Rabu, 13 September 2023

KEKUATAN FEMINIMISME DI GUA GIRI PUTRI

 Kurang lebih 2 jam 10 menit kami naik kendaraan dari Pura Peluang sampailah di Pura Giri Putri  pukul 16.30 Wita dengan melewati pesisir pantai dengan suasana yang lebih sejuk karena banyak tumbuhan dan pepohonan besar mengelilingi apalagi di lokasi Pura Giri Putri tampak pohon2 besar seperti mangga dan lain-lainnya,memberi nuansa kesejukan di sekitar pura. Walau tenaga sudah mulai digoda oleh keletihan namun kami semua tetap semangat menaiki tangga untuk mencapai puncak tangga untuk dilukat persiapan masuk area  Pura Giri Putri. Setelah melepas penat sejenak kamipun mulai khusuk mohon ijin untuk masuk ke Gua Giri Putri dengan mengikuti lantunan puja pengantar oleh Jero mangku jan bangul setempat. Usai sembahyang kami diarahkan untuk masuk ke perut  gua satu persatu melewati gerbang sempit dan dangkal dari batu alam tapi uniknya sebesar apapun tubuh pemedek semua bisa masuk asal dengan kesucian dan ketulusan hati dengan jiwa yang bersih  ,menjaga ucap dan prilaku guna   kekusukan dalam persembahyangan. Sebelum melakukan persembahyangan kami sempatkan diri untuk memohon informasi tentang keberadaan pura ini dengan pemangku pura setempat yakni  Jero Mangku Nyoman Dunia.    

Pura yang terletak di Desa Adat Karangasari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali ini adalah salah satu pura paporit sebagai tujuan para bakta untuk tangkil disamping pura lainnya di Nusa Penida karena pura ini sebagai simbulisasi multikultur. Setelah  masuk ke dalam goa yang panjangnya sekitar 310 m dengan tinggi 10 meteran ada rasa kagum karya semesta karena dalam gua kapur ini walaupun agak pengap tapi ukiran keindahan alam yang berupa stalaktit sangat menakjubkan,karena rembesan air diatap gua kapur lama kelamaan mengeras dan membeku menjadi akar akar kerang yang menyembul dari atap gua,indah sekali,menambah seninya penampakan dalam gua,apalagi saat sembahyang dengan alunan suara genta dan kidung dari pemedek tak terasa bulu kuduk merinding terbawa suasana mistis,mengagumkan.

Jero Mk Dunia mengatakan menurut Babad Nusa Penida, dikisahkan ketika  tahun Saka 50, Ida Bhatara Siwa turun ke bumi bersama Dewi Uma, beserta pengikutnya di sebuah gunung yakni Gunung Puncak Mundhi,disinilah beliau menjelma menjadi manusia pandita (sebagai asal usul namaNusa Penida) yang bergelar Dukuh Jumpungan. Disamping itu beliau juga tedun tahun Saka 55, yang sekarang bernama Tunjuk Pusuh. Tetapi pada tahun Saka 45, Dewi Kwam In lebih dahulu turun dan berstana di sebuah goa. kemudian menyusul Dewi Parwati  turun ke bumi pada tahun Saka 60, dan  banyak lagi yang turun kedunia seperti Bhatara Brahma, Mahadewa, Ganapati, Gangga, Tri Purusha, dan Basukih. Sekarang tempat atau goa tersebut bernama Goa Giri Putri yang menjadi pusering jagat sedangkan Dewi Parwati yang bergelar Hyang Giri Putri sebagai penjaga tirta yang ada di pura ini. Di area pura ini terbagi menjadi ada enam mandala (areal) seperti Hyang Tri Purusa, Hyang Ganesa, Hyang Wasuki, Dewi Gangga, Pelinggih Payogan, Hyang Siwa Amertha, dan Dewi Kwan Im. sehingga penujaan dilakukan di enam areal ini.

Pada areal pertama terdapat pelinggih apit lawang yang berfungsi sebagai pemisah sifat buruk. Pada areal kedua terdapat pelinggih Hyang Tri Purusha berfungsi sebagai pemujaan Hyang Tiga Wisesa. Pelinggih Hyang Ganapati berfungsi pemujaan terhadap dewa pemurah rejeki yang bijaksana.   Pada areal ketiga terdapat pelinggih Hyang Wisnu berfungsi memuja sakti sebagai pemelihara. Pelinggih Dewa Baruna berfungsi sebagai tempat memohon kerahayuan, kasubagian dan sugih arta brana. Pelinggih Hyang Ganesha sebagai tempat memuja keselamatan.   Pada areal keempat terdapat pelinggih Dewi Gangga sebagai Dewi Kesuciaan atau tempat melukat. Pelinggih Bhatara Giri Phati berfungsi memperoleh keheningan pikiran. Gedong Panyimpenan berfungsi sebagai lingga Ida Hyang Giri di luar piodalan.   Pada Areal kelima terdapat Pemaruman yang berfungsi sebagai genah petoyan Hyang Giri. Pelinggih Hyang Giri Putri berfungsi sebagai sakti Dewi Parwati yang penyayang serta pengasih. “Genah Taman Ida yang berfungsi sebagai tempat meliang-liang Ida Hyang Giri. Payogan Ida Bhatara Makasami berfungsi sebagai tempat Payogan Ida Bhatara,” jelasnya.

Pelinggih Tangkep Langit yang berfungsi sebagai penjaga kekuasaan agar Moksartham Jagadhita. Dan pada areal keenam atau terakhir terdapat Pelinggih Ida Bhatara Siwa Amerta sebagai penganugrah terbesar merta. Pelinggih Dewi Melanting/Dewi Tara tempat memohon keselamatan dan mencapai kesuksesan pekerjaan (Swagina).Pelinggih Ratu Syahbandar atau Dewi Kwam In. Pelinggih ini secara umum diketahui oleh krama hindu merupakan perwujudan dari dewi yang dipercayai oleh kepercayaan khususnya Budha (Rulai).   Dewi ini diyakini memiliki hati yang pemurah, pemberi kehidupan, welas asih dan penyayang .juga sebagai Dewi Penguasa Perdagangan yakni Ratu Syahbandar. Ini membuktikan bahwa konsep pendidikan multikultur oleh umat di Desa Adat Karangasari sudah dijalankan sejak dulu. Sedangkan pelinggih Pangayongan Altar Dewa Langit merupakan kepercayaan dari Dewa Budha dan kebudayaan Cina yang dipercayai sebagai maha pelimpah rejeki. Umat Budha meyakini Dewa Langit/ Thienkung adalah dewa yang berkuasa atas objek angkasa dan juga cuaca, seperti cahaya, matahari, bulan, dan angin.pungkasnya.

Akhirnya dengan mendengarkan penjelasan tersebut kamipun melaksanakan persembahyangan sesuai arahan beliau bahkan sempat bermeditasi di tempat payogan beliau,sungkem mohon petunjuk dan perlindungan dan terakhir para bakta di berikat abu bukti sebagai simbul anugrah kekuatan dan kemakmuran. Semoga dengan tangkilnya ke Pura Giri Putri,keluarga besar  SMK Giri Pendawa mendapatkan kekuatan untuk bangkit meningkatkan kemakmuran para pendidik dan pendukung sekolah ini,astungkara(manixs).

Suasana dalam Goa Giri Putri,Nusa Penida.
Posisi di linggih Ida Betari Giri Putri lantai atas



 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar