Hari ini Minggu, 10 September 2023,alarm handphon berbunyi,memanggil mimpi indah untuk wujudkan hidup semakin terang,karena semalam jemari tangan menyetel alarm HP berharap bangunkan jiwa dipagi ini,tuk menembus malam menatap pagi,menuju bumi nusa tuk bangkitkan spirit rohani.
Tubuh gontai melangkah,sambil menggosok mata memaksa membukanya, lihat hp yang tiada henti bersungut ,ternyata sudah jam 04.03,bergegas kaki melangkah ingat janji pada pasukan tuk meluncur jam 05.00 dari benteng sang kapten. Suara kokok ayam saling bersautan pertanda sang fajar semakin menyingsing,step by step SOP perjalanan kusiapkan agar tiba tepat sasaran pada waktu yang ditentukan. Dengan mengendarai kuda besi dari jepang tak lupa ku bonceng sang kekasih yang setia menemani menembus hiruk pikuknya kehidupan,pagi ini dengan desiran angin pegunungan yang menusuk sumsum ia dekap pinggangku wujudkan kehangatan diantara kami,ingat masaa muda dulu,bisiknya. Akhirnya tepat jam 05 kurang 3 menit kami sampai dibenteng penantian,ternyata komandan pasukan pengawal bersama sang istri sudah tiba duluan dengan menunggangi gajah merah,bersama prajurit wanita,tapi sayang sang kapten baru bangkit dari peraduannya didampingi pengawalnya,dengan langkah terhuyung pergi bersih diri,sedikit berkemas dan masih terhuyung,mungkin kurang tidur karena memikirkan keberangkatan pasukan agar sigap,eh ternyata sang kapten yang keteter,mungkin saking seriusnya kali ya,pikirku.
Akhirnya setelah tersendat sana sini kamipun berangkat dengan menunggangi gajah putih yang dikusiri oleh komandan warsha,derit kaki gajah dipacu dengan kencang melaju menembus remang pagi, disepanjang perjalanan sunyi membius karena dipikirannya semua takut ketinggalan perahu penyebrangan. Dalam pikiran yang berkecamuk tiba tiba sang kapten semartha perintahkan komandan tuk hentikan gajah didepan gudang makanannya, karena sang permaisuri sampaikan bahwa perobatan sang kapten ketinggalan ,dengan sedikit sungut komandan tarik tali kendali dan gajahpun berhenti. Dua puluh menit kemudian utusan kapten tergopoh gopoh menyerahkan bungkusan kecil yang berisi obat untuk persiapan dalam perjalanan sang kapten,gajahpun dengan kencang dipacu dan akhirnya jam 06.16 tiba di dermaga penyuebrangan. Dengan sigap sang komandan menerjunkan pasukan dan mengikatkan tali gajah di tempat perumputan gajah-gajah.
Dengan sedikit waktu sang komandan mengajak pasukan untuk merapat ke gardu pemberangkatan guna persiapkan persyaratan pemberangkatan,sambil mengisi perut ditemani secangkir kopi dan seruput penganan sangat asik karena disapu desiran angin laut yang manja,hatipun mulai tenang dan rasa segar menghampiri tubuh prajurit ditandai dengan wajah-wajahnya mulai tebarkan rona kesenangan. Istirahat sejenak,panggilan keberangkatanpun mengalun merdu dari bibir pramusambut yang merdu,syahdu merayu telinga para prajurit untuk merapat naik perahu penyebrangan di pesisir khusambha.,jam 06.36 perahupun melepas jangkarnya.Perahu digenjot oleh para awak dan nahkodanya perlahan menyibak derunya ombak yang tidak begitu galak,maka perahupun melaju dengan santainya karena laut sangat bersahabat dipagi ini. Mentari diupuk timur makin tersenyum genit menambah indahnya perjalanan karena pesonanya yang merah merona membuat muka laut bersemu malu menatap para penumpang yang penuh semangat dengan gairah yang membahana dibenak mereka msing-masing. Perahu dengan kapasitas mengangkut ratusan orang itupun melaju ditengah laut,dengan sedikit goyangan diterpa ombak nakal,menambah suasana semakin sahdu. Percakapan kecil mulai terdengar,bercerita tentang kisah mereka masing-masing,tawa riang dari anak-anak yang baru pertama kali menaiki perahu sangat nyaring terdengar,menghibur penumpang lainnya. Ombak mulai semakin nakal menggoyang perahu di menit ke 12 goyangan semakin terasa dan tiba-tiba perahu berhenti kulihat arloji menunjukan pukul 06.51, para awak kelihatan wara wiri dan nakhodapun sigap memberi perintah pada para awak, penumpang mulai tegang bahkan terdengar suara tangisan anak-anak yang berusaha ditenangkan oleh orang tuanya,penumpang lainnya tampak tegang,suasana semakin tegang ketika gempuran ombak menghentakan perahu,semua pegangan cari pelampung,namun kami tetap tenang sambil berdoa,sang kapten bangkit dari tempat duduknya mendekati kami dan seolah menenangkan kita semua. Penumpang berbisik ada yang menyampaikan pengalamannya bahwa bisanya sang nakhoda melarung pekelem ke laut untuk perahu pertama yang berangkat guna memohon ijin pada dewa penguasa laut Sanghyang Baruna. Semua bersungut tentang pengalaman mereka dalam menaiki perahu gangga ini,bagi mereka yang duduk diatas kabin menginformasikan perahu terjerat jaring bendega dan banyak persi cerita mistis mereka. Syukurlah 2 menit kemudiat perahu hidup lagi dan melaju dengan tenang meninggalkan kebingungan diantara kami. Pukul 06.59 sampailah dipesisir Shamphalan tempat kami memulai perjalanan spiritual di bumi Nusa Penida,yang sudah dinati oleh penjemput untuk merajut rumput-rumput rohani untuk wujudkan jasmani yang semakin berani hadapi ironi kehidupan masa kini. (manixs).
Ikuti perjalanan kami di tanah bertuah bumi Nusa Penida!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar