segara Kidul yang nota bena tempat yang paling ekstrim. Selanjutnya perjalanan kami pada menit ke 15 jalan sudah mulai semakin menanjak,sempit dan berkelok kendaraan kamipun hampir bersenggolan,namun karena kelihaian pengemudi dan karena pengalamannya, situasi dapat dikendalikan. Deru kendaraan semakin kencang pertanda pedal gas makin dalam diinjak karena jalan semakin menanjak,tampak teman-teman sedikit meringis ketika berhenti mendadak karena ada kendaraan lain lewat, dan puji Tuhan dalam waktu 41 menit sampailah di Pura Puncak Mundi. Kami turun,pura tampak sepi karena masih pagi,tampak pengayah pura tergopoh mempersiapkan keperluan pura karena melihat kedatangan kami,namun belum sempat kami tanya mereka sudah menghilang kebalik tembok jeroan,kami melihat situasi kemana harus sembahyang terlebih dahulu karena di area ini ada 3 pura,sopir mengatakan ke Puncak Mundi terlebih dahulu,namun teman berujar rasa rasanya ke Dalem Krangkeng duluan dan kamipun kesana,eh setelah tiba ada petunjuk bahwa yang pertama sembahyang adalah ke Pura Beji,Puncak Mundi dan terakhir ke Dalem Krangkeng,melihat itu kamipun kembali ke Puncak Mundi. Sampai disana hanya ada pengayah pura,pemangkunya siang baru datang,atas ijin pengayah kami disuruh langsung sembahyang sendiri di pura yang piodalannya jatuh pada Buda Umanis Prangbakat ini,usai nunas tirta wangsuhpada,kami sempat wawancara dengan pengayah pura yang bernama Pak Sudarti asal Banjar Adat Rata,beliau memberi penjelasan dan diramu dengan nara sumber lain hasil singkatnya adalah sebagai berikut:
Konon, pada tahun Saka 50, Ida Bhatara Siwa bersama saktinya Dewi Uma turun ke bumi beserta pengikutnya yaitu Tri Purusa, Catur Lokha Pala dan Asta Gangga. Beliau turun menjelma (meraga manusia) di sebuah gunung kecil/bukit yang bernama Puncak Mundi .Penjelmaan beliau bergelar Dukuh Jumpungan dan Dewi Uma menjelma menjadi seorang perempuan yang bernama Ni Puri. Selanjutnya nama Nusa Penida konon diambil dari kata “manusa pandita”.kemudian kata “manusa” disingkat menjadi Nusa dan “pandita” berubah menjadi Penida,hingga kini lumrah disebut Nusa Penida. Menurut babad Ki Dukuh Jumpungan/Babad I Renggan,menyebutkan bahwa keberadaan pura Sad Kahyangan Penida berkaitan dengan tokoh spiritual yang bernama Dukuh Jumpungan. Beliau adalah seorang brahmana dari Jambhu Dwipa (India Selatan) dan memiliki gelar Bhagawan Kanda sebagai perintis pembangunan kahyangan di NP. Bersama ratusan pengikutnya, beliau kemudian membangun Padukuhan di area Gunung Mundhi yang rata yang kemudian bernama Banjar Adat Rata. Persis di Puncak Mundi, yang dikelilingi tetamanan. Sumber airnya konon berjumlah 8, yang disebut Asta Gangga. Sumber mata ini berasal dari Siwa Lokha, yang ikut turun bersama Ida Bhatara Siwa. Pada tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Keturunan dari I Merja inilah diyakini menjadi awal sejarah terbentuknya kesekian pura yang ada di NP, yang diawali dengan didirikannya pura Puncak Mundi. (http://kb.alitmd.com).
Keunikan
arsitektur pura ini adalah padmasananya ,yang terdiri dari pelipit dan empat tiangnya yang menyanhgga bangunan ini.
Hiasannya menggunakan stiliran kala dan motif sulur sebagai prelambang Siwa
Buddha .Menurut cerita NP dulunya adalah tanah yang subur karena memiliki sumber air yang deras,namun karena perbuatan seorang ibu hamil besar mandi menceburkan diri sambil mencuci di sumber air tersebut,maka air itu berangsur mengecil dan hilang,padahal ibu itu sudah diperingatkan oleh penduduk setempat,namun ia tetap nekat mandi disana. Nasi sudah menjadi bubur apa daya tangan tak sampai,jadi tak berdaya,keringlah akibat ulah yang tak percaya,jadilah bahaya,untung tak dimakan buaya,haha. Cerita lain menyebutkan,konon raja nusa pernah marah besar akibat bawahannya berhianat membelot pada raja Bali,karena marahnya ia menancapkan keris saktinya hingga akibatnya semua mata air turun kebawah tak lagi menyembul ke permukaan, keringlah akibatnya karena berhianat pada raja, mendengar penuturan itu,sakti amat itu keris pikir dibenakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar