Pura Segara Kidul adalah salah satu pura yang sudah tidak asing lagi di Nusa Penida,karena banyak dikunjungi oleh umat hindu untuk melakukan tirta yatra dari berbagai daerah di Indonesia bahkan wisatawan domestik dan manca negara banyak berkunjung ke tempat ini,karena tempatnya sangat eksotik,indah sempurna berada di tebing curam nusa penida pantai selatan ,untuk mencapai tempat itu diperlukan keberanian,kekuatan dan nyali yang besar untuk menyusuri tebing terjal melalui tangga besi yang panjangnya sekitar 400 meter dengan 700an anak tangga,ucap Bapak Suana juru kunci Pura Segara Kidul. Pura yang diempon oleh krama Banjar Adat Batukandik dan Br.Adat Peguyangan ini piodalannya jatuh pada Purnama Kedasa dipugar sejak tahun 1995 dan air bawah tanahnya yang cukup deras dialirkan oleh PDAM ke wilayah bawah ,utamanya di Nusa bagian timur. Mata pencaharian masyarakat disini adalah bertani dengan menghasilkan palawija seperti jagung ketan bisa menghasilkan pundi 1 juta rupiah per are kalau sudah direbus seharga Rp.5.000,-per biji,juga menghasilkan ketela pohon,kacang-kacangan dan lainnya.tutur nara sumber kami pak wayan Sana.
Lebih lanjut Sana menceritakan bahwa Pura Segara Kidul yang terletak di mata air Guyangan, Dusun Antapan, Desa
Batukandik. Nusa Penida, memiliki kaitan erat dengan cerita Asta Gangga pada Babad Nusa Penida. Pura yang berada di selatan Nusa Penida ini,terdapat palinggih Ida Kanjeng Ratu Kidul atau di Jawa lebih di kenal dengan sebutan Nyi Roro Kidul dengan busana nuansa khas hijau yang dipercayai
menguasai wilayah laut selatan. Pura ini juga memiliki tirta yang diyakini
dapat membersihkan karma masa lalu untuk dapat memperbaiki kehidupan
selanjutnya. Sumber mata air di Nusa Penida merupakan sumber kehidupan karena air sucinya
(tirta) sebagai peneduh masyarakat dan alam semesta. Di mata air Guyangan
terdapat tirta pangurip yang termasuk salah satu tirta asta gangga di Nusa
Penida,mata air lainnya yang merupakan tirta asta gangga adalah mata air yang ada di Prasi (Toyapakeh) sebagai tirta sanjiwani,
tirta kamandalu (Penida, Crytalbay, Desa Sakti), tirta pawitra (Temeling, Desa
Batumedeg), tirta maha pawitra (Tabuanan, Desa Sekartaji), tirta pralina
(Suwehan, Watas, Desa Tanglad) dan tirta pasupati (Sekartaji).
Jero Mangku Kadek Wahyu pemangku di pura ini mengatakan,Di Pura Segara Kidul terdapat pelinggih pertama adalah pelukatan Wisnu atau Wisnu
Tirta sebagai pembersih karma masa lalu, pelukatan kedua adalah Brahma Tirta sebagai pangurip karma baik, dan di
tengah palinggih Siwa Tirta atau Siwa Baruna sebagai tirta keabadian didampingi Ibu Ratu Kanjeng Welas Asih
dan Kebijaksanaan. yang dikenal dengan Ida Kanjeng Ratu Kidul. Untuk persembahan di 2 pelinggih pelukatan sebaiknya banten pejati kalau tidak minimal canang sari,sedangkan di pelinggih Siwa Baruna wajib menghaturkan Pejati.
Menurut Jero Mangku Kadek Wahyu,sejarah penemuan pura ini diawali seorang gila mengaku menerima wahyu agar mendirikan pura Segara Kidul di sumber air yang belum ada jalan ketempat tersebut, karena namanya orang gila berjalan dari utara di pantai saat air surut kemudian ketimur dan keselatan sesuai wahyu yang diterima maka ia ikuti dan akhirnya ia sembuh,namun orang tidak ada percaya,dan akhirnya ada orang pintar yang juga menerima pawisik yang sama,barulah kemudian masyarakat mengecek keberadaan air tersebut,maka mulailah dibuatkan jalan darurat sehingga masyarakat setiap hari mengambil air ke tempat tersebut. baru kemudian dibuat pura dan air diangkat melalui mesin oleh PDAM dan jalannya dibuat dengan tangga besi seperti sekarang ini,paparnya. mendengar pemaparan tersebut kami cukup antusias untuk menyusuri jalan tangga tersebut,peserta tertua Bp Dewa Ajik Suaba dengan kondisi baru sembuh juga bp Km Sumarta dengan kondisi yang sama,dengan tekad bulat menyusuri jalan dengan penuh perhitungan dan keyakinan dikawal oleh teman-teman yang muda, akhirnya mampu sampai tujuan. Usai persembahyangan kami balik, namun ditengah jalan tangga, ada salah satu peserta yang hampir pingsan karena melangkah tergesa pada hal medannya sangat terjal akhirnya astungkara setelah istirahat sejenak bisa kembali berjalan perlahan dan jam 12.00 sampailah dengan selamat semua di tempat peristirahatan sambil mengasuh mengisi perut.
Hikmah yang dapat kita ambil dalam perjalanan suci ini adalah,seberat apapun tujuan yang ingin kita capai apabila dilakukan dengan kesungguhan step by step(anak tangga) pasti akan bisa dicapai asal ada keyakinan dengan kerja keras(melalui jalan yang terjal),kerja cerdas(hati-hati melangkah),kerja tuntas(menyelesaikan rute perjalanan) dan kerja iklas(menyerahkan hasilnya pada Tuhan),dengan jiwa yang bersih(melukat),maka tercapailah tujuan yang kita inginkan ( linggih Siwa Baruna dan Kanjeng Ratu Kidul).Rahayu (manixs).
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar